Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Kandidat Adik Ipar


__ADS_3

Selamat membaca... 


***


“Kenapa berasa kayak permen?” tanyanya.


“Iya, nano-nano hahaha. Gimana ya, tadi sore tuh aku dapet cerita sedih banget eh malah ini menjelang tidur dapet cerita yang absurd wahaha sedih iya, lucu iya, deg-degan juga,” jawabku sambil terus tertawa.


“Hahaha… biar aja wlekkk.”


“Ehhh, tapi tadi maksud aku bilang buat bahas kepribadian menurut goldar bukan cara tes goldar tahu nggak sih Mbak. Hahaha jadi melencong jauh ini mah,” ucapku sambil terkekeh pelan.


“Hahaha, iya juga ya,” ucap Mbak Tiwi.


“Haha, yaudah deh nggak apa-apa, aku udah capek banget,” jawabku


“Hm, yaudah bobok gih istirahat,” ucap Mbak Tiwi seraya berlalu dari kamarku menuju kamar


tamu.


“Hahh… hidup-hidup memang selalu seperti ini, seperti roda berputar. Aku selalu berharap di depan sana selalu ada kebaikan untuk mereka yang telah banyak memakan kepahitan selama hidupnya ini Ya Allah. Memang kadang jalan yang terlihat mulus, belum tentu tidak ada cobaannya ya,” ucapku lirih sebelum menjemput mimpi.


***


Author POV


Dirumah yang berbeda di malam yang sama, sepasang suami istri tengah berbaring bersama saling menatap dalam wajah pasangan yang berada di sampngnya. Kehamilan yang sudah memasuki tri semester kedua membuat Qiana beradaptasi dengan banyak perubahan yang sedang ia alami saat ini, sampai hal posisi tidur yang sulit sekali


mencari posisi terweenakkknya.

__ADS_1


“Mas, kemarin ke Jakarta nemuin Bagas juga ya?” tanya Qiana.


“Iya kamu kok tahu Dek? Perasaan Mas belum cerita sama kamu.”


“Hehehe, feeling aja Mas. Soalnya tiba-tiba kamu pulangnya sama Bagas, jadi aku nyimpulin kamu nemuin dia dulu.”


“Iya Mas nemuin Bagas dulu, Mas manas-manasin si Bagas biar cepetan ngelamar Tiwi sebelum keduluan sama Aziz.”


“Memangnya kenapa kalau seumpama keduluan Bang Aziz, Bang Aziz juga kayaknya baik sekalipun mungkin caranya sedikit ekstrim menurutku ya, soalnya sempet kayak ngancem atau apa ya kata yang tepat? Hmm pokoknya gitulah,” ucap Qiana.


“Baik… memang baik dia, cuman ada perilakunya yang Mas sedikit nggak suka. Sebagai Abang, sedikit khawatir tentang masa depan adiknya wajar kan? Termasuk urusan jodoh,” kata Akbar sambil terus memandangi wajah istrinya lekat.


“Wajar kok Mas, Bang Reza sewaktu Abang ngelamar Qiana juga bicara sama Qiana nanya-nanya tentang keseriusan Abang dan kesiapan Qiana,” ucap Qiana sambil menatap suaminya, melihat ekspresi sang suami yang sedikit sendu, “Wajar banget kok Mas, itu kan tandanya kamu sayang sama Adik kamu,” sambung Qiana sambil membelai pipi suaminya.


“Tapi kamu musti tanemin satu hal didiri kamu Mas, siapapun yang akan mendampingi Fani kelak itu sudah yang terbaik dari Allah buat Fani. Tugas kamu tinggal mendo’akan yang terbaik buat Adik kamu Mas,” ucap Qiana “Kalau Qia boleh tahu memangnya Bang Aziz dulu kenapa Mas, sampai bisa bikin kamu gelisah dan khawatir seperti ini?” tanya Qiana lirih.


“Mulai dari mana ya?” ucap Akbar seraya mengingat masa-masa kuliah dimana masa itu adalah saat pertama dia bertemu dengan Aziz.


pengendara lain sampai Mas lihat ada mobil parkir di depan ruko yang udah tutup. Awalnya Mas kira itu hanya mobil yang sudah terparkir dan tidak ada orangnya, sampai Mas lihat mobil itu gerak-gerak ya nekad aja modal Bismillah Mas ketuk kaca mobilnya.”


“Terus Mas? Ichh..kok serem sih ceritanya,” ucap Qiana yang mengundang gelak tawa suaminya.


“Hahaha, oke Mas terusin. Habis ngetok jendela mobilnya, si cowok keluar dengan bibir yang belepotan lipstik. Dengan santainya dia nanya ke Mas ada keperluan apa, terus ya  Mas bilang aja mau pinjam dongkrak. Tapi pas dia ngasihkan dongkraknya ke Mas, dia bilang gini ‘Abang bisa kembalikan dongkraknya besok saja di kampus x, saya juniornya Abang mahasiswa baru.’ Masa dengan santainya dia bilang gituh, padahal Mas udah mergokin dia enggak-enggak secara tidak langsung,” ujar Akbar menjelaskan awal pertemuannya dengan Aziz.


