
Selamat membaca :)
***
Terhitung sudah 2 minggu Dafa ikut tinggal bersama Qiana. Rencananya dia akan resign dari RS dan pindah ke Bandung, membesarkan Dafa dan menemani Neneknya di sana. Tiwi sudah mantap akan tetap tinggal di Jakarta, karena sudah merasa nyaman bekerja di tempatnya sekarang apalagi tempat Qiana tinggal juga memiliki kesan tersendiri di hati Tiwi. Setya masih harus bekerja di RS sampai akhir bulan dan Tyo yang mengambil alih sementara pemantauan proyek adik kembarnya.
Hari ini Tyo dan Setya pergi ke rumah Qiana, berniat ingin menghabiskan waktu liburnya dengan bermain bersama Dafa.
"Assalamualaikum...Dafa..." Ucap Tyo di depan pintu rumah Qiana, Setya hanya diam sambil memperhatikan layar gawainya, karena sedari tadi dia mengirimkan pesan ke Qiana belum ada yang dibalasnya barang satu pesan saja.
"Wa'alaikumsalam, heh kalian ngapain pagi-pagi kesini," Kata Tiwi dengan ketusnya. Membuat Setya yang sedari tadi fokus dengan gawainya, mendongakan kepala dan menatap tajam ke arah Tiwi.
"Yeh, nih orang main nyamber aja. Kita kesini mau ketemu Dafa, mau ngajakin dia main." Jawab Setya tak kalah ketus.
"Oh, yaudah kebetulan kalian kesini tolong jagain Dafa jangan sampek nangis. Aku mau nyuci dulu dan Qiana lagi keluar," Kata Tiwi sambil nyengir.
"Ada maunya aja loh cepet Tiw," Kata Tyo. Dari arah belakang Tiwi, Dafa berlarian menuju pintu utama. Dengan robot mainan di genggamannya.
"Om tembal, ayo main tama Dafa," Ucap Dafa.
"Ayok Dafa, kita main bertiga biarin Tante Tiwi jadi Inem pagi ini," Kata Tyo sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Qiana.
"Om Tyo, ayok ikut matuk ke dalem," Kata Dafa sambil menarik tangan Setya.
"Ha ha ha ha, Dafa kamu salah narik tangan. Kalau itu tangannya Om Setya" Ucap Tyo sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ih om tembal, tama aja tau," Kekeuh Dafa.
"Beda dong Dafa wkwkwk," Goda Tyo.
"Ih, Om tembal natal. Nanti Dafa bilanin ke Nda bial Om bedua dimalahi Nda," Kata Dafa sambil mencabikkan bibir mungilnya.
"Hey kalian jangan menggoda Dafa terus," Sewot Tiwi dan hanya di balas suara tawa oleh Setya dan Tyo. Karena kesal Tiwi pun masuk ke dalam rumah dan melanjutkan mencuci baju.
***
__ADS_1
Akhirnya mereka bermain bertiga, dengan sesekali Setya dan Tyo menggoda Dafa. Ada rasa bahagia di hati Tyo melihat Setya yang sudah tampak akrab dengan Dafa, karena bagaiman pun untuk saat ini jika Setya ingin bersama dengan Qiana dia juga harus mendekati Dafa.
"Dafa, sudah mandi belum?" Tanya Setya.
"Syudah, tadi di mandiin Nda." Jawab Dafa.
"Dafa mau nggak panggil Om Daddy?" Tanya Setya lagi, Tyo yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil.
"Ndak mau, Om ya Om ndak ada Daddy," Kata Dafa sambil memainkan robot-robotannya.
"Ha..ha..ha..ha... di tolak Dafa jadi babehnya," Kata Tyo sambil tertawa puas. Setya hanya mendengus tak suka dengan situasi saat ini.
"Diam, aku berbicara dengan Dafa bukan denganmu," Kata Setya dengan ketusnya.
"Lagian udah di jawab Dafa. Daf.. Dafa... orang tuanya Dafa siapa?" Tanya Tyo.
"Olang tua Dafa itu, Nda tama Ayah," Jawab Dafa mantap.
"Ayah Dafa siapa?" Tanya Tyo lagi sambil tersenyum mengejek ke arah Setya.
"Ayah Dafa tuh Ayah Akbal, yang tadi jemput Nda," Kata Dafa.
"Hahahaha... kalah telak kamu Dek sabar ya," Ucap Tyo sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apasih, udah ah aku mau nonton tv aja. Yuk Dafa kita nonton tv," Ujar Setyo mengalihkan perhatian.
