
Akbar POV
Hari ini merupakan hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama, meskipun ada sedikit rasa takut yang membebani fikiranku tentang kegagalan pernikahan pertamaku. Di tinggal orang yang sudahku pilih menjadi pendamping hidupku dengan sebuah pengkhianatan merupakan pukulan terberatku beberapa tahun ini, tapi aku harus bangkit karena tak selamanya mendung menyelimuti kehidupanku pasti akan ada pelangi di ujung sana yang sudah menantiku.
Pelangi itu sudah terlihat olehku semenjak beberapa bulan terakhir, semenjak pertemuanku kembali bersama anakku, Dafa dan bertambah cantik lagi pelangi itu saat aku bisa melamar perempuan yang sudah menarikku kembali dari lubang gelap yang menyesakkan itu. Lembut, santun, dan memiliki bermilyaran kasih sayang yang tak pernah habis dia bagi untuk sesama, dan aku terpikat.
Ini bukan kali pertamanya aku menikah tapi detak jantungku tak bisa membohongi jika aku sedang gugup setengah mati, bahkan rasanya jauh lebih gugup saat akan menikahi Bella dulu. Apa mungkin karena kadar cinta untuk Bella dan untuk Qiana berbeda? I don’t Know.
Kini mobil yang aku naiki bersama kedua orang tuaku sudah sampai di dekat rumah Nenek Mira, sengaja kami turun beberapa rumah sebelum tempat acara. Aku berjalan diapit oleh kedua orang tuaku dan di belakangku ada adikku, sanak saudara dan juga beberapa sahabatku yang membantu membawa seserahan. Ini bukan yang pertama bagiku, tapi ini yang pertama bagi Qiana dan aku berjanji ini akan menjadi pernikahan terakhir bagiku dan Qiana.
Nuansa taman halaman depan rumah Nenek Mira sudah di dekor dengan sangat bagus dan cantik tentunya, keluarga dan tetangga Nenek Mira sudah banyak yang datang menyambut kedatanganku bersama rombongan. Dan jantungku semakin berpacu dengan cepat, aku pun diarahkan untuk segera duduk di kursi yang telah di sediakan. Ada sambutan dari pihakku dan pihak Qiana, memberi petuah tentang pernikahan dan memberi do’a-do’a agar pernikahanku dan Qiana menjadi pernikahan yang diliputi oleh keberkahan, Sa-Ma-Wa sampai ajal memisahkan kita. Qiana belum tampak sedari tadi, yak arena kami sepakat Qiana akan datang saat setelah aku mengucapkan Ijab Qobul.
“Siap Nak?” tanya Papa Qiana padaku saat kami berjalan beriringan menuju tempat yang di sediakan untuk melangsungkan ijab qobul. Fyuhhh…. Aku menghembuskan nafas dengan kasar, mencoba mencari keberanian dan kekuatan dari dalam diriku.
“Siap dong Pa, sedikit deg-degan aja.” Jawabku sambil mengusap-usap dadaku dan Papa hanya terkekeh kecil.
Penghulu yang akan menikahkanku dengan Qiana sudah duduk di tempatnya di susul Papa Rizal yang duduk di sebelahnya, aku pun mendaratkan tubuhku di kursi yang berhadapan dengan keduanya menyisahkan kursi kosong di sebelahku. Bang Reza dan Papa duduk di kursi yang sudah disiapkan di kedua ujung meja, mereka berdua menjadi saksi.
“Ini mempelai wanitanya menunggu di dalam atau duduk bersanding langsung Pak?” tanya Pak Penghulu pada Papa.
__ADS_1
“Mempelai wanitanya di dalam Pak, nanti setelah SAH baru datang kemari.” Jawab Papa dengan tersenyum hangat, sangat tenang sekali berbeda dengan keadaanku saat ini.
“Baik kalau begitu kita mulai ya, silahkan Pak Rizal nanti yang mengucapkan ijab yang kemudian di jawab kabulnya oleh Ananda Akbar dalam satu tarikan nafas ya. Dan untuk saksi dimohon untuk menyaksikan dengan jeli.” Ucap Pak Penghulu memberi instruksi pada kami.
