
Selamat membaca...
***
Qiana POV
“HA… FANIIIII…. KENAPA KAMU IKUTAN DENGERIN BISIK-BISIK TENTANGGA MAMA!!!!” Teriak Mama Rita dari arah ruang keluarga yang membuatku segera berlari menghampirinya kembali, menyusul Fani yang tadinya akan mengambil sisa cilok untuk camilan selama kami memasak untuk makan siang.
“Yeee…. Si Mama salah Mama sendiri bikin Fani kepo, apalagi bisik-bisiknya bertiga. Ternyata Mama mau ngelakuin uji coba sama Fani, untung Fani tadi ikutan nguping,” ucap Fani seraya berdiri dari jongkoknya. Aku hanya geleng-geleng kepala mungkin rencana untuk mendekatkan Fani dan Pak Bagas sudah di ketahui Fani, pikirku. Aku lihat Mama dan Papa dari Mas Akbar sudah bingung harus berbuat apa karena mereka berdua takut jika Fani menolak atau bahkan marah, sedangkan Pak Bagas mukanya sudah memerah karena menahan malu atau kesal aku tak tahu.
Aku pun memutuskan untuk duduk di samping Mas Akbar sambil mengusap-usap kepala Dafa karena anak gembilku itu yan sudah terlihat sangat mengantuk tapi tangannya tetap memegang odading yang di bawakan Pak Bagas tadi.
“Em, Fan maafin Abang ini salah Abang, nggak apa-apa kok kalau kamu nggak mau sama Abang nanti Abang yang bicara sama Om dan Tante. Kita bisa tetep kayak dulu Adek Kakak,” kata Pak Bagas dengan raut wajah yang terlihat sudah pasrah.
Mama Rita, Papa Amri dan Mas Akbar ku lihat saling berpandangan, aku teringat pembicaraan tadi saat di meja makan jika Pak Bagas bukan orang yang mudah menyerah begitu saja untuk sesuatu yang sudah diimpikannya sejak lama. Dulu Papanya Pak Bagas pernah tidak memberikannya fasilitas yang mewah dan uang jajan yang pas-pasan untuk kuliahnya, tepat saat itu Pak Bagas berkeinginan untuk pergi ke Singapura bertemu dengan Neneknya yang sudah lama menetap di sana. Saat itu Pak Damar menginginkan Pak Bagas untuk bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri, sehingga membiarkan Pak Bagas untuk mencari uang dengan kerja kerasnya sendiri untuk membeli tiket pulang pergi Jakarta-Singapura sendiri dan itu dapat dilewati Pak Bagas dengan mudah karena niat dan usahanya yang tidak main-main.
“Emang Fani bilang kalau Fani nolak atau terima Abang? Yakin langsung mundur tanpa berjuang?” tanya Fani yang sepertinya sengaja menggoda Pak Bagas.
“Kode keras nih Gas, mau di perjuangin dia.” Goda Mas Akbar yang membuatku kedua orang tuanya terkekeh sedangkan Pak Bagas sudah semakin malu dibuatnya.
“Ehmm, gini aja mumpung Om, Tante, dan calon Kakak ipar ada disini, Bagas mau minta izin untuk mendekati Fani. Dan untuk Fani, jujur saja Abang sudah tertarik denganmu sedari dulu tapi Abang dulu belum berani untuk melamarmu apalagi saat tahu kamu udah punya pacar dan sampai ke tahap tunangan. Tapi karena Abang di kasih tahu Om Amri kalau kamu sudah tidak terikat dengan lelaki mana pun akhirnya, Abang memintamu pada Om dulu dan berniat mendekatimu dengan cara Abang tanpa embel-embel perjodohan.” Jelas Pak Bagas dengan yakin.
“Sebagai orang tua kita sudah memberi restu untuk kalian, gimana kedepannya kita tidak ada yang tahu. Om dan Tante juga tidak bisa memaksakan Fani untuk menerima kamu Gas, kita Cuma bisa bilang ke Fani kalau
kamu adalah laki-laki baik yang sudah kenal dengan Fani sedari Fani masih bayi, terlebih keluarga kita sudah saling mengenal dengan baik,” ucap Papa, hmm sebagai orang tua Papa Amri sangat memberikan anak-anaknya kebebasan untuk memilih tapi tetap memberi arahan dan mengawal dengan baik.
__ADS_1
“Fani mau, cuman Fani nggak mau PDKT kayak anak zaman sekarang. Fani maunya kalau Abang mau ngajakin Fani keluar harus ada saudara Fani atau saudara Abang, intinya rame-rame lah, kalau mau bicara berdua di
rumah Papa sama Mama aja nggak mau diluar rumah. Dan Bang Gas nggak boleh macem-macem selama proses PDKT,” kata Fani dengan yakin, sepertinya adik Mas Akbar ini sangat kooperatif dan tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya lagi karena salah pilih lelaki untuk kedua kalinya.
Aku melihat raut wajah semua orang tampak memancarkan kebahagiaan, sepertinya Mama, Papa dan Mas Akbar sangat lega dengan keputusan Fani. Ya, sedikit banyak sebagai orang tua dan saudara mereka masih
mengkhawatirkan tentang psikis Fani yang di khianati tunangannya, sekalipun Fani tampak ceria tapi tetap saja sebagai orang terdekat mereka bisa merasakan kesedihan Fani.
