
3 bulan berlalu, semenjak kejadian Qiana, Akbar, dan Dafa tidur bersama, mereka semakin dekat satu sama lain. Beberapa minggu yang lalu orang tua Qiana berkunjung ke Bandung untuk bertemu jagoan kecil yang sedang aktif-aktifnya itu. Hari ini Qiana berencana untuk pergi ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan Tyo 5 hari lagi. Dengan berat hati dia akan kembali ke kota itu, kota yang sudah 8 tahun lebih dia tinggalkan. Beberapa hari yang lalu mama Setya dan Tyo menelponnya untuk datang ke pernikahan Tyo, ingin menolak tapi tak tega karena mama si kembar itu terus saja memohon sambil sesenggukan karena rasa rindu pada Qiana yang sudah menggunung.
Perjalanan kali ini Qiana tidak sendiri melainkan dengan Nenek Mira dan Dafa yang akan ikut serta. Hubungan Qiana dan Akbar sejauh ini hanya sebatas saling menghargai satu sama lain untuk kepentingan Dafa yang membutuhkan dua sosok dalam tumbuh kembangnya, yaitu Qiana sebagai bundanya dan Akbar yang sudah pasti sebagai ayahnya. Tapi lain halnya dengan Akbar yang selalu menggunakan hati untuk dekat juga dengan Qiana.
Sejujurnya Akbar ingin ikut dalam kepulangan Qiana kali ini, terlebih ada Dafa yang akan ikut serta. Tapi karena pekerjaannya yang tidak bisa ditinggalkan membuatnya harus rela untuk tidak ikut, syukur-syukur jika nanti ia bisa menyusul pikirnya.
***
"Set, Qia bakal dateng kan nanti di pernikahanku?" tanya Tyo yang sedang bermain PS dengam Setya.
"Iya kata Mama hari ini dia berangkat." Jawab Setya yang masih fokus dengan stik PS di genggamannya.
"Heran deh sama Mama, bisa-bisanya bujukin Qia sampek dia mau loh pulang ke Surabaya. Jadi kepikiran, kenapa ngga dari dulu aja suruh Mama buat bantu nyari sama nyuruh Qiana balik kesini," gumam Tyo dan diangguki oleh Setya.
"Entar abis maghriban kita ke rumah orang tuanya Qiana ya." ajak Setya dan diangguki oleh Tyo.
***
"Wah anak Papa akhirnya mau pulang juga ke gubuk kita ya Ma?" canda Papa Qiana.
"Iya nih, setelah ratusan purnama akhirnya inget pulang ya Pa," kata Mama Qiana yang ikut menggoda Qiana.
"Ih, Papa sama Mama apa sih goda Qia terus dari tadi. Abangg... belain Adek, Abang yang cantik ini dong," kata Qiana yang dibalas juluran lidah dari abangnya yang sedang memangku Dafa.
"Udah..udah kalian ini godain cucu Ambu terus," Bela Nenek Mira yang langsung mendapat pelukan dari Qia.
"Uh...Nenek emang the best," Ucap Qia.
"Nda, num," Kata Dafa sambil merentangkan tangannya ke arah Qiana.
"Iya sayang sebentar ya Bunda ambilin dulu," Kata Qia
"Itut nda." Ucap Dafa.
***
Seperti rencananya tadi siang, petang ini terlihat Setya, Tyo, dan Bu Dewi (Mama si kembar, yang tiba-tiba mau ikut bertamu) tengah berada di dalam mobil menuju rumah orang tua Qiana. Tak lama mereka pun sudah sampai di rumah yang begitu sejuk dengan banyaknya tanaman indah di halaman depannya.
Tok...tok..tok...
"Assalamualaikum..." Salam Setya.
__ADS_1
Di dalam rumah.
"Bang ada orang tuh kedepan gih, Qia repot nih Dafa rewel terus kayaknya kecapekan," Kata Qiana yang tengah menimang-nimang Dafa dalam gendongannya.
"Iya, Abang juga denger kok ada yang ngetok. Bentar deh," Kata Bang Reza sambil berjalan menuju pintu utama.
***
"Assalamu'alaikum anak gadis Mama." Sapa Bu Dewi yang membuat Qiana terlonjak kaget.
"Astagfirullah... Eh Mama Wa'alaikumsalam," Ucap Qiana kaget membuat Dafa semakin rewel dalam gendongan Qiana.
"Ya Allah Nak, kamu makin cantik aja, tambah dewasa pangling Mama sama kamu Nak," Ujar Bu Dewi dengan hebohnya membuat kedua anaknya geleng-geleng.
Karena kehebohan Bu Dewi, membuat Nenek dan Mama Qiana yang sedang menyiapkan untuk makan malam keluar menuju ruang keluarga.
"Eh, ada Mbak Dewi. Dari kapan Mbak disini? Abang sama Adek ini gimana sih ada tamu kok ngga disuguhin apa-apa," Kata mama Qiana sambil memandang wajah kedua anaknya bergantian.
"Iya bentar Mah, Abang ke dalem dulu. Tante mau minum apa? kalau kalian berdua air putih aja ya," Kata Bang Reza.
"Tante teh anget aja Za, dua anak ini ngga usah dikasih minum ngga apa Za biarin aja. Kolam di depan masih ada airnya kan ya?" Canda Bu Dewi.
