Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
17. Kapan Nikah?


__ADS_3

Di tempat lain Akbar masih disibukkan dengan kegiatan di kantor Papanya. Masalah kantor Papanya itu sudah hampir terselesaikan olehnya. Sore ini sepulang kantor rencananya Akbar akan memberi tahu tentang Dafa anaknya dan kebusukkan mantan istrinya kepada kedua orang tuanya. Ya semenjak menikah dulu, Dafa dan kedua orang tuanya tinggal terpisah kota bukan lagi terpisah rumah.


drrrt...drtt...drrtt


Akbar pun segera mengangkat telfonya seraya tersenyum bahagia.


"Atalamualaikum Ayah," kata Dafa dengan suara cadelnya (bukan berniat mengubah atau melecehkan salam ya, ini di sesuaikan dengan figur anak kecil jadi belepotan gitu ngomongnya).


"Wa'alaikumsalam anak Ayah." jawab Akbar.


"Ayah, dimana Dafa agi tama Nda mau ke lumah Uyut di ndung yah." celoteh Dafa.


"Ayah, masih kerja sayang. Dafa jangan rewel jangan nakal ya, patuh sama Bunda, oke?" pesan Akbar pada Dafa.


"Tiap Yah, Ayah tapan main agi tama Dafa?" tanya Dafa.


"Lusa ya Ayah insya Allah ke Bandung kalau kerjaan Ayah di kantor Opanya Dafa udah beres," kata Akbar.


"Tiap ayah, nti ayah bawain dafa mobil-mobilan ya." pinta Dafa.


"Iya sayang nanti Ayah bawakan banyak mainan. Bunda mana sayang? Tanyain Bunda juga ya mau dibawain apa sama Ayah," Ucap Akbar.


Qiana tersenyum, mendengar Akbar lagi-lagi menyebutnya *B*unda ada perasaan aneh yang mengalir di hatinya. Tapi dia menampik jika rasa itu cinta, karena rasa cintanya masih untuk Tyo, mungkin hanya perasaan nyaman saja, pikirnya.


"Ni Nda Yah, agi tama Dafa naik mobil." Jawab Dafa dengan polosnya membuat Akbar tertawa geli di sebrang sana dan terdengar samar Dafa menanyakan perintah Akbar tadi.


"Nda mau dibawain Ayah pa Nda? mau tayak Dafa aja? mainan uga?" tanya Dafa polos sambil menatap lekat wajah Bundanya yang membuat seisi mobil tertawa akibat pertanyaan yang terlontar dari bibir mungil itu.


"Bunda ngga mau dibawain apa-apa sayang, Dafa aja ya yang pesen sama Ayah," kata Qiana lembut, Dafa membawa Hp itu kembali ke telinganya.


"Yah, tata Nda. Nda ndak mau dibawain pa-pa Dafa ja yang dibawain pa-pa," kata Dafa.


"Hahaha, iya sayang. salamin ya ke Bunda. Anak ayah hati-hati ya, sampai ketemu lusa insyaAllah ya Nak. Udah dulu ya, Ayah mau kerja lagi nih," Kata Akbar.


"Da...dah Ayah  muach." kecup basah Dafa ke hp Qiana.


tut..tut...tut..


"Nda, mau liat gambal Ayah di hp Nda," Kata Dafa sambil menyodorkan hp Qiana. Diambilnya hp itu dari tangan mungil Dafa, digesernya mencari apa yang di mau anaknya.


"Wah, udah main simpen foto Pak Akbar kamu ya Qiana. Nakal juga ya kamu!" goda Tiwi, Setya yang disampingnya menajamkan pendengarannya dia juga ingin tahu jawaban Qiana tentang foto itu.


"Ih, apaan sih selalu aja negthink sama aku. Ini buat mengobati rindunya Dafa ke ayah kandungnya. Orang Pak Akbar sendiri yang ngirim, katanya buat Dafa lihat kalau lagi rindu dia." sanggah Qiana sambil menyodorkan hpnya kearah Dafa dan disambut antusias oleh Dafa.


"Apa Qi? kalau kamu rindu dia?" canda Tiwi.

__ADS_1


"Ishh,apaan sih kamu itu Tiw." sewot Qiana.


"Udah-udah jangan becanda aja bentar lagi nyampek nih," Kata Setya menengahi dua perempuan di mobilnya ini.


***


tok...tok..tok


"Assalamualaikum, Nenek." salam Qiana.


"Wa'alaikumsalam, sebentar.. Nenek di belakang." teriak nenek Qiana dari dalam rumah.


"Tolong turunin barang-barangnya ya Set, aku mau nitipin Dafa ke Nenek dulu," kata Qiana.


"Udah ngga apa kamu masuk aja, biar barang bawaan kamu, aku sama Setya aja yang ngurus," ucap Tiwi.


