
Selamat membaca......
***
Mobil berwarna hitam yang dikendarai Bagas sudah memasuki kawasan rumah Nenek Mira, ada satu hal yang dia lupakan. Berangkat dan menginap bersama Om dan Tante sahabat Papanya berarti akan bertemu dengan gadis manis yang selalu mengekor kemana pun dia pergi jika bertamu ke rumah Akbar sewaktu kecil sampai remaja dulu.
“Semalam di rumah Om Amri yang di Jakarta dia udah nggak ada, terus kata Tante dia pergi duluan. Tapi dia di rumah Qiana apa di rumah Bang Akbar ya?” tanya Bagas dalam hati.
Bagas pun berinisiatif untuk membeli camilan khas Bandung sebelum belokan terakhir menuju rumah Nenek Mira. Disana ada penjual cilok, cimol, odading, seblak, es cincau, dan es oyen, Bagas yang ingat jika Fani remaja dulu sangat menyukai jajanan khas Bandung itu pun, membelikan semua jajanan Bandung yang ia lihat.
Tak berselang lama Bagas sudah sampai di rumah Nenek Mira, belum sempat ia turun dari mobil matanya sudah menangkap sosok wanita yang sangat ia rindukan karena sudah hampir setahun belakangan ini dia tidak pernah
lagi bertemu dengan wanita itu. Tawanya begitu lepas bersama anak kecil yang berada di pangkuannya.
“Dia benar-benar tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan penyayang, untung sekarang aku memiliki kesempatan lagi untuk menjadikannya pendamping hidupku hahaha, selamat berjuang Bagas!!! You can do it!!” Ucap Bagas menyemangati dirinya sendiri.
Bagas turun perlahan dari mobil hitam milik Pak Amri dan berjalan perlahan ke arah Fani dan Dafa yang sedang asyik bercengkrama di atas ayunan.
“Dafa nanti sore kita jalan-jalan ke taman ya, terus kita beli jajan yang banyaakkkk bangettt…” ucap Fani yang sedang asyik menggoda Dafa di ayunan depan rumah Nenek Mira.
“Hihihihi iya Ante, beli maemmm banak-banak.” Jawab Dafa sambil tertawa karena menahan geli di perutnya yang sedari tadi mendapat gelitikan dari Tantenya. Fani dan Dafa yang belum menyadari kedatangan Bagas masih asyik tertawa.
“Dooorrrr…” teriak Bagas mengagetkan Fani dan Dafa.
“Astagfirullah… Bang Gas,” ucap Fani sambil mengusap dadanya.
“Tadet, Dafa. Om natal nanti di malahin Ayahnya Dafa loh,” kata Dafa.
“Hihihihi, kalian ini lucu banget sih. Halo Dafa lama ya Om nggak ketemu sama Dafa,” ucap Bagas sambil mengusap kepala Dafa.
“Om tiapa?” ucap Dafa yang sudah tak mengenali Bagas yang dulu sering berkunjung ke panti.
“Om temennya Ayah sama Bunda kamu, ayok masuk ke dalem sama Om, Om bawa jajanan ini buat Dafa ada odading hehehe,” kata Bagas sambil terkekeh geli karena merayu anak kecil dengan odading yang di bawanya. Dia lupa jika ada anak kecil di rumah ini, sehingga tidak berfikir tentang apa yang harus ia beli untuk Dafa.
“Odading? Apa itu Om? Ayo Dafa mau ikut Om,” ucap Dafa dengan penuh rasa penasaran, Dafa pun turun dari ayunan dan berjalan menghampiri Bagas untuk meminta gendong.
__ADS_1
“Ayo kita lihat di dalam aja odadingnya, ayo Fan masuk.” Ajak Bagas.
Ternyata semua keluarga Akbar sedang berkumpul di ruang tengah meninggalkan keluarga dari Qiana yang langsung beristirahat karena perjalanan jauh dari Surabaya, mereka semua tampak sedang serius berbincang, ya apalagi jika tidak membahas tentang kelakuan Bella tadi pagi dan membahas tentang pernikahan yang akan berlangsung dua minggu lagi.
“Assalamu’alaikum semua…” ucap Bagas seraya memasang senyuman yang paling tampan dan ramah.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab serempak.
“Bagas sini Nak, duduk di samping Om sini,” ucap Pak Amri.
“Iya Om, sebentar ini Bagas bawa jajanan Bagas ke dapur dulu,” kata Bagas yang seolah tahu letak dapur Qiana.
“Eh, biar saya saja Pak Bagas. Pak Bagas duduk aja, biar saya yang menyiapkan semuanya.” Cegah Qiana sungkan.
“Udah Mbak, biar Fani aja. Ayo Dafa ikut Tante,” ucap Fani.
“No, Dafa mau ikut Om Bagas mau liat odading,” ucap Dafa sambil melingkarkan tangannya di leher Bagas.
“Yaudah padahal odadingnya kana da di Tante bukan di Om Bagas,” kata Fani sambil meraih kantong plastic yang di jinjing Bagas di tangan kiri Bagas, lalu mengayunkannya ke depan.
