Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Mungkin Kau!


__ADS_3

Selamat membaca….


***


Tumbuh dengan berbalut luka tak kasat mata menjadikan sosok Aziz begitu pekerja keras dan sangat menjaga apa yang telah dia miliki. Syta adiknya, menjadi satu-satunya pemicu bagi Aziz untuk menjadi sosok yang tangguh, menjadi tameng untuk melindungi satu-satunya keluarga yang dia miliki selama 15 tahun terakhir ini.


Tapi pertemuannya dengan Fani yang notabennya sudah memiliki pasangan, membuat Aziz kalap mata dan terus berusaha untuk mendapatkan sosok yang selama ini dia damba, wanita yang mampu menggetarkan jiwa dan raganya, wanita yang tetap menjadi dirinya sendiri dengan pemikirannya sendiri. Membuat Aziz mengenyampingkan perasaan lelaki yang sudah lebih dulu menambatkan hatinya pada sosok gadis ceria itu. Egois mungkin, tapi apakah Aziz tak boleh untuk merasakan bahagia satu kali saja…. dengan mempertahankan apa yang dia mau untuk tetap berada disisinya, tidak dengan mudah melepas apa yang dia inginkan untuk tetap bertahan disisinya meski itu harus menentang Papinya.


Lelaki yang akan memasuki usia 30 tahun itu, sebetulnya kecewa pada dirinya sendiri. Dia yangdengan mudahnya mempercayai apa yang dikatakan Papinya, tanpa mencari atau pun menanyakan kebenaran pada Maminya. Ahhh… dia masih terlalu kecil saat itu, 14 tahun remaja tanggung berjenis kelamin laki-laki yang memiliki kadar kepekaan rendah. Dan setelah sekian lama menutupi kerapuhannya, Maminya orang yang dia kira sengaja pergi dari kehidupannya tiba-tiba muncul dihadapannya dan menjadi Ibu tiri dari seorang Bagas, rivalnya dalam menaklukan hati seorang gadis bernama Fanindira Atmadja.


“Oey, jangan ngelamun aja. Jauh-jauh ke Korea cuman numpang ngelamun doang, sayang  banget buang-buang duit.” Meski baru sekali bertemu tapi Andin sudah seperti kenal lama dengan Aziz dan untungnya dia mau


membantu Fani untuk menghibur Aziz selagi dirinya berusaha menghubungi Bagas di Indonesia.


“Kenapa masih disini sih, dari tadi disuruh ngikutin Fani malah duduk-duduk disini.” Andin mendengus sebal karena ucapan lelaki yang kini tengah duduk dihadapannya dan dengan santainya dia kembali melanjutkan memakan makanan yang dari tadi dibiarkannya.


“Kau itu, tadi saja berperilaku baik padaku sekarang sudah seperti Ibu Kos yang mendapatipenyewanya telat bayar.” Andin yang sedari tadi sudah bersikap sangat manis pun kini mulai bersungut-sungut menghadapi Aziz.


“Arggghhh…. Ternyata betul laki-laki ini begitu sangat menyebalkan. Euuhhh… kalau bukan karena Fani sudah pergi dari tadi aku dari sini.” Gerutunya dalam hati.


“Terserahku lah, emh kalau kamu masih mau disini cepat bicaralah ajak aku mengobrol jangan diam saja dan memperhatikanku makan.” Ingin rasanya Andin memasukan sepiring kimchi ke dalam mulut pria menyebalkan dihadapannya ini.


“Aigooo… kau memang sangat menyebalkan ternyata. Bagaimana ada yang mau denganmu jika kau sangat menyebalkan seperti ini.” Aziz pun memandang tajam wanita yang kini sedang menyesap teh hijau di hadapannya.


“Ah, kau ini sudah seperti bunglon. Tadi saja bisa berbicara sangat bijak seolah-olah sedang menenangkanku sekarang malah mengataiku.” Ucapnya sebal.

__ADS_1


“Terserahmu!” ucap Andin seraya berdiri dari duduknya dan beranjak pergi, tapi belum juga kakinya melangkah genggaman erat sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya.


“Apa lagi?” ucap Andin seraya mencoba menghempaskan genggaman tangan Aziz, tapi percuma karena tenaganya tak sebanding dengan tenaga seorang pria, sekalipun sang pria itu sedang patah hati.


“Temani aku dulu, aku ingin mengobrol denganmu.” Dan pada akhirnya Aziz menurunkan egonya agar wanita yang ada dihadapannya ini tidak beranjak pergi.


“Bicaralah!” Mau tidak mau Andin pun mendudukan kembali tubuhnya, bagaimana pun dia masih memiliki rasa simpati ingatannya terus berputar dengan kejadian beberapa jam yang lalu ketika laki-laki dihadapannya ini, mencoba mengikhlaskan sahabatnya untuk pria lain dan menyadari keegoisannya.