***
Di tempat lain Qiana dan Akbar sedang berada di RS untuk mengambil hasil tes DNA antara Dafa dan Akbar. Ya semenjak kejadian di rumah Qiana akhirnya Akbar menceritakan rasa penasarannya terhadap Dafa dan meminta izin pada Qiana untuk melakukan tes DNA.
Awalnya Akbar ragu, karena takut menyinggung perasaan Qiana. Bagaimana pun juga Qiana sekarang adalah orang tua asuh Dafa terlebih lagi Qiana adalah orang baik yang sudah mau mengadopsi Dafa dari panti. Terlepas Dafa anaknya atau bukan.
"Bu Qiana, saya deg-degan sekali, bagaimana jika memang Dafa anak saya?" Tanya Akbar.
"Rileks Pak Akbar, kita pasrahkan semuanya sama Allah. Sebentar lagi kita akan tahu siapa sebenarnya Dafa," Ucap Qiana padahal hatinya sudah ikutan dag0dig-dug sejak tadi.
__ADS_1
Ceklek..
Pintu ruangan dr.Aska terbuka dan keluarlah perempuan dengan stelan serba putih mempersilahkan Akbar dan Qiana masuk ke dalam.
"Bapak Akbar silahkan masuk sudah ditunggu Dokter Aska," Ucap salah seorang perawat.
"Mari Bu Qiana, kita masuk." Ajak Akbar dan diangguki oleh Qiana.
Dalam hati Qiana, dia merasa begitu khawatir dan takut. Kalau seumpama Dafa adalah anak dari Akbar, otomatis dia kehilangan hak asuh Dafa. Tapi dia juga tidak boleh egois, kalau benar Dafa anaknya Akbar.
"Silahkan duduk Pak, ini hasil dari pemeriksaan tes DNA yang telah Anda lakukan," Kata Dokter Aska sambil menyodorkan amplop coklat berlogo RS. Di bukanya amplop itu perlahan, seketika mata Akbar terbebelak kaget.
Tanpa sadar tanganya merengkuh tubuh Qiana dan membawanya dalam dekapan hangatnya. Menyalurkan rasa bahagia karena perasaannya terhadap Dafa adalah ikatan antara Ayah dan anak, sedih, haru dan kecewa karena secara tidak langsung mengetahui perbuatan mantan istrinya yang buruk itu, yang menelantarkan anaknya sendiri di panti asuhan, semua rasa itu pun lebur jadi satu. Membuatnya meneteskan air mata bahagia.
Qiana hanya mengerjapkan matanya bingung, baru pertama kali dia merasakan dekapan laki-laki sehangat ini selain dari Papa dan Abangnya. Ingin mendorong tubuh Akbar tapi dia sungkan melakukan itu, karena sedikit banyak dia paham akan keharuan yang di rasakan oleh Akbar saat ini.
"Qiana, Dafa anakku Qia dia anakku," Kata Akbar dengan tatapan bahagia luar biasa.
"Iya , Pak Akbar. Alhamdulillah." Jawab Qiana dengan raut bingung karena posisinya saat ini begitu dekat dengan Akbar.
Akbar pun sadar dengan apa yang diperbuatnya, segera melepas rengkuhannya. Kembali ia menatap dokter yang ada di hadapannya.
"Dok apa ini sungguhan?" Tanya Akbar yang masih sedikit shock.
"Iya betul itu hasil tesnya Pak." Jawab dr.Aska.
"Alhamdulillah, terimakasih dokter atas bantuanya. Saya bersyukur sekali," Ucap Akbar.
"Sudah tugas kami Pak Akbar," Ucap dr.Aska sambil tersenyum ramah.
"Baiklah Dok, saya permisi dulu," Kata Akbar sambil beranjak dari duduknya dan mengajak Qiana agar segera keluar dari ruangan dr.Aska.
Mereka telah sampai di parkiran dengan senyum yang masih terus tersungging di bibir Akbar. Akbar pun melajukan mobilnya menuju rumah Qiana, tujuannya kini satu bertemu dengan Dafa secepatnya. Merengkuh tubuh mungil itu ke dekapannya dan menghujani pipi gembilnya dengan ciuman hangat.
Qiana hanya sesekali menoleh ke arah Akbar, dilihatnya Akbar begitu bahagia tapi di satu sisi dia khawatir Akbar akan membawa Dafa pergi darinya.
__ADS_1
~Entah apa yang dimilikinya, hanya satu yang aku tahu tubuh kecil yang selalu ingin ku dekap itu telah memberi warna baru dalam hidupku~.
*** terimakasih readers\, like yaa jangan lupaaa.