Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
SAH?


__ADS_3

Selamat membaca...


***


QIANA POV


Waktu cepat sekali bergulir menyisahkan banyak kenangan yang akan selalu terbawa kemana pun kaki ini akan berpijak. Dulu aku selalu bertanya-tanya tentang siapa jodohku? Bagaimana sosoknya? Akankah memperlakukanku dengan baik dan bisa menjadi imam yang membawaku selalu dalam kebaikanNya? Apakah  dia orang yang sudah aku kenal sejak dulu atau orang yang baru saja aku temui dalam hidupku?.


Semua tentangnya adalah sebuah misteri yang selalu aku nantikan kehadirannya, apalagi saat aku menginjak usia 23 tahun. 3 tahun yang lalu jujur saja aku takut menjadi perawan tua karena semenjak remaja aku belum


pernah berhubungan dengan lawan jenis selain berteman, berpacaran yang kesana kemari berdua tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku. Tapi aku selalu meredamnya dengan berfikiran ke arah kematian, karena bertemu dengan jodoh itu suatu ketidakpastian, sedangkan kematian adalah suatu yang sudah pasti akan terjadi, sehingga aku bisa lebih fokus untuk memperbaiki diri.


Kenapa aku lebih berfikir kepada kematian? Karena aku takut ketika aku sedang memperbaiki diri tujuanku bukan untuk mempersiapkan amalku dan malah terlalu fokus memperbaiki diri untuk mendapat jodoh yang baik. Kenapa


begitu karena aku tidak tahu apakah usiaku akan sampai pada menemuinya di dunia ini. Bukankah memang jodoh itu suatu ketidakpastian? Karena tidak semua orang memiliki usia sampai bertemu dengan pasangannya di dunia ini.


Sebagai manusia aku pun tak luput dari kesalahan dalam menjaga hati dan fikiran, teringat jelas dalam fikiran ketika tujuanku memperbaiki diri untuk mendapatkan jodoh yang baik dan gambaran jodoh yang baik saat itu tercermin pada diri Tyo sahabatku sendiri sewaktu SMA. Ilmu agama yang masih dangkal dan kurang terbukanya aku pada kedua orang tuaku membuatku harus menangisi Tyo seorang diri tanpa tahu harus berbuat apa ketika dia malah ikut mendiamkanku seperti Setya yang dengan lancangnya membaca buku diaryku. Sehingga saat kelulusan membuatku memutuskan untuk berkuliah di tempat yang jauh dari mereka dan menghilang tanpa kabar seolah di telan bumi hidup-hidup.


Bagaimana pun aku tidak boleh menyesali keputusanku saat masih usia labil saat itu, karena dengan aku pergi dari kota itu aku bisa belajar banyak hal terutama tentang arti kehidupan, bertemu banyak orang baru yang memberi warna baru dalam keseharianku selama 8 tahun lebih 7 bulan ini. Bertemu dengan bayi mungil yang tampan di panti asuhan adalah salah satu karunia terbesar dari-Nya. Dan rangkaian takdir setelahnya menuntunku pada seorang lelaki tampan, gagah, dan insyaAllah sholeh. Yang saat ini akan berjabat tangan dengan Papa di hadapan semua orang.


“Dooooorrr…..” teriak Tiwi mengagetkanku.

__ADS_1


“Apasih Tiw, kaget tahu,” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku.


“Jadi penganten kok ngelamun teyuuusss sichh… lagi mikirin apa hayo?” goda Tiwi sambil menoel-noel bahuku. Ya ini adalah hari pernikahanku bersama Mas Akbar, kini aku sudah mengenakan kebaya simple berwarna putih dengan kerudung berwarna senada yang ditata secantik mungkin dengan hiasan bunga melati dan mahkota kecil diatasnya.


“Lagi mikirin banyak hal yang udah kejadian.” Jawabku dengan tetap memandang lurus ke luar jendela.


“Kenapa? Kamu masih bingung tentang lebih penting mana antara ‘Mencintai atau  Dicintai?’ udah kita bahas ratusan kali Neng, kalau keduanya akan kalah dengan yang namanya ketetapan Allah. Tapi kalau aku tetep lebih memilih dicintai sih hihihihi soalnya kalau aku maksain sama yang aku cintai belum tentu mau sama aku hahaha,” ucap Tiwi yang ujung-ujungnya selalu nyeleneh.


