
Selamat membaca…..
***
Jam baru menunjukan pukul enam pagi, tapi keriwehan sudah menjalar di rumah keluarga Pak Amri. Yang satu sibuk mengejar anak kecil berlarian kesana-kemari sambil mendekap kemeja berwarna putih, yang satu sibuk menyiapkan masakan untuk sarapan, yang satu sibuk di dandani dan yang satu sibuk mengomentari dandanan anaknya, hanya ada satu makhluk yang paling tenang, tengah duduk di kursi belakang sambil menyeruput kopi hitam sambil membaca Koran, hah siapa lagi kalau bukan Pak Amri yang paling santuy di rumah itu.
Ting…tong…ting…tong…
“Sebentar,” teriak Pak Amri, untung saja di tengah kesantuyannya pria paruh baya itu menyadari jika jiwa dan raganya kini dibutuhkan untuk membuka pintu guna menyambut tamu yang sepagi ini sudah datag berkunjung.
“Biar Qia aja Pa, Papa lanjut saja membaca korannya,” ucap Qiana ketika melihat sang mertua berjalan ke arah pintu utama.
“Tidak usah Nak, lanjutkan saja memasakmu,” jawab Pak Amri sambil tersenyum ke arah menantunya.
“Baiklah Pa.”
Ceklek…
“Assalamu’alaikum Om,” ucap pria muda.
“Wa’alaikumsalam, ah kamu ternyata Gas. Ayok masuk dulu, kita ngobrol di ruang tamu,” ajak Pak Amri dan diangguki oleh Bagas.
“Kamu pagi-pagi gini kok sudah dateng Nak, padahalkan kita berangkatnya jam setengah 8.”
“Nggak apa-apa Om, mau main dulu sama Dafa hehehe,” jawab Bagas.
“Hahaha, alasan saja kamu ini. Dafa masih kejar-kejaran sama Ayahnya itu di dalam, nggak mau di pakein baju. Rumah udah kayak pasar dari tadi pagi rame banget,” kata Pak Amri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tapi tak melunturkan senyuman yang sedari tadi merekah di bibirnya.
“Hahaha, tapi senang ya Om. Enak kalau rumah rame sama anak, cucu,” jawab Bagas.
“Iya, betul sekali. Ya udah ayok ke dalam aja kita cari Dafa, udah kayak tau beneran aja kamu duduk di ruang tamu kayak gini,” ujar Pak Amri, lupa jika dia sendiri yang sudah mempersilahkan Bagas untuk duduk di ruang tamu.
“Hehehe, iya ayo Om,” jawab Bagas dan ikut berdiri mengikuti langkah Pak Amri.
Dughh…
“Aduhh, Ayah satiittttt…” ucap Dafa setelah menabrak kaki Bagas.
“Oh…Ya Allah…. Dafa… kamu kenapa lari-lari gini,” ucap Bagas seraya mengangkat tubuh Dafa ke dalam dekapannya.
“Dafa dikejal Ayah,” jawabnya.
“Ehh… sini bajuan dulu, mangkannya kalau di suruh bajuan sama Ayahnya itu ya bajuan jangan malah lari-lari gini, Ayah capek tahu,” celoteh Akbar.
“Hihihihihihihihi, Ayah kalau bajuin Dafa nggak tayak Bunda sih. Jadi aku lali-lali aja, bial nggak ke tangkep Ayah.”
“Sini ayo, dibajuin sama Om.”
“Ayo, di kamal Dafa ya Om.”
__ADS_1
“Oke.”
“Ini Gas, bajunya,” kata Akbar seraya menyodorkan baju milik anaknya.
***
“Alhamdulillah ya Pa, anak kita sudah lulus sekolah semua,” ucap Bu Rita ketika melihat si bungsu berjabat tangan dengan rektor kampusnya.
“Iya Ma, Alhamdulillah.”
Satu persatu nama mahasiswa yang akan di wisidua pada hari itu pun silih berganti dipanggil oleh MC. Dan kini tiba saatnya MC memanggil nama-nama mahasiswa yang mendapatkan nilai terbaik selama masa perkuliahan dan mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan non-akademik lainnya.
“Untuk nilai cumlaude di raih oleh Ananda kita Fanindira Atmadja dari fakultas ekonomi, kepada Fanindira Atmadja dimohon untuk segera naik ke atas panggung.”
Fani pun memeluk sahabatnya yang duduk di samping kanannya, meluapkan rasa syukur dan bahagianya. Meski selama kuliah dia sedikit memiliki teman, setidaknya disaat bahagianya sahabat terbaiknya berada di sisinya.
“Selamat Fani, nggak sia-sia deh SKSD sama dosen-dosen.” Ucap salah satu teman satu kelas Fani dengan sinis.
“Hmm… niat sebaik apapun jika sudah dinilai buruk sama orang lain bakal susah mengubah mindsetnya. Padahal dekat dengan dosen kan karena aku berusaha jadi mahasiswa yang aktif selama pelajaran berlangsung, biar ilmu yang aku dapat itu maksimal dengan banyak bertanya sesuatu yang belum aku pahami. Tanya dengan mereka pun mereka nggak tahu, hanya asal bilang ‘Paham’ aja kalau dosen mau mengakhiri pelajarannya. Sabar Fani,” Kata Fani dalam hati seraya tersenyum manis ke arah temannya.
