Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
38. Persiapan


__ADS_3

Sejak pulang dari rumah Qiana, Fani tampak lebih murung dan menjadi over protectife terhadap calon kakak iparnya. Fani takut kalau Bella menerror atau melakukan hal-hal buruk kepada Qiana, jadilah dia mengikuti Qiana dari semalaman dan selalu meminjam Hp Qiana untuk dia cek. Bahkan  Akbar pun menjadi bulan-bulanan sang Adik, karena Fani terus saja mengancamnya agar tidak kembali bertemu dengan Bella apapun itu alasannya. 


"Aku pergi dulu sama Mama ke mall buat beli keperluan lamaran Abang, jadi Abang nggak usah kemana-mana di rumah aja jagaian Dafa sama Mbakku tercinta," Kata Fani kesekian kalinya memperingatkan sang kakak agar tidak keluyuran, apalagi bertemu dengan Bella.


"Bawel banget kamu Dek, Abang juga tahu kali mana yang terbaik buat Abang. Kamu tuh ya udah kayak ibu-ibu ngegosip ngomong terus mana diulang-ulang lagi," Sewot Akbar yang sudah bosen dengerin Fani yang memperingatinya terus.


"Biarin, aku gini juga karena pernah terlalu percaya sama orang. Jadi Abang yang udah berpengalaman lebih sakit daripada aku, jagain bener-bener yang udah ada di depan mata jangan sampek belok apalagi beloknya sama ex nggak tahu diri itu. Sekalipun alasan dia deketin Abang karena Dafa, mending nggak usah diladenin kalau alasannya bener-bener Dafa udah dari kapan tahun dia ngambil Dafa dari panti," Ketus Fani, bertemu dengan mantan kakak iparnya membuat jiwa sakit hati pada mantan tunangannya muncul kembali dan melampiaskannya pada siapa saja yang ingin merusak kebahagiannya dan orang-orang sekitarnya.


"Astaga,anak kecilll.... udah ah sana pergi sama Mama. Abang udah tahu apa yang akan Abang lakuin. Kamu bantu Abang beliin seserahan buat lamaran aja sana." Kata Akbar sambil berlalu meninggalkan Fani.


***


Siang itu Fani pergi menemani sang Mama untuk berbelanja keperluan lamaran sang Abang, 5 hari lagi. Sepanjang jalan Bu Rita tiada henti bertanya kepada anak bungsunya tentang kejadian di rumah Qiana kemarin. Dengan senang hati Fani menceritakan semua kejdian yang dia lihat dan dengar sendiri kemarin. Saking masih kesalnya dengan kejadian kemarin Fani bercerita dengan penuh emosi, membuat sang Mama bertambah antusias mendengar cerita anak gadisnya.


“Oh, ternyata wanita tak tahu diri itu sudah keluar dari penjara rupanya. Bukannya masa tahanannya masih 5 bulan lagi ya Fan, kok udah bebas sih?” Tanya Bu Rita.


“Entahlah Ma, mungkin Abang udah nyabut tuntutannya,” Kata Fani.


“Bisa jadi. Tapi yang Mama heranin ya, kok Bisa si Bella itu temen SMAnya Qiana.” Ujar Bu Rita seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Itu juga Ma yang Fani nggak habis pikir. Tapi ya Ma kalau kata Mbak Tiwi temennya Mbak Qiana yang tinggal di rumah Mbak Qiana yang di Jakarta itu, wanita nggak tahu diri itu emang dari SMA udah belagu gituh Ma dia juga pernah nampar Mbak Qiana di kantin sekolah Ma. Bayangin deh jadi Mbak Qiana udah pipi sakit, kena beban mental malu lagi Ma,” Kata Fani dengan penuh emosi, mengingat keburukan mantan kakak iparnya dulu.


“Astaga, berarti memang Bella udah jahat dari dulu ya Fan. Tindakaannya selalu dikuasai emosi dan tempramennya yang buruk. Kenapa dari awal Akbar atau kita nggak ada yang nyadar ya, tahu gitu Mama sama Papa nggak akan ngerestui Abang buat nikah sama wanita macam itu,” Sesal Bu Rita.


