
Selamat membaca…..
***
Wanita berperawakan bak seorang model itu berjalan menyusuri jalanan Seoul seorang diri dengan jaket tebal yang membungkus badannya yang proporsional. Hampir 10 tahun tinggal di Korea menjadikannya wanita yang sangat memperhatikan badan dan juga caranya berpakaian. Rambutnya hitam legam seperti rambut orang Indonesia
kebanyakan, hanya kulitnya saja sudah seperti orang Korea Selatan, putih bersih.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen yang ia sewa wanita itu menggerutu tiada henti, mencaci pria yang baru saja ia temui. Awalnya ia diliputi rasa simpati sampai-sampai menyanggupi untuk menemani lelaki itu atas permintaan sahabatnya, tapi siapa sangka ternyata si lelaki yang tengah galau itu malah berubah menjadi lelaki yang sangat menyebalkan, menurutnya.
Ting….
Pintu apartemen terbuka setelah Andin memasukkan sandinya, dilepasnya sepatu yang ia pakai seharian lalu ditaruhnya pada rak sepatu dan menggantinya dengan sepasang sandal rumahan miliknya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Fani yang sedang berada di dapur, menyembulkan sedikit kepalanya untuk memastikan siapa yang datang.
“Lagi apa?” tanya Andin seraya melepas jaketnya.
“Lagi bikin nasi goreng, mau?” tawar Fani.
“No, sudah malam nanti aku makan buah saja. Oh iya, temen kamu itu nyebelin banget sih Fan… Astaga bisa darah tinggi kalau ketemu dia lagi.” Gerutu Andin sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin.
“Aishh… badan sekecil itu sesekali makan nasi malem-malem nggak apa kali Ndin.” Ucap Fani dengan melirik sekilas sahabatnya yang kini sudah duduk di kursi meja makan.
“Kapan-kapan lah, lagi males makan berat-berat nanti musti nunggu sejam buat bisa tidur sedangkan ini udah ngantuk banget.”
“Yaudah sono dah, istirahat. Eh… bentar-bentar… tadi Bang Aziz gimana nggak apa-apa kan dia?” tanya Fani tanpa membalikan badannya.
“Ya gituh Fan, hm nyebelin banget deh pokoknya. Tengil gituh orangnya, awalnya aku sempet simpati sama dia ehhh malah jadi resek orangnya.” Sungut Andin.
“Hahaha, emang gituh orangnya awal aku kenal Bang Aziz juga tengil banget orangnya, tapi kesini-sini dia baik kok.” Ucap Fani seraya menaruh nasi gorengnya yang sudah matang ke atas piring.
Andin diam, sibuk dengan pemikirannya sendiri menghiraukan Fani yang kini sudah duduk di sampingnya memakan dengan lahap nasi goreng yang dia buat sendiri.
Drrrttt….ddrttttt…
“Ndin, hp Ndin… bunyi tuh.” Ucap Fani seraya beranjak dari duduknya menaruh piring bekas makannya.
“Ini nomor baru, siapa ya Fan?” Fani yang mendengar pertanyaan dari Andin pun langsung memutuskan mengambil ancang-ancang untuk berlari ke arah kamarnya, karena dia sudah bisa menebak siapa yang menelepon Andin.
“Nggak tau coba angkat aja, dadah… aku ke kamar duluuu…byeee…” Fani pun menjawab seraya berjalan menuju kamarnya seolah tak ada apa-apa. Saat melihat Andin akan mengangkat teleponnya Fani buru-buru berlari.
“Anyeong a…” belum sempat menyelesaikan ucapannya Andin mendengar suara berat disebrang sana sudah memotong ucapannya dengan kalimat yang menyebalkan.
“Sssttt… nggak usah pakai monyong-monyong segala, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Dapet nomor aku dari siapa?” tanya Andin.
“Pakek nanya segala, coba deh pikir sendiri. Dasar aneh hal yang udah bisa ditebak sendiri aja pakek nanya orang segala.”
