
Selamat membaca semuaaaaaaa.........
***
Masih di tempat yang sama, yaitu resto Jepang. Makanan berat yang aku pesan dengan Syta sudah habis terlahap sempurna, ternyata selain tempatnya yang oke punya, rasa makanannya pun sangat…sangat nikmat… Alhamdulillah masih bisa menikmati makanan enak. Tempura yang aku pesan dan takoyaki yang di pesan Syta masih ada, segelas matcha pun masih ada seperempat gelas. Karena jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB, kami memutuskan untuk menyambung obrolan yang sempat terputus tadi, kebetulan aku dan Syta sedang berhalangan hari ini, jadi tidak diburu waktu.
“Mama sama Papanya Teteh di Jakarta? Kenapa nggak ikut ke sini aja Teh?” tanya Syta setelah menghabiskan takoyaki yang baru saja ia masukan ke dalam mulutnya.
“Papa masih ada kerjaan di Jakarta yang musti diurus Syt, Mama disana ya nemenin Papa.”
“Mama sama Papanya Teteh sayang banget ya sama Teteh?” tanyanya lagi, tapi raut mukanya mendadak sendu.
“Ah, aku rasa semua orang tua menyayangi anak-anaknya Syt, begitupun dengan orang tuaku yang menyayangi Abang dan aku.”
“Tapi Mami dan Papiku, sepertinya tidak menyayangiku dan Abang.”
Eh kenapa jadi gini, haduh tadi kayaknya salah tema ngobrol deh.
“Mereka sayang kalian mungkin caranya saja yang berbeda Dek,” ucapku mencoba menenangkannya, ah ternyata sikap tomboynya hanya menutupi kerapuhan hatinya.
“Enggak…. mereka nggak sayang sama aku dan Abang sama sekali, buktinya sudah 15 tahun mereka pergi dan nggak pernah nemuin aku sama Abang lagi, mereka bercerai dan menitipkan aku sama Abang ke rumah Nenek tapi hanya 3 tahun aku dan Abang tinggal bersama Nenek, Nenek juga ninggalin aku sama Abang untuk selama-lamanya,” ucapnya dengan sedikit bergetar, aku paham dia sedang menahan kesedihannya agar tidak meledak. Ah aku salut dengan wanita dihadapanku ini, dalam kesedihannya pun dia masih ingat tempat, tidak seperti aku.
“Berarti saat usia Bang Aziz 14 tahun dan kamu 6 tahun, kalian sudah tinggal tanpa kedua orang tua? Dan saat usia Bang Aziz 17 tahun dan kamu 9 tahun kalian hidup berdua di Kota ini?” ucapku sambil menutup mulutku dengan tangan, Astaghfirullah aku harus bersikap seperti apa dan menanggapi seperti apa? Apa iya ada orang tua yang begitu kejamnya?
“Betul Mbak, dan diusia Bang Aziz yang belum genap 17 tahun, waktu Nenek sudah sakit-sakitan… Abang sudah mulai bekerja keras sepulang sekolah, segala jenis pekerjaan sudah ia lakoni rasa-rasanya. Mulai dari kuli panggul di pasar kalau dini hari, menjaga kantin sekolah saat jam istirahat, serta usaha kecil-kecilannya yang membuat layangan untuk anak-anak sekitar rumah jika pulang sore hari, sayangnya detail pekerjaan ini aku baru tahu saat aku sudah berusia 18 tahun saat Bang Aziz menceritakan semuanya kepadaku tentang masa lalu keluargaku yang hancur itu. Dan yaa.. sikap tengil dan suka bercandanya hanya kamuflase untuk menutupi kehidupan pedih yang kami jalani selama ini.”
__ADS_1
Ya….Allah ampuni dosaku karena sudah berprasangka buruk pada Bang Aziz waktu itu, ternyata betul selalu ada alasan dibalik setiap perilaku manusia.
“Kamu juga terbiasa berkamuflase bukan? Sikap tomboymu ini hanya topengkan? Kamu dan Abangmu adalah anak-anak yang hebat, mampu bertahan berdua di tengah cobaan yang luar biasa ini,” pujiku jujur saja ini bukan abang-abang lambe kalau kata orang Jawa mah. Tapi pujian itu murn datang dari lubuk hatiku yang paling dalam untuk kedua kakak adik itu, yang mungkin aku belum tentu bisa melewati ujian yang sama seperti yang mereka hadapi.
