
Selamat membaca.... :))
*****************
Kita mungkin ditakdirkan bertemu banyak orang dalam kehidupan ini, entah orang itu ditakdirkan dalam waktu yang singkat atau dalam kurun waktu yang lama menemani sisa hidup di dunia ini. Baik-buruknya pertemuan tentu selalu membawa hikmah terdalam, bila kita menyadarinya. Bertemu dan mengenal Qiana dengan baik, membuat Fani juga mengenal keluarga, teman, dan sahabat Kakak Iparnya, seperti Tiwi misalnya.
Ya, semenjak pertemuannya dengan Tiwi beberapa bulan yang lalu membuat Fani yang susah sekali mendapat teman akrab kini memiliki teman yang sefrekuensi dengannya. Meski usia Tiwi 4 tahun diatasnya, Fani tetap nyaman dan merasa memiliki sahabat yang sama-sama sengkleknya hihi, yap mereka doyan bercanda, makan, dan suka sekali melakukan hal-hal konyol tanpa malu.
Ceklek…
“Dorrr…” teriak Tiwi yang baru saja masuk ke dalam ruangan Qiana yang berisi Fani di dalamnya.
“Astagfirullahaladzim…” ucap Fani kaget, “Mbak Tiwi… Ya Allah aku kangen banget.” Teriak Fani heboh ketika melihat siapa yang datang.
“Hehehe, aku juga kangen mangkannya aku bela-belain kesini.” Jawab Tiwi dengan raut muka yang dibuat seimut mungkin.
“Hahaha, boong banget pasti ada perlu sama Kakak Ipar aku kan?” sanggah Fani.
“Hahaha ketahuan deh, ah intinya aku kangen sama kalian hihi itung-itung menyelam sambil minum air Fan.” Ucap Tiwi dengan cengengesan.
“Hahaha, yaudah gih duduk dulu Mbak. Aku ambilin minum dulu, mau kue apa?” tanya Fani seraya berdiri dari duduknya.
“Eh, nggak usah repot-repot Fan. Kita ngobrol aja hihi, kerjaan kamu udah beres belum? Ayok lah kita ngobrol dulu sebelum pulang.” Jawab Tiwi.
“Ah, Mbak ngobrol mah tambah endul sambil ngemil tau. Bentar ya.” Ucap Fani seraya berjalan keluar ruangannya menuju dapur, membuatkan jus stroberi dan juga membawa kue coklat dan cheese cake.
__ADS_1
Ceklek…
“Nah ini Mbak diminum dulu, kesini naik apa tadi?” tanya Fani seraya menaruh nampan berisi makanan dan minuman di meja dekat sofa.
“Makasih Fan, tadi naik kereta.” Jawab Tiwi.
“Oh, tumben hari kerja bisa keluar biasanya masih ngajar kan jam segini?” tanya Fani.
“Iya, Mbak udah resign dari kerjaan Mbak. Oh iya kamu kapan nikah sama Bagas? Jangan duluin Mbak loh ya.” Ucap Tiwi dengan terkekeh kecil.
“Hahahaha, enggak kok santuy aja Mbak. Aku rencananya ya, insyaAllah satu atau dua tahun lagi lah, banyak yang musti aku siapkan lahir batinnya aku hihi.” Ucap Tiwi.
“Hhaahaha, iya sih betul juga musti banyak persiapan sebetulnya. Adaptasi sebagai perempuan single jadi double, belum lagi nanti kalau udah ada anak huwiihhh… betul-betul butuh adaptasi tingkat dewa ya Fan. Heran aku sama Qiana kayak yang nggak perlu adaptasi, langsung bisa memainkan perannya dengan baik, apalagi dia diawali dengan membesarkan Dafa sendiri meskipun hanya 3 apa 4 bulan gituh, tapi tetep aja hebat menurutku. Dari segi kaca mata wanita, aku salut banget karena aku tahu ngasuh anak nggak semudah kelihatannya.” Ucap Tiwi setelah menyeruput jus stroberinya.
“Kamu katanya keluar dari rumah untuk belajar bersosialisasi dan mandiri hihi, udah jangan takut pokoknya selamau kamu masih punya niat dan tekad insyaAllah perlahan akan bisa jadi lebih baik. Toh semua orang terlahir dengan keunikan, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing, terpenting Allah tetap nomor satu di hati kita.” Ucap Tiwi sambil tersenyum lembut.
