Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Good Bye Tiwi


__ADS_3

Selamat membaca…………..


***


Seminggu sudah terlewati dengan kejutan-kejutan yang tercipta setiap harinya, kini tiba saatnya Tiwi untuk segera pergi dari Bandung untuk kembali pulang ke Surabaya. Waktu yang sudah dinanti sedari lama akan segera tiba, hari dimana dia dan pujaan hatinya akan saling mengikat dan menentukan tanggal pernikahannya.


Disinilah mereka berada, di perjalanan menuju stasiun Kota Bandung dengan mengendarai mobil Qiana yang disupiri oleh Adik Ipar tercintanya. Obrolan seru selalu saja tercipta jika wanita-wanita telah berkumpul, mungkin entah dalam keadaan apapun jika wanita sudah berkumpul pasti ada saja yang akan dibahasnya.


“Dafa mau ikut Onty Tiwi ke Surabaya? Ketemu Kakek sama Nenek Dafa di sana, mau?” goda Tiwi yang melihat Dafa sangat senang saat memperhatikan miniatur kereta yang sengaja dibawanya, karena Bundanya bilang dia akan diajak bertemu dengan kereta yang lebih besar daripada mainan yang dibawanya saat ini.


“Ketemu Papa, Mama, Bang Leo sama Lea juga?” tanya Dafa sambil mengalihkan pandangannya ke arah Tiwi.


“Iya, ketemu sama keluarga Bundanya Dafa di Surabaya. Mau ya?” tanya Tiwi lagi.


Terlihat dengan jelas wajah Dafa yang tampak tertarik dengan ajakan sahabat Bundanya itu, tapi tak lama kemudian wajahnya berubah sendu.


“Ndak mau, Dafa mau disyini aja nemenin Bunda sama Adiknya Dafa. Mau jagain Bunda kalau Ayah lagi kelja,” jawabnya dengan polos, raut sendunya hilang seketika, ketika tangan mungilnya sudah mengelus-elus perut Bundanya yang sudah sedikit menonjol.


“Manis banget keponakan Onty, tapi masak cuma Bunda dan Adik aja yang dijagain Onty enggak dijagain nih sama Dafa?” ucap Fani pura-pura merajuk.


“Onty mau dijagain Dafa juga?” tanya Dafa polos.


“Iya mau lah  sayang,” jawab Fani.


“Kalau mau dijagain sama Dafa Onty halus tinggal di lumah yang sama dengan Dafa, balu Dafa bisa jagain Onty juga,” ucap Dafa dengan memperhatikan raut wajah Ontynya


“Hahaha…. Betul itu Nak, betul sekali. Jadi Onty Fani harus tinggal di rumah Ayahnya Dafa ya Nak biar Onty bisa dijagain sama Dafa juga.”


“Iya Bunda, kan kalau Onty tinggal jauh dali lumah yang kita tinggali, kan Dafa ndak bisa liat Onty apalagi jagain Onty.”

__ADS_1


“Hehehe, iya deh nanti Onty tinggal di rumah Dafa aja biar bisa dijagain sama Dafa,” jawab Fani dengan mengelus kepala ponakannya.


“Hihihi, geli aku denger adik ipar kamu ini Qi. Katanya mau di Bandung biar mandiri, tapi kok masih keluar masuk rumah Abang kamu kalau ada sesuatu?” goda Tiwi yang membuat Fani mengernyitkan dahinya seraya berpikir.


“Mandiri itu bukan hanya dilihat dari seberapa jauh kita tinggal dari kedua orang tua kok Fan. Selama Mbak kenal kamu, Mbak rasa kamu adalah perempuan, anak bungsu, dan adik yang sangat mandiri. karena selama ini kamu sudah bisa menyelesaikan permasalahanmu sendiri dan tidak lari dari itu semua,” ucap Qiana dengan tatapan lembutnya, sudah sejak lama dia ingin membicarakan ini kepada Adik Iparnya yang dirasa terlalu ambis untuk menjadi perempuan mandiri versi pemikirannya sendiri.


“Iya, jangan dengerin ucapan Mbak tadi ya, cuma mau mancing kamu hehehe. Intinya, presepsi kamu tentang wanita mandiri itu tidak semuanya benar. Tinggal berbeda rumah dari keluarga bukan berarti penanda wanita itu mandiri, tapi bagaimana cara dia menyelesaikan pemasalahan hidupnya dan masih banyak lagi lah,” lanjut Tiwi.


“Betul, dan jangan jadikan Mbak ini sebagai patokan wanita mandiri karena Mbak nggak semandiri itu Dek. Mbak pergi dari rumah selain untuk berkuliah juga waktu itu sedang lari dari masalah hehe, maklumlah anak abg masih labil bawaannya. Tapi memang dari situ Mbak mulai belajar apa itu kemandirian, dan sikap, sifat apa saja yang harus ada didiri Mbak guna mengimbangi kemandirian yang Mbak punya. Karena sebagai perempuan terlalu mandiri juga tidak baik, karena kita sebagai makhluk social tentunya, nanti malah dikira orang sombong apa-apa dilakuin sendiri dengan dalih ‘Aku ini wanita mandiri’ hehehe,” ucap Qiana pada Adik Iparnya itu.


Fani diam sejenak, mengingat-ingat tujuannya datang ke Bandung dan mengingat setiap harinya dia selama berada di Bandung.