“Alhamdulillah, makasih Fan. Abang janji bakal buktiin kalau Abang bener-bener serius sama kamu,” ucap Bagas.
“Wah Pak Bagas sama Fani bakal jadi antrian selanjutnya dong Ma, Pa?” godaku pada kedua sejoli di hadapanku ini
“InsyaAllah ya Fan, eh jangan panggil Pak lagi dong Qi. Kita kan sepantaran, apalagi kamu bakal nikah sama Bang Akbar hehehe.” Jawab Pak Bagas dan memintaku untuk tak memanggilnya dengan sebutan Pak lagi dan aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.
“Oh iya, Fani besok sama Mbak Tiwi mau balik ke Jakarta lagi. Soalnya disini sudah ada yang nemenin Mbak Qiana dan si Mak Lampir juga udah di karungin sama Bang Bagas jadi insyaAllah Mbak Qiana dan Dafa udah aman,” kata Fani sambil memandang wajahku sendu, aku tahu betul dia ingin tetap di Bandung sampai hari pernikahanku, tapi berhubung dia sudah semester tua yang artinya musti bolak-balik kampus untuk bimbingan jadi nggak bisa lama-lama nemenin aku di sini.
“Siap laksanakan kanjeng ratu.” Jawab Fani dengan tangan yang ditangkupkan ke depan dadanya seraya membungkukan tubuhnya kea rah Mama Rita, yang membuat semua orang tertawa karena melihat tingkah absurdnya.
“Fan ayo ke dapur lagi, tadi niat ngambil cilok malah keterusan ngobrol kasihan Tiwi.” Ajakku pada Fani.
“Bun, kayaknya Dafa ngantuk ini. Boboin dulu gih kasihan.” Sebelum Fani menjawab Mas Akbar sudah berbicara padaku yang membuatku ingin menyembunyikan wajahku di balik hijab hehe, bagaimana tidak dia memanggilku
‘Bun’ di depan semua orang. Emh.. aku pun mencoba menetralkan kecanggunganku agar tak tampak salah tingkah di buatnya. Sedangkan Mas Akbar sudah tersenyum puas ke arahku.
“Sini di gendong Bunda dulu, nanti di temenin Ayah ya Bobo di kamarnya,” ucapku pada anak gembilku dan dia hanya mengangguk sambil menguap karena kantuk.
__ADS_1
Dafa ini usianya sudah mau masuk tiga tahun, untuk makan dia nggak pernah rewel, bicaranya sudah banyak beda sekali dengan pertama kali aku membawanya dari panti waktu itu, kalau tidur malam dia langsung naik ranjang dan di usap-usap punggungnya sudah auto merem tapi kalau tidur siang dia agak rewel dan susah, karena di balik kantuknya dia masih ingin bermain.
Aku pun beranjak dari dudukku dan mengambil kain gendong yang biasa aku gunakan untuk menggendong Dafa jika sedang rewel, Mama, Papa dan Bagas beranjak pergi menuju kamar untuk beristirahat sedangkan Fani dia sudah kembali ke dapur. Tinggal aku yang sedang menggendong Dafa di temani Mas Akbar di ruang tengah.
“Nanti kita tinggal dimana Bun?” tanya Mas Akbar yang sedang duduk memperhatikanku yang tengah menimang-nimang anaknya.
“Aku ikut Mas aja mau dimana juga, asalkan ikut suami.” Jawabku sekenanya, jujur aku masih bingung. Karena alasanku ke Bandung juga buat nemenin Nenek biar nggak tinggal sendiri di rumah. Tapi kalau pergi dari rumah ini juga berarti aku ninggalin Nenek.
“Kita liat Nenek dulu aja ya, kalau Nenek ikut Mama Rima ke Surabaya berarti kita tinggal di rumah Mas aja, tapi kalau Nenek masih mau di Bandung kita yang disini buat nemenin Nenek. Gimana?” tanyanya, hmm aku ini solusi paling tepat.
“Iya Mas boleh, Qiana setuju.” Jawabku antusias. Kulihat Dafa sudah tertidur pulas di gendonganku.
“Mas Dafa udah bobok, ayok ke kamar.” Ajakku.
Kami pun sudah berada di kamar untuk merebahkan Dafa di kasur dan nantinya akan di temani Mas Akbar. Saat Dafa aku rebahkan dia sedikit rewel dan meminta peluk, setelah cukup lama dia sudah tak bergerak lagi, dan aku pun melepas pelukannya untuk segera beranjak dari kasur.
“Bun antrian selanjutnya, sini.” Goda Mas Akbar sambil merentangkan tangannya, aishh bisa-bisanya dia menggodaku untuk memeluknya… big no.
“Kamu itu, makin ke sini makin aneh tau nggak Mas, dulu aja diem dan sok coolnya masyaAllah… sekarang jahilnya na’udzubillah,” ucapku sambil berlalu pergi, Mas Akbar hanya tertawa saat aku berlalu meninggalkannya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Antrian selanjutnya harap bersabar…. Xixixixi…
Musim ujan ya? Hmmm nyetok mie instant yang banyak dehh buat
__ADS_1
nemenin menghitung rintik hujan yang jatuh membasahi bumi hehehehe….. Halo
readers…. Sehat selalu yaaa…. Dan buat yang sedang sakit semoga lekas sembuh.