
Selamat membaca....
***
Akbar POV
Suasana hatiku sedikit kacau pagi ini, semenjak mendapatkan kabar dari Bram bahwa Bella akan kembali ke Surabaya membuatku sedikit berfikir macam-macam. Terlebih setelah aku mendapat informasi lebih detail dari sahabat Qiana yang sempat menampung Bella di rumah Qiana waktu itu. Jujur saja, aku sangat kesal dengan Bella semua peristiwa yang sudah berlalu tidak menjadikannya lebih baik dan belajar dari kesalahan yang sudah dia perbuat.
Menyebalkannya lagi ketika dia selalu menyalahkan orang lain atas takdir yang selalu ia terima dan tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Yang ku khawatirkan bukan hanya Dafa, melainkan keberadaan Qiana juga patut aku lindungi karena kini Bella juga mengincar Qiana, untuk melampiaskan kekalahannya.
Seusai sarapan kulihat Dafa dan dua keponakan Qiana sedang menarik-narik tangan Qiana, sepertinya mereka mengajak Qiana bermain di taman belakang. Aku memutuskan untuk bergabung dengan orang dewasa lainnya di ruang tamu, aku ingin membahas tentang Bella kepada kedua orang tuaku dan kedua orang tua Qiana, agar tak jadi kesalah pahaman seperti yang di khawatirkan sahabat Qiana tadi.
Aku memutuskan untuk menceritakannya dari awal dan sedetail mungkin, agar mereka tahu duduk permasalahannya secara jelas. Bang Reza sebagai Kakak satu-satunya yang dimiliki Qiana tampak sangat kesal dan berjanji akan melindungi Qiana dan keluarganya dari gangguan Bella. Begitu pun dengan Fani yang terlihat menahan amarahnya yang sudah siap meledak, berbeda dengan kedua orang tuaku dan Qiana yang tampak tenang, menyikapi kata-kataku.
"Sepertinya saya dan Qiana harus segera kembali ke Bandung karena satu-satunya tempat yang tidak di ketahui Bella adalah rumah yang di Bandung. Tapi yang saya khawatirkan, Bella akan berbuat ulah kepada Om dan Tante untuk memancing Qiana dan saya agar keluar menemuinya," kataku menjelaskan pemikiranku agar kami bisa berunding untuk memilih jalan terbaik yang minim resiko.
"Ya Om setuju dengan usulan kamu Nak. Untuk Om dan Tante di sini kamu jangan khawatir ada anak Om yang pemberani ini, pasti dia akan melindungi orang tuanya dengan baik," kata Om Rizal sambil merangkul pundak Bang Reza.
"Nenek mau ikut kembali ke Bandung atau masih mau tinggal di sini?" tanyaku pada Nenek Mira yang sedari tadi diam memperhatikan kami.
"Nenek di sini saja dulu Nak Akbar, soalnya Nenek musti chek up kesehatan Nenek lagi di rumah sakit kemarin." jawab Nenek yang kulihat masih bimbang. Saat hendak menjawab ucapan Nenek, tiba-tiba terdengar suara gaduh di depan rumah.
"Kowe sopo? Masuk rumah orang kok sluman-slumun." suara seorang perempuan yang terdengar sangat emosi.
"Biarkan saya masuk, si wanita rubah itu pasti ada di dalamkan?" teriak seorang wanita yang aku yakini dia adalah Bella.
Kami yang sedang duduk-duduk santai di ruang keluarga pun langsung berdiri dan berjalan ke depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tampak Fani berjalan paling depan dan berapi-api, dasar Adikku satu itu selalu saja mudah tersulut emosinya.
__ADS_1
"MAU APA KAMU DATANG KEMARI!!" Teriak Fani ketika sudah sampai di teras depan, ake memperhatikan raut wajah Bella yang tiba-tiba berubah kaget.
"Kenapa kalian ada di rumah Qiana? Bukannya berada di hotel?" tanyanya dengan wajah pias, ternyata dia salah memperkirakan situasi.
"APA URUSANMU? SUDAH SANA PERGI JANGAN BERULAH DISINI!!" teriak Fani, ada untungnya Fani mengetahui semua persoalan hidupku beberapa tahun terakhir ini, jadi dia tahu bagaimana dia harus bersikap.
"A..apa.. aku hanya ingin berkunjung ke rumah teman SMA ku," katanya sedikit tergagap, baru berbicara dengan Fani saja nyalinya sudah menciut.
"Sudahlah Bell, kamu pulang saja jangan ganggu kebahagiaan anak Tante lagi. Terimakasih kamu sudah membuang Dafa ke panti asuhan sehingga cucuku bisa bertemu dengan Qiana yang jauhhhh... lebih baik daripada ibu kandungnya sendiri. Terimakasih juga sudah pergi dari kehidupan anakku, jangan pernah datang lagi, atau penjara akan menjadi sahabat penjemput ajalmu," kata Mama dengan nada yang tenang namun penuh dengan penekanan.
Bella sudah tampak pucat karena tidak ada satu orang pun yang berpihak padanya.
"Ma, tapi karena Qiana, Bella pisah dengan suami Bella. Coba saja jika Qiana tidak bertemu dengan Dafa dan Akbar, pasti aku akan baik-baik saja dengan suamiku dan tidak di gugat cerai,"kata Bella membela diri, ah ku kira dia akan menyerah ternyata mulutnya yang berbisa itu masih saja mencari alasan.
