
Selamat membaca.... :)
*****
Author POV
Hujan reda ba’da isya, menyisakan hawa dingin dan basahnya permukaan bumi membuat malam minggu lebih nyaman berada di dalam rumah, memasak makanan berkuah dan pedas sepertinya cukup menyenangkan untuk malam minggu pertama di Kota Bandung. Seperti masak makanan ala korea misalnya, yukgaejang olahan daging sapi di campur jamur tiram, toge, daun bawang, dan bawang bombay serta jangan lupa dengan kuah yang pedas uuhhh yummy.
Untuk si kecil Dafa bisa di buatkan bulgogi daging sapi yang dipotong tipis dan diberi bumbu sebelum di panggang setelah itu diberi taburan biji wijen. Untuk minumnya sangat cocok dengan air lemon hangat di tambah sedikit daun mint.
“Mbak, aku minta resepnya yukgaejangnya ya. Aku sering buat lihat resepnya dari internet, tapi nggak seenak ini, buatan Mbak kayak yang sering aku makan di resto-resto Korea loh Mbak. Endulita.” Kata Fani sambil membolak-balikan daging sapi diatas pemanggang.
“Hahaha, kamu itu bisa aja. Mbak kalau buat makanan baru lihat resepnya di buku resep makanan, jarang banget dari internet, semenjak tinggal sendiri banyak banget buku resep yang Mbak beli jadi ya sering praktekin.” Jawab Qiana sambil memindahkan yukgaejang ke dalam mangkuk besar untuk di hidangkan di meja makan.
“Wihhh… aku boleh pinjem?” tanya Fani.
“Ya bolehlah, Dek. Tapi prakteknya disini aja biar Mbak bisa makan terus hihihi.” Jawab Qiana.
“Ashiyap bosquee…. Oh iya ini udah hampir mateng Mbak, Fani titip ya, aku manggil Abang sama ponakan gembilku dulu ya.” Ucap Fani.
“Iya, jangan lupa calon suami juga wkwkwk.” Goda Qiana yang disambut gelak tawa dari bibir kecil Fani.
Setelah memastikan semuanya matang dan rasanya enak, dengan hati-hati Qiana menata makanannya di meja makan, kendati sudah mulai sering merasa lelah semenjak kehamilan pertamanya, Qiana tetap melakukan tugasnya dengan baik. Hanya melepas sedikit tanggung jawabnya di toko kue, yang sekarang dikelola oleh Fani,
__ADS_1
memantaunya sesekali bersama sang suami yang kini menjelma menjadi Suami dan Ayah yang sangat protektif.
“Sayang, udah dibilang kita panggil Bi Ani kesini aja ya biar bisa bantuin kamu, biar nggak kecapekan.” Ucap Akbar yang baru saja datang dengan Dafa di gendongannya dan disusul Bagas yang berjalan bersisihan dengan Fani.
“Nggak capek kok, orang aku dibantu sama Fani juga kok tadi Mas.” Kilah Qiana.
“Yasudah ayok makan.” Ucap Akbar.
Sajian yang sangat menggugah selera makan, pikir Akbar dan Bagas yang melihat hidangan yang tersaji di meja makan dalam keadaan cuaca dingin malam ini. Qiana sebagai istri dan juga Ibu, pertama kali yang dilakukan adalah mengambilkan makan untuk suami dan anaknya, semangkuk yukgaejang dan sedikit nasi di mangkuk berbeda untuk Akbar dan sepiring bulgogi plus nasi untuk Dafa, sedangkan untuknya sendiri dia akan mengambil terakhir. Fani dan Bagas mereka mengambil makananan mereka sendiri, selain Fani belum berkewajiban melayani Bagas seperti yang dilakukan Qiana pada Akbar, Fani juga malu jika menunjukan kemesraan atau kedekatannya bersama Bagas di depan kakaknya.
“Bun, kamu jangan makan yukgaejangnya ya. Ini terlalu pedas untuk ibu hamil, jangan mengambil resiko untuk anak kita makan kayak Dafa aja.” Ucap Akbar setelah mengicip sesendok yukgaejang di hadapannya.
“Tenang Yah, Bunda bikin yukgaejang yang nggak terlalu pedas kok, ini.” Jawab Qiana sambil menunjukan mangkuk berisi yukgaejang yang warnanya tak semerah punya Akbar, Bagas, dan Fani. Tanpa banyak kata Akbar langsung menyendok makanan di hadapan Qiana dan mencicipinya, setelah di rasa pedasnya dalam batas wajar Akbar pun membiarkan Qiana memakannya.
“MasyaAllah, enak banget Qi. Kayak di resto Korea rasanya, kamu pernah kerja di resto Korea ya?” tanya Bagas dengan penuh selidik, namun di sambut gelak tawa oleh Akbar dan Fani yang sudah tahu kebenarannya, sedangkan Qiana dia hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan konyol Bagas.
“Hehehehe, sorry Bang. Yaudah kita lanjut makan aja, aku mau nambah bulgoginya biar samaan kayak Dafa hihi.” Ucap Bagas mengalihkan perhatian.
