
Selamat membaca... :)))
******
Hidup akan terus berjalan entah keadanmu baik-baik saja ataupun sedang dalam keadaan sekarat sekalipun. Ada banyak hal yang akan terlalui seiring berjalannya waktu, menyisakan jejak-jejak kenangan terlepas itu kenangan buruk ataupun baik. Mau tinggal di kota, di desa, di dalam hutan sekalipun semua tak akan lepas dari peran takdir dan waktu, sampai kematian datang menghampirimu.
Angin tak pernah lelah dan berhenti untuk menelisik dan mengisahkan riuhnya kehidupan dunia ini. Tentang baik dan buruk, suka-duka, air-api, cinta-benci dan segala hal lain yang sekiranya akan memberi kesan dalam kehidupan di masa depan. Angin seolah sedang menelisik riuh kehidupan yang tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Dan aku sangat…sangat… menyadari itu.
“Huwaa… selamat pagi dunia…” ucapku ketika membuka tirai ruang tengah. Fighting Fani kamu pasti bisa melewati hari ini meski kayaknya sedikit menguras emosi. Tadi selepas sholat subuh aku mencoba bernegosiasi lagi dengan Mbak Qiana tapi yaa sedikit alot, mukanya dimelas-melasin pula ya Allah nggak kuat. Ibu hamil gituh amat sih ya, keinginannya kudu banget diturutin dan yang biasanya Mbak Qiana selalu mengalah kini bener-bener teguh sama keinginannya musti diturutin. Dan pada akhirnya, sekeras apapun aku mencoba menghindar tetap saja berujung bertemu dengan Bang Aziz. Dari alasan yang paling masuk akal hingga yang paling tak masuk diakal sudah aku coba dan hasilnya? So bad.
“Dafa sayang sini sama Onty aja, kita tanam buah tobeli yuk.” Ajakku pada ponakan gembilku.
“Syiap Onty, Dafa bawa ini ya, boleh?” tanyanya padaku sambil mengangkat skop mainan di tangan kanannya.
“Iya sayang boleh.” Jawabku.
“Asyikkk…”heboh Dafa sambil mencoba merengkuh tubuhku mengalungkan tangan mungilnya di leherku yang tertutup kerudung, kebetulan aku sedang berjongkok untuk mengambil pupuk kompos di lantai dekat Dafa berdiri.
“Aduhhh, senangnya hati lihat pemandangan yang menghangatkan hati. Jadi berkali-kali lipat pingin cepet-cepet hallalin, keponakannya aja di sayang kayak gini apalagi anaknya sendiri.” See dia mulai berkicau tak jelas kembali, padahal sedari tadi aku sama sekali tak menghiraukannya.
“Om, kok disyini katanya mau bantuin Bunda. Bunda lagyi disyana sama Onty Tiwi.” Ucap Dafa sambil menunjuk Mbak Qiana yang sedang memasukan benih selada, sawi, bayam merah, dan beberapa jenis sayur lainnya ke dalam media tanam rockwool, aishh ponakan aku ini mengerti keadaan sekali. Nanti Onty belikan es klim banak-banak ya Dafa xixixi.
“Oh ini Om mau ngambil MOL atau Mikroorganisme Lokal, buat di campurkan ke air hidroponiknya Anak Ganteng. Nanti gantian ya, habis Om bantuan Bunda Qia, Dafa bantuin Onty Fani, terus nanti Om bantuin Onty Fani, Dafa bantuin Bunda. Gimana? Setuju?” whattt dia melakukan negosiasi sama ponakanku, astaga benar-benar niat dia mengibarkan bendera perangnya.
“Setuju..Dafa setuju…” heboh Dafa, astaga baru saja aku ingin mentraktirnya es krim.
“Oke Om ke Bunda kamu dulu ya, kamu bantu Onty kamu dulu ya sayang.” Ucapnya seraya beranjak pergi meninggalkanku dan Dafa.
Kami sudah berkebun sejak satu jam yang lalu, sekembalinya Bang Aziz dari mengantar Bang Akbar dari bandara. Orang itu sudah sejak jam 5 subuh datang kemari, entahlah niatnya murni untuk Abang atau tidak, setahuku kalau ada perjalanan bisnis Abang akan selalu diantar sopirnya ke Bandara, tapi hari ini? Semuanya berbeda.
__ADS_1
“Onty, ini tobelinya kok walna hijau kok ndak melah, kayak yang Dafa mamam kemalin?” tanya Dafa, uuhh senengnya melihat anak seusia Dafa sangat aktif dan banyak bertanya, indikator sel-sel otaknya bekerja dengan baik.
“Ini karena tobelinya belum matang sayang, masih mentah belum bisa di makan. Nanti kalau sudah matang warnanya berubah jadi warna merah dan saat itu baru boleh di petik lalu di makan.” Jawabku dan semoga Dafa paham.
“Walnanya kok bisa belubah? Siapa yang mewalnainya? Dafa mau ambil klayon dulu bial walnanya belubah cepat, Dafa mau mamam tobeli,” ehhh pemikiran dari mana ini, apa aku salah memberi jawaban tadi ya? Huh… hati-hati Fani berbicara dengan anak kicilll…. Astaga..
