
Jakarta sedang panas-panasnya siang ini, tapi itu tak menyurutkan kebahagiaan dari seorang gadis berparas ayu yang baru saja pulang dari kampusnya. Almamater berwarna kuning itu masih terpasang rapi di badannya yang cukup ideal untuk gadis yang memiliki tinggi 158 cm itu, tangannya penuh dengan buket bunga dan beberapa paper bag serta boneka yangcukup menggemaskan. Langkah kakinya berjalan cukup lebar dan terkesan
buru-buru, pandangannya tak fokus melihat ke kanan dan ke kiri mencari dua sosok manusia yang saat ini juga ingin dia peluk.
“Ma…Mama… Pa…Papa…” teriak gadis itu, tapi tak ada sahutan sama sekali bahkan para pembantunya pun tidak terlihat sedari ia memasuki rumahnya.
“Kemana semua orang, padahal kan aku mau menyampaikan berita bahagiaku.” Gerutunya sambil terus berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Ceklek….
“Selamat atas sidangnya, sayang…..” teriak Mama Rita dan Papa Amri hanya tersenyum bahagia melihat putrinya, ya gadis berparas ayu itu adalah Fani, Fanindira Atmadja.
“Ahhh…. Mama Papa, Fani kira di tinggal ke Bandung rumah sepi banget,” ucap Fani yang sudah berkaca-kaca dan langsung menghambur memeluk kedua orang tuanya setelah meletakan hadiah-hadiahnya di atas kasur.
“Hehehe, maunya gituh ya Pa. Tapi sayang kalau anak bontot Mama nggak di bawa, nggak ada yang bisa di godain ya Pa.” goda Bu Rita sambil mengusap punggung anaknya.
“Kamu ini Ma, di hari bahagianya Fani aja masih bisa-bisanya kamu godain dia.” Kata Pak Amri.
“Tau nih Mama suka banget godain anaknya. Emh Ma,Pa sidang Fani lancer tinggal menunggu wisuda saja.” Ucap Fani sambil melepaskan pelukannya.
“Syukurlah sayang, rencana kamu ke depannya bagaimana? Apa langsung mau menikah dengan Bagas?” tanya Pak Amri sambil mendudukan tubuhnya di kasur.
“Ah Papa, aku masih 22 tahun menikahnya nanti saja, toh aku baru mengenal dekat Bang Bagas 3 bulan ini. Mbak
Qiana saja menikah dengan Abang usianya 26 tahun lebih, sebetulnya Fani masih ingin mencari pengalaman di luar sana Ma, Pa… bertemu banyak orang dan memahami berbagai macam karakter orang-orang di luar sana, itung-itung sambil belajar untuk Fani biar bisa bersikap jauh lebih dewasa dan bisa menempatkan diri dalam situasi dan kondisi apapun. Ini juga bisa dikatakan latihan sebelum menikah Ma Pa, biar nanti saat berumah tangga Fani bisa beradaptasi dengan cepat pada suami dan anak-anak Fani kelak, karena sebelumnya Fani sudah banyak melatih adaptasi Fani dengan berbagai macam karakter orang serta beradaptasi juga dengan berbagai kondisi dan situasi di luaran sana.” Jelas Fani panjang lebar.
“Hmmm…. Rupanya gadis manja kita sudah dewasa Pa,” ucap Mama seraya mengusap puncuk kepala Fani yang tertutup jilbab berwarna hitamnya, sedangkan Pak Amri menatap dalam wajah anak bungsunya.
Teringat jelas di benak Pak Amri tentang cerita yang pernah di sampaikan oleh besannya kala itu. Rasanya akan lebih menyesakan dada ketika melepas anak gadisnya yang belum memiliki suami, meski sang anak masih sepenuhnya miliknya tapi dia tak bisa menjaganya dengan baik ketika ada jarak diantara keduanya. Beda lagi ketika sang anak keluar dari rumah tapi sudah memiliki pasangan, meski sang anak bukan tanggung jawabnya lagi, tapi akan lebih menangkan bagi seorang Ayah ketika melepas sang putri bersama pasangan halalnya.
“Fani belajar banyak dari Mbak Qiana, Mbak itu udah jadi inspirasi buat Fani hehehe. Tapi tenang saja Fani nggak akan pergi jauh seperti Mbak Qiana dulu, Fani hanya ingin tinggal di Bandung.” Kata Fani sambil tersenyum lebar ke arah Mama dan Papanya.
__ADS_1
“Huuuhhh… kita di tinggal anak-anak kita Pa. Apa kita juga harus pindah ke Bandung juga?” ucap Bu Rita sambil menatap anaknya sendu.
“Biarkan anak-anak menentukan pilihannya sendiri Ma, jika itu baik kita sebagai orang tua harus mendukung pilihannya.” Jawab Pak Amri dan diangguki oleh Bu Rita.
“Emh… bagaimana jika sekarang kita makan-makan…..” seru Fani dengan riangnya.
Siang yang terik itu di akhiri dengan makan siang bersama di salah satu restaurant langganan keluarga Atmadja sedari dulu.
