
Tidak ada obrolan yang berarti ketika mereka sedang makan siang bersama, apalagi Qiana dan Setya yang diburu waktu untuk segera kembali ke pekerjaannya. Meninggalkan Tiwi dan Tyo, untuk menunggu mereka selesai kerja.
"Tiw, mau tanya boleh?" Tanya Tyo pada Tiwi saat mereka sedang di taman RS.
"Boleh, tanya aja," Jawab Tiwi.
"Sejak kapan Setya tau kalau Qiana ada di Jakarta?" Tanya Tyo sambil menatap lurus kedepan tanpa melihat pada Tiwi.
"Aku ngga tau kalau Setya tau dari kapannya. Tapi setauku dari Qiana sih, mereka baru ketemu di RS ini jalan 3 mingguan itu pun ngga sengaja," Kata Tiwi.
Tyo tau kalau sebetulnya adiknya itu mencintai Qiana sejak dulu, tapi dia berusaha masa bodoh toh itu urusan adiknya. Tapi dia heran ketika akhir SMA melihat adiknya yang tidak bertegur sapa pada Qiana dan secara tidak langsung menghancurkan persahabatan mereka bertiga. Padahal pikirnya hanya masalah sepele yaitu kejahilan Setya ke Qiana tentang buku diarynya, tanpa tau yang sebenarnya.
"Oh gituh, habis ini mau kemana? Maksudku pasti kalian mau keluar kan, soalnya kamu nungguin Qiana disini," Tanya Tyo.
"Ehmm, abis ini mau ke mall. Ada barang yang musti aku beli sama rencananya mau nonton bareng Qia," Ucap Tiwi.
"Boleh aku dan Setya ikut?" Tanya Tyo.
"Boleh aja aku mah," Jawab Tiwi.
Jam pulang kerja pun tiba, mau tidak mau Qiana pun menyetujui keikut sertaan si kembar jakan-jalan ke mall. Di taruhnya dahulu sepeda matic kesayangannya ke rumah minimalis itu. Lalu mereka pergi ber empat menggunakan mobil Setya.
Di mall mereka membeli tiket nonton terlebih dahulu lalu mengantarkan Tiwi belanja. Sampai 1 jam terlewati Tiwi masih sangat asyik berbelanja berbeda dengan ke tiga kawannya yang sudah tampak bosan.
"Ayok Tiw, ini udah mau mulai filmnya." Ajak Qiana.
"Oke bentar, ini aku masukin ke mobilnya Setya bentar ya biar ngga riweh," Kata Tiwi .
"Yaudah nih kunci mobilnya, kamu sendiri aja ya ke mobilkunya," Kata Setya sambil menyodorkan kunci mobilnya.
__ADS_1
"Enak aja, ngga mau lah sendirian. Anterin pokoknya." Rengek Tiwi.
"Nyusahin aja, yaudah ayok. Kalian beli popcorn aja dulu tungguin di depan tempat masuk. Oke?" Ucap Setya.
"Oke," Kata Tyo.
Mereka pun berpencar. Tyo tampak ragu ingin memulai percakapan dengan Qia sebetulnya dia sangat penasaran dengan alasan Qiana yang tiba-tiba menghilang.
"Ehem." Tyo pun berdehem untuk menetralkan suasana canggung itu.
"Qi, lama ya kita ngga ketemu. Kamu ngapain aja disini 8 tahun?" Tanya Tyo.
"Iya, udah lama banget ya Yo. Disini ya kuliah sampek aku dapet kerjaan juga disini." Jawab Qiana.
"Bukannya kamu kuliah di Bandung ya Qi?" Tanya Tyo.
"Enggak, aku kuliah di Jakarta kok," Kata Qiana.
"Udah, ngga usah di bahas lagi. Aku udah maafin dia kok Yo," Kata Qiana dengan senyum tulus.
"Makasih, Qi. Oh iya apa alasan tiba-tiba kamu menghilang itu karena ulah Setya yang jahilin kamu waktu dulu dengan buku diarymu itu?" Tanya Tyo.
"Eh enggak kok, emang dulu lagi pingin merantau aja. Terus kebetulan hp aku rusak dan kehilangan kontak kalian semua." Sanggah Qiana yang hanya mendapat anggukan dari Tyo.