“FANIIIIIIIII!!!!!!!!!” Teriak Andin geram.
“Nah kan tahu, udah-udah jangan teriak-teriak mulu. Mending dengerin aku ngomong, besok aku tunggu di lobby apart jam 8 nggak pakai telat. Titik tidak ada bantahan!”
tut…tut…tut….
__ADS_1
Panggilan telepon dari nomor baru tanpa mengucap nama tapi sudah dapat dipastikan oleh Andin bahwa yang meneleponnya adalah pria menyebalkan yang baru ia temui tadi. Bahkan lewat telepon pun dia sangat menyebalkan, terlebih caranya mengajak pergi dan memutus sambungan telepon begitu saja tanpa membiarkan Andin menjawab.
“Dasar pria tua menyebalkan!!!” Andin pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar, tempat ia merebahkan tubuh meluruhkan lelah yang ia rasakan seharian beraktifitas di luar rumah.
***
Tepat pukul 22.00 waktu Korea Selatan, Fani keluar dari kamarnya berjalan pelan dengan membawa laptop dalam dekapannya, tepat di depan pintu kamar Andin Fani mengetuk pelan pintu dihadapannya, seraya berharap sang pemilik kamar belum berwisata menuju pulau kapuk.
Tok….tok…tok…
“Ndin, udah tidur belum?...Ndin…Andin…” telinganya ia dekatkan dengan pintu yang tertutup rapat dihadapannya, mencuri dengar barangkali bisa tahu seseorang di dalam sana masih bangun apa sudah terlelap.
Ceklek…
“Ehhh…kamu ngapain.” Ucap Andin yang keget dan merasa aneh meliat kelakuan sahabatnya itu, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum pasta giginya dan langsung menegapkan kembali posisi berdirinya.
“Hehehe, ayok nonton drakor.” Ajak Fani seraya menarik tangan Andin masuk menuju kamarnya.
“Aku mau nonton Negeri 5 Menara aja, masih adakan?” tanya Andin seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur, gagal sudah ia berwisata menuju pulau kapuk.
“Masih ada kok tenang aja,” jawab Fani, padahal menanyakan film Negeri 5 Menara beharap sudah tidak ada di laptop Fani dan dia bisa melanjutkan persiapan berwisata lebih cepat.
“Eh, mending kita cerita-cerita aja kamu nanti tidur disini aja biar kayak dulu.”
“Iya ih, seru. Udah lama kita nggak kayak gini. Eh tapi sebentar, aku mau bilang dulu, mungkin kalau nggak seminggu lagi aku bakal balik ke Indo, usaha restaurant kita disini kamu yang ngurus ya aku percayain semuanya sama kamu." ucap Fani.
"Ahhh...kok cepet banget sih katanya mau 3 bulan disini."
"Ish... ada hati yang menantiku disana wkwkwk."
“Hahaha...iya-iya paham deh...Kamu inget kamu nangis di Bandara waktu aku mau pergi? Terus besoknya kamu email aku judul lagu tentang persahabatan…. Aahhh aku nangis tahu seharian gara-gara kamu.” Ucap Andin seraya menerawang jauh ke belakang.
“Bentar-bentar aku ada album foto kita, ayok nyanyiin lagunya sambil kita buka-buka foto lawas hahaha…lucu juga.” Dengan semangat Andin berdiri dan berjalan menuju rak buku di sudut kamarnya untuk mengambil album foto yang telah lama ia simpan.
"Kayaknya besok aku yang bakal nangis di Bandara deh Fan. Hadeuhh... sekarang bisa gantian gini ya Fan. Kuy nyanyi..."
Sebiru hari ini
Birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hari kita, bersama disini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita akan berpisah
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita akan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
__ADS_1
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini
Seindah hari ini (seindah hati kita)
Indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita akan berpisah
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita akan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita akan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini
Seindah hari ini
Indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita
Walau kita kan terpisah
***
__ADS_1
Terimakasih semua………