Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Sarapan Wajah


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Sinar mentari perlahan muncul menghangatkan bumi di pagi hari, udara dingin Bandung masih sulit terkalahkan oleh kehangatan sinar mentari pagi ini, membuat siapa saja malas beranjak dari kehangatan tempat tidur yang pandai membuat nyaman. Seperti pagi ini Fani dan Tiwi lagi-lagi terbuai oleh kenyamanan kasur serta selimut tebal yang membalut tubuh keduanya, membiarkan Qiana berjibaku sendiri di dapur untuk membuat sarapan di temani bocah berpipi gembul yang tengah asyik bermain mobil-mobilan di meja makan.


Sejenak melupakan rasa khawatir yang dideranya sedari beberapa hari terakhir di tambah ancaman Bella kemarin sore membuatnya tidak bisa jauh dari Dafa dan harus sering memberi kabar pada Akbar, karena kemarin Fani langsung mengirim rekaman percakapan Qiana dan Bella kepada Akbar yang membuat calon suami Qiana itu lebih waspada.


"Bllluuummm...bluummmm...blummm....ngeeeennggggg....cyiiiiitttt..." suara Dafa yang sedang menirukan suara mesin mobil membuat Qiana tersadar dari lamunannya, untuk saja beras yang diaduknya bersama air itu tidak mudah gosong saat ditinggal tuannya melamun.


"Astagfirullah, kok jadi melamun gini," ucap Qiana sambil melanjutkan mengaduk bubur yang sedang dibuatnya.


"Nda tenapa?" tanya Dafa karena mendengar gumaman Qiana.


"Bunda nggak kenapa-kenapa sayang," kata Qiana.


Qiana pun melanjutkan membuat bubur ayamnya, setelah buburnya dirasa telah matang dan cukup kental, Qiana kemudian menyuir dada ayam dan  memotong seledri untuk di jadikannya toping bersama kedelai dan kerupuk yang sebelumnya telah di goreng oleh Qiana. Tak lama bubur ayam buatan Qiana pun jadi, Dafa yang sedari tadi sudah menunggu bubur pun langsung meminta Qiana untuk menyuapinya, tapi sebelum itu Qiana membangunkan kedua Tantenya Dafa yang masih tertidur pulas seusai sholat subuh tadi.


"Dek.... Tiw.....bangun, udah siang nih sarapannya juga udah jadi. Ayo buruan bangun kasihan Dafa udah nungguin," ucap Qiana sambil mengguncang lembut tubuh kedua wanita di hadapannya itu.


"Hmmm... bentar mbak," ucap Fani yag masih memejamkan matanya.


"Ayo kok pada bangun ah, masak kalah sama Dafa," kata Qiana.


"Iya..iya nih kita bangun," ucap Tiwi yang sudah membuka mata dan segera menarik Fani agar duduk bersama dengannya.


"Cepetan aku tunggu di meja makan, 5 menit ya kasihan Dafa udah laper," kata Qiana sambil berlalu meninggalkan keduanya.


"Iya kita cuci muka dulu." jawab Tiwi sambil beranjak dari duduknya dan berniat ke kamar mandi.


"STOP...MBAK...!!" teriak Fani sambil menahan lengan Tiwi.


'Kenapa sih, berisik ih," ucap Tiwi sambil mengusap-usap telinganya.


"Aku duluan ke kamar mandinya, udah belet pipis," kata Fani yang langsung berlari ke arah kamar mandi, Tiwi yang juga sedang menahan pipis pun langsung mengejar Fani.

__ADS_1


"Dasar si Fani anak nakal, suka mencuri ketimun," kata Tiwi sambil melagukannya.


Qiana mendengar kericuhan dari dalam kamar yang di tempati Fani dan Tiwi tidur pun hanya menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan sikap kedua wanita terdekatnya itu.


"Dafa Bunda suapin dulu ya, kalau nunggu kedua Tantenya Dafa nanti lama," ucap Qiana.


"Iya Nda, Dafa mau maem sekalang aja di syuapi Nda," ucap Dafa.


Drrrtttt...drttt....drrttt.... getaran hp Qiana membuat pandangan  yang semula menatap bubur ayam berpindah menuju layar hp yang menampilkan nama Mas Akbar sedang melakukan panggilan vidio. Di gulirkannya layar itu menuju gabar telepon berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum Qi," ucap Akbar yang melihat wajah Qiana di layar hpnya.


"Wa'alaikumsalam Mas, Mas nggak kerja?" tanya Qiana sambil membetulkan posisi hpnya agar Akbar dapat melihatnya dan juga Dafa disisinya yang asyik menikmati suapan demi suapan bubur ayam ke dlaam mulut kecil yang menggemaskan itu.


"Kerja, nanti jam 10 Mas baru berangkat langsung ke tempat meeting sama client Qi. Itu Dafa fokus banget makannya," ucap Akbar sambil memperhatikan anaknya yang tengah fokus mengunyah bubur ayam.


"Oh iya Mas, hati-hati nanti berangkatnya semoga meetingnya lancar ya. Iya ini Dafa lagi Qiana suapin bubur ayam, suka banget dia Mas sama buryam jadi tadi aku bikin ini buat Dafa biar banyak makannya." jawab Qiana yang membuat senyum manis terbit di bibir Akbar.