Drrrtt….drrrtt…drrrt….
“Dek, handphone kamu geter tuh, diangkat dulu siapa tahu penting,” ucap Bu Rita pada anaknya yang masih sibuk memakan salad buah.
“Iya Ma.” Jawab Fani yang langsung menaruh sendoknya dan segera meraih handphonenya yang berada dalam tas jinjing milikinya.
“Abang Ma, video call aku angkat ya.” Kata Fani seraya menggulirkan gambar gagang telepon berwarna hijau.
“Assalamu’alaikum Ante…” ucap Dafa dengan senyuman yang mengembang di layar ponsel Fani.
“Ante lagi di mana? Oma dan Opa lagi belsama Ante kah?” tanya Dafa.
“Dafa panggil A..U..N..T..Y, jangan Ante nanti dikira Onty ini temennya para bola. Onty lagi makan siang sama Oma dan Opa.” Jawab Fani setelah memprotes panggilan Dafa kepadanya yang belum juga berubah.
“Hihihi, Onty jangan malah-malah. Selem.” Jawab Dafa yang disambut tawa Ayah Bundanya yang sedang duduk di
mengapitnya.
“Ih… udah nakal ya sekarang. Mana Ayah sama Bunda?” tanya Fani.
“Bental, Dafa mau ngoblol dulu sama Oma dan Opa.” Pinta Dafa.
“Assalamu’alaikum cucu Oma dan Opa, aduh Kakak sudah besar ya.” Sapa Bu Rita dan Pak Amri.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam Oma… Opa… iya dong Kakak kan sudah mau punya adik jadi Dafa halus sudah besal bial bisa gendong dan jagain adek nanti,” jawab Dafa antusias.
“HAHHHH… ADIK?” Tanya Bu Rita, Pak Amri dan Fani secara bersamaan.
“Hehehehe, iya Ma… Mama dan Papa akan punya cucu baru. Dek, Abang nggak ngasih kamu hadiah ya, hadiahnya kabar bahagia ini aja hahaha, kamu bakal jadi Onta lagi buat ponakan baru kamu.” Kata Akbar yang sudah mengambil alih handphonenya yang tadi di bawa oleh Dafa.
“Alhamdulillah…. Nambah cucu Pa,” ucap Bu Rita yang sudah memeluk erat suaminya, menumpahkan rasa syukurnya. Bagaimana tidak terharu, melihat anaknya sudah memulai kehidupan baru dan melupakan masa kelamnya, masa terpuruknya tiga tahun yang lalu. Dan berbagai kebahagiaan kini sudah melingkupi kehidupan baru anaknya bersama menantu barunya, tidak lupa sang cucu yang menggemaskan dan akan segera bertambah lagi cucunya beberapa bulan kedepan.
“Ishhh… menyebalkan Onty Bang, Onty bukan Onta dasar Abang jehong. Yaudah nggak usah hadiah tapi besok aku ke sana nginep sampai bosen.” Jawab Fani.
“Iya…iya Onty, besok kesini ya hahaha… Mama dan Papa juga ikutlah bersama Fani… Mari kita mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk Adek dan juga untuk anggota baru keluarga kita.” Kata Akbar dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
“Ide bagus Bang, mana istrimu Mama mau bicara dengannya.” Ucap Bu Rita.
“Ma…Pa…” sama Qiana sambil menampilkan senyum terbaiknya.
“Hai sayang, sudah berapa minggu usia kandunganmu? Kenapa baru mengabari kami sekarang?” tanya Bu Rita.
“Sudah jalan 5 minggu ini Ma, maaf Qiana awalnya tidak menyadari jika sedang mengandung karena tidak ada gejala apapun. Hanya telat datang bulan saja Ma, kemarin sudah mencoba menggunakan testpack tapi Qiana belum yakin jadi tadi pagi baru mengeceknya ke dokter kandungan untuk memastikan.” Jawab Qiana.
“Qiana takut mengecewakan Mama dan Papa kemarin jika langsung menghubungi Mama dan Papa sebelum mengeceknya dulu ke dokter kandungan.” Sambung Akbar.
“Ah.. tidak apa..tidak masalah Nak. Yang penting kandunganmu sehat, istirahatlah yang cukup dan penuhi gizi istrimu dengan baik Bar. Besok pagi kita akan kesana, apa besanku sudah tahu kabar bahagia ini?” tanya Pak Amri.
“Belum Pa, tadi kita sudah menghubungi tapi panggilan di tolak karena Mama dan Papa mertua sedang mengantarkan Nenek Mira ke Rumah Sakit untuk check up lagi.” Jawab Akbar.
“Bang udah ya, kita mau nyambung makan kita lagi nih… sampai jumpa besokkkk…. Fani akan tinggal di Bandung lamaa…..bangetttt….” ucap Fani.
Kepindahan Fani ke kota tetangga adalah awal dari petualangan hidupnya yagn selama ini tidak pernah lepas dari kedua orang tuanya.
__ADS_1