
Selamat membaca...
***
“Bismillahirohmanirohkim, Qia menerima lamaran Mas Akbar. Tapi Qia minta Mas Akbar membuktikan perasaan Mas dan membantu Qia untuk meyakinkan hati bahwa Mas tidak akan main-main dengan ikatan ini nantinya,” Ujar Qia dengan meremas ujung jilbabnya seolah mencari kekuatan.
“Alhamdulillah, saya akan membuktikan dan membantu Qia untuk yakin dengan ajakan Mas ini.” Jawab Akbar tegas.
Terbesit di pikiran Pak Rizal untuk memberikan sebuah tantangan untuk calon mantunya ini. Tantangan yang bisa meyakinkan hatinya bahwa seorang duda dihadapannya ini akan membahagiakan putrinya dengan baik. Dan mungkin tantangan ini juga akan membantu Qiana untuk meyakinkan hatinya untuk memberi keputusan kedepannya.
“Om, punya tantangan untukmu,” Ucap Pak Rizal, yang membuat semua orang disana menoleh bersamaan ke arah Pak Rizal.
“Tantangan apa Pa? Jangan aneh-aneh deh. Bang Reza sewaktu ngelamar Mbak Santi aja nggak pakai tantangan-tantangan dari besan Papa,” Ujar Qiana yang sudah mencium aroma-aroma mencurigakan dari Papanya.
“Hahaha, enggak bakal aneh-aneh deh. Pasti kamu juga bakal setuju sama tantangan yang akan Papa buat kali ini. Kalau urusan Reza dulu kasusnyakan beda sama kamu kali ini. Kalau Reza sama Santi udah kenal dari masih pakai diapers doang, jadi udah ketahuan kesungguhan dikeduanya. Lah kalian baru kenal kurang dari 5 bulan, itupun jarang ketemu dan ngobrol serius palingan ketemu juga karena Dafa,” Ujar Pak Rizal yang diangguki oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut.
“InsyaAllah, saya siap dengan tantangan yang akan Om berikan untuk saya apapun itu,” Ujar Akbar.
"Eh..eeh...eh.. tunggu dulu kalau saran Mama mending Qiana aja yang ngasih tantangan. Yang mau nikah kan Qiana kok papa yang usil ngasih tantangan. Papa ngasih pertanyaan aja sama Akbar buat yakinin Papa." Sergah Bu Rima.
Pak Rizal mendengus kesal dengan usulan istrinya, tapi akhirnya Pak Rizal mengangguk pasrah. Sedangkan Qiana dia mengerutkan dahinya mencoba berfikir tantangan apa yang akan dia minta sebagai pembuktian dari perasaan Akbar. Sedangkan dia sendiri tidak tahu dengan perasaannya, sendiri.
"Kalau Qia nggak aneh-aneh deh, Qia mau Mas Akbar setoran hafalan surah Ar-Rahman aja. Semakin cepet Mas Akbar bisa setor ke Papa berarti Mas Akbar udah bener-bener niat buat jadiin Qia pendamping Mas. Tapi Qia juga ngasih tenggat waktu sampai akhir bulan," Kata Qia sedikit ragu.
__ADS_1
Sebetulnya Qia hanya ingin tahu seberapa dalam ilmu agama yang Akbar miliki untuk nanti membimbingnya dalam bahtera rumah tangga. Karena bagaimana pun dia menginginkan sosok imam yang membawanya dalam kebahagiaan dunia hingga akhirat.
"Nah, setuju Abang. Ini anggep aja latihan buat ngasih mahar surah Ar-Rahman. Soalnya Adek, Abang ini dari SMP udah sering bilang kalau udah besar dan nikah mau maharnya surah Ar-Rahman," Kata Reza sambil menerawang masa remaja Qiana yang selalu menceritakan apapun itu kepada Reza.
"Secepatnya saya akan setor, kalau perlu sekarang juga saya siap," Kata Akbar yakin, yang membuat semua orang di ruangan tersebut serentak menatap kearahnya.
"Kamu yakin Nak?" Tanya Nenek yang sedari tadi diam memperhatikan acara lamaran yang tiba-tiba ini.
"InsyaAllah, saya yakin Nek." Jawab Akbar.
"Huwaa...huwa... hiks...hiks..." Tangisan Dafa membuyarkan pembicaraan serius itu. Terlihat Dafa menangis sesenggukan di gendongan Santi, istri Reza.
