Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Hujan


__ADS_3

Selamat membaca…


***


Bagas POV


Sudah sebulan ini aku menjalani hubungan jarak jauh dengan Fani, wanita yang dua bulan lalu aku lamar saat hari wisudanya. Selama Fani tinggal di Korea aku sama sekali belum menguhubunginya, jangankan menanyakan kabarnya hanya sekadar say hallo saja aku belum melakukannya. Aku pengecut? Mungkin. Tapi jujur saja, aku berada di posisi tersulitku satu bulan ini, menyadari dan menerima fakta bahwa Bang Aziz dan Syta adalah saudara tiriku membuat kehidupanku jungkir balik karena syarat yang diajukan oleh Bang Aziz agar dia mau menjadi bagian dari keluargaku, keluarga baru Maminya.


Melihat wajah wanita yang selalu menemaniku, memberikanku perhatian selama kurang lebih 14 tahun ini, mulai menua, meski hanya anak tiri aku merasa ingin memenuhi keinginannya yang sejak lama Mama damba, yaitu tinggal bersama dengan kedua anaknya. Syta dengan senang hati menerima Maminya kembali setelah penjelasan dari Papa, tapi Bang Aziz? Haaa.. dia terlalu pencemburu padaku, berbicara seolah aku adalah penyebab dia kehilangan kasih sayang Maminya bahkan dengan mudahnya dia bilang jika dia ingin diberi kesempatan yang sama sepertiku untuk dekat dengan Fani, gadisku. Sebagai syarat agar dia bisa menerima keluarga barunya.


Demi Mama! Karena kebahagian Papa ada pada Mama saat ini.


Hanya itu yang bisa aku pegang sebagai penguat keputusanku tapi bukan semata-mata memenuhi syarat yang diajukan Bang Aziz, tapi aku juga ingin melihat kesungguhan gadisku dalam menerimaku. Apa dia akan tergoda dengan Bang Aziz atau dia mampu membantuku menyelesaikan masalah keluargaku dan tetap berada disisiku. Selama sebulan ini pula, tanganku begitu gatal ingin segera menghubungi Fani,  tapi atas saran dari Bang Akbar aku menahan itu semua.


“Biarkan Fani untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu, tunggu dia yang menghubungimu. Dia anaknya keras kepala, kalau menghubunginya langsung dengan gencar dia malah susah tenangnya dan bakal lama dia untuk memikirkan keputusan yang akan dia buat.” Haaaahh…. Ucapan Bang Akbar itu selalu terngiang-ngiang dikepalaku.


Teh yang baru aku seduh masih mengepulkan asapnya, seraya menatap hujan bulan Desember yang sedang turun deras-derasnya, ada do’a yang aku selipkan agar yang berada jauh disana segera memantapkan hatinya untukku.


“Bang, maafkan Bang Aziz ya.” Aku mengacuhkannya, tanganku meraih cangkir teh yang aromanya sudah menguar di indera penciumanku, aku sesap perlahan. Hujan dan teh panas adalah perpaduan yang sangat nikmat bagiku untuk saat ini.

__ADS_1


“Bang, jangan marah ya sama Bang Aziz.”  Terlalu sering aku mendengar ucapan yang sama dari gadis kecil yang kini sudah duduk di sebelahku. Jujur saja aku tidak marah hanya kecewa, dalam benakku selalu bertanya, apa pantas untuk keharmonisan sebuah keluarga memerlukan syarat untuk mewujudkannya?


“Abangkan udah pernah bilang, Abang nggak marah sama Bang Aziz.” Aku mendengar adik tiriku ini menghembuskan nafasnya kasar, entah apa yang menjadi bebannya saat ini, sehingga menghembuskan nafasnya begitu kasar.


“Bang Aziz  sekarang di Korea.” Aku meliriknya sekilas, entahlah apa niat dari gadis kecil yang satu bulan ini resmi menjadi adik tiriku dengan tiba-tiba mengatakan jika Bang Aziz ada di Korea padahal beberapa hari yang lalu Bang Aziz pamit kepada Mama akan pergi ke Jepang.


“Bukannya ke Jepang?” ucapku sambil memicingkan mataku, ah semakin lama kenapa semakin rumit seperti ini.


