
Seperti rencana sebelumnya hari ini mereka mampir ke toko kue terlebih dahulu. Qiana, Dafa, dan Nenek satu mobil dengan di sopiri Mang Didin (Sopir pribadi Nenek Qiana), sedangkan Tiwi dan Setya menggunakan mobil Setya sendiri karena akan kembali ke Jakarta setelah pulang dari toko roti Qiana.
"Kamu mau bawa buat balik ke Surabaya nanti siang? sekalian bawain buat Mama kamu sama aku nitip buat Papa, Mama aku ya di rumah hehe," kata Qiana.
"Iya, terserah kamu atur aja lah mau bawa apa aja," Kata Setya sambil mengamati kue yang baru keluar dari oven.
"Aku tata dulu, Mama kamu masih suka sama bolu pisang kan Set?" Tanya Qiana.
"Iya masih jadi favoritnya sampai sekarang," kata Setya dan diangguki oleh Qiana yang sedang sibuk menata kuenya kedalam wadah dibantu karyawannya.
"Oke, aku bawain bolu pisangnya banyakan yang lainnya aku mix aja ya ini ada 5 kotak, 3 kotak besar udah ada namanya kok buat keluarga kamu, Tiwi, sama itu aku nitip buat Papa, Mama aku ya. Terus yang kotak sedeng itu buat di jalan ke Jakarta 1 buat di pesawat 1, oke." jelas Qiana.
"Ya ampun Qiana ini mah terlalu banyak," kata Setya sambil geleng-geleng.
"Udah ngga apa bawa aja, sekalianlah mumpung kesini kapan lagi coba," kata Qiana.
"Iya deh aku bawa, makasih banyak ya Qi," Kata Setya, dibalas Qiana dengan anggukan dan senyum tipis dibibirnya.
"Bundaa, gilaaa kamu yaa. Punya toko kue segede gini ngga ngasih tau aku, bilangnya cuman toko kue biasa, nyatanya? ckckck," kata Tiwi setelah berkeliling Toko kue Qiana dengan Dafa.
"Hahaha, apaan sih kamu Tiw alay deh. Emangkan ini biasa aja, masih banyak toko kue yang lebih gede dari ini Tiw," kata Qiana.
"Ah kamu mah merendah terus. Liat nih dekorasinya wah parah gokil banget. Kayak, ngga nyangka aja ini toko kue Bundaku, keren parah," ungkap Tiwi.
"Udah ah, mau masuk lagi ke ruanganku apa langsung mau balik nih kalian?" tanya Qiana.
"Ke ruangan kamu dulu aja, mau pamitan sama Nenek," Kata Setya.
"Nda atu mau tue clat," kata Dafa sambil menunjuk kue coklat di dalam etalase toko.
"Oke Bunda ambilin, Dafa ikut tante Tiwi sama Om Setya ke ruangan Bunda ya sayang." Perintah Qiana.
"Tiap Nda." jawab Dafa.
Qiana pun menyusul Setya dan Tiwi masuk ke ruangannya dengan membawa kue coklat yang diminta Dafa. Pandangannya tertuju pada Dafa yang tengah asyik berceloteh ria. Qiana pun tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Sayang ayo sini, Bunda suapin," kata Qiana.
"Ya Nda," kata Dafa.
"Habis Dafa makan kita balik ke Jakarta ya Set," kata Tiwi dan dibalas anggukan oleh Setya yang pandangannya masih tertuju pada Qiana yang tengah menyuapi Dafa.
"Andai kamu mau menerima tawaranku semalam Qi, pasti hari ini juga kamu aku lamar dan kita akan segera melangsungkan pernikahan. Sayang sekali setelah 8 tahun kamu masih saja memikirkan orang yang tidak mencintaimu." batin Setya.
"Aku rasa Setya ini menyukai cucuku, tapi ku raaa kenapa Qiana biasa saja. Padahal Setya anak yang baik sejauh ini." batin Nenek Qiana yang dari tadi mengamati Setya yang tengah memperhatikan Qiana.
"Dah bis Ndaa..." kata Dafa sambil bertepuk tangan senang.
"Wah iya, anak Bunda pinter banget sih makannya." puji Qiana sambil menaruh piring ke meja di dekatnya.
"Ayok kedepan aku sama Setya mau pamit pulang ya, makasih oleh-olehnya ya Qi. Dan jangan lupa sering-sering jengukin rumah sama aku di Jakarta, oke?" kata Tiwi sambil memeluk Qiana.
"Sama-sama, iya bisa diatur kalau masalah kunjung-mengunjungi kamu juga bisa datang kesini kalau lagi libur ngajar." balas Qiana.