“Sudah ya Ma, itu semua udah berlalu. Sekarang ada Mbak Qiana yang bisa buat Abang sama Dafa bahagia. Oh iya Ma, semisal Bella dateng lagi buat ketemu Dafa gimana Ma? Takutnya dia maksa kayak kemarin dan buat Dafa bingung bahkan takut,” Tanya Fani dengan raut muka yang mendadak cemas memikirkan nasib sang keponakan gembilnya itu.


“Kamu tenang aja, Mama sama Papa bakal jagain cucu Mama. Apalagi Abang kamu pasti dia bakalan jagain anaknya dan Qiana dengan baik, bagaimana pun Akbar memiliki kekhawatiran yang lebih daripada kita Fan. Kita sebagai keluarga Abang kamu, harus support dia semaksimal mungkin.” Kata Bu Rita yakin dan diangguki oleh Fani.


***


Cuaca panas di luar ruangan tak lagi terasa saat dua wanita berbeda generasi itu sudah masuk ke dalam Mall terbesar di Jakarta. Matanya menyorot kesana-kemari memperhatikan dengan detail setiap sudut Mall mencari barang-barang yang mereka butuhkan untuk acara lamaran ke Surabaya nanti. Meskipun bukan pertama kalinya Bu Rita melakukan hal ini, tapi antusiasnya tampak begitu tinggi.


“Ma, kita ke butik langganannya Mama kan? Kita belum ada baju yang samaan sekeluarga loh Ma, kan anggota keluarga kita nambah,” Ujar Fani yang asyik menyusuri koridor Mall.


“Oh, kalau itu rencana Mama kita bertiga samaan. Terus Abang, Qiana, sama Dafa samaan, yang di Surabaya dari pihaknya Qiana juga biar seragaman sendiri, gimana?” Tanya Bu Rita.


“Boleh tuh Ma.” Jawab Fani dengan menganggukkan kepalanya.


“Kita bawa makanan juga Ma buat seserahan?” Tanya Fani.

__ADS_1


“Iya, setahu Mama kalau di Surabaya bawa jajanan lemper, pukis, bolu, ketan salak, madumangsa, tetel atau apa gituh kemarin Mama nanya-nanya sama istrinya temen kerja Papa. Tapi itu kita beli di Surabaya aja nggak usah bawa dari Jakarta tambah ribet nanti, Mama udah minta tolong sama istrinya temen kerja Papa soalnya kemarin sewaktu Mama tanya-tanya dia nawarin buat bantuin,” Kata Bu Rita.


“Waaaa… seru nih Ma kayaknya, udah nggak sabar nih Fani.” Ujar Fani.


***


“Ndaaa…. Tangkap Dafa Nda tangkap Dafa,” Teriak Dafa sambil berlarian di halaman belakang rumah Opanya.


“Dafa, Bunda capek udahan dulu ya,” Kata Qiana sambil mengatur nafasnya.


“Nih, minum dulu. Kamu duduk dulu aja biar Dafa sama Mas aja,” Ucap Akbar sambil menyodorkan segelas es teh kepada Qiana.


“Dafa mau tama Nda yah, butan tama Ayah,” Kata Dafa yang langsung duduk dipangkuan Qiana.


“Bunda capek sayang,” Ujar Akbar sambil mengusap kepala anaknya.


“Udah Mas nggak apa-apa kok Dafanya juga diem diapangkuan Qiana.” Ucap Qiana.


Kejadian di rumahnya kemarin membuat Qiana takut kehilangan Dafa, takut tiba-tiba Bella datang dan membawa Dafa. Meskipun dia berjanji akan memberi pengertian pada Dafa tentang Bella yang sebenarnya, tapi di hati kecilnya ada rasa tak rela, jika Dafa mengenal ibu kandungnya. Terlebih dengan kelakuan Bella yang masih terkesan bar-bar seperti itu.

__ADS_1


Akbar pun sama, ada rasa khawatir yang menghantuinya. Cukup kejadian 2,5 tahun yang lalu membuat dia berpisah dengan anaknya tak akan ada lagi kesempatan untuk Bella, pikirnya.


__ADS_2