“Lah tapi kok Mas sama Bang Aziz sewaktu di Situ Patenggang katanya pernah tinggal bareng?” tanya Qiana heran.


“Hmm, itu karena semenjak kejadian itu Mas sama Aziz jadi akrab satu sama lain. Apalagi sewaktu Mas tahu kalau ternyata Aziz itu anak yang sudah disia-siakan oleh kedua orang tuanya. Dia bisa berkuliah di kampus yang sama dengan Mas  karena dia dapat beasiswa, selama kuliah semua biaya full ditanggung oleh pihak kampus dan dia juga masih dapat jatah bulanan sebulan 300rb kalau nggak salah inget ya. Tapi dia masih kerja part time di café dekat kampus loh Qi, katanya dia musti tetap kerja buat  biayain adiknya sekolah.”


“Ya… Allah Mas, kasihan banget Bang Aziz.”

__ADS_1


“Itu, mangkannya Mas bantu dia dengan cara mengajaknya tinggal bersama dengan Mas di apart dulu. Dia tengil banget, suka gonta-ganti pacar tapi ya gituh dia bilangnya sih kasihan sama cewek-cewek yang nembak dia mangkannya di iyain aja. Toh dia nggak pernah rugi katanya, ya gimana ruginya orang dia untung terus kendaraan punya ceweknya, makannya juga dibayarin, plus ada sun-sunnya tau Dek.”


“Tapi dia sedikit demi sedikit udah berubah sewaktu tinggal sama Mas, sampai Mas sudah selesai S1 dan program S2 dia masih semester 5 dan mulai kumat lagi gilanya. Tapi kayaknya sekarang sudah tobat lagi dia,” sambung Akbar.


“Semoga sudah benar-benar taubat ya Mas, kasihan ke dirinya sendiri lah harusnya nggak ada untungnya itu dapat sun-sun nggak jelas dari yang bukan muhrimnya enaknya cuma sesaat dosanya numpuk terus. Ahh, tapi semua orang punya masa lalunya masing-masing Mas, kita nggak berhak menghakimi ya sesama manusia,” ucap Qiana lembut.


“Oh iya Mas, Qia tahu sedikit rahasia tentang Bagas sewaktu kuliah dulu.”


Akbar yang sedang tiduran pun langsung beranjak duduk, disusul oleh Qiana sambil menggelengkan kepalanya.


“Kenapa sih Mas, semangat betul mau bahas Bagas,” goda Qiana.


“Kamu ini masih sempat-sempatnya ngegodain Mas. Ini harus dibicarain sekarang gimana pun Mas musti tahu gimana-gimananya kandidat calonnya Fani.”


“Hahaha, iya-iya Mas. Gini sewaktu baca diary alm.Setya aku nggak sengaja baca juga ada curhatannya Setya yang bahas tentang Bagas. Nggak tahu ya nanti bikin pandangan Mas berubah atau nggak tentang Bagas, yang pentiing ini memang apa adanya aku tahu tapi aku harap jangan terpengaruh tetap musti lihat sisi baiknya ya,” ucap


Qiana.


“Hmm.. iya Mas janji.”


“Jadi gini, Bagas itu sebetulnya sudah suka Fani dari kecil. Tapi karena dia nggak tahu gimana cara mengungkapkannya jadilah dia pendam sendiri. Kuliah di Surabaya, Bagas mencoba untuk melupakan Fani dan mencoba berkenalan dengan banyak perempuan di sana tapi  sebanyak apapun dia berkenalan dengan wanita-wanita diluar sana tetap saja yang dia cari hanya sosok Fani di dalam setiap wanita yang ditemuinya. Jadilah dia hanya buang-buang waktu untuk mengajak cewek-cewek itu jalan xixixi. Sedih sih cerita Bagas ini, tapi aku kesel masak dia malah nyari cewek yang kayak Fani diluaran sana bukan malah cepet-cepet balik ke Jakarta dan berterus terang ke Fani.”


“Ah, kenapa mantan playboy semua yang lagi deketin Fani sekarang. Tapi Bagas udah dapet karmanya sih, dia pulang ke Jakarta malah ditinggal Fani tunangan sama orang lain,” ucap Akbar.


“Yaudah ayok kita istirahat kasihan Adiknya Dafa. Kita bahas kandidat calon adik ipar kapan-kapan lagi, kita pantau dulu perkembangannya,” sambung Akbar dan diangguki oleh istri tercintanya.


Malam pun memberi jeda untuk tubuh beristirahat, merehatkan sejenak dari hiruk pikuk aktifitas sehari-hari.


***

__ADS_1


Terimakasih semua…


__ADS_2