“Tapi aku dan Abang sempat terpuruk Teh, karena mengetahui alasan di balik Mami dan Papi berpisah dari tulisan Nenek di balik foto keluarga kami yang berada di dalam laci kamarnya, yaitu Mami yang termakan bujuk rayu pria lain dan Papi yang kala itu memang belum memiliki apa-apa pun harus rela ditinggal Mami. Emh, lebih tepatnya Abang yang terpuruk dan aku hanya sedih karena melihat Abang seperti tidak memiliki gairah hidup kala itu, karena saat Abang mengetahui kebenarannya usiaku masih sangat kecil untuk memahami semuanya.” Dia diam sejenak menghirup dalam udara disekitarnya, dari gelagatnya seolah kata ‘terpuruk’ yang diucapkannya itu sangat dalam.
“Lalu kenapa Papi atau Mamimu tidak mau membawa kalian?” tanyaku.
“Kalau alasan Mami sudah jelas, pria itu tidak menginginkan aku dan Abang untuk ikut menumpang di rumahnya, sedangkan Papi dia pergi ke Singapura untuk mengejar kesuksesan dunianya. Setahun kepergian Papi, masih ada kabar untukku dan Abang kala itu, tapi setelah kabar Papi akan menikah semua tentang Papi seakan hanya ilusi sampai sekarang tidak pernah aku temui lagi jejaknya,” ucapnya lirih, rumit sekali keluarga mereka, Ya Allah betapa beruntungnya aku yang memiliki keluarga yang super duper lengkap dan memiliki rasa toleransi serta kasih sayang yang tinggi.
“Satu hal yang aku sesali sampai sekarang Teh, waktu itu aku masih terlalu kecil sehingga tidak tahu apa-apa dan hanya bisa merengek pada Nenek atau Abang jika rindu dengan mereka, aku tahu semua detailnya saat masuk usia 18 tahun lalu dan selama itu Abang memendamnya sendirian. Saat nenek tiada, aku hanya memiliki Abang, lalu saat usiaku menginjak 9 tahun aku baru sedikit memahami jika keadaan tak lagi sama tidak ada orang tua yang mendampingi aku hanya memiliki Abang saja kala itu, beruntung kami masih memiliki tempat berteduh rumah, peninggalan Nenek,” ucapnya sambil menitihkan sedikit air matanya dan buru-buru dia seka.
“Syta kecil itu tidak tahu apapun yang ia tahu hanya ketika bangun tidur ia sudah melihat Abangnya dari luar sambil menenteng satu nasi bungkus untukku makan sendirian, tanpa tahu Abangnya sudah makan atau belum diluar sana, tanpa tahu dari mana Abangnya keluar, saat pergi ke sekolah aku diberinya uang saku lebih untukku membeli makan siang, lagi-lagi Syta kecil tidak pernah bertanya. Apa Abangnya itu juga punya pegangan untuk membeli makan siang? Begitupun saat malam hari dia selalu membeli satu nasi bungkus tapi porsi nasinya lebih banyak, benar dia ikut makan bersamaku jika malam tapi dia hanya mengambil nasi dan bumbu lauknya saja karena lauknya aku makan. Bodoh sekali aku wanita dengan kadar kepekaan yang sangat tipis tidak bisa membaca situasi. Sampai aku baru menyadarinya saat sudah masuk SMP, tapi aku hanya diam tidak berani bertanya pada Abang sampai dia sendiri yang menceritakannya padaku 4 tahun yang lalu saat aku lulus SMA.”
Astaghfirullah, kenapa ujian mereka begitu berat. Ah aku tidak kuat mendengarnya lagi, aku pun langsung beranjak dari kursiku dan segara duduk disamping gadis yang baru aku kenal itu dan segera merengkuhnya dalam pelukanku.
“Teteh bagaimana caraku membalas kebaikan Abang?” tanyanya lirih sambil mengatur deru nafasnya.
