Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Berguru


__ADS_3

Selamat membaca.... :)


****


Tok...tok...tok...


"Iya masuk saja!!" jawabku.


Dan masuklah seseorang yang membuatku menganga menatapnya tak percaya, betulkah dia? yang katanya sedang berada di Surabaya ternyata berada di hadapanku seraya tersenyum lembut dan mampu meredamkan emosiku yang memuncak tadi. Ah iya aku hampir saja lupa, bahwa sedih dan bahagia datangnya sepaket, hihihi. Hari ini dapat paket komplit plusss gratttis es teh satu teko wkwkwk.... syegeerrrr...Alhamdulillah.


“Assalamu’alaikum calon ibu dari anak-anakku.” Sapa lelaki itu dengan senyum menawannya.


“Wa’alaiakumsalam Bang, Ya Allah… katanya lagi di Surabaya, kok tiba-tiba muncul di Bandung?” tanyaku solu-solu padahal mah seneng banget hihi, “Sini-sini masuk, duduk dulu Bang.” Sambungku, sampai lupa belum mempersilahkan Abang Zheyenkk masyukk. Dengan gaya cool dan senyum jahilnya dia berjalan menuju kursi di hadapanku, eh baru kelihatan dia nenteng dua paper bag yang berukuran sedang.


“Ini, satu oleh-oleh dari Surabaya dan satunya makan siang. Ayo temani aku makan siang yang kesorean ini.” Ucapnya seraya membuka paper bag yang ada di tangannya setelah menyerahkan paper bag yang katanya berisi oleh-oleh dari Surabaya.


“Wahh… Alhamdulillah… kebetulan Fani udah lapar lagi hihihi. Sebentar Fani ambilkan alat makan dulu.” Ujarku seraya keluar menuju dapur, sekalian bertemu dengan A Ridhoo dan karyawan lain untuk segera membereskan sisa-sisa keributan tadi.


Ceklek


“Bang ini, kita makan disana aja ya biar enak, lebih nyaman.” Ajakku.


“Oke, oh iya itu kenapa di depan kok roti pada berantakan di lantai?” tanya Bang Bagas.


“Itu tadi ada orang resek. Masak dia udah marah-marah sama karyawan Mbak Qiana terus berantakin roti sampai kayak gitu, bilangnya PRANK buat konten youtube nya. Mangkannya aku jadi lapar lagi, padahal baru satu setengah jam yang lalu aku makan siang Bang.” Jawabku menggebu, entahlah membicarakan ketiga orang pembuat onar tadi bisa menaikan emosiku kembali.


“Hahahaha… yaudah lah biarin aja mereka. Makin kesini makin banyak orang aneh ya Dek, banyakin sabar aja ya.” Ucapnya.


Setelah makan siang keduaku, aku dan Bang Bagas memutuskan untuk berkunjung ke rumah Bang Akbar dan berencana menginap di rumahnya semalam. Mumpung besok hari minggu, jadi lebih baik nginep di rumah Abang daripada di rumah Neneknya Mbak Qiana sendirian… ih… seleemmm…

__ADS_1


“Oh iya, kamu kok nggak tinggal di rumah Bang Akbar sih Dek? Kenapa musti tinggal sendiri di rumah Neneknya Qiana?” tanya Bang Bagas.


“Nggak kenapa-kenapa, biar tambah gereget aja pengalamannya hihi. Meskipun masih sering nginep di rumah Abang dan di rumah Neneknya Mbak Qiana aku  juga nggak sendiri kok Bang ada Bi Ani, Mang Didin, sama dua anaknya yang di suruh Nenek buat jagain rumahnya.” Jawabku.


“Kamu jangan terlalu maksain sesuatu yang di luar batas kemampuanmu ya Dek, Abang nggak mau kamu berubah jadi sosok lain yang nggak Abang kenal. Kamu sempurna sebagai diri kamu sendiri.” Ucapnya lembut tapi sangat dalam menyiratkan ketidaksetujuannya atas apa yang sedang aku lakukan sekarang, but I am happy, karena sosok lelaki yang awalnya aku ragukan ini begitu banyak menyimpan stok perhatiannya untukku hihihi.


“Iya Abang… Fani hanya ingin berguru pada Mbak Qiana, karena kesabarannya dan semangatnya dalam menjalani liku kehidupan hehehe. Terus untuk mengurus toko roti aku inisiatif sendiri kok tanpa paksaan dan masih dalam batas kemampuanku dan kalau untuk tinggal di rumah Nenek juga itu kemauanku sendiri karena rumah Nenek Mira itu kayak ngasih pengaruh positif banget buat keseharianku, kalau ini entah Cuma sugesti aku aja kali ya Bang?” jawabku menjelaskan, tapi berujung pertanyaan.


Emh, aku juga sebenernya bingung sih. Kadang aku menafsirkannya hanya karena sugesti tapi lama kelamaan emang rumah Nenek Mira seperti memberi dukungan dan pengaruh yang bener-bener positif buat aku selama tinggal disana. Nenek Mira rajin sholat dan ngaji di rumah itu kali ya, suasanya betul-betul adem, nyaman sampai ke hati.


“Ya sudah, lakukan apapun itu yang membuatmu senang selama tidak melukai dirimu sendiri. Dan mungkin itu hanya sugestimu saja tentang rumah Nenek Mira.” Jawabnya.