“Tapi ingat, sebagai perempuan mandiri itu perlu tapi jangan terlalu mandiri. Ini aku kutip dari curhatan Kakak Ipar kamu wkwk, tapi jangan bilang-bilang. Intinya dulu Qiana itu pernah bilang, kadang kemandirian yang dia punya itu jadi boomerang buat dirinya sendiri dan ya aku menyadari itu. Kadang posisi kita sebagai perempuan serba salah, iya nggak sih?” tanya Tiwi.
“Iya serba salah banget Mbak. Terlalu mandiri salah, terlalu manja jatuhnya malah nyusahin orang.” Jawab Fani.
“Iya dan itu yang dialami Kakak Iparmu selama bertahun-tahun. Banyak yang suka tapi udah minder duluan cowok-cowoknya, karena segala hal bisa dia lakuin sendiri. Jadi kita sebagai perempuan mustinya tetep memperlihatkan sisi manja kita hehe. Atau baiknya gini, kita mandiri dengan tidak merendahkan kaum adam. Tapi disini posisinya Qiana nggak salah sih, maksudnya tidak merendahkan kaum adam.” Jelas Tiwi.
“Iya sih, aku paham kok posisi Mbak Qia dulu seperti apa. Toh mereka bukan suaminya Mbak Qia yang musti di patuhi atau di jaga perasaanya, jadi wajar kalau Mbak Qia melakukan banyak hal seorang diri tanpa bantuan mereka. Yang suka sama Mbak Qia ternyata pada mentel kerupuk semua, seharusnya sebagai laki-laki yang udah
tahu cewek incerannya mandiri dia musti berbenah diri jadi cowok yang bisa diandelin, bisa jadi sandaran dan tempat bermanja si cewek mandiri ini wkwkwk. Ah, semandiri-mandirinya wanita Mbak, dia juga punya sisi manja, lembut, dan lemahnya tapi yang perlu tahu sisi itu ada baiknya hanya orang-orang tertenu saja terutama suaminya.” Jelas Fani dengan menerawang jauh kedepan.
__ADS_1
“Terakhir ini, ehhmm… mandiri perlu, mengabaikan kebaikan orang lain dilarang. Ngga mau nyusahin orang lain boleh, sok kuat jangan. Kita musti bertanggung jawab sama diri kita sendiri, tapi sebagai perempuan, sebagai manusia juga sebagai makhluk sosial perlu saling mengulurkan tangan.” Kata Tiwi.
“Yap betul, intinya kita musti pandai menempatkan kemandirian kita pada tempat semestinya wkwkwk. Haduh pembicaraan kita kok tumben berat gini Mbak? Ayok kita ke rumahnya Mbak Qiana aja, sebelumnya mampir dulu beli cuanki yuk Mbak.” Ajak Fani seraya mengambil tasnya dan mengoperasikan gawainya untuk memesan taxi online.
“Hahaha, oke kita pergi, let’s go.” Ucap Tiwi.
Di sepanjang perjalanan Fani dan Tiwi asyik bercengkrama, saling bertukar cerita tentang kejadian-kejadian yang menarik dalam hidupnya. Sampai suara hantaman dari belakang mobil membuat mereka menghentikan aktifitasnya karena kaget.
Brakk..
“Astaghfirullah, Pak ada apa?” tanya Fani.
“Itu Teh mobil belakang nabrak mobil kita. Sebentar ya Teh saya berhenti dulu buat negur pengemudi mobil belakang itu.” Ucap pengemudi taxi online yang di tumpangi Fani dan Tiwi.
“Iya Pak, silahkan kita disni aja ya Pak masih deg-degan. Kalau ada apa-apa Bapak bisa panggil kita.” Ucap Tiwi dan diangguki oleh pengemudi taxi olnline tersebut sebelum keluar dari taxi, “Alhamdulillah hantamannya nggak terlalu keras.” sambung Tiwi.
“Iya Mbak, tapi jantung aku rasanya mau copot ini.” Ujar Fani.
“Eh..eh bentar deh itu kok pada keluar sama penumpang mobil belakang. Cowok semua lagi, Ya Allah kasihan Bapaknya di marah-marahin Fan. Kita keluar aja kali ya?” ucap Tiwi yang membuat Fani menolehkan kepalanya ke belakang.
“Astaghfirullahaladzim…. orang itu lagi. Nggak ada kapok-kapoknya ngerusuh, bikin tensi aku naik aja tiap ketemu.” Ujar Fani dengan kesal.
********
**Terimakasih yang selalu mampir di ceritaku.... semoga sehat selalu ya.... **
__ADS_1