
Selamat membaca readers……….
Aku berdiri dan memegang pagar besi, kepalaku menengadah keatas menatap langit malam yang hitam pekat tak ada gemerlap bintang dan cahaya rembulan malam ini. Gelap dan dingin. Sejenak aku mengingat ucapan Mbak Tiwi tadi sore, memang betul aku harus sudah mulai benar-benar mengikhlaskan dan melupakan masa lalu tersuram dalam hidupku, apalagi menyangkut pautkan Bang Aziz di dalamnya, meski sikapnya memang betul-betul annoying. Aku harus berdamai demi diriku sendiri tentunya.
Aroma air hujan yang membasahi tanah masih menyeruak di indra penciumanku, semilir angin pun masih setia membelai lembut wajahku, gesekan ranting dan dedaunan seakan menjadi harmoni yang syahdu di pendengaranku. Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah, adalah salah satu cara berdamai paling awal.
Sejujurnya kadang aku merasa bersalah dengan Bang Aziz, karena hanya ada kemiripan dengan mantan tunanganku aku jadi meluapkannya dengan kekesalan. Prank yang dilakukannya waktu itu memang betul membuatku kesal, tapi sebetulnya aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi, apalagi setelah tadi menyempatkan menonton isi kontennya di aplikasi berwarna merah bersama Mbak Qiana dan Mbak Tiwi.
Ternyata memang betul semua yang ada di muka bumi ini ditakdirkan untuk berpasang-pasangan, bukan hanya pria dan wanita, jantan dan betina, bahkan sikap, sifat, dan rasa pun dihadirkan dalam bentuk berpasang-pasangan. Seperti kebaikan yang selalu disandingkan dengan keburukan, bukan karena keduanya sepadan tapi karena keduanya selalu datang beriringan.
Baik dan buruk akan selalu ada, bahkan didiri kita sendiri pun pasti ada sisi baik dan buruk. Tidak ada manusia yang terlahir sempurna di muka bumi ini, dan aku harus menyadari ini sepenuhnya agar apabila bertemu dengan orang yang sedang melakukan kesalahan, hati bisa berlapang dada untuk memaafkannya bukan malah membencinya atau berhenti berinteraksi dengan mereka.
“Onty, disuluh Bunda masyuk mamam dulu bial cepet dueeede sepelti Ayah.” Ucap anak kecil sambil menarik-narik ujung baju tidurku, ya siapa lagi jika bukan Dafa si gembil dari rumah Bang Akbar wkwk.
“Siap laksanakan komandan!!!” ucapku seraya membalikan tubuhku menghadap Dafa.
“Aku mau digendong, boleh?” haha tumben sekali dia bertanya dulu ketika meminta gendong, ah mungkin ini perintah Bang Akbar karena Dafa sudah semakin berat dan berat.
“Boleh, tapi sun Onty dulu.” Tawarku dan dia mengangguk semangat, sudah hampir beberapa bulan ini Dafa dilarang Bang Akbar untuk meminta gendong pada Bundanya, karena kehamilan Mbak Qiana yang sempat
lemah jadi dilarang membawa yang berat-berat termasuk menggendong Dafa, maksimal hanya memangkunya saja itu pun dalam durasi yang sebentar.
Cup.. Dafa menciumku di kening
Cup…Cup..Cup… Dafa mencium pipi kanan, hidung, dan pipi kiriku dan langsung saja kurengkuh tubuh mungil itu kedalam gendonganku meski sudah berat untuk di gendong apalagi untuk ke ruang makan yang ada di lantai satu, ya lumayan untuk membakar kalori cireng yang aku makan tadi sore hahaha.
__ADS_1
“Onty tau tidak, kata Ayah nanti pelut Bunda akan beeesaaall sekali kalena Adiknya Dafa pintel mamam di dalam pelut Bunda. Apa Dafa dulu juga ada di pelut Bunda, Onty?” eh pertanyaan apa ini, Bang aku harus menjawab bagaimana ini. Anakmu sungguh membuatku mati berdiri dengan pertanyaannya sedari pagi tadi. Bismillah Ya Allah, semoga jawabanku dapat dimengerti Dafa dan dia tidak banyak bertanya lagi.
“I..iya, setiap anak itu dibesarkan dulu diperut Ibunya terus kalau sudah sembilan bulan anaknya akan lahir ke dunia. Nanti kita lihat sama-sama ya, Adiknya Dafa kalau sudah lahir ke dunia.” Ucapku.
