
Seiring detik jam dinding yang terus bergerak, terdengar suara gesekan dedaunan yang tertiup angin malam menemani gemerlap bintang dan bulan sabit yang tergantung di langit malam. Tampak jelas angin malam menerpa wajah cantik yang meneduhkan itu, ya dia Qiana. Masih teringat jelas di benaknya kejadian satu jam yang lalu, mengenai Akbar yang dengan segenap keberanian dan keyakinannya datang ke Surabaya jauh-jauh menyusulnya. Satu hari dengan tangisan lagi, semua rasa menyeruak di hatinya, bahagia, sedih, haru, bimbang, dan semua rasa lainnya berbaur jadi satu dan air mata adalah teman terbaik semua rasa itu.
Qiana POV
Bila takdir selalu datang dengan segala kejutannya, begitu pula waktu yang selalu memberi harap dan jawab atas kegundahan di masa itu. Ya, aku sadar tidak semua hal dapat terjawab meski sudah banyak waktu yang terlewati, tapi dengan banyaknya waktu yang telah terlewati setidaknya aku bisa belajar banyak hal. Termasuk mengikhlaskan apa yang tidak menjadi takdirku.
Beberapa hari ini aku di hadang takdir yang begitu mengejutkan, ditinggal selamanya oleh sahabatku Setya dan aku mendapat jawaban atas segala pertanyaanku dahulu, tentang apa?, kenapa?, bagaimana? Seolah tak puas sampai disitu, sampai Mas Akbar datang ke Surabaya dan mengutarakan maksud hatinya.
Jujur hatiku masih merasa bersalah pada takdir yang Setya alami selama ini, tapi bagaimana pun juga hidup harus tetap berjalan. Kata Tyo pun, aku harus mencoba membuka hati pada orang yang mencintaiku dengan tulus, dan aku rasa aku telah menemukan orang itu, meski aku belum yakin dengan perasaanku sendiri.
Satu jawaban sudah aku terima hari ini, ehm bukan..bukan.. sebenarnya banyak pertanyaan yang sudah terjawab hari ini selebihnya aku masih memerlukan waktu untuk meyakinkan apa yang telah terjadi hari ini. Besok aku akan menemani Mas Akbar menjenguk Tyo dan ziarah ke makam Setya, bagaimana pun mereka pernah kenal walau hanya sebentar sewaktu di Jakarta.
Author POV
Di kamar orang tua Qiana, tampak pasangan paruh baya itu masih belum pergi ke alam mimpi. Keduanya masih memikirkan kejadian tadi, ketika anak bungsunya di lamar oleh lelaki yang sebelumnya belum mereka kenal dengan baik, hanya satu kali bertemu sewaktu di Bandung kala itu.
“Pa, apa Papa puas dengan jawaban Akbar tadi?” Tanya Mama Rima penasaran.
“Udah yakin sebenernya Ma, dari sebelum ngajuin pertanyaan juga cuman ngetes aja. Ternyata Akbar orangnya pantang nyerah juga.” Jawab Pak Rizal sambil memandang langit-langit kamar tidurnya.
“Salut sih Mama sama Akbar Pa, Reza aja yang dua tahun lebih tua dari Akbar pemikirannya nggak sedewasa Akbar Pa," Kata Mama Rima.
__ADS_1
“Hahaha, Mama ini. Ngga boleh ya banding-bandingin anak kayak gitu. Kalau kedengeran sama si Abang bisa merajuk dia Ma, Mama nanti nggak di jatah uang belanja sama si Abang loh,” Kata Pak Rizal, dan menggoda istrinya.
“Ishh, Oapa. Kan bisa minta sama Papa kalau duit mah. Udah ah, ayo tidur besok Mama mau main sama cucu-cucu Mama” Kata Mama Rima.
