
S**elamat membaca…**
***
Author POV
***
Fani dan Bagas tampak sibuk dan kompak menghidangkan makan siang di meja makan, Bu Eni Mama sambung Bagas pun sudah ikut bergabung di meja makan. Hubungan Bagas dan Bu Eni memang baik sedari 14 tahun yang lalu dimana saat itu usia Bagas masih 12 tahun tapi sudah harus ditinggal Bundanya untuk selama-lamanya. Bila orang yang baru bertemu dan tidak tahu kisah keduanya pasti tidak akan mengira jika Bagas dan Bu Eni hanyalah sebatas anak dan ibu sambung, karena keakraban dan kemistri yang sudah melekat dikeduanya.
“Wah, Bagas ini kayaknya lebih sayang sama Fani daripada sama Mamanya,” ucap Bu Eni sambil pura-pura merajuk melihat putra sambungnya itu sibuk membantu Fani.
“Apa sih Ma, Bagas itu sayang sama semua orang kok,” jawab Bagas seraya menyunggingkan senyumnya.
“Ck, bohong banget. Lah ini buktinya kamu mau bantuin masak padahal kalau hari libur di suruh Mama bantuin Mama masak aja kamu ogah-ogahan banyak alasannya,” ujar Bu Eni yang membuat semua orang yang tengah duduk di melingkar di meja makan pun menyunggingkan senyumnya. Bukan hal yang aneh bagi keluarga Fani ketika melihat Bu Eni selalu menggoda anak sambungnya itu, karena hampir pada setiap pertemuan keluarga selalu saja Bu Eni menyempatkan menggoda anak sambungnya itu.
“Ih, Mama cerewet banget siihhh…. Dafa tolong Oma barunya Dafa diajak main ya, biar nggak cerewetin Om terus,” ucap Bagas sambil memasang wajah melasnya ke arah Dafa.
“Ndak mau, mau main sama Adeknya Dafa aja,” jawab Dafa dengan tatapan polosnya menanggapi permintaan Omnya itu, dan membuat orang disekitarnya tertawa.
“Hahaha, syukurin,” ucap Bu Eni.
“Sudah-sudah ayok makan, habis ini kita kerja keras lagi bantuin yang lain untuk menyiapkan acara empat bulanan cucu baru Papa. Tapi buat Qiana sama Dafa habis ini musti tidur biar nggak kecapekan,” ujar Pak Amri, tanpa bantahan. Semua orang pun mengiyakan perkataan Pak Amri dan langsung menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh Fani dan Bagas.
Tak berselang lama makanan yang tadinya tersaji apik di atas meja makan kini sudah habis tak bersisa. Qiana dan Dafa pun sudah diantar Akbar menuju kamarnya, yang sudah dipindahkan di lantai satu sebagai bentuk kekhawatiran dan kasih sayang Akbar kepada istri dan dua calon buah hatinya.
Sementara itu di ruangan berbeda, Fani dan Bagas yang baru selesai membantu menata karpet di ruang tamu kini mereka sedang beristirahat sejenak di ruang baca. Keduanya saling memandang dalam satu sama lain, Bagas yang memandang Fani dengan segala kerisauannya dan Fani memandang Bagas dengan tatapan yang seolah mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’.
Iya… setalah Qiana keceplosan tadi, mau tidak mau, siap tidak siap Fani harus menjelaskan semuanya pada Bagas. Jadilah Bagas risau bukan main dalam diamnya kepada Fani semenjak tahu berita kepergian Fani dalam waktu dekat ini, karena kali ini Fani pergi jauh tidak seperti kemarin yang hanya di Bandung dan bisa kapan saja Bagas mendatanginya, sedangkan sekarang Fani harus ke Korea untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dilimpahkan kepada Fani. Sangat sulit pastinya untuk menemui Fani jika tidak benar-benar sedang senggang dalam waktu yang lama, karena Bagas pun sangat sibuk untuk mengurusi perusahaan Papanya di Indonesia.
“Kamu serius mau ke Korea?” tanya Bagas untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
“Hm, iya A…. masak nggak percaya sih? Aku udah jawab puluhan kali dengan jawaban yang sama loh,” jawab Fani dengan sedikit tertawa melihat tingkah Bagas yang dimatanya terlihat begitu menggemaskan.
“Baru aja kamu nerima Aa jadi tunangan kamu meski baru kita yang tahu, eh sekarang udah mau ditinggal kerja jauh pula. Hmmm,” rajuk Bagas.
“Ya Allah A, masih bisa vicall kita. Itung-itung ini itu sebagai ajang pembuktian diri bahwa kita memang saling mencintai, saling membutuhkan satu sama lain, saling sayang dan saling-saling yang lain hehe,” ucap Fani yang diselingi dengan gurauan.
“Kamu itu selalu aja gini, awas loh yahhh jangan jelalatan matanya sama Oppa-oppa Korea itu,” pesan Bagas.
