Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
15. Dafa dan Akbar


__ADS_3

Setelah menghabiskan es krimnya, mereka bertiga pun pergi meninggalkan taman dan kembali ke rumah Qiana. Dafa tidur di pangkuan Qiana dengan tangan mungilnya yang memeluk pinggang Qiana. Pemandangan ini sungguh membuat hati Setya berdesir tak menentu.


"Kita ngga mampir kemana-mana lagi kan Qi?" tanya Setya.


"Enggak, udah langsung pulang aja kasihan Dafa." jawab Qiana dan dibalas anggukan oleh Setya.


Sesampainya di rumah Qiana, ada mobil yang tak asing di mata keduanya, terparkir rapih di halaman. Tidak salah lagi, itu mobil Akbar. Setya mendengus tak suka.


"Itu kenapa sih Qi, Pak Akbar sering banget kesini. Jangan-jangan dia nipu kamu, ngaku-ngaku Dafa ini anaknya padahal bukan," kata Setya.


"Ngawur aja kamu kalo ngomong, dari tadi omongannya ngga ada yang bener tau ngga," ucap Qiana kesal.


"Yeh yakali aja gitu, Qi. ngga usah ngambek juga kali," kata Setya santai.


"Ya lagian kamu, padahal udah aku jelasin dari awal juga, gimana perjuangan Pak Akbar buat buktiin kalo Dafa ini anaknya yang dibawa sama mantan istrinya. Masih aja su'udzon ngga jelas," Kata Qiana.


"Iya..iya maafin, yaudah yuk turun." Ajak Setya.


***


"Assalamualaikum..." Salam Qiana dan Tyo bebarengan.


"Wa'alaikumsalam, oh kalian dari mana aja?" Tanya Akbar.


"Habis dari taman. Sebentar ya mas saya mau nidurin Dafa dulu di kamar," Kata Qiana.


"Aku aja, sekalian mau nemenin Dafa," Kata Akbar sambil mengambil alih Dafa dari gendongan Qiana.


Akbar pun segera beranjak dari ruang tamu meninggalkan Setya dan Qiana. Tak lama Tiwi keluar dari arah dapur, membawa nampan yang diatasnya terisi dengan dua gelas minuman.


"Loh, Qi udah dateng? Pak Akbar dimana, baru mau  di suguhin minuman udah ngilang aja," ucap Tiwi.


"Tuh lagi nidurin Dafa ke kamar." Jawab Qiana.


"Nih Set, yang satu buat loh aja yang satu buat Pak Akbar," Kata Tiwi dan mendapat anggukan dari Setya.


"Oh ya, kamu jadi ke Bandungnya kapan?" tanya Setya pada Qiana.


"Kemungkinan lusa." Jawab Qiana.


"Terus rumah ini kamu jual?" Kata Setya sambil memperhatikan rumah Qiana.


"Enggak sih, niatnya dibiarin aja toh Tiwi tinggal disini. Ya kan Tiw?" Tanya Qiana.


"Iya, aku udah nyaman juga sih disini. Qiana juga udah ngizinin buat aku ngurus rumah ini selama Qiana tinggal di Bandung." Jawab Tiwi.

__ADS_1


***


Di dalam kamar Qiana, Akbar tengah menidurkan putranya dengan hati-hati. Setelah itu dia ikut merebahkan tubuhnya disisi Dafa, sambil mengamati wajah mungil yang mirip dengannya. Beberapa hari setelah tes DNA keluar, asistennya telah kenemukan mantan istrinya, Akbar tidak tinggal diam, dia melaporkan mantan istrinya ke kantor polisi atas tuduhan penelantaran anak dan meminta hak asuh anaknya dilimpahkan kepadanya.


"Maafin Ayah Nak, padahal Ayah dan Opa sudah lama menjadi donatur di panti kamu. Tapi baru kemarin Ayah datang. Kalau saja Ayah mau berkunjung dari dulu, mungkin kamu ngga akan tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang seperti sekarang Nak." lirih Akbar sambil mengusap pipi gembil putranya lalu diciuminya wajah anaknya.


"Bagaiman pun, aku harus berterimakasih dengan cara yang layak pada Qiana. Karena dia sudah mau merawat Dafa bahkan sampai resign dari pekerjaannya dan memilih membesarkan Dafa di Bandung. Apa aku jadikan Qiana istriku saja, sekalipun aku duda tapi wajahku tidak terlalu tua untuknya. Sepertinya aku harus berusaha lebih, untuk memantapkan keputusanku dan meyakinkan Qiana. Emh dan sepertinya aku juga harus berusaha lebih karena sainganku pemuda kembar itu." gumam Akbar.


Sudah satu jam berlalu, Qiana,Setya, dan Tiwi masih asyik dengan obrolannya. Sedangkan Dafa masih terbuai dalam alam mimpinya ditemani sang Ayah yang ikut tertidur pulas sambil memeluk putranya.


"Itu pak Akbar kok ngga keluar-keluar sih Qi?" tanya Tiwi.


"Iya heran deh, ngga ada sungkan-sungkannya masuk kamar perempuan." sahut Setya kesal.


"Ih kamu itu Set, dari tadi sewot terus sama Mas Akbar. Udah biarin aja mungkin dia lagi pingin nemenin anaknya tidur," Kata Qiana.