Tak lama Mama Rima sudah masuk ke alam mimpi meninggalkan Pak Akbar dengan segala pemikiran di kepalanya, setelah mendengarkan oenjelasan tentang masa lalu Akbar dari Qiana, hatinya sedikit berempati kepada calon mantunya itu. Semua hal memang sudah ada takdirnya masing-masing, pikirnya.
***
Suara tawa Dafa dan Lea menggema di taman belakang rumah, anak-anak itu sudah ribut bermain sejak bangun tidur sedangkan Leo hanya sibuk mengawasi adik-adiknya di kursi taman dengan remote control di tangannya. Lea dan Leo adalah anak Reza, Lea sepantaran dengan Dafa sedangkan Leo 3 tahun lebih tua dari usia Lea dan Dafa. Mama Rima tampak asyik menjaga cucu-cucunya sesekali terlihat, wanita paruh baya itu menggoda Lea yang selalu saja teriak karena keisengan kakaknya yang menabrakan mobil mainannya ke kaki Lea.
“Anak-anak ayo masuk sarapan dulu, itu bunda masakin sup kentang kesukaan kalian." Ajak Pak Rizal.
Di ruang makan sudah berkumpul semua anggota keluarga Pak Rizal, tambah satu orang yaitu Akbar yang semalam memang dipaksa menginap oleh Nenek Mira. Semua makan dengan tenang dan senang terutama anak-anak yang puas dengan sarapannya karena memakan makanan yang memang kegemaran mereka.
***
Seusai sarapan Qiana dan Akbar pergi berkunjung ke RS dan dilanjut berziarah kubur ke makam Setya.
“Tyo, saya turut berduka cita atas meninggalnya Setya. Semoga dia di tempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah dan di lapangkan kuburnya. Aamiin. Kamu juga cepet sembuh ya Yo,” Kata Akbar pada Tyo yang masih terbaring di ranjang pesakitan.
__ADS_1
“Aamiin, makasih ya Pak Akbar sudah mau mampir jenguk saya. Besok datanglah kemari lagi jam 10 pagi, saya akan menikah dengan calon saya. Maaf mengundang anda dengan cara seperti ini, jujur saja ini di luar rencana, sebetulnya saya ingin pernikahan ini di undur tapi pihak keluarga memaksa agar tetap di laksanakan saja. Katanya agar nanti saya tidak kesepian, kepikiran dan stress , karena kehilangan adik saya,” Kata Tyo dengan senyum yang dipaksakan, terlihat jelas disana rasa sedih yang dia pendam.
“InsyaAllah saya akan datang.” Jawab Akbar dengan senyum tulus seraya mengusap bahu Tyo mencoba memberi dukungan agar tegar menghadapi takdir yang telah di gariskan oleh Allah.
“Terimakasih, oh iya kalian kenapa hanya berdua? Aku rindu dengan bocah gembil itu,” Kata Tyo
“Oh maaf, Dafa sengaja tak ku ajak. Karena habis dari sini aku akan ke makam Setya.” Jawab Akbar dan di angguki oleh Tyo.
Ceklek (Suara pintu terbuka)...
“Assalamualaikum,” Pak Gito datang dengan kantung belanjaan di tangannya.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka bertiga.
“Nah berhubung Om sudah datang, Qia sama Mas Akbar pamit dulu ya Om, Tyo.” Pamit Qiana.
“Iya terimakasih ya sudah mau nemenin Tyo dulu, sewaktu Om pergi dulu tadi,” Kata Pak Gito.
Hari itu pun diakhiri dengan ziarah ke makam Setya, sedikit canggung memang diantara mereka berdua karena pembicaraan tadi malam. Tapi keduanya mencoba bersikap normal dan sewajarnya. Satu hal yang Qiana pikirkan semenjak semalam.
__ADS_1
Ternyata setiap waktu, setiap perjalanan, akan meninggalkan jejak. Baik jejak kaki maupun jejak-jejak kenangan yang memberi pelajaran di masa yang akan datang. Bahkan ada beberapa dari jejak itu yang menuntut pengakuan di masa depan.
Terimakasih :)