Disisa perjalanan menuju rumah Bang Akbar, hujan turun cukup deras membuat sopir taxi online yang aku tumpangi bersama Bang Bagas harus mengurangi laju kendaraannya, beruntung rumah Bang Akbar tak terlalu jauh lagi.


Saat aku buka pintu mobil, tercium aroma khas hujan yang mampu merelaksasikan tubuh dan ini adalah salah satu yang aku sukai dari hujan. Karena aku dan Bang Bagas tak membawa payung, jadilah kita berlarian menuju teras.


“Assalamu’alaikum Mbak.” Sapaku sambil mengusap wajahku yang sedikit terkena air hujan, sedangkan Bang Bagas masih sibuk melepas sepatunya yang sudah basah.


“Wa’alaikumsalam Ya Allah, kehujanan ya.. masuk dulu Dek kamu langsung mandi di kamar mandi kamar kamu ya, Bagas kamu masuk kamar tamu bawa baju nggak?” ucap Mbak Qiana sambil melirik tas ransel yang di bawa Bang Bagas, aku hanya mengangguki perintahnya dan langsung bergegas menuju kamar.


“Aku nggak bawa Qi, ini di ranselku baju kotor doang abis dari Surabaya.” Jawab Bang Bagas di belakangku.


“Masuk dulu, aku ambilkan bajunya Mas Akbar.” Kata Mbak Qiana.


Seusai mandi dan berganti pakaian aku menuju ruang keluarga mencari Mbak Qiana. Sayup-sayup aku mendengar suara orang mengaji beradu dengan suara hujan yang sedang sibuk membasahi bumi. Ah suara itu dari teras belakang. Dan betul saja Mbak Qiana sambil memangku keponakan gembilku itu sedang mengaji. MasyaAllah, paket ketenangan komplit ini mah, rezeki anak sholehah yang abis kenak prank xiixixi.


Tanpa bicara aku duduk di kursi sebelah Mbak, sesaat kemudian Mbak telah selesai dengan mengajinya dan menaruh Al Qur’an di meja sebelahnya.


“Gimana toko? Betah kamu di sana Dek?” tanya Mbak Qiana sambil membetulkan posisi duduk Dafa yang sudah mulai mengantuk.

__ADS_1


“Alhamdulillah baik, lancer dan aku betah karena karyawan Mbak orangnya asyik-asyik hehe. Tadi sempet ada ya…. sedikit insiden, meski niatnya hanya becanda tapi sedikit membuat emosiku terpancing Mbak hehe untung aja tadi disusul sama Bang Bagas plus ketambahan aroma hujan, Alhamdulillah jadi tenang lagi.” Jawabku seadanya.


“Alhamdulillah, oh ya kamu tahu nggak Dek kenapa aroma hujan bisa menangkan atau memberi efek relaksasi untuk kita?” tanya Mbak Qiana padaku yang membuatku berfikir, hmmm meski aku suka dengan aroma hujan tapi aku tak pernah tahu alasan di baliknya.


“Hehehe, Fani ngga tahu Mbak.” Jawabku sambil menggeleng.


“Aroma hujan yang menguar sampai ke indra penciuman kita dan menstimulus otak memberi ketenangan, itu disebabkan oleh bakteri Actinomycetes yang tumbuh pada tanah menghasilkan spora dan spora yang terkena air hujan akan basah dan menyebar di udara, nah spora inilah yang menghasilkan aroma khas yang kita hirup istilah lain dari aroma hjan yang khas ini adalah Petrichor. Coba deh hirup lagi aromanya.” Kata Mbak Qiana yang diakhiri dengan menarik nafasnya sambil menikmati suasana hujan di sore hari.


Betul saja semakin di hirup dengan perlahan dan fokus, lalu diiringi irama gemericik air, hembusan angin yang membuai… Huwiiii MasyaAllah menenangkan sekali.


“Aroma ini memberi kesan bau bumi yang alami dan otak merespon aroma segar ini sebagai relaksasi sehingga mampu melepaskan serotonin, hormone yang juga berperan sebagai obat antidepresi alami otak. Jangan kelamaan meremnya Dek, hihi… Eh Mbak masuk dulu yam au nidurin Dafa dulu, nih kerudung Mbak udah berpulau hehe.” Ucap Mbak Qiana seraya beranjak berdiri.


“Ehm..” deheman dari arah pintu belakang, ternyata Bang Bagas.


“Eh.. Abang..” sapaku.


“Pantas aja, kamu mengidolakan Qiana dan mau berguru padanya, selain pintar mengurus anak dan meluluhkan hati Bang Akbar yang udah dingin itu, dia juga pinter ya.” Ucap Bang Bagas seraya mendudukan tubuhnya di kursi yang tadi di duduki Mbak Qiana.


“Iya.” Jawabku sambil tersenyum.


***


Dapet pesen dari Qiana dan Mas Akbar nih, mumpung musim hujan banyakin berdo'a saat hujan. Karena hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam kitab Al Umm karya Imam Syafi'i, hujan adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa, Nabi Muhammad bersabda, "Carilah doa yang dikabulkan, yaitu ketika bertemunya dua pasukan, waktu iqamah, serta ketika turunnya hujan."


Imam an-Nawawi juga mengatakan, doa saat hujan tidak ditolak atau jarang ditolak karena saat itu tengah turun rahmat, khususnya curahan hujan pertama di awal musim.


Perbanyak do'a yuk, karena sejatinya kita tak tahu do'a mana yang akan dikabulkan oleh Allah S.W.T


Selamat hari senin, selamat beraktifitas :)

__ADS_1


__ADS_2