“Terimakasih,” ujar Fani seraya berlalu.
Pak Amri dan Bu Rita terlihat berkaca-kaca menyaksikan anaknya mendapat penghargaan, ah orang tua mana sih yang tak bahagia melihat anaknya bisa berprestasi seperti Fani.
“Onty Fani kok duduknya di syana Opa, Kenapa tidak di sini?” tanya Dafa yang kini tengah duduk di pangkuan Pak Amri.
Sementara itu di kantin kampus, Qiana tengah menjajal semua jajanan yang tersedia di sana, membuat Akbar dan Bagas geleng-geleng kepala.
“Mas Fani masih lama ya?” tanya Qiana sambil melahap batagor.
“Seharusnya 15 menit lagi keluar, ya nggak Gas?”
“Iya Bang, kita langsung ke tempat yang udah di sepakati tadi ya. Nunggu Bumil selesai makan deh baru kita kesana,” jawab Bagas.
“Iya, dua suap lagi selesai kok. Ini Mas habisin mubadzir,” ucap Qiana sambil menyodorkan batagor yang belum habis dia makan.
“Mas lagi yang habisin?” tanya Akbar sedikit terkejut, pasalnya sedari tadi dia juga tak berhenti makan karena istrinya selalu menyodorkan makanan yang tak habis dia makan.
“Iya hehehe.”
***
Di sinilah mereka berada sekarang, taman samping tempat dilaksanakan wisuda. Banyak sekali para wisudawan beserta keluarganya di taman ini, karena banyak yang berjualan seperti pernak-pernik wisuda.
“Selamat atas gelarnya Adiknya Abang,” kata Akbar seraya memeluk tubuh adiknya.
“Makasih Bang, hadiahnya mana? Aku cumlaude nih,” ucap Fani.
“Hadiahnya udah Abang siapin, tapi nggak bisa Abang bawa ke sini.”
__ADS_1
“Emang apa hadiah dari Abang?” tanya Fani penasaran.
“Sebetulnya itu bukan dari Abang aja tapi dari Papa dan Mama juga,” jawab Akbar dengan menahan tawanya, dia tahu pasti Adiknya itu pasti akan menolak mentah hadiah yang dimaksud Akbar.
“Apa Bang jangan bikin penasaran ih,” rajuk Fani.
“Perusahaan Papi, itu hadiahnya,” jawab Pak Amri.
“Hah? Nggak mau ah masih kecil Fani ini buat urusan perusahaan, mending tukeran sama toko kuenya Mbak Qiana.”
“Onty, aku beli es klim,” ucap Dafa yang baru saja datang bersama Qiana dan Omanya.
“Iya sayang.”
“Selamat ya Dek akhirnya kamu wisuda juga,” kata Qiana seraya memeluk tubuh adik iparnya.
“Terimakasih Mbak.”
“Ini buat kamu, oh ya kok nggak foto sama temen kamu Dek?” tanya Qiana, sambil menyodorkan buket bunga.
“Makasih lagi Mbakcuuuu, udah foto tadi di dalam sama temen sejurusan sama se fakultas,” jawab Fani sedikit sendu, hah bagaimana pun di relung hati terdalamnya dia ingin memiliki banyak teman seperti teman-temannya yang lain, tidak seperti Fani saat ini yang hanya memiliki satu sahabat yang benar-benar baik terhadapnya dan memiliki tidak lebih dari 10 orang teman yang yang itu pun masih suka julid di belakang.
“Oh yasudah kalau gituh, kita langsung ke studio foto yuk Bagas tadi udah mesen,” ajak Akbar.
“Oke.”
Kedua pasangan halal sudah berjalan terlebih dahulu menuju parkiran mobil, sengaja meninggalkan Bagas dan Fani yang masih terdiam satu sama lain, serta Dafa yang masih memakan es krimnya di gendongan Bagas.
“Selamat sayang atas wisudanya dan juga nilai cumlaudenya, udah siap dilamar sama Abang belum?” tanya Bagas ketika Fani sudah berada di sisinya.
“Makasih Aa hehehe, setahun lagi ya. Nggak apa-apa kan?” tanya Fani.
“Yang penting kamu nikahnya sama Aku. Kenapa jadi Aa?” tanya Bagas.
“Biar beda hehehe, awal kita deketkan sewaktu kita di Bandung A.”
“Hahaha kamu itu ada-ada aja,” jawab Bagas seraya mengusap lembut puncuk kepala Fan yang berbalut jilbab berwarna maroon.
“Heiii, buruan katanya mau foto studio,” teriak Akbar yang sudah berada di balik kemudi.
“Iya Bang.”
“Dafa, Ayah kamu teriak-teriak tuh nanti ingetin ya jangan teriak-teriak gitu, ya?” ucap Fani dan diangguki oleh Dafa.
“Kamu itu Dek, jangan godain Abang kamu lewat Dafa nggak baik,” kata Akbar.
***
Terimakasih telah membaca….
__ADS_1