“Bukan begitu sayang, warnanya tobeli berubah dari hijau ke merah itu bukan karena kita yang memberinya warna tapi karena Allah yang mengubahnya sebagai tanda kalau buah itu sudah matang dan bisa kita makan.” Ucapku, semoga kamu paham ya Nak dan jangan bertanya lagi pliss Dafa, Onty bingung jawabnya, huhuhu…
“Oh, kalena Allah yang megubah walnanya. Nanti Dafa mau tanya Ayah sama Bunda aja, Ayah sama Bunda seling celita-celita tentang kebaikan Allah sama celita Nabi-nabi.” jawabnya.
“Iya sayang nanti tanya Ayah sama Bunda aja ya.” Ucapku.
Huhhh… ini nih salah satu alasan kenapa aku nggak mau buru-buru nikah sekalipun udah ada calon hihi. Takut aku tuh di tanya aneh-aneh sama anakku nanti, paling horror pertanyaan tentang ‘Allah itu apa Mommy?’ ya
kalau pas anak aku nanya itu SD bisa aku jelasin karena logiknya sudah mulai bekerja dengan baik, lah kalau seumuran Dafa tanya-tanya semacam itu gimana aku ngejelasinnya, salah-salah malah nyambung kemana aja dan aku salah memberi pemahaman kepadanya. Kadang mengandalkan naluri saja tidak cukup untuk menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak, musti dilengkapi sama kepintaran otak dan keluesan berbicara agar mudah dipahami anak kecil. Huwaaa, musti berguru lagi rupanya aku ini.
“Haii, sayangnya Om. Sudah selesai menanam stroberinya?” tanya Bang Aziz.
“Oh oke, kerja bagus Dafa. Sekarang Dafa bantu Bunda ya nata rockwoolnya di dalam air sana, giliran Om bantuin Onty Fani ya disini.” Katanya.
Dafa udah langsung ngacir ke Bundanya sambil melompat-lompat kecil, aiishh… keliatan seneng banget lagi tuh bocil.
Omo…omo..omo…. parah ini gimana ceritanya, rencana dia mulus banget gini. Pandanganku langsung tertuju pada Mbak Qiana yang entah kebetulan atau bagaimana, Mbak juga lagi lihatin aku. Dia ngedipin matanya beberapa kali, daebak kayaknya Mbak udah ngerencanain sesuatu untuk bantu aku xixixi.
Untungnya pohon buah naganya cuma dua pohon aja, jadi cuma sebentar tinggal masang penyangga buat dia merambat nantinya. Kisaran waktu 10 menitan, Mbak Qiana udah manggil kita buat istirahat sebentar di gazebo. Alhamdulillah dia belum buka obrolan dari tadi hanya sering ketahuan lagi mencuri-curi pandang saja, tapi tetep risih juga sih.
“Dek, Bang Aziz sini istirahat bentar.” Teriaknya.
Oh iya, Mbak Qiana juga manggil si tukang prank itu dengan embel-embel Abang di depannya, selisih dua tahunan mereka, lebih tua Bang Aziz tentunya.
__ADS_1
Saat aku berjalan menuju gazebo, hp yang aku sakuin bergetar. Cek dulu lah ya.
***
To: Adek Ipar Kiyowo
From : Mbak Qia
Habis istirahat kamu pamitan pergi ke endoapril sama Tiwi ya Dek biar masang penyangganya Bang Aziz sendiri aja, maaf ya Mbak ngerengek dari semalem dan tadi maksa buat bantuin Mbak berkebun. Terserah kamu mau berangkat beneran atau sembunyi di kamar. Mbak jadi ikutan takut Bagas ketikung sama Bang Aziz, dia tadi nanya-nanya sama Mbak ngobrol banyak ntar Mbak ceritain.
***
Ehh, nanya-nanya apa coba dia. Astaga padahal aku ini nggak cantik-cantik amat, baru kenal juga udah pepet terooss…
***
To: Mbak Qia
From: Adek Ipar Kiyowo
Asiap Mbakcu, abdi teu nanaon but nano-nano xixixi. Tararengkyuuu… sudah mengendalikan hormon kehamilanmu Mbak, aku selamat dengan tidak berlama-lama dengan tukang prank.
***
Untunglah Mbak Qiana segera sadar atas ketidaknyamananku sedari tadi, sekarang tinggal mengajak Mbak Tiwi untuk masuk dalam rencana. Sedikit riweh bertemu orang macam Bang Aziz ini, sekalipun dia sudah tahu pasti jika aku memiliki seorang yang aku tuju, tapi dia tetap kekeuh mendekati dengan cara ya… bisa dibilang ekstrem, menurutku loh ya, karena sebelumnya aku jarang sekali mengalami hal-hal percintaan yang rumit semacam ini, mulai pacaran pas mulai masuk kuliah cuma satu kali aja sampai ke tunangan, tapi dia bukan orang yang tepat untukku.
Sudah..sudah… aku mau ke endoapril dulu beli es krim ahh… biar mood kembali good wkwk...
***
__ADS_1
Terimakasih semuaaa..... selamat berkumpul dengan keluarga tercinta... Isi energi yang full buat ngadepin hari esok...
Sukses dan sehat selalu....