“Ah… iya aku ingat. Awalnya aku ke Bandung itu biar aku lebih dewasa karena setiap harinya bertemu dengan orang-orang yang memiliki rupa-rupa sifat, sikap. Sebetulnya Fani itu masih ingin mencari pengalaman di luar sana, bertemu banyak orang dan memahami berbagai macam karakter orang-orang di luar sana, itung-itung sambil belajar untuk Fani biar bisa bersikap jauh lebih dewasa dan bisa menempatkan diri dalam situasi dan kondisi apapun. Ini juga bisa dikatakan latihan sebelum menikah, biar nanti saat berumah tangga Fani bisa beradaptasi dengan cepat pada suami dan anak-anak Fani kelak, karena sebelumnya Fani sudah banyak melatih adaptasi Fani dengan berbagai macam karakter orang serta beradaptasi juga dengan berbagai kondisi dan situasi di luaran sana,” ucapnya terjeda seraya otaknya masih memutar kilasan-kilasan kejadian beberapa minggu terakhir.


“Ta..tapi..  awal Fani tinggal di tempat Abang, Fani mulai menambah penafsiran Fani sebelumnya. Kalau wanita dewasa itu juga musti mandiri dan tinggal sendiri jauh dari keluarga itu dikatakan mandiri karena apa-apa musti dilakuin sendiri. Meski beberapa kali Fani tetap ke rumah Bang Akbar ehehe. Tapi sekarang Fani paham kok, bertemu dengan banyak orang di tokonya Mbak Qia sekalipun itu hanya bertemu dengan pegawainya Mbak Qia aja itu sudah cukup untuk aku belajar dan mengambil pelajaran dari situ. Aku terimakasih banget, Mbak Qiana dan Mbak Tiwi selalu ada untuk mengingatkan aku. Sayang kalian…. Muachhh…muachhh…” ujar Fani.


***


“Nda, itu keletanya kok ndak dalan-dalan kayak yang tadi? Yang tadi kan langsung jalan wuuuussshhhh.. banak-banak lewatnya,” ucap Dafa yang sedari tadi sibuk mengawasi gerbong-gerbong kereta yang menarik perhatiannya.


“Itu keretanya lagi nunggu Om-om sama Tante-tante yang berdiri disana buat naik sayang,” jawab Fani.


Dafa yang mendengar jawaban Ontynya, langsung menatap pada gerombolan orang yang tengah berdiri mengantre untuk masuk ke dalam kereta. Terlihat dengan jelas keantusiasan di wajahnya, menggambarkan rasa penasaran dan ketertarikannya terhadap hal baru yang sedang ia perhatikan sedari tadi.


“Keretaku udah dateng, time to say good bye dann terimakasih untuk segalanya Qiana Bundaku sayang dan Adik ketemu gedenya aku hehehe baik-baik disini jangan lupa kabarin aku. Dafa sayang, Onty pulang dulu ya, jangan lupa jagain Bunda, Adik, sama Onty Fani ya,” ucap Tiwi sambil memeluk satu per satu orang yang mengantarnya ke Stasiun kali ini.


“Kamu juga baik-baik di Surabaya, kabar-kabari ya. Maaf kita nggak bisa datang di acara pertunangan kamu lusa, Adiknya Dafa masih belum kut buat diajak bepergian jauh. Salam buat Nenek sama Mama kamu ya Tiw,” ucap Qiana seraya mengusap lembut punggung sahabatnya itu.


“Iya, Mbak Tiwi maaf ya nggak bisa datang di pertunangan Mbak, Fani juga sebentar lagi mau wisuda,” ucap Fani.

__ADS_1


“Tidak masalah yang penting bumilku ini sehat-sehat dan acar kamu lancar Fan.”


“Dafa salim sama Onty dulu.” Ucap Qiana.


Dafa yang sedari tadi di gendongan Fani dan sibuk memandangi kereta pun menoleh dan melakukan perintah Sang Bunda.


Cup…


“Terimakasih sayang, jadi semangat ini Onty bermalam di keretanya.”


“Kamu hati-hati di jalan jangan lupa cek barang bawaan kalau mau turun, nanti jangan lupa makan bekel yang udah aku siapin, jangan lupa kasih kabar aku juga,” celoteh Qiana.


“Hihihihi, iya-iya bumil aman, siap laksanakan dehhh… makasih buaaaaannnyaaakkkk… pokoknya atas kebaikan kalian semua aku nggak bisa bales apa-apa, semoga dicatat sebagai pahala untuk kalian ya.”


“Aamiin..”


“Kamu ini, udah kayak sama siapa aja Tiw…Tiwi.”


“Mbak itu tuh,  buruan keretanya keburu pergi,” ucap Fani mengingatkan.


“Ah, iya dadahhh… Assalamu’alaikum,” ucap Tiwi.


“Wa’alaikumsalam…”


“Good bye Tiwi, huuuuhhhhhh,” ucap Qiana lirih sambil menghembuskan nafasnya berat.


“Sering terjadi dalam siklus kehidupan ini, saat dimana kita harus berpisah dengan orang yang sudah terbiasa hadir dan menemani hari-hari kita. Seperti yang aku rasakan saat ini, melihat orang yang baru saja hadir dikehidupanku tapi sudah harus berpisah saja, padahal aku sudah nyaman dengan kehadiran Mbak Tiwi,” ucap Fani dalam hati sambil memandang kepergian Tiwi yang sudah berbaur dengan banyak orang menuju kereta yang akan di tumpanginya menuju Kota Pahlawan, Surabaya.


***

__ADS_1


Terimakasih semua....


__ADS_2