
Selamat membaca...
***
Qiana Pov
Tak terasa sudah 3 hari setelah kepulanganku dari Bandung bersama Setya, kini aku sibuk dengan jadwal harianku mengontrol buangan limbah RS. Aku juga sudah merasa lebih baik dan melupakan kesalahan-kesalahan Setya padaku di masa SMA, ini membuatku menjalani hidup lebih tenang tanpa dihantui rasa dendam. Sepulang kerja, aku sudah berjanji pada Tiwi akan pergi ke mall untuk mengantarnya belanja sekalian mau nonton, hitung-hitung nostalgia masa SMA. Sedikit ku ceritakan tentang sahabat ku ini, entah menurut kalian lucu atau tidak tapi kejadian ini membuat kelasku menjadi riuh kala itu.
Semenjak Tiwi ikut tinggal bersamaku, di rumah jadi sedikit lebih ramai karena candaaan-candaan dia yang garing hehehe. Sahabatku sedari SMA ini memang lebih kocak dan tak pernah sedikit pun jaim meskipun dia perempuan. Tiwi SMA selalu bisa membuat suasana tegang mencair, dulu sewaktu kelas 2 SMA sebelum jam pertama di mulai, di kelas terjadi sedikit gencatan senjata karena jadwal piket yang tidak di patuhi semua penghuni kelas dengan baik.
Seingatku ada beberapa oknum yang memang sengaja tidak melakukan piket kelas, nah sewaktu sibuk berdebat dan saling mencaci datanglah si Tiwi. Awalnya aku bener-bener nggak 'ngeh', pas Tiwi masuk temen-temen lainnya jadi ketawa sampek ada beberapa yang ngeluarin air mata dan megang perutnya. Eh pas aku perhatiin mukanya si Tiwi emang ada yang berubah, kayak nenek-nenek menurutku pas liat pertama kali. Aku perhatikan ternyata alisnya jadi tipis banget bisa dikatakan tidak ada terus bulu mata dia pendek banget kayak yang abis digunting gitu.
Sebagai orang biasa aku juga pingin ketawa keras tapi berhubung aku sahabatnya jadilah kutahan ketawaku. Aku lebih memilih bertanya kenapa alis dan bulu matanya hampir nggak ada. Ternyata dia kemarinnya abis baca artikel untuk melentikan bulu mata, caranya si bulu mata harus di gunting dulu lalu tiap pagi di usapp-usap pakai jari hahaha entahlah aku sampai nggak habis pikir pas denger cerita itu. Tapi kalau alis katanya cuman iseng-iseng aja, dan si alis sama bulu matanya sampai sekarang nggak pernah tumbuh lagi.
***
Author POV
Setya sedang di ruangan Bagas, untuk membicarakan kelanjutan pekerjaannya yang kurang dua setengah minggu lagi akan segera berakhir. Tak lama obrolan mereka terhenti karena ada panggilan masuk dari gawai Setya, diangkatnya panggilan tersebut ternyata Tyo yang menghubunginya.
"Hallo, Set?" Sapa Tyo di sebrang sana.
"Hei, iya ada apa tumben kamu telfon," Kata Setya pada saudara kembarnya itu.
"Ini aku ada di proyek pembangunanmu, tadi naik ojek kesini disuruh Papa nyusulin kamu. Niatnya mau ngasih kejutan, tapi malah aku yang terkejut kata pegawai kamu, kamu jarang liat kondisi proyek. Cepetan kesini jemput aku," Ucap Tyo.
Setya mengernyit heran, nggak biasa-biasanya kakak kembarnya ini bicara panjang lebar di telfon.
"Hmm, iya bentar lagi aku kesana. Aku jarang kesana karena aku di Jakarta juga kerja sama temen aku." Jawab Setya tit..tit..tit... tiba-tiba sambungan panggilan tersebut di putus sepihak oleh Tyo.
__ADS_1
"Gas, aku izin dulu mau jemput si Tyo ke proyek. Ntar aku balik lagi, sekalian makan siang dulu. Oke?" Pamit Setya pada Bagas dan hanya mendapat anggukan dari Bagas.