“Apasih Tiw, aku tuh lagi bersyukur banget bisa sampai tahap ini dan aku lagi mengenang perjalanan hidupku  yang lagi mencari jati dirinya dulu, hmmm semuanya silih berganti hadir mewarnai kehidupanku, pahit manisnya kehidupanku selama belum memiliki imam pun sedang berkelibatan di benakku seolah ingin aku tidak melupakannya setelah aku resmi menjadi seorang istri dan ibu nantinya.” Jawabku dengan memalingkan wajahku menatap sahabatku sejak SMA ini.


“Ah kamu Bun, bikin aku jadi inget-inget masa lalu aja,” ucapnya dengan tatapan sendu.


Tok…tok..tok… suara pintu di ketuk dari luar, tanpa menunggu jawabanku pintu sudah terbuka dengan lebar menampilkan sosok pria yang tak kalah tampan dari Papa.


“Seriusan Bang? Aku udah SAH? Kok nggak kedengeran sampek ke kamar suara ijabnya?” tanyaku penasaran aku sedikit shock, karena sedari tadi aku berdiam diri di dekat jendela bukan hanya karena mengingat perjalanan hidupku tapi juga ingin mendengar ijab qobul pernikahanku sendiri.


“Lah, mana Abang tahu Dek sampai kamu nggak denger suaranya Akbar. Kalian berdua keasyikan ngobrol kali.” Tuduh Abang, dan itu tepat sekali mungkin karena aku dan Tiwi keasyikan ngobrol tadi.


“Ah Abang, bisa diulang nggak?” tanyaku pada Abang sedangkan Tiwi dia hanya diam di tempat dengan tersenyum kikuk.


“Ah berisik, ayo ah ke depan orang udah SAH mau kamu denger atau enggak kamu udah jadi istrinya Akbar sekarang.” Jawab Abang yang langsung menggenggam tanganku dan membawaku ke halaman depan yang sudah di sulap menjadi tempat pernikahan impianku.

__ADS_1


Digandengnya aku sampai kedepan Mas Akbar, aku pun duduk di kursi kosong sebelah Mas Akbar untuk menandatangani buku nikah kami. Dilanjut dengan menyematkan cincin pernikahan, untuk pertama kalinya tangan kami saling bersentuhan dengan sengaja waow rasanya dag-dig-dug sekali. Aku belum berani mengangkat wajahku untuk menatap wajah Mas Akbar dengan jarak sedekat ini.


“Jangan tegang.” Bisiknya padaku.


“Udah selesai sekarang si Teteh salim ke Akangna, agak lama cium tangannya teh sekalian di foto, terus seleisai salimna si Akang nanti cium keningna si Teteh ya,” ucap photographer mengarahkanku dan Mas Akbar. Keringat dingin di tanganku semakin menjadi, dengan malu-malu dan degup jantung seperti habis berlari keliling stadion 7 putaran aku meraih tangan Mas Akbar dan menciumnya dengan khusyuk seraya meresapi apa yang sedang aku lakukan ini.


“Tetehna ulah tegang atuh, rileks Teh rileks,” ucap photographer yang akan mengabadikan foto kami, aku hanya tersenyum kecil karena masih ada sisa-sia demam panggung hihi, eh demam akad hehe.


Setelah acara akad selesai, tamu undangan silih berganti datang menghampiriku dan Mas Akbar mengucapkan selamat dan do’a-do’a baik yang selalu terucap setiap menjabat tangan kami. Alhamdulillah, aku bersyukur sekali di berikan Allah kesempatan untuk sampai di tahap ini. Di awal tahun ini sebetulnya tidak ada planning sama sekali akan menikah di bulan ke sepuluh ini.


“Makasih,” ucap Mas Akbar ketika tamu terakhir selesai menghampiriku dan Mas Akbar.


“Kembali kasih Mas.” Jawabku seraya tersenyum ke arah Mas Akbar, “Mas aku rindu Dafa, kemana dia aku tidak melihatnya sama sekali,” kataku pada Mas Akbar.


“Itu disana bersam Lea.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah dua anak kecil yang sedang asyik makan.


“Ah, pantas saja diem disuguhin makanan. Emh aku takut dia makan dan cemong semua ke mukanya Mas,seperti saat lamaran kita dulu,” ucapku dengan sedikit khawatir.


“Ah iya, ayo kita kesana.” Ajak Mas Akbar. Dan saat kita sampai, ternyata benar saja yang kami khawatirkan bibir penuh dengan kue coklat yang sudah pasti belepotan di pipi kanan dan kirinya, serta ujung kemeja Dafa pun sudah berubah warna menjadi coklat.


“Astaga sayang.” Pekikku.

__ADS_1


******************************************


Terimakasih readers....


__ADS_2