"Akbar dan Dafa bertemu Qiana atau tidak, tetap saja kamu akan kami penjarakan karena sebenarnya selama kamu pergi orang-orang ku mengikutimu selama di Singapur, tapi tidak sekali pun orang-orangku melihat kau bersama cucuku. Dan itu sudah sangat memberatkan mu, belum lagi sekarang ada saksi dan bukti kuat tentang penelantaran anak yang kamu lakukan terhadap cucuku. Tinggal pilih saja kamu mau merusak kebahagiaan keluargaku atau kamu mau mendekam di penjara lagi?" kata Papa dengan tenang.
Disaat seperti ini aku sangat beruntung dan bersyukur di kelilingi orang-orang yang baik dan mendukungku penuh, agar tetap berdiri tegak.
Tanpa menjawab dan tanpa pamit, Bella berbalik dan berlalu meninggalkan rumah Om Rizal dengan raut wajah yang sangat sulit aku artikan.
"Anak Mama, jagoan ternyata. Belajar dimana kamu marah-marahin orang sampek pucet gituh lawannya," ujar Mama sambil merangkul pundak Fani.
"Mama, jangan tanya aku belajar dimana, sudah jelas jawabannya. AKU BELAJAR DARI MAMA..." jawab Fani sambil berlari menjauh dari Mama, karena sudah berhasil menggoda Mama. Semua orang tampak sudah kembali seperti tadi sebelum kehadiran Bella yang menyebalkan itu. Tak berapa lama Qiana datang bersama anak-anak.
"Ada apa, kok pada di luar semua dan berisik sekali," katanya dengan raut wajah bingung, dia selalu saja tampak menggemaskan di mataku.
"Yang dikatakan sahabatmu tadi, sudah terjadi. Bella baru saja datang kemari, untung saja kamu dan anak-anak ada di belakang," kataku seraya mengajak semua orang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Astagfirullah, aku belum cerita sama Papa, Mama, maafin Qiana ya, kalian pasti kaget ya sama kedatangan Bella," ucap Qiana sambil menepuk jidatnya, jujur saja aku ingin menertawakan spontanitasnya itu.
"Sudah tenang saja Mama,Papa kita semua sudah tahu segalanya. Tadi untung saja Akbar sempat bercerita tentang Bella dan perilakunya jadi kita-kita udah nggak kaget lagi." jawab Mama.
"Alhamdulillah, makasih Mas udah ngambil keputusan yang tepat," ucapnya seraya tersenyum manis ke arahku. Aku selalu saya lemah dengan senyum manis Qiana, sekalipun aku tahu bahwa dia belum mencintaiku seperti aku mencintainya.
"Sama-sama, pokoknya kita harus mulai belajar saling terbuka agar nggak terjadi kesalah pahaman kedepannya," kataku.
Kita kembali ke ruang keluarga merundingkan langkah tegas yang harus di ambil ketika Bella terlihat berulah lagi, serta cara untuk menjelaskan pada Dafa tentang ibu kandungnya, cukup pelik dan rumit ketika membahas persoalan tentang Bella ini. Aku merasa sangat bodoh bisa terjebak oleh topeng yang dikenakan Bella selama hampir 5 tahun sejak pacaran sampai punya Dafa. Kami juga membahas tentang persiapan pernikahan ku dan Qiana, yang akan di lakukan di Bandung. Pembicaraan terpaksa terhenti ketika anak-anak sudah tampak mengantuk.
Anak-anak ini, sekalipun tidak terlahir dari rahim Qiana mereka tampak lebih dekat dengan gadisku ini dan mengabaikan orang tua kandungnya. Aku lihat Bang Reza dan istrinya tampak kewalahan untuk mengajak anak-anaknya tidur dan berdektan dengan mereka ketika sudah ada Qiana. Entah apa yang sudah dilakukannya terhadap anak-anak, sampai mereka sangat menempel padanya, mungkin dia memilikikasih sayang yang tulus. Pantas saja Dafa selalu mencari Qiana, sekalipun sudah ada aku bersamanya.
"Dek, ini hp kamu bunyi terus dari tadi," kata Mbak Santi pada Qiana.
"Oh iya Mbak, makasih ya," ucapnya seraya memperhatikan layar hpnya, tampak dia mengerutkan dahinya seolah sedang bingung dengan apa yang dia baca atau lihat dari layar hpnya.
"Kenapa Qi?" tanyaku memberanikan diri untuk mulai kepo dengan urusan Qiana, dia lalu menatapku dan tersenyum kaku.
"Ah, tidak ada apa-apa Mas, hanya pesan dari Mama Dewi," katanya sambil mengusap-usap punggung Dafa dan Lea bergantian.
"Oh, kenapa dengan Mama Dewi? Apa ada masalah?" tanyaku lagi, karena dari ekspresi yang aku tangkap Qiana tampak terkejut ketika membaca isi pesan itu. Dia pun tak langsung menjawab pertanyaanku, seperti sedang berfikir untuk merangkai kata sebelum menjawabnya.
"Emh, anu tidak ada masalah hanya saja ingin bertemu denganku sebelum kita kembali ke Bandung Mas," jawabnya hati-hati.
"Yasudah, pergilah nanti Dafa biar bersamaku," Kataku, bagaimana pun aku belum bisa melarang-larang Qiana untuk melakukan apapun, belum hakku.
'Iya, aku pergi nanti sehabis maghrib ya Mas. Biar besok kita ada banyak waktu buat packing dan istirahat sebelum lusa kembali," ucapnya lagi, aku hanya menganguk. Jujur saja masih penasran apa yang akan di bahas oleh kedua wanita yang berbeda usia ini ketika bertemu nanti.
__ADS_1
***
Terimakasih telah berkenan membaca, sehat selalu semuanya....