
Setalah acara piknik dadakan itu selesai, Fani mengajak Qiana untuk beristirahat sebentar di dalam kamarnya. Mumpung Dafa sibuk dengan Oma Opanya yang memberikannya banyak mainan, sedangkan Akbar dia tengah sibuk bertelepon ria dengan asistennya untuk mengatur ulang jadwal-jadwalnya yang terbengkalai beberapa waktu terakhir dan sepertinya tetap akan terbengkalai, setidaknya sampai acara lamaran selesai.
Sejak masuk kedalam kamarnya, Fani tampak murung dan matanya sudah mulai berkaca-kaca. Tak lama setelah mendaratkan bokongnya di kasur quen sizenya, tangis Fani pecah.
“Mbak, huh u huh u huh u huh u salah Fani apa mbak sama tunangan Fani. Tega banget dia Mbak selingkuh sama sahabat aku sendiri,” Adu Fani dengan air mata yang bercucuran.
“Dek, kamu dengerin mbak ya. Kamu beruntung loh dikasih liat sama Allah kalau tunangan kamu itu belok pas masih dalam tahap ini kalau pas udah nikah malah lebih sakit Dek. Jadi kamu jangan terlalu sedihnya, biar Allah cepet ngasih ganti yang lebih baik dari tunangan kamu itu," Kata Qiana mencoba menenangkan Fani.
“Iya Mbak, betul juga ya Mbak. Kok aku jadi nggak bisa mikir dengan baik sih Mbak kayak orang beg* gini,” Kata Fani sambil menoyor kepalanya sendiri.
“Dek jangan ngomong gituh ah, pamali masak ngatain dirinya sendiri kayak gitu," Kata Qiana, sambil mengelap air mata Fani.
“Hehehe, iya Mbak maaf. Emh, Fani jadi kepikiran sama Abang Mbak. Abang dulu pernah di posisi Fani malah jauh lebih sakit lagi kayaknya soalnya Abang kan udah dalam ikatan yang serius apalagi udah ada anak waktu itu,” Kata Fani sambil menatap kosong ke arah depan.
“Sudah takdirnya Abang kamu seperti itu Dek, mungkin dengan adanya kejadian itu Abang kamu bisa ngambil pelajaran yang sangat berarti dalam hidupnya jadi bisa berbenah diri dari kejadian yang menimpanya itu. Nggak selamanya hidup itu pahit pasti bakal nemu manisnya kok Dek. Hehehe,” Kata Qiana sambil mengusap lembut bahu calon Adik iparnya itu.
Fani hanya menganggukan kepalanya, rasanya dia sungguh lelah dengan hidupnya. Dia wanita humoris yang tangguh, tak semua masalahnya orang tua dan Abangnya tahu tapi untuk masalah ini ia betul-betul merasa tak sanggup. Dia tidak menceritakan ke Mama, Papanya alasan dia memutuskan pertunangan itu, Fani hanya bilang bahwa dia sudah tak ada kecocokan dengan calonnya itu. Tapi entah ketika melihat calon kakak iparnya ini, Fani merasa ingin berbagi kisahnya ini.
“Mbak, makasih ya,” Kata Fani sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Hey, nggak usah formal banget sama Mbak. Udah sepatutnya juga kita saling support satu sama lain. Kamu udah mbak anggep Adek Mbak sendiri,” Kata Qiana.
Greb...
__ADS_1
“Aaahhh, Faniii…” teriak Qiana karena tiba-tiba Fani mendekapnya dengan erat sehingga tubuh Qiana yang semula duduk kini sudah terbaring.
“Hahahahahaha, uuuhhhh sayang sama Mbakcuuuu…. Cepet nikahnya Mbakk sama Abang biar Fani bisa sering-sering sama Kbakkk," Heboh Fani dengan tetap memeluk Qiana.
Tanpa mereka sadari semua orang telah berkumpul di depan pintu sejak mendengar teriakan Qiana.
“Huaaa….hiks…hikss..hiks… Antee angan jahatin Ndaaa nanti Jda angis agi… hikss…hikss.” Tangis Dafa di gendongan Akbar.
