
Selamat membaca....
***
“Kamu kemana aja? Udah beberapa hari aku nunggu di toko kok nggak pernah kelihatan?” tanya Aziz yang sudah berdiri di depan Fani.
“Ada urusan Bang,” jawabnya singkat, dia masih ingat betul dengan penuturan Syta beberapa waktu yang lalu, sehingga membuat sikapnya sedikit melunak terhadap Aziz tapi tidak menghilangkan kesan cueknya.
“Urusan apa? Sekarang mau kemana, baru juga jam 2 siang kok udah mau ninggalin toko?” tanya Aziz lagi seraya menghadang jalan Fani.
“Hm, aku disuruh Bang Akbar pulang sekarang. Awas ih, aku buru-buru.”
“Aku anter ya?” ucap Aziz.
“Nggak, aku bawa kendaraan sendiri,” jawab Fani, yang membuat Aziz tersenyum kecut.
“Selalu saja, nggak semulus rencana yang udah aku susun dari kemarin,” kata Aziz dalam hati.
“Yaudah, hati-hati salam buat Bang Akbar ya,” ujar Aziz.
“Iya.”
Fani pun segera berlalu meninggalkan Aziz yang masih berdiri di depan pintu toko setelah menggeser sedikit badannya untuk mempersilahkan Fani lewat. Di tatapnya lekat punggung Fani yang perlahan menjauh.
“Bang, tolong bilang ke Syta aku besok lusa nggak bisa ketemu sama dia,” ucap Fani seraya membalikan tubuhnya menghadap Aziz.
“Oke.”
Dan untuk pertama kalinya Fani memberikan senyuman yang tulus untuk Aziz, sebelum tubuhnya masuk ke dalam mobil.
“MasyaAllah, manis banget,” ucap Aziz sambil memegang dadanya.
“Arghhhh, bisa gila aku kalau sampai keduluan sama orang. Tapi apa dia sudah memilih Bagas?” ujar Aziz sendu.
Bagaimana pun sebagai seorang anak yang pernah tumbuh dengan berbagai luka dan cobaan hidup akibat perpisahaan kedua orang tuanya karena orang ketiga, ada sedikit rasa bersalah kepada Bagas karena sudah berani menaruh hati pada Fani. Tapi lagi-lagi logikanya mengalahkan suara hati, dan menguatkan jika Fani masih belum milik siapa-siapa.
“Tapi aku masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan apa yang aku rasa!” ucapnya lirih untuk menyemangati dirinya sendiri.
***
Di rumah Akbar, tampak Qiana dan Akbar sedang sibuk menyiapkan keperluan keluarga kecilnya untuk beberapa hari kedepan. Sedangkan Dafa dia sedang bermain dengan Bagas yang kebetulan sudah selesai dengan urusan pekerjaannya di Bandung selama beberapa hari belakangan ini.
“Baju Mas nggak usah dibawa banyak-banyak, bawa baju buat dateng ke acara wisudanya Fani sama baju buat keluar aja Qi. Ini bajunya Dafa, Mas taruh di tasnya Dafa sendiri aja ya kita bawa ransel itu aja biar nggak usah bawa koper, gimana?” tanya Akbar.
__ADS_1
“Punya Dafa ada tas khusus buat bepergian Mas, ada di kamar Dafa di atas lemari bajunya ya warna biru laut, tolong diambil ya Mas,” ucap Qiana seraya memasukan baju-baju suami dan miliknya kedalam tas ransel suaminya.
“Oke, sebentar ya. Kamu jangan kelamaan berdiri, kerjanya sambil duduk aja jangan kecapekan,” ujar Akbar dan mendapat senyuman manis dari istrinya.
Butuh waktu 30 menit untuk menata perlengkapan keluarga kecilnya, padahal tak seberapa banyak baju dan keperluan lainnya yang Qiana bawa, tapi entahlah rasanya lama sekali bagi Qiana terlebih saat menata keperluan untuk jagoan kecilnya.
“Assalamu’alaikum, Abangg….. yuhuuuu…. Dimana dikauu….” Teriak Fani ketika sudah memasuki rumah Abangnya.
Qiana dan Akbar yang berada di kamarnya pun menggeleng-gelengkan kepalanya, selalu saja Fani ini merusuh di rumahnya kalau sudah datang. Untung saja Dafa sedang bermain bersama Omnya di halaman belakang.
“Wa’alaikumsalam,” ucap Akbar dan Qiana bersamaan.
“Yuhuuuu… Abang dimana, Fani mau bicara nihhh…!!!” teriak Fani lagi.
“Jadi inget Bang Reza kalau pulang ke rumah, selalu aja teriak-teriak gituh Mas hihi. Saudara kita itu kayaknya sebelas duabelas deh ya hehehe,” ujar Qiana.
“Hahaha, bisa aja kamu ini sayang. Mas nemuin Fani dulu ya, biar nggak teriak-teriak lagi.”
Sedangkan dari halaman belakang, Dafa dan Bagas yang baru saja selesai memetik buah stroberi langsung masuk ke dalam rumah setelah mendengar teriakan dari Fani.
“Onty, jangan teliak-teliak nanti Adik Dafa bangun. Dia lagi bobok ciang kata Om Bagas,” kata Dafa yang baru saja tiba sambil membawa wadah kecil berisi buah stroberi yang sudah merah warnanya.
“Oooppps… sorry sayang.”
“Hahaha, sabar Fani nanti kita punya rumah sendiri kamu bebas buat teriak-teriak disana,” ucap Bagas yang membuat Fani malu seketika, dia melupakan keberadaan Bagas hari ini yang sudah selesai menjalankan pekerjaannya di Bandung.