Tyo POV
Eh ternyata dia udah mau maafin Setya yang udah jahil sama dia waktu SMA dulu, kenapa ngga dari dulu aja lagian mereka marahan lama banget. Entahlah masalah apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua dulu. Tapi yang aku lihat sekarang, semuanya udah membaik seperti sedia kala. Semoga kalian bisa deket lagi aja deh, biar Setya ngga uring-uringan ngga jelas mulu.
"Kemana ya Setya sama Tiwi lama banget," Ucapku sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Iya lama banget kurang 5 menit lagi nih filmnya," Katanya sambil melihat jam mungil di pergelangan tangannya.
"Nah itu dia, woy cepetan."Teriakku ketika melihat Setya dan Tiwi berjalan mendekat.
Hari ini setelah 8 tahun berpisah dengan Qiana, akhirnya aku bisa bertemu dan hangout bareng Qiana. Tidak terlalu buruk, padahal ku kira dia akan menghindar dariku dan Setya. Tidak berlebihan fikirku, ketika dia masih sedikit dingin dan sedikit bicara kalau tidak diberi pertanyaan terlebih dahulu. Karena jika mengingat akhir pertemuan kita dulu, ada masalah antara Setya dan Qiana yang juga berimbas padaku. Qiana pergi menjauh dan Setya seperti menjaga jarak padaku, walaupun 3 bulan kemudian Setya bersikap normal lagi kepadaku tapi tidak dengan Qiana yang menghilang tanpa kabar bertahun-tahun.
Dia tampak jauh lebih dewasa daripada terakhir kita bertemu di hari kelulusan. Di usianya yang sudah 26 tahun ini, apa dia masih sendiri. Sepertinya tidak mungkin, karena dia cantik, manis, dan terlihat keibuan. Pasti dia sudah memiliki tambatan hati. Emh, dipikir-pikir kasihan juga Setya kalau Qiana ternyata sudah ada yang punya. Tapi salah sendiri juga udah tau dia suka sama Qiana malah ngejailinnya kebangetan, pergi dah tuh anak orang wkwk.
****
Author POV
Setelah nonton mereka memutuskan untuk makan malam di warung nasi uduk dekat rumah Qiana. Tidak ada obrolan yang serius disana, mereka hanya sesekali menceritakan pengalamannya selepas lulus SMA sampai masuk dunia kerja. Pandangan Setya tak pernah lepas memperhatikan Qiana yang tengah menceritakan pengalaman kuliahnya di Jakarta. Sesekali terlihat dia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya itu, dan hatinya tengah merutuki kebodohannya di masa SMA. Bagaimana tidak, seharusnya dia berkuliah di tempat yang sama dengan Qiana di Surabaya. Tapi semuanya hanya rencana tanpa terealisasikan, akibat sikap bodohnya waktu itu dan mengakibatkan Qiana pergi darinya.
"Oh iya, gimana kalau kita pergi ke Bandung. Ke rumah Nenek kamu Qi. Aku pingin banget jalan-jalan ke Bandung," Kata Tiwi.
"Baru kemarin aku dari sana Tiw, capek lah kalau minggu depan kesana lagi. Lagi pula jadwalku minggu ini, itu ke panti. Kita kesana aja ya?" Tawar Qiana.
"Yah... yaudah deh aku ikut kamu ke panti aja. Ke Bandungnya minggu depannya lagi aja ya?" Rengek Tiwi.
"Iya boleh," Kata Qiana.
"Oh iya, Qi kita kan belum persiapan buat pengembangan panti,"Ujar Setya.
"Iya, besok kita bahas aja di RS. Sekarang udah malem, yuk anterin aku sama Tiwi ke rumah," Kata Qiana.
"Oke bentar." Jawab Setya.
***
__ADS_1
Qiana POV
Entah apa rencana Tuhan padaku mempertemukan mereka denganku setelah 8 tahun berlalu. Seharian ini aku mencoba bersikap wajar, tanpa memperlihatkan rasa keterkejutan dan rasa kecewaku. Bagaimana pun hidup tetap harus berlanjut. Ku lihat Tyo makin dewasa dengan penampilannya saat ini, Setya tak jauh beda dengannya terlihat lebih dewasa. Kadang aku melihat raut penyesalan di mata Setya ketika kami sedang berdua, dan itu yang membuatku tidak bisa membencinya. Dan aku sekilas menatap dalam pada Tyo, dan ku rasa tidak ada perubahan, dia masih tidak memiliki rasa kepadaku.