Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
7.Putih Abu-Abu 2


__ADS_3

~ Seperti dadu dalam permainan ular tangga, tidak bisa ditebak angka berapa yang akan keluar. Jatuh atau naik, menang atau kalah semuanya mengalir apa adanya~.


Setya POV


Tak pernah ku sangka akan terbangun di kota ini, apalagi tidur nyenyak dikasur Qiana. Entah terbuat dari apa hatinya, sekalipun luka yang aku toreh untuk hati dan harga dirinya dulu terlalu dalam. Disatu sisi aku sangat bersyukur mengetahuinya bisa memaafkanku dan menerimaku dengan baik, sekalipun hanya sebagai teman, satu sisi lainnya aku merasa malu dengan diriku di masa lalu dan membuatku terus mengingat kejadian itu.


Flasback On


Di kantin sekolah...


"Qi, aku liat catetan fisikamu boleh?" Kata Setya sambil memakan baksonya yang tinggal sesuap.


"Boleh, tapi kamu ambil sendiri ya di tas. Abis makan aku ngga balik ke kelas langsung mau ke ruang guru tadi dipanggil Bu Ida." Jawab Qiana sambil memakan bakso.


"Oke, siap aku balikin besok pagi ngga apa kan?" Tanya setya.


"Nggak apa." Jawab Qiana.


Setya pun bergegas kembali ke dalam kelas terlebih dahulu, jam istirahat masih tersisa 15 menit. Ruang kelas tampak sepi, dia langsung berjalan menuju bangku Qiana. Dibukanya tas coklat susu itu, tapi dia tidak menemukan buku yang dia cari, manik matanya berubah penasaran ketika tangannya tak sengaja malah menarik buku diary Qiana.


Karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya Setya dengan lancang membuka diary itu.


deg


Seketika wajahnya pias, senyumnya hilang seketika, manik matanya menajam sulit terartikan, tapi dia terus membaca diary itu sampai pada lembar terakhir yang baru semalam Qiana tulis, membuatnya sakit luar biasa.


Dear Diary


20-Jan-2012 (20.25 WIB)


Hari ini H-5 ulang tahun Tyo dan kembarannya. Mungkin tahun ini adalah tahun terakhir aku bisa mengucapkannya secara langsung. Sebab tak lama lagi kita akan lulus dari masa putih abu-abu. Sampai saat ini aku sudah menggapai cita masa SMAku, hanya saja untuk cinta masa SMAku aku belum bisa menggapainya. Dia terlalu dingin dan cuek beda dengan adik kembarnya yang selalu bisa mencairkan suasana. Aku yang dasarnya sulit mengekspresikan rasa sukaku pada lawan jenis, tentunya membuat dia tak sadar dengan rasa yang sedari kelas X aku simpan untuknya. Sebagai perwakilan rasa itu, aku hanya mampu mengekspresikan lewat tulisan-tulisan ini. Setidaknya ini menenangkan untukku.

__ADS_1


Selamat malam dear, semoga mimpi indah. Ku do'akan segala kebaikan untukmu Tyo, sekalipun kau tak akan pernah tau kalau aku menyimpan rasa untukmu. Berbahagialah dengan segala takdirNya untukmu.


***


"Hah, jadi selama ini Qiana menyukai Tyo saudaraku sendiri. Sekalipun yang selalu disisinya saat suka-dukanya itu aku. Padahal sikap Tyo ngga ada yang jauh lebih baik dari perlakuanku ke Qia. Ta..tapi ini apa..?" Batin Setya.


Setya POV


Sesegera mungkin ku masukan diary itu kembali ke tasnya, aku berniat beranjak dari meja Qiana tapi ku urungkan ketika kulihat Qiana memasuki kelas.


"Set, apa sudah ketemu?" Katanya padaku.


"Tidak ada ditasmu." Jawabku dingin, kulihat dia mengernyitkan dahinya. Mungkin saja dia kaget dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba. Dia hanya mengangguk kecil, kemudian dia merogoh tasnya manik matanya membesar ketika melihat diary itu di tasnya. Di tutupnya tas coklat susu itu, dia beralih ke loker mejanya.