“Hehehehe, siap Bosquee. Oh iya nih, Abang kenapa nyuruh Fani pulang siang-siang?” tanya Fani mengalihkan perhatian.
“Kita balik ke Jakarta sehabis sholat ashar, nggak jadi pulang besok pagi. Biar nanti malam sudah bisa mengistirahatkan tubuh di rumah kasihan Qiana sama Dafa kalau musti balik besok pagi terlalu mepet harinya,” jelas Akbar.
“Oke Bang, barang-barang Fani udah Fani siapin dari semalam kok, jadi aku tinggal berangkat aja,” jawab Fani.
“Oteh syippp….” Jawab Dafa sambil mengacungkan jempolnya, membuat ketiga orang dewasa itu pun tertawa melihat tingkah lucu anak berpipi gembil itu.
“Onty, Dafa buatkan jus stlobeli pakai susu ya. Ini stobelinya sudah melah-melah,” kata Dafa sambil menyodorkan wadah yang berisi stroberi yang sedari tadi dia bawa.
“Okeh, Onty bikinin tapi Onty naruh tas dulu ya ke kamar. Dafa sama Om Bagas dulu ya ke dapur.”
“Ayah, boleh pakai es batu?” tanya Dafa.
“Boleh, tapi sedikit saja ya,” jawab Akbar dan diangguki oleh Dafa.
“Mbak Qia mana Bang?” tanya Fani.
__ADS_1
“Lagi di kamar.”
“Oh iya, kamu buatin jus sama sekalian buat sushi ya buat nanti di jalan,” ucap Akbar dan diangguki oleh adiknya.
***
Prangg….prang…ketomprang…
“Dafaaaaaaa……..!!!” teriak Fani dengan lantang ketika mendengar suara tutup panci yang sedari tadi di mainkan ponakan gembilnya itu terjatuh di lantai, membuat suara gaduh dari arah dapur.
“Huwwwaaaa……A…yah… Onty malah-malah…. Huwa….hiks…hikss…” tangis Dafa pun pecah akibat kaget mendengar Ontynya berteriak dengan lantang sambil menyebut namanya.
“Fani Dafa kenapa?” tanya Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi sebelah dapur, dikiranya Dafa jatuh ternyata dia melihat tutup panci yang berada tak jauh dari kaki mungil Dafa yang menggantung di kursi meja makan karena masih terlalu pendek untuk mencapai lantai.
“Cup…cup..cup… maaf sayang Onty nggak marah-marah kok cuman kaget aja,” ucap Fani sambil mencoba mendekati Dafa yang masih sesenggukan, tapi dengan gerakan cepat Dafa menolak disentuh oleh Fani.
“Cup…cup…cup… sini Dafa sama Om aja,” ucap Bagas sambil meraih tangan Dafa dan menggendong tubuh Dafa menuju ruang keluarga.
“Bang, gimana ini Dafa kok nggak mau sama aku? Marah ya dia sama aku?” tanya Fani sambil mengikuti langkah Bagas.
“Enggak, dia nggak marah tapi takut sama kamu. Tuh lihat dia nyembunyiin wajahnya terus di leher Abang, nggak mau lihat kamu. Kaget dia denger teriakan kamu, dikira marah-marah soalnya dia merasa melakukan kesalahan sewaktu jatuhin tutup panci tadi,” ucap Bagas sambil mengusap lembt punggung Dafa, mencoba menenangkan calon keponakannya itu.
“Sayangnya Onty, Dafa… maaf ya tadi Onty cuman kaget aja kok nggak marahin Dafa. Tadi Onty takut Dafa kenapa-napa, Onty takut Dafa jatuh tadi, mangkannya Onty teriak. Maafin Onty ya sayang,” ucap Fani sendu, jujur saja dia semakin merasa jauh dari kata ibu sempurna yang bisa di bangga-banggakan anaknya kelak.
“Onty jangan sedih, nanti Dafa makin malah sama Onty,” ucap Bagas menirukan suara Dafa, yang membuat Dafa tersenyum mendengar suara Bagas yang seperti anak seusia Dafa.
“Hihihi, suala Om lucu sepelti suala Dafa,” ucap Dafa sambil memandang wajah Omnya.
“Wah… ponakan Om udah bisa ketawa nih, berarti Onty Fani sudah dimaafkan ya ini sayang?”
“Iya sudah, Dafa juga minta maaf soalnya tadi Dafa jatuhin tutup pancinya jadi belisik,” ucap Dafa.
“Makasih sayang…” ucap Fani sambil mencium pipi gembil Dafa, membuat Bagas spot jantung karena wajahnya terlalu dekat dengan wajah Fani.
“Lain kali, kalau menjumpai anak kecil melakukan kesalahan dilarang berteriak, memarahi, apalagi memukulnya ya Dek. Biar nggak kaget anaknya dan nggak trauma ke depannya,” ujar Qiana yang sedari tadi memperhatikan dari jauh kejadian tutup panci karena ulah tangan mungil Dafa.
“Siap Mbak maaf ya, dan makasih sudah di ingatkan nanti teriak-teriaknya ak kurangi deh.”
“Semoga kalian akan bersatu suatu hari nanti Dek..Gas.. kalian terlihat sangat serasi ketika saling membantu untuk menenangkan Dafa. Terutama Bagas, aku yakin Bagas bisa membimbing Fani menjadi pribadi yang lebih baik lagi, seperti Mas Akbar yang bisa membimbingku menjadi lebih baik,” ucap Qiana dalam hati.
“Ayo, ayo… gantian Mandi, siap-siap kerumah Oma dan Opanya Dafa,” ucap Akbar yang baru saja keluar dari kamarnya.
****
__ADS_1
Terimakasih semua..... jangan lupa untuk meninggalkan jejak-jejak cinta kalian di novel ini hehehehe......