"Dek, ini Dafa nyariin kamu," Kata Santi, sambil menyerahkan Dafa ke Qiana yang sudah beranjak dari duduknya.
"Yaudah Mbak mau nemenin anak-anak dulu," Ucap Santi sebelum beranjak kembali ke kamar.
"Ululu anak Bunda kenapa?" Tanya Qiana.
"Dafa mau bobo tama Nda, tapi Nda iyang di kamal cuma ada Lea tama Mami," Adu Dafa sambil menguyel-uyelkan kepalanya di dada Qiana, tangannya sudah di lingkarkan di pinggang Bundanya, mencari kenyamanan untuk memulai tidur kembali.
"Dafa tidur di pangku Bunda dulu ya," Kata Qiana sambil mengusap-usap punggung Dafa.
Semua mata tertuju pada Qiana dan Dafa, menyaksikan kehangatan interaksi ibu dan anak yang baru saja memulai untuk hidup bersama.
__ADS_1
"Anakku sungguh telah dewasa, sudah sangat cocok memiliki anak sendiri. Apa Akbar adalah orang yang tepat untuk anakku seperti ketika aku menjaga, menyayangi, dan melindunginya?" Batin Pak Rizal.
"Adikku telah dewasa, semoga ini pilhan terbaik untukmu gadis kecilku. Abang sebetulnya tahu jika kamu mencintai Tyo, tapi entahlah kenapa takdir begitu rumit untukmu, Setya dan Tyo di masa lalu. Untung saja ada Dafa dan Akbar yang hadir saat ini, di waktu yang tepat ketika Tyo benar-benar tak bisa kau gapai, adikku." Batin Reza.
Dafa telah kembali tidur pulas di pangkuan Qiana, anak itu jika sudah bertemu dengan induknya cepat sekali tidurnya.
Kini semua kembali fokus dengan tantangan yang diberikan pada Akbar, Akbar yang sedari tadi melamun menatap ke arah Qiana dan Dafa pun kaget, karena mendapat tepukan di bahunya. Ternyata calon Abang iparnya itu yang menepuk bahunya.
"Ayo, segera setoran di tunggu Papa. Jangan melamun saja," Kata Reza.
"Baik, Bang. Bentar aku tarik nafas dulu," Kata Akbar yang berbisik kepada Reza.
Dengan keyakinan sepenuh hati, akhirnya Akbar memenuhi permintaan Qia. Bukan hanya sekadar setor di hadapan sang camer tapi di hadapan semua keluarga Qia.
Akbar tampak sangat menghayati dan lancar dalam melantunkan ayat suci al-Qur'an, tartil dan tajwidnya pun tak ada yang salah di pendengaran keluarga Qiana.
Qiana menangis dalam diam, dia begitu hanyut dalam bacaan Akbar. Haru jelas terasa dia tak menyangka ternyata dia salah meragukan Akbar dalam urusan agama. Begitu banyak hal yang tidak dia ketahui sebab Akbar tidak pernah menunjukkan hal-hal yang terlalu pribadi. Apalagi urusan mengenai dirinya dan Tuhannya.
Qiana POV
Jika ini adalah jawaban dari do'a-do'aku, Mama, Papa, Abang, dan Nenek selama ini, mohon lancarkan segala urusan kami Ya Allah. Aku memang belum tahu sepenuhnya mengenai kehidupan Mas Akbar, tapi aku ingat apa yang dikatakan guru ngajiku dulu 'Jika ada lelaki yang berniat meminang, lihat ketaatannya pada Sang Pencipta karena wajah dan harta tidak akan menjamin kebahagiaan'. Maka dari itu tadi aku memberinya tantangan hafalan, tapi ternyata dia sudah hafal.
Sedari tadi aku memperhatikan raut wajah orang-orang tercintaku, dan mataku terpaku pada raut wajah Papa yang sedikit sendu dengan dahi yang mengkerut tampak seperti berpikir keras. Sepertinya Papa masih kurang yakin dengan Mas Akbar, mungkin karena Mas Akbar pernah gagal dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan istri sebelumnya. Aku harus menceritakan alasan perceraian Mas Akbar dengan mantan istrinua ke keluargaku nanti, setelah Mas Akbar beristirahat.
__ADS_1
💙💙💙💙🍃🍃🍃🍃🍃