“Apa dimatamu aku begitu egois?” tanya Aziz dengan menyesap cappuccino yang tinggal sedikit.


“Awalnya aku menilaimu sangaaaattttt egois. Tapi ketika Fani menceritakan detailnya dan kau pun sempat menceritakannya sedikit tadi, aku rasa kau bukan egois hanya berambisi dan mungkin juga cemburu pada adik tirimu itu.”Aziz memperhatikan dengan seksama wanita yang baru dikenalnya beberapa jam ini, terlihat anggun


tapi sangat keras jika dia menyimpulkannya dengan obrolan yang sedari tadi mengalir dari keduanya.


“Santai, mukanya tolong dikondisikan.” Ucap Aziz dengan terkekeh kecil melihat Andin yang sudah seperti macan melihat buruannya, siap terkam!.


“Aku nggak ngelakuin cara kotor kok, cuman deketin Fani aja tiap hari ganggu dia tiap jam kalau bisa biar di otaknya hanya ada aku, aku, dan aku. Haaah… tapi tidak cukup berhasil, kau tahu Bagas bukan?” tanya Aziz.


“Tahu, dulu kita pernah tinggal sekompleks,” jawab Andin datar.


“Coba deh bandingin aku sama Bagas, dari segi ketampanan udah jelas tampan aku, tinggi? Tinggian aku, baik? Baikan aku, terus Fani lihat Bagas dari segi mananya? Apa karena harta?”


Bugh… Andin yang sudah kesal mendengar celotehan Aziz pun melemparkan case handphonenya ke arah  Aziz, dan mengenai jidatnya.


“Kau itu kurang penuh otaknya makannya Fani lebih memilih Bagas.” Ucap Andin seraya menggapai case handphonenya yang jatuh di atas meja tepat di sebelah mangkuk  makan Aziz yang berisi setengah sop ayam.

__ADS_1


Untung nggak nyebur, pikir Andin.


“Kebanyakan makan cabe, pedes banget kalau ngomong.” Desis Aziz.


“Ngomong sama orang yang lagi patah hati itu musti pedes, biar cepet sadarnya. Apalagi modelan kayak yang ada di hadapan aku ini heuuuhh… Gini ya Mr. Aziz yang terhormat, ini udah kesekian kalinya aku ngomong jadi tolong diresapi dengan baik. Kau bilang tadikan, sudah mengikhlaskan Fani memilih siapa saja yang dia suka dan Fani sudah memilih Bagas adik tirimu, dan katamu akan menerimanya dengan lapang dada. Sekarang apa? Kau itu masih sibuk mengurusi mereka.”


“Satu lagi, dengar ini baik-baik! Mau kau itu menjadi lelaki paling tampan sedunia, mau paling kaya sedunia, dan apapun itu yang kau bangga-banggakan, kalau memang hati Fani tidak pernah memilihmu dan kalau memang Fani bukan jodohmu, ya tidak akan pernah bisa bersatu. Dan jangan pernah menyalahkan orang lain atas takdir yang kau terima selama ini, karena apa yang kau jalani memang sudah digariskan oleh Allah S.W.T bahkan sebelum kau dilahirkan di muka bumi ini. Jalani dengan baik, karena jika kau sibuk menyalahkan orang lain dan menyia-nyiakan


kehidupanmu, karena orang yang akan paling menyesal dikemudian hari ya dirimu sendiri.”


Aziz yang sedari tadi memperhatikan Andin yang sedang berbicara pun merasa sangat tertampar dengan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir tipis Andin. Dalam hatinya Aziz membenarkan bahwa orang yang paling menyesal nantinya adalah dirinya sendiri ketika saat ini dia disibukkan dengan menyalahkan Bagas, Maminya, Papinya atau pun orang lain.


“Kau benar,arghhh kenapa tak pernah terpikir olehku sejauh itu.” Ucap Aziz seraya meraup wajahnya dengan telapak tangannya dan menjambak sedikit rambut bagian depannya.


“Dia terlihat benar-benar menyesali perbuatannya.” Ucap Andin dalam hati, ketika melihat Aziz.


“Semoga kau pun sama, akan segera menemukan kebahagiaan seperti Fani dan Bagas. Kau orang baik,


semoga lekas bertemu dengan yang terbaik yang Allah kirimkan khusus untukmu. Aku pergi, kau segeralah kembali ke penginapanmu cuaca akan semakin dingin ketika malam hari.” Ucap Andin seraya menepuk-nepuk bahu Aziz yang terlihat masih merenungi kebodohannya.


“Dan mungkin kau adalah orangnya, yang dikirim Allah khusus untukku.” Ucap Aziz dalam hati ketika melihat sosok gadis yang sedari tadi menemaninya beranjak meninggalkan pintu restaurant.


***


Terimakasih telah membaca…..

__ADS_1


__ADS_2