“Arghhh, ingin rasanya aku memeluk tubuh mungil itu membawanya kedalam dekapanku, agar dia bisa merasakan rasa khawatir dan risauku padanya,” ucap Bagas dalam hatinya.
“Siap A, inget aku juga ya kayak lagunya Sherina. Ehmm…ehmm… jaga hati yang kuserahkan untukmu, jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita dan tali asmara yang kan diuji waktu, berjanjilah sayangku…sebelum selamanya…” pesan Fani diiringi nyanyian yang juga tersirat pesan di dalamnya, membuat Bagas merasa senang dan sedikit tenang.
“Assalamu’alaikum…. Bang Akbar.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Bagas dan Fani bersamaan.
“Siapa ya A kok sudah bertamu lebih awal? Apa itu yang bawa mobilnya Abang tadi ya? Tapi kok suara cewek?" tany” Fani beruntun.
“Tapi udah nggak ada suaranya Bang, palingan udah disuruh Bibi duduk atau Bang Akbar udah keluar,” jawab Fani yang membuat Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu itu, kita tetep harus keluar Fani dari sini udahan ngasohnya. Kalau itu roti yang dibawa sama temennya Abang berarti kita harus mulai kerja lagi,” ujar Bagas.
“Hahaha….iya ya pinter banget sih Aa Bagas ini,” goda Fani.
Kedua anak manusia itu pun keluar dari ruang baca dan berjalan menuju ruang tamu, suara tawa sudah menggema di ruang tamu, entah candaan apa yang sedang dilontarkan oleh sang Abang sehingga si tamu itu tertawa dengan kencangnya.
“Teteeehhhhh….” Teriak Syta yang menyadari kehadiran Fani bersama Bagas.
“Ya…Allah Syta… Teteh kangen banget sama kamu,” ucap Fani yang kini sudah berpelukan dengan Syta. Sedangkan ketiga pria dewasa disana hanya bisa memandang heran dengan kedua wanita yang masih saling berpelukan itu.
“Ada apa ini, kok teriak-teriak?” tanya Bu Rita yang sudah menghampiri anak-anaknya yang berada di ruang tamu.
__ADS_1
“Ini Ma, temen Akbar sama Adiknya yang tadi bawain mobil Bagas kesini,” jawab Akbar.
“Assalamu’alaikum Tante, saya Aziz,” ucap Aziz seraya meraih tangan Bu Rita dan mencium punggung tangannya.
“Wa’alaikumsalam Nak, saya Mamanya Akbar sama Fani. Makasih ya sudah mau direpotin sama anak Tante.”
“Nggak repot kok Tante, malah Aziz seneng bisa kesini ketamu sama Tante yang ternyata masih terlihat sangat muda ya, padahal Bang Akbar sudah punya anak tapi Mamanya masih terlihat cantik dan muda gini,” ucap Aziz mencoba mencari celah untuk bisa bersama Fani dengan mendekati Bu Rita dengan mulut manisnya. Membuat Fani, Syta, dan Bagas memutar bola matanya jengah.
“Bisa aja kamu ini, orang Tante udah tua gini keriput dimana-mana masih dibilang cantik, cucu juga udah mau tiga haha,” jawab Bu Rita.
“Beneran Tan, Dek sini salim dulu sama Tante,” pinta Aziz yang melihat Adiknya masih betah merangkul wanita idaman hatinya.
“Sa…saya…..”
Prangg…..(Suara gelas yang jatuh beserta nampannya).
“Aziz… Syta…” ucap wanita paruh baya dengan lirih, membuat suasana tiba-tiba terasa menegangkan.
“A…Abang.. ay..yo pul..lang..” ucap Syta terbata-bata sedangkan Aziz dia sudah tampak menegang, melihat wanita paruh baya yang sudah lama dia cintai dan sekaligus dia benci.
“Mama, kenal sama Bang Aziz dan Syta?” tanya Bagas mencoba mencari tahu sumber ketegangan.
“Di..dia anak-anak Mama yang selama ini Mama cari,” jawab wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Bu Eni Ibu sambung Bagas yang ternyata Ibu kandung dari Aziz dan Syta.
Brugh…
Tubuh Syta kini sudah ambruk diatas karpet, tanpa ada yang sempat menangkapnya. Akbar satu-satunya orang yang tidak penasaran karena memang dia tidak suka ikut campur dengan masalah orang lain, menjadikan satu-satunya yang sigap membopong Syta menuju sofa di ruang keluarga, disusul oleh Aziz yang kini sudah tampak pucat wajahnya.
“Apa betul Tante Eni calon Mamer aku itu Ibu kandungnya Bang Aziz dan Syta? Yang Syta ceritain ke aku kalau Ibunya itu udah selingkuh dan ninggalin suami dan anak-anaknya? Kalau iya, kenapa Tante Eni sangat baik kepada A Bagas tapi kejam pada anak-anaknya? Hmmm….. rumit sekali,” ucap Fani dalam hati.
***
__ADS_1
Terimakasih telah membaca…..