Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
11. Akbar


__ADS_3

Malam ini merupakan malam tergundah selama hidupnya, pikirannya melayang ke peristiwa 2 setengah tahun silam. Akbar mendengus kesal, dia berpikir seharusnya dia mempertahankan anaknya di meja hijau, bukan malah menyerahkan anaknya secara sukarela pada mantan istrinya yang ketahuan selingkuh itu. Sekalipun alasannya saat itu memikirkan kehidupan anaknya, yang masih bergantung ASI  Ibunya. Tapi melihat Dafa hari ini di panti, membuat hatinya berdenyut tak menentu takut anaknya tidak mendapat perhatian dari orang tuanya seperti Dafa. Memikirkannya saja sudah membuat hatinya mencelos.


Balkon apartemen yang menghadap ke jalanan Ibu Kota itu menjadi saksi atas gundahnya seorang Akbar, semilir angin malam membuatnya semakin frustasi akan pemikiran-pemikiran yang buruk terhadapa kondisi anaknya yang ikut mantan istrinya pergi meninggalkannya.


"Aku tidak bisa tinggal diam, bagaimana pun caranya aku harus mencari tahu keadaan anakku. Apa dia hidup layak dan bahagia atau malah sebaliknya," Ucap Akbar pada dirinya sendiri, "Aku harus minta bantuan pada Bram agar mencari info tentang mantan istriku secepatnya," Sambung Akbar.


Keesokan harinya Akbar meminta pada asisten pribadinya untuk melacak keberadaan mantan istri dan anaknya. Info terakhir satu tahun yang lalu istrinya itu tinggal di Singapur dan hilang jejak hingga saat ini.


"Bram, tolong kamu cek mantan istri saya apa masih di Singapur atau sudah pindah negara lain," Kata Akbar.


"Baik Pak," Kata Bram tanpa bertanaya ulang karena sudah di pastikan Bosnya itu tengah merindkan buah hatinya.


Bekerja dengan Akbar selama 7 tahun terakhir membuat Bram sedikit banyak sudah paham dengan baik bagaimana perilaku dan keinginan sang Bos jika sudah menginginkan sesuatu. Dan melihat wajah sang Bos sedari pagi Bram bisa menebak dengan mudah.


***


Setelah meminta bantuan pada Bram dan mengerjakan pekerjaannya di kantor Papanya, Akbar kembali mengunjungi panti, berharap bertemu dengan Dafa akan menenangkan hati dan pikirannya. Melihat tingkah lucu anak kecil itu membuat hatinya berbunga-bunga, setidaknya mengobati rasa rindu terhadap anaknya yang entah ada dimana saat ini


"Selamat Malam bu, apa Dafanya sudah tidur?" Tanya Akbar kepada Ibu Panti


"Selamat malam Nak, itu Dafanya dari kemarin ikut Nak Qiana tinggal di rumahnya. Mungkin besok kesini mau ngurus surat adopsi. Soalnya kasihan Dafa selalu merengek minta ikut Nak Qiana," Kata Bu Panti


"Yasudah Bu, ini saya bawakan martabak buat anak-anak dan Ibu mohon diterima, saya pamit dulu," Ucap Akbar.


"Baik Nak terimakasih kunjungannya dan  hati-hati di jalan," Kata Bu Panti.


"Bu, sebentar. Saya mau minta alamatnya Qiana boleh?" Tanya Akbar.


"Iya boleh Nak sebentar," Ujar Bu Panti.


Akbar pun segera melajukan mobilnya kearah rumah Qiana, sesampainya disana terlihat rumah Qiana sudah gelap dan tertutup rapat. Mungkin sudah tidur, pikir Akbar. Dilihatnya pada jam yang melingkar di tangan kirinya, pukul 21.30 WIB,

__ADS_1


"Pantas saja sudah gelap rumah Qiana, sudah malam rupanya," Gumam Akbar. Dia pun bergegas pergi meninggalkan rumah Qiana menuju apartemennya.


Ada rasa haru di hati Akbar mendengar Qiana akan mengadopsi Dafa, tapi ada perasaan kecewa di hati Akbar. Seharusnya dia dulu yang mengadopsi anak itu, pikirnya dan memberikan kebahagiaan untuk Dafa.


Pagi pun datang, kali ini pagi-pagi sekali Akbar pergi ke rumah Qiana untuk bertemu dengan Dafa. Sesampainya di depan rumah Qiana tampak Dafa tengah berlarian di pekarangan rumah Qiana. Akbar pun bergegas turun dari mobilnya dan membawa beberapa mainan untuk Dafa.


