
Selamat membaca....
***
Fani POV
Sudah sebulan aku berada di Negara gingseng ini, selain melakukan pekerjaan untuk menangani tender perusahaan Papa, aku juga sudah sebulan ini bersama dengan kawanku mulai merintis usaha kuliner yang sempat tidak diizinkan Papa. Urusan pekerjaan disini Alhamdulillah lancar dan dipermudah segala urusannya oleh Allah S.W.T, tapi seperti halnya kehidupan manusia lain ‘tidak ada yang benar-benar mulus, selalu ada yang namanya ujian’ dan karena ujian itu pulalah aku akan sedikit lebih lama berada di Negara ini, setidaknya sampai kami menyadari perasaan kami yang sesungguhnya.
“Kamu itu kenapa? Masih mikirin kejadian sebulan lalu di Indonesia? Sudahlah lupakan saja, sudah takdirnya harus seperti ini.” Berbicara memang mudah tapi, tetap saja menjalankannya sangat susah. Dia Andin teman lamaku usianya 3 tahun diatasku, dan kami sudah bersahabat sejak lama tapi karena dia memutuskan untuk mengenyam pendidikannya di luar negeri jadilah kami jarang bertemu. Dan dia adalah saksi perjalananku selama sebulan ini, semenjak A Bagas dan Bang Aziz mengetahui jati dirinya bahwa mereka saudara tiri meski tak sedarah sama sekali.
“Takdir ya Ndin, padahal aku baru saja menerima A Bagas masuk dalam kehidupanku.” Ucapku sambil memandang cincin pemberian A Bagas kala wisuda dulu.
“Kalian masih terikat, Bagas tidak melepasmu Fani. Dia hanya memberi kesempatan untuk Aziz, dan disinilah peranmu untuk mengambil keputusan. Bagas orang baik, bukan niatnya untuk memasukkan orang ketiga dalam hubungannya. Tapi dia sedang berjuang untuk keharmonisan keluarganya juga, sekalian dengan menyadarkan Aziz, bahwa ada hati yang tidak bisa dia miliki seutuhnya.”
Andin benar, mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu lemah dan pesimis. Rasa takut kembali ditinggalkan meski bukan dengan penghianatan tapi namanya ditinggalkan akan tetap melukai dan aku tidak ingin ada yang kedua kalinya.
“Bagas apa belum menghubungimu lagi Fan?” dan lagi aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Hmm… pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya terlontar dari bibir tipis wanita dihadapanku ini. Aku menghela nafasku berat, ada rasa sesak yang menghantam dadaku. Aku jadi teringat saat hari dimana acara empat bulanan Mbak Qiana satu bulan yang lalu.
A Bagas lelaki yang sudah menyatakan kesungguhannya padaku kala itu, tiba-tiba harus memberi kesempatan pada Kakak Tirinya, Aziz. Terpatri dengan jelas dalam ingatanku sampai saat ini, syarat yang diajukan oleh Bang Aziz untuk menerima keluarga baru dari Mami kandungnya.
“Aku ingin meminta satu hal, aku meminta Fani untuk mempertimbangkanku untuk menjadi kekasihnya. Sama-sama membuktikan rasa cinta yang aku miliki sama dengan Bagas yang sudah dia beri kesempatan untuk menjadi kekasihnya. Hah…. Kenapa selalu dia yang lebih beruntung? Dia sudah mendapatkan kasih sayang wanita yang sudah melahirkanku dan sekarang? Apa aku harus kembali mengalah?” ucapnya dengan wajah yang sudah merah padam, aku sadar betul ada rasa cemburu yang teramat di dalam hatinya, mungkin juga Bang Aziz merasa sedang di permainkan takdir. 15 tahun hidup tanpa kedua orang tua, dan ternyata semua hanya kesalah pahaman yang dibiarkan mengakar oleh Papinya sendiri.
__ADS_1
Karena itu pulalah, A Bagas memintaku untuk mempertimbangkan Bang Aziz menjadi bagian dalam hidupku, memberinya kesempatan seperti aku yang juga memberikannya kesempatan. Awalnya aku marah dengan keputusan A Bagas yang mengiyakan permintaan Bang Aziz. Dan membiarkan aku pergi ke Korea dengan membawa beban di hati, karena pada akhirnya aku yang dibiarkan untuk memilih satu diantara keduanya.
