Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
34. Jakarta 2


__ADS_3

Malam itu di rumah Qiana yang berada di Jakarta tampak sedikit ramai, tidak hanya Tiwi di dalamnya tetapi ada satu perempuan lain yang begitu heboh, dapur rumah itu sudah tak berbentuk, banyak potong sayuran berserakan di lantai. Tawa Tiwi dan wanitu itu terdengar jelas.


“Huwaa, udahan dong Bel capek ngakak terus akutu. Masaknya nggak selesai-selesai pula,” Kata Tiwi.


“Hahaha, iya-iya. Emh Tiw, btw makasih ya udah ngasih tumpangan aku buat tidur beberapa hari ini. Untung banget aku ketemu kamu di swalayan 2 hari yang lalu,” Kata Bella dengan raut muka yang tiba-tiba berubah sendu.


“Hey, ngomong apa sih kamu. Udah selayaknya temen saling bantu, btw ini bukan rumah aku sebenernya, ini rumah Qiana. Tapi dia sekarang udah pindah ke Bandung jadi aku di suruh nempatin,” Kata Tiwi.


“Eh, kok nggak bilang sih kalau ini rumahnya Qiana. Aku nggak enak loh sama dia Tiw, dulu pas SMA aku jahat banget sama dia. Sering aku bully tapi dia nggak pernah ngelawan, cuman aku tahu dia nulis kekeselannya sama aku di buku diarynya yang di kasih lihat Setya ke aku,” Kata Bella dengan suara yang terdengar tertahan, dia memberi jeda ucapannya dan memejamkan matanya sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya.


“Aku pernah nampar dia juga Tiw, di muka umum. Aku takut dia benci aku soalnya habis kejadian itu kan kelulusan dan dia nggak ada kabar sampai bertahun-tahun,” ucap Bella.


“Aku rasa Qia nggak bakal benci sama kamu Bell. Aku tahu Qia orangnya gimana, dia tahu kok kalau kamu tinggal di sini dan dia ngizinin kamu buat tinggal di sini sampai kamu di jemput suami kamu,” ujar Tiwi.


“Makasih, ya. Semoga aja Qia bener-bener maafin aku. Qia udah berkeluarga ya Tiw, mangkannya pindah ke Bandung?” Tanya Bella.


“No, dia masih sendiri cuman dia abis ngadopsi anak, terus di bawa ke Bandung biar dia bisa fokus ngurus anaknya dan ngembangin toko kuenya jadi dia resign dari kerjaannya di sini,” Kata tiwi.


Deg


“Ngadopsi anak, masih single. Sedangkan aku?, anak aku sendiri, aku buang ke panti dan milih pergi sama David, padahal Akbar udah percaya sepenuhnya sama aku buat besarin anak aku dan dia. Pantes kalau Akbar kemarin marah sama aku sampai jeblosin aku ke penjara. Tapi entah bisa-bisanya Akbar ketemu anak itu di panti.” Batin Bella.


“Woy, malah bengong. Besok si Qia kesini kok sambang rumah sebelum balik ke Bandung,” Kata Tiwi yang diangguki oleh Bella.


"Yuk ah kita makan dulu, abis itu nonton drakor terus tidur dehh.." ujar Tiwi dengan semangat.


"Oh iya pas aku keluar dari pen, eh pas kita ketemu di swalayan sebelumnya aku dapet kabar kalau Setya udah meninggal karena kecelakaan," Kata Bella yang hampir keceplosan bahwa dia habis keluar dari penjara, Fani yang baru saja mengambil sendok langsung menjatuhkan sendoknya sangking kagetnya.

__ADS_1


"Bohong kamu, tahu dari mana coba?" Tanya Tiwi.


"Di grup line SMA ada info," Kata Bella.


"Innalillahi wa innaillaihiroji'un, aku nggak pernah aktif grup line mangkannya ngga tau. Astagfirullah, padahal baru beberapa bulan yang lalu aku ketemu Setya dia sempet nganterin aku pulang kesini juga sehabis dari Bandung," Kata Tiwi yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi, makanan di hadapannya belum sempat ia makan sudah di tinggalkan begitu saja.