"Hah... syukurlah ternyata bukunya ada di loker pantas saja kau tak menemukannya di tasku. Ini bawalah!" Katanya sambil menyodorkan buku fisika miliknya, tanpa kata langsung kuambil saja dan meninggalkannya menuju mejaku.


Pikiranku kalut, aku menyukainya, menyayanginya sudah sejak lama, tapi kenapa harus kakakku sendiri yang dia cintai. Mereka ngga boleh sampai jadian.


Tak terasa kurang satu bulan lagi hari kelulusan. Aku tak sengaja melihat diary itu lagi, menyembul dari dalam tas Qiana. Tanpa peduli aku mengambilnya, dengan ini mungkin akan melegakan rasa kecewaku padanya. Aku merasa Qiana hanya peduli denganku karena dia menyukai kembaranku. Di dalam diary itu banyak tertulis segala keluh kesahnya kepada apapun dan siapapun. Ada curhatan ketika dia risih pada teman ceweknya yang menurutnya hiperbola dan selalu mengusiknya. Sekalipun dalam dunia nyata dia seolah tidak perduli ternyata dia sangat perasa, mudah tersinggung namun tidak diutarakan dan tidak membalasnya.


Banyak keluh kesahnya yang tertulis disana, dengan sengaja aku memberi tahu pada teman cewek yang dia anggap hiperbola dan selalu mengusiknya. Dan dia percaya. Namanya kalau tidak salah Bella, tidak aku sangka langsung mencari Qiana.


Plakkk...


Bella menampar Qiana yang sedang berada di kantin. Bodohnya aku yang masih membawa diary itu digenggamanku.


"Kamu kalo nggak suka sama aku bilang, ngga usah sok-sokan baik di depan aku. Pake nulis di diary segala, tapi ujung-ujungnya kamu kasih tau juga ke orang-orang. Ngga usah munafik kamu jadi orang!" Teriak Bella pada Qiana.


"Apa maksud kamu Bell?" Tanyanya sambil memegang pipinya yang memerah.


"Ngga usah sok ngga tau! itu" kata Bella sambil menunjuk kearahku.

__ADS_1


Kulihat Qiana, dia menatapku dengan pandangan sulit diartikan dan pandangannya berhenti pada diary yang aku pegang. Dia berlari kearahku dan mengambil diary itu dan melangkah meninggalkanku yang masih mematung.


Sejak kejadian itu dia berhenti mengikutiku, menjadi pendiam dan seolah menghindar dariku. Aku pun tidak berniat menjelaskan apapun karna rasa kecewaku atas cinta yang bertepuk sebelah tangan dan cinta yang telah layu sebelum berkembang.


*Flasback Off**


Author POV


Tok..tok..tok


"Set udah bangun?, ayo turun udah ditungguin Nenek buat sarapan bareng," Ucap Qiana di depan pintu kamarnya.


"Hmm... ah iya bentar lagi." Jawab Setya yang baru sadar dari lamunannya.


Ceklek, Setya membuka pintu dan langsung mengekor Qiana menuju tempat makan.


"Pagi Nek." Sapa Setya.


"Pagi juga, Nak. ayo dimakan habis ini kita jalan-jalan bertiga ke daerah Lembang ya sekalian nyekar ke makam alm kakeknya Qia," Ucap Nenek Mira.


"Siap Nek. Wah Nenek masak banyak gini," Kata Setya dengan wajah berbinar ketika makanan khas sunda sudah tersaji apik di hadapannya.


"Ah ini Qiana tadi yang masak bukan Nenek, kalau Qiana pulang pasti dia yang masakin buat Nenek Nak," Kata Nenek, " Kamu cobain pais ikan mas buatannya Qia, enak banget." Sambung Nenek dengan tangan yang sibuk bergerak membuka bungkusan daun pisang berisikan pais ikan mas.


"Wah ini dulu Setya pernah di bawain ini Nek sewaktu SMA," Kata Setya antusias.


 


~Kebaikan akan selalu menuntun pada rasa bahagia, meskipun harus melalui proses pahit yang tidak mudah untuk dilalui. Tapi selalu yakin dan tanamkan pada hati, bahwa buah dari kebaikan akan selalu ada~ Ina az-Zahra.


Terimakasih telah membaca karyaku, salam sayang dariku semoga kalian selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindunganNya, aamiin.

__ADS_1


__ADS_2