Sesampainya di proyek, Setya langsung mencari Tyo ternyata dia sedang berdiri di sisi samping bangunan yang tengah di bangun itu. Setya yang melihatnya, lantas mengajak Tyo untuk segera mengikutinya. Diajaknya untuk makan siang bersama di dekat RS.
"Pesen dulu Yo, aku ke kamar mandi dulu." Pamit Setya.
Tyo POV
Aku arahkan pandanganku ke segala sudut di restoran yang baru saja aku masuki bersama Setya, dan tak sengaja aku melihat sosok yang 8 tahu ini tidak pernah aku temui. Mataku melotot dibuatnya, dia sahabatku bersama dengan Setya tapi semenjak dia ada masalah dengan Setya kami menjadi jauh. Dan puncaknya setelah kelulusan SMA dia menghilang bagai di telan bumi. Pertanyaanku satu, apa Setya sudah bertemu dengannya apa belum.
Author POV
"Qi, itu bukannya Setya? kok bajunya udah ganti sih. Padahal tadi ketemu di RS nggak pakai baju itu deh," Kata Tiwi yang tidak sengaja melihat Tyo duduk sendirian.
Deg
"Bukan, itu Tyo." Jawab Qiana, sambil mencari bangku kosong di restoran yang sedang padat akibat jam makan siang.
"Hah, kamu jangan sok tahu. Ini kan di Jakarta. Yang di Jakartakan hanya Setya bukan Tyo." Sanggah Tiwi.
"Hm terserah kamu aja lah," Kata Qiana pasrah.
"Ayok kita kesana aja bangkunya udah penuh semua," Ajak Tiwi.
"Yasudah terserah," Kata Qiana, mereka pun menghampiri Tyo. Saat Tiwi hendak menyapa disaat itu juga Setya muncul dari arah toilet.
"Hai Set, boleh gabung ngga?" Tanya Tiwi yang belum menyadari kehadiran Setya dibelakangnya.
"Silahkan aja." Jawab Setya dari arah belakamg dan mendudukan tubuhnya disamping Tyo.
__ADS_1
"Eh, copot." Latah Tiwi.
"Loh, kok kalian berdua ada disini? Ini yang duduk dari tadi Tyo?" Tanya Tiwi penasaran.
"Hahaha, udah kenal dari SMA masih ngga tau aja dasar Tiwill." Jawab Setya.
"Aishh... mana aku tau," Kata Tiwi sambil mencabikkan bibirnya.
Qiana hanya diam, memperhatikan kawannya dengan tingkah konyolnya. Jujur saja Qiana masih tak percaya akan secepat ini bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Terutama cinta pertamanya.
"Duduk Qi, jangan bengong aja," Kata Setya.
"Ah iya." Jawab Qiana.
"Hai apa kabar Qi, lama tak jumpa," Ujar Tyo.
"Baik, kamu sendiri? Tanya balik Qiana.
"Ya beginilah." Jawabnya cuek, sambil membolak-balikan buku menu.
"Hufttt, ternyata 8 tahun tidak cukup untuk membuatnya berubah. Ku kira dia berubah karena sudah mau menanyakan kabarku terlebih dahulu, hah ternyata hanya basa-basi." Gumam Qiana dalam hati.
"Oke kita makan dulu, nanti ya ngobrol-ngobrolnya," Kata Tiwi.
***
Qiana POV
Apa Setya ngga bilang tentang isi diary itu ke Tyo, hmm entahlah. Padahal salah satu alasan aku pindah ke Jakarta karena aku pikir Setya bakal cerita tentang perasaanku ke kakak kembarnya ini, ini juga salah satu alasanku tidak membuka hati untuk lelaki lainnya selama 8 tahun terakhir ini, takut bertepuk sebelah tangan lagi dan hilang saat aku membutuhkannya. Seperti Tyo yang juga menghilang bersamaan dengan Setya yang mempermalukanku di muka umum. Tapi dari reaksinya tadi dia biasa aja, malah nyapa duluan. Kalau dia udah tahu isi diaryku mungkin dia akan ilfeel deh sama aku. Emh, ternyata Setya ngga seburuk yang aku pikirin waktu SMA dulu. Sekarang harus mikir gimana caranya aku nggak terlibat lebih jauh lagi dengan orang-orang di masa laluku.
__ADS_1