Diambilnya gawai yang tersimpan di nakas, di teleponnya Qiana untuk memberi kabar duka. Tapi ternyata Qiana lebih dulu tahu dan malah menceritakan detailnya, Qiana meminta maaf berulang kali pada Tiwi karena sampai lupa untuk memberi kabar duka pada Fani saat Setya telah menghadap Sang Kholik.


**


Semerbak harum bunga menambah kesan indah suasana pagi yang begitu syahdu, pohon mangga yang rindang, rumput yang terpotong rapi dan hamparan tikar persegi panjang di atasnya dengan berbagai macam makanan dan minuman membuat acara piknik di belakang rumah Pak Amri begitu kental akan kehangatan dan keharmonisan keluarga. Tawa Dafa selalu terdengar begitu riang, menutup luka lama yang begitu memilukan hati keluarga itu, menantu pergi dengan cucunya. Tapi takdir begitu apik mengemas kisah anaknya, cucunya kembali hadir dengan membawa menantu baru yang begitu di idam-idamkan oleh keluarga itu.


“Dafa, berhenti lari-larinya makan dulu yang anteng. Kasihan Tante kamu nanti kecapekan sayang,” Kata Qiana mengingatkan anaknya itu.


“Tiap Nda, Dafa duduk di pangku Nda ya?” Kata Dafa sambil mendudukan diri di pangkuan Bundanya, tanpa menunggu jawaban dari Qiana.


“Iya, dong Dafa tan tayang Nda adi Dafa halus nulut tama Nda,” Kata Dafa sambil mencium pipi Qiana.


“Ya, ampun sayang. Kamu tuh ya bener-bener bawa hoki buat Ayah kamu. Pinter banget sih nyari Bunda modelan kayak Bunda kamu ini Nak.” heboh Bu Rita.


“Astaga Mama, apaan sih modelan-modelan emang Qiana ini apa huh?” Kata Akbar tak terima.


“Hehehe, maaf ya Qiana beneran deh Mama nggak maksud apa-apa,” Kata Bu Rita yang di angguki oleh Qiana seraya tersenyum manis ke arah Bu Rita.


“Mama sering piknik kayak gini ?” Tanya Qiana.


“Dulu waktu anak-anak masih pada kecil sering Qi, tapi semenjak Akbar kuliah di Singapur jadi udah jarang malah nggak pernah lagi deh kayaknya. Iya kan Pa?” Kata Bu Rita.

__ADS_1


“Iya terakhir piknik gini, itu sehari sebelum Akbar pergi kuliah,” Kata Pak Amri.


“Kapan-kapan Qia ajak piknik di Bandung, Qia tau tempat yang bagus buat piknik keluarga gini, biar dapet suasana baru pikniknya,” Kata Qiana.


“Wah, boleh tuh. Harus secepatnya ini,” Kata Pak Amri.


“Oh iya, nanti kita mau pulang lebih awal Ma Pa. Soalnya Qia mau mampir dulu ke rumahnya yang ada di Jakarta sebelum balik Bandung," Kata Akbar.


“Iya nggak apa, pokoknya nanti di jalan hati-hati nggak boleh ngebut-ngebut,” Kata Bu Rita.


"Akbar masih sayang nyawa Ma, apalagi ini Akbar sama Qiana dan Dafa insyaAllah akan selalu hati-hati," Ucap Akbar.


"Bang, Mbak, Fani ikut ya ke rumah Mbak Qiana. Fani suntuk di rumah terus," Kata Fani dengan muka memohon.


"Boleh nggak ya Mas?" Goda Qiana.


"Ayolah, Fani ikut ya?" Bujuk Fani.


"Oteh Ante boleh itut," Ucap Dafa.


Akbar, Fani, Qiana, Bu Rita dan Pak Amri tak tahan dengan kelakuan Dafa yang tiba-tiba ikut nimbrung pembicaraan orang dewasa, tawa pun pecah seketika.


"Hahahaha, Ya Allah Nak kamu ini asal okeh-okeh aja kayak tau aoa yang diomongin," Ujar Akbar sambil mengusap kepala anaknya yang masih nemplok di pangkuan Qiana.


uwuwu....


Terimakasih telah mampir

__ADS_1


__ADS_2