***


"Yah, angun yah. Dafa mau mimik tutu." rengek Dafa sambil menggoyang-goyangkan tangan Ayahnya yang melingkar di tubuh mungilnya. Karena tak mendapat reaksi dari Akbar, Dafa pun memindahkan tangan Ayahnya dan beranjak menaiki tubuh Ayahnya.


"Ayahhh, Dafa mau mimik tutu." Teriak Dafa sambil menggoncangkan tubuh Akbar. Akbar mengerjap kaget, ketika anaknya sudah duduk diatas tubuhnya.


"Dafa, kenapa Nak?" kata Akbar sambil mengucek matanya.


"Sebentar ya sayang, anak Ayah mau ikut ke dapur apa mau tunggu disini?" tanya Akbar.


"Dafa mau ndong Ayah," kata Dafa sambil melingkarkan tangan mungilnya ke leher Akbar.


"Oke, kita cuci muka dulu ya Nak," Kata Akbar sambil beranjak berdiri menuju kamar mandi. setelah mencuci muka ayah dan anak itu pun pergi mencari Qiana untuk menanyakan susu Dafa.


"Qiana, Qi... Kamu dimana Dafa minta minum susu nih. Kamu taruh dimana perlengkapan susunya Dafa?" Kata Akbar memecah obrolan ketiga orang di ruang tamu itu, Setya mendengus tak suka. Kalah start sekali Setya ini.


"Sebentar Mas biar aku bikinin aja," Kata Qiana.


"Udah ngga usah biar Mas aja, kamu tinggal bilang tempatnya aja terus kamu lanjut ngobrolnya sama temen-temen kamu." Cegah Akbar.


"Iya Nda, Dafa mau mimik tutu buatan Ayah,"Kata Dafa.


"Yaudah dibuatin Ayah aja, susunya di lemari atas kompor ya mas, terus Dafa kalau mau pakai dot atau gelas anak, dua-duanya ada di rak sebelah kulkas. Takarannya buat dot 4 sendok yang ada di kaleng susunya ya Mas kalo buat gelas anaknya takarannya ada di luar kalengnya," Kata Qiana dan diangguki oleh Akbar yang kemudian melenggang pergi ke arah dapur dengan Dafa yang masih memeluk erat tubuh Akbar.


***


Di dapur ayah dan anak itu kompak membuat susu, lebih tepatnya Akbar membuat susu sedangkan Dafa asyik duduk di meja dengan memegang kaleng susunya sambil menjilati serbuk susu di telapak tangannya, tanpa disadari oleh Akbar yang tengah sibuk menuangkan air kedalam gelas anak milik Dafa.


"Ya ampun Dafa kamu kok malah nyemilin serbuk susumu sih Nak itu mukanya belepotan loh," Kata Akbar sambil geleng-geleng melihat tingkah anaknya membuat dia ingin sekali menggigit pipi gembil anaknya itu.

__ADS_1


"Ini nak Yah, manis tayak tutu itu tapi ndak bita diminum halus dimakan." celoteh Dafa menggemaskan.


"Sini kaleng susunya ayah balikin dulu, kamu diem disini dulu ya," Kata Akbar sambil menyimpan kaleng susu itu kembali ke tempatnya.


"Ayo cuci tangan dan muka lagi Dafanya, biar nanti nggak di gigit semut." ajak Akbar sambil menggendong tubuh anaknya mendekat ke arah wastafel.


"Nah sekarang udah bersih, ini minum susunya," kata Akbar.


"Ayah, Dafa mau tama Nda." rengek Dafa.


"Iya ayok ke ruang tamu." Ajak Akbar.


***


"Ndaa, Dafa mau tama Nda." rengek Dafa di gendongan Akbar.


"Iya sini ayok dipangku Bunda," kata Qiana.


"Mau tama Nda tama Ayah di tebelah lumah, duduk di telas lakang." rengek Dafa.


"Oke sayang, ayok ke belekang," kata Qiana.


"Emh,Qi Tiw aku pamit dulu ya udah mau sore nih," ucap Setya yang sudah tidak tahan melihat ketiga orang dihadapannya yang sudah seperti keluarga bahagia ini.


"Iya hati-hati." jawab Tiwi dan Qiana barengan.


"Aku kebelakang dulu ya Tiw," Kata Qiana.


"Iya aku juga mau mandi, gerah abis nyuci tadi belum mandi," kata Tiwi.


"Jorok ih kamu," Kata Qiana, Tiwi hanya mendengus sebal sambil berlalu meninggalkan Qiana, Akbar, Dan Dafa.


"Dafa katanya mau sama Bunda kok masih meluk Ayah kenceng banget gitu?" Kata Qiana menggoda Dafa.


Deg


Hati Akbar berpacu lebih cepat, "Ayah" Qiana memanggilnya Ayah. Sekalipun itu hanya dihadapan anaknya, tapi dia merasa sangat bahagia, seperti ada harapan untuknya mendekati Qiana. Dia hanya tersenyum tipis ke arah Qiana.


"Nanti di lakang Dafa di pangku Nda, tekalang Dafa di ndong Ayah. Bial Dafa tinggi hihihi." celoteh Dafa.


"Oke, abis minum susu Dafa mandi yah," Kata Qiana.


"Tiap nda," ucap Dafa.


***

__ADS_1


__ADS_2