
Selamat membaca….
***
Hari terus berganti, satu minggu sudah dilalui Fani dengan perasaan tak menentu, perasaan rindunya terhadap Bagas terasa lain dihatinya entah karena sudah saling mengungkapkan perasaan atau karena dia sudah menyadari perasaan terdalamnya pada Bagas. Semalam sewaktu sedang packing oleh-oleh untuk keluarganya, Qiana Kakak iparnya menghubunginya dan mereka pun melakukan video call selama satu jam penuh. Fani menyadari betul bahwa waktu yang dilaluinya di Korea terasa sangat lama saat melihat banyak perubahan dan perkembangan pada si sulung Dafa yang akan segera memiliki dua orang adik sekaligus. Bahkan perut Qiana kini sudah tampak lebih besar, karena akan memasuki usia 6 bulan. Andin juga dibuat gemas saat melihat tingkah konyol Dafa yang seolah sedang menghibur adik-adiknya, padahal mau bertingkah seperti apapun kedua adiknya belum bisa melihat tingkah Dafa.
Selama satu minggu ini juga Andin beralih profesi sebagai tour guide bagi seorang pria yang sangat menyebalkan bagi Andin, tapi lagi-lagi demi sahabatnya ia rela meredam egonya. Layaknya jalan di pegunungan kalau nggak berkelok ya naik-turun begitupula dengan cara berkomunikasi dua makhluk yang baru bertemu kurang dari dua
minggu itu, selalu saja ada yang mereka perdebatkan. Seperti sekarang ini, saat Fani meminta keduanya untuk mengantarkan ke Bandara bukannya segera berangkat malah sibuk rebutan siapa yang akan mengemudi mobil Andin. Sampai suara perempuan menghentikan perdebatan dua insan itu.
“Buruan naik, ntar aku tinggal baru tahu rasa deh bingung-bingung daaahh…” ucap Fani yang kini sudah duduk di belakang kemudi membuat dua orang yang sibuk berdebat sedari tadi melongo dibuatnya.
“Tuh kan kamu sih!” sewot Andin yang kini sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Fani.
“Eh, enak aja salah aku ini mah udah jelas salah kamu kebanyakan omong. Ini juga kenapa jadi gini, kenapa aku yang jadi duduk di belakang gini kayak anak ABG dianter sekolah, harusnya aku yang nyetir tadi.” Geurutu Aziz yang merasa harga dirinya terlukai oleh kedua gadis dihadapannya ini.
“Udah diem, tau gituh tadi aku naik taxi aja. Mana ada kayak gini ceritanya, orang yang mau diantar malah nyupirin orang yang mau ngantar.” Ucap Fani yang sudah melajukan mobil Andin di jalan raya berbaur dengan mobil-mobil lainnya.
“Lagian ya Fan, aku kan takut kalau Pria Tua yang duduk di belakang itu yang mengemudi ke bandara malah nggak akan sampai-sampai dan kamu bakal ketinggalan pesawat.”
__ADS_1
“Heh, kamu kira aku mau mensabotase kepulangan Fani dasar otak gesrek negatif mulu bawaannya.” Wajah Aziz tampak merah padam mendengar tuduhan tak berdasar yang dilayangkan oleh wanita cerewet yang baru dia kenal.
“Aishh… kamu yang punya pikiran negtaif malah aku yang dituduh. Orang aku tadi nggak ngizinin Bang Aziz buat nyetir itu karena Bang Aziz baru disini takutnya belum terbiasa dengan rambu-rambu lalu lintas di Korea Selatan ini terus jadinya menghambat perjalanan menuju Bandara.” Kilah Andin, padahal sejak semalam dia selalu mewanti-wanti Fani agar tidak berpamitan pada Aziz, takut jikalau lelaki itu akan menghalanginya kembali ke Indonesia.
Aziz berdecih tak percaya, selama satu minggu berkeliling Korea bersama Andin dia sudah paham jika sahabat dari Fani itu memiliki tingkat kepercayaan yang kecil terhadapnya, selalu saja berpikiran negatif tentangnya, bahkan beberapa kesempatan dengan blak-blakan Andin menuduhnya hanya berpura-pura mengikhlaskan Fani untuk Bagas hanya karena dia tak segera kembali ke Indonesia padahal sudah ditolak Fani.
“Udah ih berantem mulu, nggak bayangin kalau kalian berjodoh rumah kalian pasti ramenya kayak pasar kaget hahaha.” Andin dan Aziz mendelik sebal.
“Nggak usah mikir yang aneh-aneh, orang aku seminggu lagi mau pulang.” Ucap Aziz.