“Om ini kuncinya,” ucap Bagas sambil menyerahkan kunci mobil yang tadi dia gunakan untuk mengantar Bella ke pondok.
“Hah.. oh iya..iya, sini,” kata Pak Amri sedikit kaget karena sedari tadi sibuk memperhatikan interaksi anaknya yang berujung jadi lamunan, sampai-sampai tidak menyadari ketika Bagas dan Dafa sudah duduk di sampingnya.
“Gimana tawaran Om?” bisik Pak Amri pada Bagas.
“Bagas akan berjuang dulu Om, jangan dikasih tahuin dulu ke Fani. Biar Bagas pakai cara Bagas, yang penting udah dapat restu dari Om dan nantinya biar Fani nggak merasa terpaksa nerima Bagasnya,” ucap Bagas yang juga
ikut berbisik.
Semua orang yang tengah berkumpul itu pun melihat ke arah dua pria dewasa yang tengah sibuk berbisik, dan seorang anak kecil yang sibuk memperhatikan keduanya dari bawah karena posisinya yang sedang di pangku oleh
Bagas.
“Nanti om kasih tahu cara JADUL buat liat Fani ada hati nggak sama kamu, soalnya Om udah penasaran banget.” Bisik Pak Amri dan hanya di angguki oleh Bagas karena Fani sudah datang di bantu oleh Bi Ani membawakan
__ADS_1
jajanan yang tadi sempat di beli Bagas saat perjalanan pulang.
“Ini ya jajanannya ayo dimakan, nanti esnya pada ngambil sendiri di belakang bingung milihinnya soalnya ada es oyen sama es cincau jadi nanti pada ambil sesuai selera masing-masing aja,” kata Fani sambil meletakan dua
piring cimol di tikar yang di gunakan untuk lesehan di ruang tengah.
“Iya, nanti kita ambil sendiri tenang aja pasti habis kok.” Jawab Tiwi.
“Mana odadingnya Om?” tanya Dafa sambil menarik-narik jemari Bagas.
“Itu tuh odadingnya, Fan minta tolong dong odadingnya Abang nggak sampek ini,” ucap Bagas yang sudah mencuri start sebelum diberi tahu cara jadul oleh Pak Amri.
“Ini,” kata Fani sambil menyodorkan odading ke arah Bagas dan Dafa, membuat Pak Amri kesal di buatnya, karena keduanya masih sama-sama jaim. Qiana yang melihat Pak Amri kesal pun akhirnya mengajak Fani dan Tiwi pergi dari ruang tengah menuju dapur dengan alibi memasak, padahal niatnya ingin memberi kesempatan Pak Amri dan Bagas mengobrol.
“Nak, kamu jangan ikutin cara Om kamu nanti gagal,” ucap Bu Rita yang sebenarnya sedari tadi ingin menyela acara bisik berbisik suaminya dan bakal calon mantunya itu.
“Apa sih Ma, jangan gitu deh. Karena dengan cara itu Mama akhirnya luluhkan sama Papa.” Goda Pak Amri.
“Udah ah Papa ngaco aja dari tadi, sini biar pakai caranya Mama aja,” kata Bu Rita seraya mendekat ke arah Bagas. Akabar yang memperhatikan tingkah kedua orang tuanya pun hanya bisa menggelengkan kepala dan memilih untuk memperhatikan Dafa yang sudah ada di pangkuannya dan sibuk dengan odading yang ada di tangannya.
“Apa Tante?” tanya Bagas yang juga penasaran, karena menurut pemikirannya cara yang akan di berikan oleh Bu Rita akan lebih berpeluang berhasil karena sama-sama perempuannya dengan Fani terlebih dia adalah Ibu kandungnya pasti akan lebih paham daripada Pak Amri yang menurut pandangan Bagas tidak terlalu dekat Fani karena kesibukannya di kantor.
“Sini Tante bisikin,” ucap Bu Rita membuat Bagas dan Pak Amri lebih mendekat ke arah Bu Rita.
“Kamu nanti pura-pura sakit di depan Fani, atau gini-gini nanti kamu ajak Fani jalan-jalan ke depan terus kamu pura-pura pingsan terus pasti kan dia bakal panik, nah nanti Tante yang akan menilai raut wajahnya anak
Tante dia cuman panik biasa atau panik banget gituh, gampangkan?” bisik Bu Rita dengan antusias, begitupun dengan Pak Amri dan Bagas yang tak kalah antusias mendengarkan rencana Bu Rita sampai tak menyadari jika orang yang tengah menguping bisikannya bertambah satu orang.
“Hffftttt… hahahahaha…. Mama..Mama…itu liat siapa yang lagi Mama bisikin ada berapa orang?” Tawa Akbar yang sedari tadi di tahan tak bisa ia bendung lagi.
“HA… FANIIIII…. KENAPA KAMU IKUTAN DENGERIN BISIK-BISIK TENTANGGA MAMA!!!!” Teriak Bu Rita yang kesal dengan tingkah anak perempuannya itu.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca..... sehat selalu readers tercinta.....