Bugh…. Aww, hadeuhh tangan si Andin ini kasar banget dah.
“Fan, kamu nggak apa-apa? Kok bengong sih?” Bahuku panas sekali kenak tepuk Andin. Hah mengingat mereka membuatku sering bengong.
“Hemm, nggak apa-apa kok. Cuma lagi merenung aja, bagaimana caranya aku membantu A Bagas biar keluarganya tetap utuh dengan masuknya Syta dan Bang Aziz kedalam keluarga A Bagas. Dengan rasa cemburu yang begitu besar dari sosok Bang Aziz, ingin rasanya aku langsung memutuskan jika aku memilih A Bagas menjadi pendampingku. Tapi aku takut malah memperkeruh keluarga mereka.” Andin mengusap-usap punggungku seolah memberi kekuatan untukku, huh… andai saja Mama dan Mbak Qiana ada disisiku sekarang pasti tidak akan seberat ini.
“Kamu harus menghubungi Bagas, mencari solusi bersama jangan jalan sendiri-sendiri, susah! Kamu masih chatan juga kan sama Aziz?” aku pun mengangguk, mengiyakan apa yang diucapkan Andin. Hening… slurp…
Asap tipis mengepul tepat dihadapanku, siapa lagi jika bukan ulah jahil Andin yang sedang meniup secangkir teh yang terlihat masih panas itu. Selalu saja anak ini menyelipkan kejahilannya saat sedang berbicara serius seperti sekarang ini.
“Kamu diberi batas waktu sampai kapan, untuk memutuskan semua ini?” tanyanya sambil menaruh cangkir teh diatas meja, lalu mencomot potongan kimbabku yang masih utuh.
“Uhukk…uhukk..uhuk..” Untung saja tadi aku memesan air putih dan langsung aku buka tutupnya sebelum kuserahkan pada Andin, setelah batuknya mereda dia menatap tajam ke arahku seolah aku ini hewan buruan yang siap dia terkam kapan saja.
“Kenapa baru bilang? Aku kira masih lama ternyata sudah mepet banget. Kamu itu katanya cerita semua sama aku ternyata tidak semuanya.” Omelnya.
“Lupa, bagaimana lagi aku disini kerja butuh otakku sedangkan hatiku tertinggal di Jakarta.” Jawabku tidak jelas, hahhhh kelamaan berpikir dan menimbang-nimbang keadaan ini membuatku kehilangan banyak kosa kata, sepertinya.
“What’s… lupa!! Bagaimana bisa lupa?” teriaknya, yang membuatku reflek menutup wajahku dengan telapak
__ADS_1
tangan karena beberapa pengunjung di resaturantku menatap ke arah kami dengan tatapan heran.
“Sssttt, berisik banget sih. Yaudah ini aku musti gimana, telepon A Bagas dulu berarti ya?” tanyaku.
"Mending sekarang kita pulang dulu yuk," ajaknya sambil melihat jam yang melingkar cantik di tangan kirinya.
"Boleh, ayok." Aku dan Andin pun berjalan beriringan menuju pintu utama restaurant kami.
"Fani... Fan..." teriak seseorang dari arah samping kiri, sepertinya aku kenal dengan suara ini.
Deg... Kenapa dia musti ada disini Ya Allah, apa ini salah satu bentuk usahanya lagi?
"Dia Aziz..Aziz.. itu kan? tuh dia jalan ke arah kita." Bisik Andin tepat di telingaku, aku hanya mengangguk sebagai bentuk jawaban.
Dengan PDnya laki-laki itu berjalan mendekat, tak lupa senyum yang sedari tadi sudah tertarik dengan sempurna. Jika aku adalah wanita yang mengandalkan fisik seorang pria untuk menjadi pendamping, mungkin aku akan klepek-klepek dengan tingkah Bang Aziz saat ini. Tapi sayangnya, aku seorang wanita yang lebih mengandalkan hatiku untuk memilih seorang pria. Lebih mengandalkan degupan jantung yang berirama dengan indah saat menjatuhkan hatinya untuk seorang pria, dari pada kedipan mata yang berulang-ulang ketika melihat pria tampan hilr mudik dihadapanku hahaha Fani...Fani... dan sekarang bagaimana caraku untuk menyampaikan keputusanku agar tidak ada pihak yang tersakiti?.
Ahaa... aku punya ide...
***
Terimakasih semua....... maaf lama upnya...
__ADS_1
***