Aku dan Papa Rizal langsung berjabat tangan untuk melakukan ijab qobul. Baru terasa jika Papa pun tak kalah gugupnya dengan ku, terbukti dari tangannya yang juga sama-sama dingin seperti telapak tanganku. Sorot matanya pun tampak terlihat sendu dan memancarkan haru yang sampai padaku.
“Ananda Akbar Atmadja Bin Amri Atmadja, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Qiana Az-Zahra binti Rizal dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan uang sebesar 26 juta rupiah, tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Qiana Az-Zahra Binti Rizal dengan maskawin tersebut, tunai.” Ucapku.
“Bagaimana saksi sah?” tanya Pak Penghulu.
“SAHHHH….” Jawab serentak saksi dan para tamu
“Alhamdulillah… sekarang, mari kita berdo’a.” ucap Pak Penghulu yang mengembalikan ke khidmatan acara dengan membacakan do’a dan khutbah nikah setelahnya.
Setelah itu Bang Reza berdiri dan segera menjemput pengantinku. Aku yang rindu dengan Dafa mencoba mengedarkan pandangan untuk mencarinya, ternyata dia sedang di pangku oleh Mama di sebelah Mama Rima yang sednag memangku Lea juga.
Terlihat Bang Reza yang sedang menggandeng pengantinku dengan hati-hati, cantik sekali pengantinku itu. Tak berselang lama dia sudah duduk di kursi kosong sebelah ku untuk menandatangani buku nikah kami. Dilanjut dengan menyematkan cincin pernikahan, untuk pertama kalinya tangan kami saling bersentuhan dengan sengaja waow rasanya dag-dig-dug sekali. Dia belum berani mengangkat wajahnya untuk menatap menatapku barang sejenak saja.
__ADS_1
“Jangan tegang.” Bisikku.
“Udah selesai sekarang si Teteh salim ke Akangna, agak lama cium tangannya teh sekalian di foto, terus seleisai salimna si Akang nanti cium keningna si Teteh ya,” ucap photographer mengarahkanku dan Qiana. Keringat dingin di tanganku sudah berkurang karena beban acara ini sudah selesai aku taklukan, dengan malu-malu akhirnya Qiana meraih tanganku dan menciumnya dengan khusyuk seraya meresapi apa yang sedang ia lakukan ini.
“Tetehna ulah tegang atuh, rileks Teh rileks,” ucap photographer yang akan mengabadikan foto kami, aku hanya tersenyum kecil.
Setelah acara akad selesai, tamu undangan silih berganti datang menghampiri kami, mengucapkan selamat dan do’a-do’a baik yang selalu terucap setiap menjabat tangan kami.
“Makasih,” ucapku ketika tamu terakhir selesai menghampiri kami.
“Kembali kasih Mas.” Jawabnya seraya tersenyum manis ke arah ku, “Mas aku rindu Dafa, kemana dia aku tidak melihatnya sama sekali,” katanya lagi.
“Itu disana bersam Lea.” Jawabku sambil menunjuk ke arah dua anak kecil yang sedang asyik makan, padahal tadi baru saja aku lihat mereka tengah asyik duduk di pangkuan nenek mereka, sekarang sudah berdua saja duduk anteng di dekat meja kue.
“Ah, pantas saja diem disuguhin makanan. Emh aku takut dia makan dan cemong semua ke mukanya Mas,seperti saat lamaran kita dulu,” ucapnya dengan nada yang khawatir. Aku pun jadi teringat cerita Bang Reza yang harus memandikan ulang kedua balita itu dan mengganti baju yang sudah kembaran dengan keluarga menjadi baju formal lainnya yang tak sama dengan kami saat itu.
“Ah iya, ayo kita kesana.” Ajakku. Dan saat kita sampai, ternyata benar saja yang kami khawatirkan bibir penuh dengan kue coklat yang sudah pasti belepotan di pipi kanan dan kirinya, serta ujung kemeja Dafa pun sudah berubah warna menjadi coklat.
“Astaga sayang.” Pekik Qiana.
__ADS_1
*********
Ini Pov Akbar ya, semoga suka. Terimakasih yang sudah membaca... jangan lupa jaga kesehatan!!!!