"Ayahh....Ayah... Ndaa... Ayah datang." Teriak Dafa sambil berlarian menuju Akbar


"Dafa jangan lari Nak," Ucap Qiana


"Yah, tantap Dafa yah tantap Dafa," Kata Dafa sambil merentangkan tangannya ke arah Akbar.


Akbar pun langsung menangkap dan membawa tubuh mungil itu kedekapannya.


"Hai anak Ayah, apa sudah makan?" Tanya Akbar sambil menciumi pipi Dafa.


"Itu, dituapi Nda Yah. Ayah udah matan?" Tunjuk Dafa ke arah Qiana yang sedang membawa piring makan Dafa yang tinggal separuh.


"Sudah, ayok dilanjut makannya. Nanti main sama Ayah lagi. Ayah bawa mainan buat Dafa," Ucap Akbar sambil menunjuk papper bag yang dia taruh diatas tanah sebelum menggendong Dafa tadi.


"Maaf Bu Qiana, saya kesini tanpa menghubungi ibu terlebih dahulu. Kemarin saya dapat alamat Ibu dari Bu Panti, saat saya mengunjungi panti berniat untuk menemui Dafa. Ternyata Dafa akan anda adopsi. Jadilah saya kesini untuk bertemu dengan dafa." Jelas Akbar.


"Ah,tidak apa Pak Akbar. Silahkan saja kalau ingin mampir untuk bertemu Dafa," Ucap Qiana yang hanya diangguki oleh Akbar


"Nih orang, ramah diawal doang ujung-ujungnya cuma ngangguk-ngangguk aja. Mana auranya dingin banget lagi. Tapi kalo diperhatiin kenapa Pak Akbar ini begitu mirip dengan Dafa." Batin Qiana.


"Ehm, Pak Akbar sebelumnya maaf kalau saya lancang. Kalau diperhatikan, kenapa Bapak begitu mirip dengan Dafa?" Tanya Qiana sambil menyuapi Dafa yang tengah bermain di gendongan Akbar. Akbar yang ditanya nampak tak bergeming.


"Ternyata bukan hanya perasaanku saja, kalau Dafa ini mirip denganku. Tapi dia juga beranggapan sama denganku." Batin Akbar.


"Betulkah seperti itu, Bu Qiana?" Tanya Akbar

__ADS_1


"Iya hanya pikiran saya saja Pak, jangan terlalu di ambil hati ya. Mohon maaf atas kelancangan saya," Ucap Qiana tak enak hati.


"Tidak apa Bu Qiana, santai saja," Kata Akbar.


Fikiran Akbar berkecamuk, apa harus menunggu asistennya untuk menemukan mantan istri dan anaknya. Atau dia melakukan tes DNA kepada Dafa, siapa tau Dafa ini anaknya karena bukan hanya menurutnya saja Dafa ini mirip dengannya, tapi menurut Qiana juga.


"Bu Qiana, apa anda tahu ceritanya Dafa sampai berada di panti itu?" Tanya Akbar.


"Saya kurang tahu pastinya pak, cuman setahu saya Dafa ditemukan ibu panti 2 tahun yang lalu saat itu kalau tidak salah usianya antara 3 atau 4 bulanan." Jawab Qiana jujur.


"Usianya hampir sama dengan anakku yang dibawa Mommynya pergi." Gumam Akbar namun masih bisa di dengar oleh Qiana


"Apa Pak?" Tanya Qiana pura-pura tidak mendengar gumaman Akbar


"Ah tidak apa, Bu Qiana." Jawab Akbar.


"Boleh saya mengajak Dafa bermain ke time zone?" Tanya Akbar.


"Lain kali tidak apa Pak? Sekarang waktunya Dafa untuk istirahat dan nanti rencananya saya mau ke panti untuk mengurus surat-surat adopsi, Pak." Kata Qiana.


"Oh tidak apa kalau begitu. Boleh saya menemani Dafa beristirahat?" Tanya Akbar lagi, dia benar-benar mencari celah agar bisa lebih lama dengan Dafa.


"Tentu, sialhkan Pak." Ujar Qiana.


***


Qiana POV


Apa tadi aku tidak salah dengar? Pak Akbar sudah memiliki anak seusia Dafa. Kasihan juga dia terpisah dengan anaknya, pantas saja dia begitu mendamba Dafa. Dafa juga tidak biasanya mau dekat dengan orang baru secepat ini, seperti ada keterikatan batin diantara keduanya


 

__ADS_1


Akbar POV


Untung saja Qiana mengizinkanku bertemu dan menemani Dafa beristirahat. Sepertinya betul aku harus melakukan tes DNA pada Dafa, karena aku merasa ada keterikatan batin dengan anak ini. Aku akan mengambil beberapa helai rambutnya dan menyerahkannya pada Bram agar membawanya ke RS bersama dengan rambutku.


__ADS_2