“Otehhh, nanti Dafa mau beli lobot-lobotan yang buaaannnaaakk banet bial Dafa bisa main lama-lama sekali sama Adiknya Dafa.” Jawabnya dengan sangat antusias sampai membentangkan tangannya ke kakanan dan ke kiri. Aduh Nak lagi di tangga ini, diem-diem bae atuh kalau kejengkak gimana coba.
“Malam, Fan… Wih anak ganteng Bunda pinter banget disuruh panggil Ontynya balik-balik minta digendong hihihi.” Ucap Mbak Qiana sambil terkikik kecil.
“Malam juga Mbak, waahhh nasi liwet asyiikkkk…. Enak banget ini,.” Ucapku setengah berteriak dan melompat kecil tak sadar jika masih menggendong Dafa, untung saja tulangku masih bagus sehingga refleksku ketika melihat nasi liwet dan kawan-kawannya tak menyebabkan encok.
“Huss… pamali ih teriak-teriak di depan makanan.” Sergah Mbak Tiwi.
Sikat gezzz…. Makan dulu, oh iya dan ini adalah salah satu contoh baik-buruk yang selalu datang beriringan. Pertama ini sangat baik, karena nasi liwet dan kawan-kawannya selalu menggugah selera makanku, kabar buruknya mereka sangat ampuh menaikan berat badanku secara ini dihidangkan mayem-mayem huhuhuhu….
***
“Iya, baweeel. Udah ah sana berangkat nanti telat.” Jawab Mbak Qia.
“Aku boleh benerankan pinjem sepeda motornya?” tanyaku lagi, untuk memastikan.
"Sumuhun eneng, sok manga dibawa motorna aya di garasi. Dikaluarkeun kusorangan nyak,” Jawab Mbak Qia, eiitdah jadi nyunda gini ngomongnya padahal baru semalem ngomong bahasa jawa yang sama sekali aku nggak tahu apa yang dibicarain.
“Eleeuhhh, si Eteh ngomong yag jelas napa. Yaudah deh aku berangkat dulu, papaaaayyyy…. Assalamu’alaikum.” Pamitku.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Mbak Qia.
__ADS_1
***
Tin…tin… tin…
“Dafaaaa, Onty berangkat kerja dulu dadahhhh...” teriakku saat melihat Dafa yang sedang mengantre untuk membeli bubur ayam bersama Mbak Tiwi di dekat pos perumahan.
Aku melihat Dafa kaget karena teriakanku, tapi setelah melihatku dia ikut membalas senyumanku bahkan melambaikan tangan mungilnya ke arahku. Senangnya…
Selama perjalanan ke toko aku memacu kendaraanku berkisar di 40km/jam sampai 60km/jam sewaktu menjumpai jalanan yang cukup lenggang. Tapi tiba-tiba motor matic yang aku kendarai mendadak oleng, untung aku cukup lihai untuk menyeimbangkannya. Perlahan aku menepikan kendaraanku untuk aku cek. Dan eng..ing…eng… ban belakang bocor, alamat bakal olahraga pagi ini.
Dengan berat hati mau tidak mau aku harus mendorongnya sampai menemukan tambal ban terdekat. Motor yang cukup berat untuk aku dorong dalam keadaan ban bocor seperti ini. 100 meter, 200 meter, 300 meter, belum aku jumpai bengkel untuk menambal ban. Keringat sudah segede biji jagung rasanya, hufft… ngaso bentaran enak kali ya.
Tin…tin…tin… Astaghfirullah, kaget banget dah tiba-tiba ada mobil yang ngeklakson sambil mepetin mobilnya di deket motor yang aku parkirin di deket trotoar. Cuek ajalah, air mineral yang barusan aku beli di toko kecil itu jauh lebih menarik rasa-rasanya.
“Assalamu’alaikum.” Salam seorang laki-laki yang aku yakini baru turun dari mobil yang mepet-mepet tadi. Sedangkan aku masih sibuk dengan air minumku.
“Wa’alaikumsalam.” Ucapku sambil menutup botol air mineralku, dan jeng…jeng… ketika aku melihat siapa laki-laki yang menyapaku mataku membola dengan sempurna. Aishhh.. apa harus pagi-pagi ini aku menguji cobakan keikhlasan dan keramahanku pada Bang Aziz, sebagai tanda bahwa aku sudah baik-baik saja dengan kenangan buruk itu?. Mikir Fani..mikir cepetan, jangan salah mengambil keputusan.
“Bandung nggak kurang tempat nongkrong bagus, kenapa musti nongkrong di pinggir jalan seperti ini? Kurang kerjaan banget,” tuhhhh kan, ngomongnya nyebelin pakek banget.
Uji coba sekarang kagak nih.... Astaga naga...
***
Terimakasih semua… jangan lupa tinggalkan jejaknya ya…
__ADS_1