“Dia hanya mengelabui, sebetulnya Bang Aziz ke Korea berniat untuk menyusul Teteh. Katanya mau memperjuangkan cintanya.” Suara Syta  semakin mengecil saja di pendengaranku, mungkin dia takut aku marah. Aku menghembuskan nafasku kasar, ada rasa khawatir yang menyeruak di dalam dadaku, khawatir jika gadis pujaanku akan berpaling ke lain hati dan aku harus menyiapkan mental untuk menerimanya, bagaimana pun juga semua ini ada andilku di dalamnya.


“Abang ke kamar dulu.” Tanpa menunggu jawabannya aku beranjak dari dudukku membawa secangkir teh yang baru aku nikmati sedikit. Belum sampai tangga Mama dan Papa memanggilku, ah padahal selama sebulan ini aku sudah berusaha menghindari pembicaraan serius dengan keduanya.


“Ada apa Ma Pa?” tanyaku seraya mendudukan tubuh dihadapan keduanya.


“Biarkan Fani yang menentukannya Ma. Bagas tidak apa-apa sudah pernah dulu Bagas mengalah pada pria lain, apalagi sekarang untuk saudara sendiri mungkin aku akan merelaknnya lagi, jika sekarang Fani memilih Bang Aziz. Meski awalnya, ingin sekali Bagas egois dan mempertaruhkan kebahagiaan Mama dan keharmonisan keluarga kita kedepannya, tapi Bagas tidak cukup berani untuk memisahkan kembali Mama dengan kedua anak Mama yang sudah bertahun-tahun Mama cari. Jika memang Fani jodoh Bagas, dia akan kembali pada Bagas Ma.” Tak ada keraguan ketika aku bicara, karena memang begitu adanya yang aku rasa. Satu kata PASRAH.


Seperti hujan yang baru saja aku lihat, yang pasrah ketika harus jatuh ke tanah. Mungkin sakit tapi menjadi kebaikan bagi bumi dan seisinya.


“Papa bangga denganmu Nak, terimakasih sudah tumbuh menjadi anak yang baik dan sholeh. Papa dan Mama akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk kebahagiaan kamu, Aziz, dan juga Syta. Kalian semua anak-anak kami tidak ada yang berbeda terlepas kalian saudara tiri atau bukan.” Mungkin karena kasih sayang yang selalu diberikan kedua orang yang sedang duduk dihadapanku inilah, aku bisa kuat menghadapi setiap permasalahan

__ADS_1


yang silih berganti datang dan pergi.


“Terimaksasih, Ma Pa. Bagas ke kamar dulu ya.” Keduanya mengangguk serempak seraya tersenyum hangat ke arahku.


Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur, memandang foto dua anak kecil yang saling merangkul sata sama lain dengan senyum khas pasta gigi menampilkan beberapa gigi susu yang sudah tanggal. Perlahan aku mengusap wajah anak kecil perempuan yang dikuncir dua pipinya masih sangat gembil tingginya sedada anak laki-laki


disebelahnya.


“Apa yang harus aku lakukan agar kamu tetap berada disisiku? Aku rasa kita sudah saling mencintai tapi kenapa musti ada ujian seperti ini, awalnya aku kira ujian kita adalah waktu, tapi ternyata?”


Aku mencoba memejamkan mataku, mencari ketenangan kala gelap menyapa. Sayup-sayup aku masih mendengar suara hujan yang masih turun membasahi bumi, mungkin beberapa bagian di Kota Jakarta sudah ada yang terendam banjir, mengingat hujan sudah turun lebih dari 2 jam. Ah.. lebih baik aku mengaji saja, untuk menangkan pikiranku yang masih kacau saat ini.


Sehabis wudhu, aku mengambil sarung dan peci lalu duduk di kursi yang menghadap jendela kubuka surah ar-rahman dan mulai membacanya.


Alhamdulillah nikmat sekali ketenangan yang mengalir selepas membaca Al-Qur’an, sedari tadi gawai yang aku taruh diatas nakas sudah berbunyi nyaring dan sekarang berbunyi kembali. Dengan malas aku melangkah menuju nakas dan mengambil gawaiku.


Apa aku tidak bermimpi? Akhirnya Fani menghubungiku setelah sekian lama kami tidak saling bertukar kabar.


“Semoga kabar baik yang akan kamu sampaikan Fan.” Ucapku ketika akan mengankat panggilan dari luar negeri itu.

__ADS_1


***


Terimakasih telah membaca…..


__ADS_2