"Mbak Dewi, kenalin ini Ambu saya Neneknya anak-anak," Kata Mama Qiana, Bu Dewi pun langsung memeluk Bu Mira.
"Nda mau tutu." Rengek Dafa.
"Iya Nak, ayo bikin sama Bunda. Qia kedalem dulu ya semua," Kata Qiana dan diangguki oleh semua.
Setya hanya memandang kepergian Qiana dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
Mereka semua larut dalam pembicaraan, Bu Dewi dan kedua anak kembarnya pun ikut makan malam di rumah orang tua Qiana. Meninggalkan Dafa yang sudah tertidur pulas akibat kecapekan di perjalanan. Bu Dewi yang tak sempat mengobrol panjang lebar dengan Qiana pun memutuskan untuk menginap ia ingin tidur dan mengobrol dengan Qiana, mau tak mau si kembar pun menyetujuinya dan meninggalkan Mamanya disana.
"Mama, ya ada-ada aja kelakuannya kalau udah menyangkut Qiana," keluh Setya sambil menyupir.
"Iya, malu aku huh. Emh Set aku mau nanya boleh?" Kata Tyo.
"Mau tanya ya tanya aja kalik ngga usah basa-basi." Jawab Setya.
"Kau masih berharap dengan Qiana?"Tanya Tyo hati-hati.
__ADS_1
Setya langsung menoleh kearah Tyo, sudah lama Tyo tidak menanyakan ini semenjak kepulangannya ke Surabaya kala itu.
"Ya masih kalau berharap, kan sebelum janur kuning melengkung kudu tetep berjuang," Kata Setya, yakin.
"Boleh aku berpesan untuk yang terakhir kalinya sebelum aku menikah?" Kata Tyo dan diangguki oleh Setya.
"Aku tau perasaan kau seperti apa pada Qiana. Memang tidak ada salahnya mencintai seseorang begitu dalamnya apalagi dengan sosok seperti Qiana. Tapi Set, realistis sajalah usia kita udah ngga muda lagi. Hanya mencintai juga kadang nggak cukup untuk kita sebagai manusia, kita juga butuh dicintai, diperhatikan dan lain sebagainya. Cobalah untuk membuka hati pada orang yang menaruh hati padamu, biar hidupmu jadi lebih berwarna," Ucap Tyo mencoba menghibur kembarannya yang nampak terus-terusan murung ketika berjumpa Qiana yang tidak pernah peka dengan Setya.
"Bicara itu mudah yo, coba kau yang jadi aku," Kata Setya sendu.
ciiiittttt.....ciiiiittt.... (Suara decitan mobil karena Setya tiba-tiba menginjak rem mobil)
"Hei, hati-hati aku akan menikah sebentar lagi," Ucap Tyo.
"Iya-iya maaf itu ada kucing mau nyebrang," Kata Setya dengan nafas tersengal karena kaget.
"Huh, pelan-pelan saja kita pulangnya," ujar Tyo Setya pun langsung melajukan mobilnya kembali.
Tiba-tiba dari arah berlawanan terlihat truk yang melaju mendekat dengan kecepatan tinggi serta ugal-ugalan. Karena Setya yang masih kaget dengan kejadian beberapa menit yang lalu membuatnya kembali panik dan hilang kendali ketika melihat truk yang melaju kearahnya. Dan...
"Aaaaaa.... astagfirullah Set... Ya Allah lindungilah kami Ya Allah." teriak Tyo.
"Aaaaaa......"
Ciiiiitttt.....ciiiitttt.....brakkkkkk
Setya memutar stirnya ke arah kiri sehingga truk langsung menabrak badan mobil bagian kanan tempat Setya duduk. Kecelakaan naas itu pun tak terelakan. Dengan susah payah Tyo mencoba membuka sabuk pengamannya dan melihat kearah saudara kembarnya yang bersimba darah.
"Ah.. Ya Allah kakiku sakit sekali. Set, ahh..Ba..bangun set ayo kita keluar," Kata Tyo sambil menggoyang-goyangkan tubuh saudara kembarnya.
"Em, Tyo... to..tolong... kasih tau Qia ka..kalo aku cinta sa..sama...di..a dan to...long kasihkan buku sampul co..klat di la..ci kaa...marku. Maafkan adikmu ini... minta..maafkan atas se..gala ke..salahanku pada semuanya," Kata Setya dengan menahan sakitnya akibat terhimpit badan mobil.
"Jangan...jangan seperti ini ayo bangun Set," Kata Tyo sambil mencoba menahan air matanya yang akan keluar.
"Kak... Allahu..u..Akbarr... Laillahaa..ilallah," ucap Setya terbata-bata sambil menyunggingkan senyum ke arah saudara kembarnya, Tyo semakin tak kuasa menahan air matanya dia pun pingsan akibat darah yang keluar banyak dari luka-lukanya.
Dari arah luar sudah banyak orang yang bergerumbul mencoba membantu, ada yang mencoba membuka pintu, ada yang menghubungi polisi dan ambulance.
***
Di tempat lain, terlihat Bu Dewi yang tengah gelisah. Niatnya menginap untuk mengobrol dengan Qiana pun tidak jadi, dia memilih untuk sholat sunnah dan mengani untuk menghalau rasa gelisahnya. Qiana pun menemani Bu Dewi dengan senang hati.
__ADS_1