"Aamiin... Wah bener-bener anakku Dafa ini, kesukaannya sama kayak Ayahnya, hahaha," kata Akbar sambil memperhatikan Dafa yang lahap memakan bubur ayamnya.


"Atalammualaitum Ayah, Dafa agy maem bubul ayam disyuapi Nda," ucap Dafa sambil melihat ke arah ponsel Qiana yang menampilkan wajah Ayahnya.


"Wa'alaikumsalam anak Ayah... wah lagi sarapan ya, Ayah nggak di bagi makanannya?" goda Akbar.


"Ayah mau?" tanya Dafa dengan mata yang semakin melebar memperhatikan dengan jeli wajah Ayahnya yang tengah tersenyum tampan di layar hp Bundanya.


"Mau, Ayah belum sarapan." jawab Akbar.


"Ayah syini mem tama Dafa, bubulna enyakkk. Tadi Nda masyak sendili," ucap Dafa sambil memajukan wajahnnya agar lebih leluasa menjangkau wajah Ayahnya yang ada di layar hp.


"Hahahaha, iya besok ya Ayah ke rumahnya Bunda. Kita sarapan bareng terus kita ke Bandara ya jemput Nenek sama Kakek," ucap Akbar dengan senyum yang tak pernah luntur sedari tadi.


"Doooorrr..... hayoooo... masih pagi nih, udah sarapan wajah aja," ucap Fani yang baru bergabung dan langsung mendudukan diri di sebelah Dafa.


"Apasih, sarapan wajah emang mukanya Mas Akbar, Mbak camilin apa?" tanya Qiana sambil menahan tawanya, ada-ada saja ucapan calon adik iparnya ini.

__ADS_1


"Hahaahaha, Mbak mah gituh padahal nahan ketawa itu. Halloooo... Abang, main kek kesini jangan video call mulu, ketemu langsung lebih syahduu," ucap Fani.


"Iya besok mau ke sana biar Qiana sarapan wajah Abang langsung nggak lewat hp lagi," ucap Akbar.


"Eh, si Abang udah bisa ngebanyol sekarang udah meleleh nih gunung esnya. Ketawa napa Bang, udah nggak usah jaim sama Adek sendiri," kata Fani yang gemas dengan Abangnya, dari dulu selalu jaim sama orang-orang sekitarnya dan sangat susah mengekspresikan apa yang di rasa kepada siapaun itu, termasuk Bella yang waktu itu masih berstatus istrinya, tapi di depan Qiana dan Dafa, Akbar lebih terbuka dan terlihat apa adanya, mungkin karena Akbar sudah menemukan apa yang dia cari selama ini dan itu ada didiri Qiana dan Dafa.


"Apasih Dek, oh iya... kamu itu ya ke Bandung nggak ke rumah Abang malah ke rumahnya Qiana, awas aja kalau kamu sampek ngerepotin Qia, Abang lempar kamu ke Jakarta lagi," ucap Akbar.


"Hahaha, Abang mah... cemburu ya Fani bisa deket-deket sama Mbak tapi Abang nggak bisa hahaha... syukullliiiinnn..." timpal Fani dengan tawa yang semakin keras, sedangkan orang-orang di meja makan sudah sibuk dengan mangkuk buburnya masing-masing.


"Udah ah , Abang mau siap-siap ke kantor dulu. Balikin hpnya ke Qiana sama Dafa lagi!" perintah Akbar.


"Iya..iya ihh... sewot amat jadi orang." jawab Fani sambil menyerahkan hp kepada Qiana.


"Qi... Mas siap-siap dulu, jangan lupa ngabarin Mas kalau Bella ngehubungi kamu lagi. Jangan berpikiran aneh-aneh ya tapi tetep kudu waspada." pesan Akbar.


"Iya Mas, pasti nanti di kabari kalau ada apa-apa. Jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor, semoga lancar urusannya hari ini," ucap Qiana.


"Aaamiin... iya abis ini Mas sarapan. Dafa, Nakk... Ayah siap-siap kerja dulu ya, Dafa jangan nakal ya di rumah sama Bunda," pesan Akbar.


"Iya Ayah , Dafa indak natal tok." jawab Dafa.


"Pinter, dadah Assalamu'alalikum," kata Akbar mengakhiri percakapannya pagi ini.


"Wa'alaikumsalam.." jawab semua orang yang ada di meja makan, Qiana pun segera menyimpan hpnya.


"Tiwi dimana Dek? Kok nggak kesini-sini," tanya Qiana.


"Hehehe, kayaknya masih di kamar mandi deh Mbak tadi rebutan kamar mandi sam aku soalnya," ucap Fani.


"Kalian itu uudah kayak anak kecil aja, padahal di deket dapur kan juga ada kamar mandi," kata Qiana sambil menggelen-gelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan sahabat dan calon adik iparnya ini.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Udaah ahh... mau bobok lagi mumpung cuaca mendung-mendung adem.... yang masih beraktifitas di luar rumah jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan. Siap sedia jas hujan atau payung juga ya, karena sudah memasuki musim penghujan. Dadaaahhh... mari tarik selimut lagi....

__ADS_1


__ADS_2