“Ups, loh ini pada ngapain sih di sini. Dan Dafa Tante nggak lagi jahatin Bundamu tante cuman mau peluk Bundanya Dafa aja,” Kata Fani yang masih kaget karena tiba-tiba banyak orang di depan kamarnya.
Qiana segera bangkit dari kasur Fani dan merapikan sedikit gamisnya akibat tertindih badan Fani.
“Hiks..hiks,…. Ante Fani bohong,” Kata Dafa dengan tangisannya.
“Kalian ngapain sih sampek teriak-teriak gitu, ngagetin orang rumah tauk nggak sih?” Kata Akbar yang masih sedikit shock, dia kira terjadi hal-hal buruk di kamar Adeknya ini.
“Iya ih, bikin Mama kaget aja untung nggak jantungan nih Mama sama Papa,” Kata Bu Rita sambil melenggang pergi setelah tau jika tidak terjadi apa-apa.
“Hehehe, maafin ya Ma, Pa, Bang tadi aku ngagetin Mbak Qia meluk langsung aku jatuhin di kasur hehehe. Pisss, maapin yak Bang yak,” Kata Fani dengan menangkupkan tangannya di depan dada.
Akbar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ajaib sang Adek. Matanya masih sembab, tapi bibirnya udah senyam-senyum, tingkahnya konyol pula.
“Huh, punya Adek satu kelakuannya ajaib banget. Udah sana cuci muka mata sembab gituh sok tegar banget becanda mulu,” Kata Akbar sambil mengusap kepala Fani yang masih tertutup jilbabnya, lalu melirik sekilas ke arah Qiana dan Dafa.
__ADS_1
“Emh, Mas kita bisa nambah sehari lagi nggak di sini?, kasihan Dafa belum istirahat yang bener-bener istiratah loh semenjak pulang dari Surabaya,” Kata Qiana dengan menekan kata bener-bener.
“Oke, nggak masalah kita di sini sambil nyiapin keperluan buat ke Surabaya," Kata Akbar.
“Makasih Mas, yaudah aku mau nidurin Dafa ya kayaknya kecapekan banget,” Kata Qiana.
"Iya abis itu, turun bentar Mas tunggu di gazebo belakang ya," Ucap Akbar yang hanya di angguki oleh Qiana.
Qiana menitipkan Dafa yang sudah lelap pada Fani, dan segera menuruni tangga untuk menemui Akbar.
"Ada apa Mas?" Tanya Qiana sambil mendudukkan tubuhnya di gazebo.
"Itu si Fani, giman ceritanya," Kata Akbar.
"Oh itu, kata Fani tunangannya itu udah selingkuh sama sahabatnya Fani dan kepergok sama si Adek. Jadi langsung di putusin saat itu juga, cuman Faninya nggak cerita sama Mama, Papa kalau tunangannya itu selingkuh. Fani cuman bilang kalau udah nggak cocok. Mama sama Papa belum cerita ke Mas?" Tanya Qiana.
"Mama sama Papa belum bahas Fani sama sekali ke Mas, mungkin mereka fikir Fani nggak kenapa-kenapa dengan masalah yang Fani terima, kamu lihat sendiri lah tingkah Fani gimana di depan oran tua sama Mas, nggak nunjukin kalau dia lagi sakit hati dan butuh orang. Malah lari ke kamu, makasih ya Qia udah bantuin Mas jagain Fani," Kata Akbar tulus.
"Fani sebenernya perempuan yang kuat dan hebat, nggak mau lihat orang dinsekitarnya bingung atau susah karena dia. Ada baiknya kamu bilang sama Mama dan Papa Mas, soalnya mereka udah tunangan juga. Qia takut pihak laki-lakinya nggak terima dan malah memutar balikan fakta yang bisa memberatkan Fani kedepannya. Mas nggak usah berterimakasih sama Qia, ini udah tugas kita sebagai orang di dekat Fani untuk mensupportnya," Ujar Qiana.
__ADS_1
Terimakaaih sudah berkenan membaca novel yang sudah author buat. Kalau ada saran dan masukan silahkan disampaikan melalui kolom komentar. 💙💙💙💙