"Iya makan lagi gih, eh denger nggak? kayaknya diluar hujan lagi deh, untung aja kita nggak jadi keluar tadi." ucap Qiana.
"Malam minggu ujan gini pasti ulah do'a para jomblo xixixi. Tapi untung aja aku dateng ke rumah Abang, duh kalau enggak aku bakal malmingan sama Mang Didin dan Bi Ani aja di sana." ucap Fani yang membuat makan malam di warnai gelak tawa karena candaan receh yang terlontar dari bibir kecil Fani.
Semua hidangan makan malam pun ludes dilahap empat orang dewasa dan satu anak kecil, kini mereka berlima beralih menuju ruang keluarga untuk menyambung perbincangan yang terpotong oleh makan malam. Sedangkan Dafa tengah sibuk mengelus perut Qiana yang sedikit menonjol di perut bagian bawah, menginjak usia kehamilan 2 bulan Qiana dan Akbar memutuskan untuk memberi tahu Dafa jika sebentar lagi dia akan memiliki adik dari perut Bundanya.
“Eh, Gas tadi kata Fani kamu habis dari Surabaya langsung kesini? Habis ada urusan apa di Surabaya?” tanya Akbar sambil menekan tombol remot mencari saluran yang menarik menurutnya.
“Iya dua hari aku di Surabaya, ngambil beberapa alat punya Alm. Setya lumayanlah masih pada bagus, di suruh Kakaknya aku bawa biar bisa dimanfaatin di RS. Sekalian ke kampusku dulu dan nyekar ke makamnya Setya, soalnya sewaktu meninggalnya aku nggak bisa datang waktu itu.” Jawab Bagas.
__ADS_1
“Terus kok kamu Cuma bawa ransel doang? Sekarang baju minjem punyaku pula.” Ucap Akbar.
“Alat-alatnya udah di bawa ke Jakarta sama asistenku Bang, kita naik pesawat yang berbeda tujuan. Bajuku tinggal baju kotor ini, jadinya ya pinjem Abang aja daripada beli lagi, sayang uangnya mending buat nabung buat nikahan aku sama Adek, Abang hihihi.” Jawab Bagas.
“Perhitungan banget buat diri sendiri, hati-hati kamu Dek ciri-ciri orang medit ini orang.” Cibir Akbar.
“Susssttttt…… besok kita liburan yuk!” ajak Qiana dengan memandang lekat wajah suaminya.
“HUWA….. MAU….MAU… AKU… MAU… YA ALLAH LIBURAN HIHIHI….!!!” Teriak Fani dengan hebohnya, membuat Akbar geleng-geleng kepala dan Bagas terbengong melihat kelakuan absurd calonnya.
“Astagfirullah, katanya mau jadi wanita yang kaya istrinya Abang. Kurang-kurangin deh teriak dan lebaynya, istri Abang nggak pernah ya kayak gituh.” Ucap Akbar yang langsung membuat Fani kembali ke mode kalemnya.
“Onty, kenapa teliak-teliak nanti Adeknya Dafa nangis gimana? Nakal itu Yah Ontynya di jewel aja ya.” Ucap Dafa yang perhatiannya sempat di ganggu oleh Fani.
“Hahaha… Iya sorry boy. Ayo ah dilanjut lagi, Mbak mau kemana? Farm house? Tangkuban perahu? Kawah putih? Cikole? Rumah bambu? Paralayang? Ciwidey? Kebun teh? Yang mana Mbak?” tanya Fani dengan menawarkan beberapa destinasi wisata daerah Bandung.
“Ssstttss… Biar Qiana aja yang milih kamu diem aja Dek!” ucap Akbar yang membuat Fani menyabikkan bibirnya.
“Fani ngobrol sama Bang Bagas aja sini, emang Fani mau liburan kemana sih?” tanya Bagas dengan lembut, membuat Akbar sedikit kesal. Hihi sejahil-jahilnya kakak laki-laki pada adik perempuannya, tetap saja memiliki rasa sayang yang besar. Begitupun Akbar, yang seolah cuek dan terkesan tak peduli pada Fani tapi tetap saja dia adalah orang pertama yang akan bereaksi ketika adiknya dilanda masalah.
“Fani mau ke tempat yang masih sangaaaaaatttttt asri…indah… banyak ijo-ijonya. Huh… pasti menyenangkan.” Jawab Fani mengabaikan tatapan tajam Abangnya.
"Gimana kalau kita ke kawah putih sama situ patenggang, itu destinasi wisatanya bisa dikatakan deketan juga soalnya biar sekalian jalan aja, pemandangannya bagus kok. Gimana?" usul Qiana.
"Ashiyap, Fani setuju!!!" jawab Fani dengan bersemangat, membuat Bagas dan Akbar kembali menggelengkan kepala, kapan kalemnya si Fani ini konsisten? pikir Bagas dan Akbar.
**********
__ADS_1
Huwiiii.... siapkan bekal yang cukup ya buat kita bertravelling tipis-tipis, hihihi. Jangan lupa like, rate, dan vote ya buat persiapan jelong-jelongnya xixixi... Thank Youuu... muachhh....