"Te, Dafa peyuk," Kata Dafa sambil merentangkan tangannya di atas sofa.
Ketika sampai parkiran toko kue Qiana mereka berpamitan kembali, seperti tak ingin beranjak. Bagaimana pun juga mereka baru bertemu kembali setelah 8 tahun dan sekarang harus kembali berjarak.
"Nek kita pamit ya, Nenek sehat-sehat disini. Udah ada yang nemenin Nenek sekarang, jadi jangan terlalu capek ngurus rumah ya Nek," kata Setya sambil memeluk tubuh Nenek Qiana.
"Iya Nak, kamu hati-hati baik ke Jakarta maupun ke Surabayanya. Kapan-kapan kamu harus dateng lagi ke sini ya," Ucap Nenek Qiana.
"Pasti Nek." jawab Setya.
"Dafa sini Nak, Tantenya mau pulang," Kata Qiana sambil mengambil alih tubuh Dafa dari gendongan Tiwi.
Setelah berpamitan Setya dan Tiwi segera memasuki kendaraannya.
"Hati-hati kalian, jangan lupa kabari jika sudah sampai. Dan untukmu Set jangan lupa sampaikan salamku ke Mama, Papa, Tyo, dan calonnya ya," kata Qiana.
"Sip, kita berangkat dulu ya Assalamualaikum," kata Tiwi dan Setya segera melajukan kendaraannya menuju Jakarta.
__ADS_1
Qiana dan Tiwi saling melambai yang diikuti oleh Dafa yang memberi kiss bye untuk Tiwi dan Setya dengan tingkah lucunya.
"Sepi lagi ya Nek," ujar Qiana sambil memeluk tubuh Dafa.
"Iya Qi, ini yang Nenek rasain setiap kamu datang terus besoknya langsung balik lagi ke Jakarta. Dari rame jadi sepi. Apalagi kalau abis ada acara di rumah Nenek terus anak-anak dan cucu-cucu Nenek pada kumpul, terus satu-satu pulang ninggalin Nenek di rumah sendirian, huh sepi sekali," ujar Nenek Qiana dengan raut muka sedih.
"Maafkan Qiana Nek," kata Qiana.
"Yasudah ayo kita masuk kedalam," ujar Nenek.
Mereka bertiga kembali ke dalam toko kue, dilihatnya pembeli yang mengantri untuk membayar. Ada rasa bahagia di hati Qiana, setidaknya pilihannya untuk resign dari RS berdampak baik bagi Nenek dan Dafa serta dia juga bisa mengembangkan kembali toko kuenya ini yang jarang sekali Qiana turun tangan langsung dalam waktu yang lama.
Mereka berjalan sampai ruangan Qiana, dan mendudukkan tubuhnya di sofa ruang kerja Qiana.
"Nek, Qiana lupa ngasih tau Nenek," Kata Qiana.
"Bilang apa Nak?" tanya Nenek.
"Itu semalam, Ayahnya Dafa bilang kalau besok dia balik ke Bandung. Kemungkinan dia mau nemuin Dafa juga," Kata Qiana sambil menoleh ke arah neneknya.
"Iya nggak apa-apa lah biar dia datang ke rumah, dia pasti sudah merindukan anak gantengnya ini," ucap Nenek sambil mencubit gemas pipi Dafa.
"Yut angan di tubit pipi Dafa nanti melah-melah." rengek Dafa sambil menenggelamkan wajahnya di dada Qiana.
"Hahaha..... iya sayang maafin Nenek ya. Abisnya kamu gemesin banget," ujar Nenek Qiana.
"Nek kita pulang ke rumah ya, udah mau masuk dhuhur waktunya Dafa tidur juga." ajak Qiana.
"Iya ayo, kita pulang sebelumnya kita beli makanan dulu buat makan siang. Terserah kalian mau makan apa Nenek ngikut aja," Kata Nenek sambil beranjak berdiri.
"Oke Nek, kita beli di tempat makan biasanya aja ya Nek Qiana udah kangen sama pais ayamnya," Kata Qiana dan diangguki oleh Neneknya.
Sesampainya di rumah, Qiana dan Nenek bergegas berwudhu dan menunaikan sholat Dhuhur. Sedangkan Dafa dia duduk manis di samping Qiana sambil memperhatikan gerakan sholat Bundanya dan Uyutnya itu.
__ADS_1
*Hidup itu pilihan, segala sesuatunya memiliki kosekuensi yang harus dipertanggung jawabkan. Baik buruknya dari pilihan yang diambil selalu ada, tinggal bagaimana diri sendiri menyikapinya. 💙*