“Berbaktilah Dek padanya anggap dia orang tuamu, patuhi perintahnya jika itu memang baik dan tidak menentang agama.”
“Iya, insyaAllah Syta akan melakukan itu. Tapi aku juga ingin mencarikannya pasangan yang baik Teh, entah ini hanya perasaanku saja atau memang betul terjadi padanya aku tidak tahu, semenjak Abang kuliah semester 5 Abang itu sering bergonta-ganti pacar bukan karena Abang playboy atau apa ta..pii… sepertinya Abang mengalami
trauma.”
“Trauma seperti apa yang kamu maksud Dek? Trauma kok bisa malah bikin orang gonta-ganti pasangan.”
__ADS_1
“Emh, ini menurut analisaku ya Teh, gini Abang itu mengalami rasa percaya terhadap orang sedikit sekali apalagi terhadap pasangan. Jadi saat Abang berpacaran dengan si A, lalu Abang tahu jka si A jalan dengan cowok lain pasti langsung diputuskannya si A ini sama Abang tanpa peduli cowok itu saudara atau sahabatnya dan selalu begitu sampai berulang-ulang. Dan dia baru berhenti bergonta-ganti pacaran dua tahun terakhir ini karena sibuk membuat konten untuk channel yietibenya. Apa mungkin ya Abang trauma dengan sikap Mami waktu dulu, itu yang selalu aku pikirkan sampai saat ini. Aku takutnya dia akan kesulitan membangun rumah tangganya kelak jika bertemu dengan orang yang salah,” ucapnya sendu.
Hmmm… tapi rasa-rasanya sedikit aneh jika memang Bang Aziz itu mengalami trauma semacam itu, lantas kenapa dia malah mau merebutku dari Bang Bagas, seperti yang ia katakana sewaktu di Situ Patenggang beberapa minggu yang lalu.
Hahhh…. Ternyata setiap orang itu selain memiliki sisi unikanya tersendiri, juga memiliki banyak rahasianya sendiri yaa…
“Entahlah Syt, Teteh juga tidak tahu. Yang terpenting sekarangkan Abang kamu sudah tidak bergonta-ganti pacar lagi. Untuk masalah jodoh, biarkan dia memilihnya sendiri toh dia punya Allah yang Maha Tahu Segalanya yang terbaik untuk setiap hambaNya. Kamu do’akan saja Abang kamu ya.”
“Iya, selalu insyaAllah akan selalu Syta do’akan. Ahhh.. aku lega sekali bisa bercerita masalah ini sama Teteh. Maaf ya Teh, jangan ikut mikirin aku ya hehe, aku hanya butuh teman yang bisa aku ajak berdiskusi seperti ini mendengarkan ku, memberi saran tapi tidak memojokkan ku jika aku melakukan kesalahan.”
“Iya sama-sama, lain kali kamu main-mainlah kerumah Neneknya Teteh kamu bisa bercerita sepuasnya disana.”
Sore ini aku tutup dengan meminum seperempat matcha yang masih tersisa di gelasku. Lalu keluar dari resto dengan perasaan yang berkecamuk, seolah masih merasakan sesaknya derita yang dialami dua anak manusia yang tidak berdosa itu ketika ditinggal oleh kedua orang tuanya yang mementingkan egonya masing-masing, dua anak manusia yang tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, dua anak manusia yang saling menguatkan di tengah keterbatasan yang mereka miliki.
Tapi aku sangat bersyukur mendengar cerita Syta, saat Abang yang tengilnya naudzubillah itu mendapat pekerjaan yang terbilang cukup mapan dan bisa menghidupi keduanya sampai sekarang. Terlebih sekarang Bang Aziz juga mendapat pundi-pundi rupiah dari konten pranknya itu, sehingga dalam dua tahun terakhir Abangnya memilih untuk melepas pekerjaannya di suatu perusahaan dan memilih untuk mengembangkan channel yietibienya.
***
Semua orang tumbuh dengan lukanya masing-masing, membiarkan waktu dan takdir berjalan beriringan. Mencipta tekad, barangkali di depan sana ada tangan yang terulur untuk membantu membalut luka itu, lalu mencipta harap ‘sembuh’….
\*\*\*
__ADS_1
**Terimakasih semua**......