“Eh Bang inget loh, bantuin bikin promo di channel kamu biar restaurant Andin sama aku disini rame pengunjung setidaknya orang Indonesia yang lagi di Korea bisa makan ke restaurant kita.”
“Iya, udah aku buatin konsepnya semalem yang penting temenmu yang cerewet itu bisa nurut sama Abang nggak bawel.” Andin yang merasa dirinya dibawa-bawa pun menyabikkan bibirnya, ingin ikut menimpali tapi dirinya cukup malas untuk berdebat dengan Aziz untuk kesekian kalinya.
“Dateng ke Korsel turun dari pesawat langsung disuguhin pemandangan Bandara yang oke punya, Ndin. Auto hilang capeknya…”
“Ck, alay banget. Buruan giih masuk sono, mudah-mudahan nggak pakai delay ya cuacanya cukup bersahabat. Hati-hati, titip salam buat keluarga besar Om Amri dan Tante Rita sama Bagas juga ya, jangan lupa titipan aku kasihin ke Dafa ya.” Tangan saling berpaut lalu saling memeluk, dua gadis itu melupakan sosok lelaki yang sudah menggerutu tak jelas sambil memegang koper milik Fani.
“Ck, sudah selesai belum? Alay banget pake pelukan aku aja nggak dipeluk.” Ucap Aziz yang tiba-tiba menghancurkan suasana haru dari kedua sahabat yang akan kembali berjarak.
__ADS_1
“Dasar pria tua menyebalkan, selalu mengganggu saja.” Andin pun melepaskan pelukannya pada Fani, hmm hal ini selalu dia rasakan ‘kehilangan’. Bagi Andin bisa tinggal di luar negeri apalagi mendapat kesempatan bersekolah dengan mengandalkan beasiswa adalah suatu anugerah, meski harus berjarak dengan Mami dan Papinya yang tinggal di Singapura. Bertemu dan kembali berpisah seperti ini memang sudah biasa dia rasakan, tapi tetap saja dia
merasakan kesedihan dan kadang sampai membuatnya berpikir ulang untuk melanjutkan kehidupannya di Korea atau kembali ke rumah kedua orang tuanya.
“Ishhh, ternyata cengeng juga ya si bawel.” Seloroh Aziz, membuat Andin langsung mengusap air matanya ia benar-benar melupakan Aziz yang sedang berdiri tak jauh darinya.
“Udah ih, kalian itu berantem mulu. Baik-baik di sini ya Ndin buruan balik ih ke Indo, Om sama Tante masih punya rumahkan di Indo? Asa nggak pernah mudik kalian itu. Nitip calon kakak ipar ya, jangan di apa-apain hahaha.” Fani menarik kopernya yang berada tepat di sebelah Aziz, lalu menatap sekilas lelaki yang sudah membuat hidupnya penuh dengan kejutan dan sekaligus menguji kesabarannya.
“Makasih Bang, semoga Abang lekas menemukan kebahagiaan Abang. Fani dan A Bagas siap bantu Abang buat meminta maaf sama Tante Eni. Kalau bisa nanti pas pulang bawa calon biar bisa dikenalin sama Tante Eni.” Aziz yang awalnya mendengar dengan serius tiba-tiba menjadi sebal ketika Fani mengucapkan ‘pulang bawa calon’.
“Jangan mentang-mentang bakal ketemu Bagas, jadi menyebalkan gini.”
“Hehehehe, oke deh bye-bye double A. Assalamu’alaikum…”
"Wa'alaikumsalam," sebelum beranjak Fani menyempatkan untuk memeluk tubuh sahabatnya yang sudah kembali menitikan air matanya, berat memang tapi beginilah siklus kehidupan datang dan pergi adalah sebuah keharusan karena tidak ada yang akan benar-benar menetap di dunia ini. Kali ini air mata yang ditahan oleh Fani sedari tadi pun ikut menetes, sahabat yang sudah lama tak pernah ia jumpai kini harus ia tinggalkan, bersama dengan usaha yang ia rintis berdua di Korea ini semoga bisa menjadi symbol persahabatan mereka dan menjadi alasan eratnya persahabatan beda negara ini.
“Good bye Fani, good bye my heart.” Ucap Aziz dalam hati, dengan kembalinya Fani ke Indonesia menjadikannya pertanda perjuangannya sudah selesai kini saatnya ia benar-benar mengikhlaskan Fani untuk adik tirinya.
***
__ADS_1
Selamat tinggal Korea…
Terimakasih pembaca…..