"Oteh." jawab Dafa membuat ketiga orang dewasa itu tertawa geli.


"Ya ampun Dafa kamu itu ngelawak aja dari tadi," kata Tiwi sambil mencubit gemas pipi Dafa.


ceklek


"Ya Allah cucu Nenek, beneran jadi ini tinggal sama Nenek," kata Nenek Qiana sambil memeluk cucunya. Terjepitlah Dafa diantara Qiana dan Neneknya haha.


"Ya Allah ini, cucu buyut Nenek Qi? Aduh gantengnya," kata Nenek Qiana.


"Nda ini Uyut?" tanya Dafa.


"Iya sayang ini Nenek Buyut, Nenek ini Dafa anak Qiana," Kata Qiana.


"Ayo pada masuk semua, pasti kalian capek," Ucap Nenek sambil membuka pintu rumah lebar-lebar.


Mereka pun masuk kerumah Nenek Qiana, dan segera duduk di sofa ruang tamu melanjutkan percakapan yang tertunda.


"Ini Nak Setya ya yang pernah kesini?" tanya Nenek Qiana.


"Betul Nek, wah Nenek masih ingat aja sama saya." jawab Setya dengan senang hati karena masi diingat oleh Nenek Qiana.


"Iya dong Nenek tua-tua begini ingatannya masih tajam. Nah kalau yang cantik ini siapa?" tanya Nenek.


"Saya Tiwi Nek, temen Qiana di Surabaya dulu." jawab Tiwi.


"Oh iya..iya kalian istirahat dulu aja ya Tiwi istirahat di kamar Nenek aja, Setya di kamar yang kemarin ya Nak." Saran Nenek dan diangguki oleh keduanya, setelah menunjukkan arah kamarnya kepada Tiwi Nenek melanjutkan percakapannya bersama sang Cucu.


"Qiana, Dafa usianya berapa Nak?" tanya Nenek

__ADS_1


"Udah 2 tahun setengah Nek," kata Qiana dan diangguki oleh Dafa seakan dia tahu apa yang dibicarakan orang dewasa dihadapannya ini dan disambut gelak tawa oleh Qiana dan Neneknya.


"Ya ampun Qiana, pantas saja kamu ingin mengadopsi anak ini. Lucu sekali ternyata Dafa," Ucap Nenek.


"Iya Nek, sebetulnya dari 2 tahun lalu Qiana tahu Dafa dan ingin mengadopsinya tapi keadaan waktu itu belum mendukung," Ujar Qiana.


"Oh gitu. Kamu kapan cari Ayah buat Dafa? Tanya Nenek.


"Dafa dah nyak Ayah Yut," Kata Dafa tiba-tiba.


"Betul itu Qi?" tanya Nenek dan diangguki oleh Qiana.


"Terus kapan nikahnya?" kata Nenek to the point.


"Hah, mau nikah sama siapa Nek? Jodohnya aja belum nongol," kata Qiana.


"Lah itu kata Dafa udah punya Ayah" kata Nenek bingung.


Qiana paham, ternyata Neneknya ini salah paham dengan kata-kata Dafa. Lalu Qiana pun menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Dafa, dan menceritakan semua kejadian yang dialami dia, Dafa, dan ayah kandung Dafa, Akbar. Neneknya pun menggangguk paham.


"Oh seperti itu, terus kamu ngga nikah aja sama Ayahnya Dafa?" pertanyaan itu lolos dari bibir sang Nenek membuat Qiana kaget dan menggeleng cepat.


"Ih, Nenek pertanyaan macam apa itu. Nggak lah Nek, ngga mungkin juga Pak Akbar suka sama Qiana." Sanggah Qiana.


"Siapa tau aja dia jodoh kamu Qi, lagian usia kamu udah matang buat nikah," kata nenek.


"Iya nek, memang usia Qiana sudah matang untung menikah. Tapi masalahnya Qiana rasa, Qiana belum merasakan jatuh cinta yang sampai ingin memeliki, gituh Nek." jawab Qiana hati-hati, padahal dia sudah pernah merasakan itu untuk cinta pertamanya, Tyo.


"Nak, dengerin Nenek ya. Kamu itu perempuan, setau Nenek dari perjalanan hidup Nenek ini ya. Perempuan itu mudah untuk menjatuhkan hatinya kepada lelaki yang mencintainya, yang memiliki sikap baik, lembut, serta bisa membuat nyaman perempuannya. Jadi Nenek rasa kamu hanya, tinggal membuka hati untuk lelaki yang mencintai kamu dan kamu bisa mulai belajar mencintainya setelah itu." Petuah Nenek sambil memandang lekat wajah cucunya.


"Iya Nek akan Qia coba." pasrah Qiana.


"Apalagi sekarang kamu ada Dafa, sekalipun tidak selamanya karena Dafa akan segera kembali ke orang tua kandungnya. Tapi untuk saat ini keberadaan Dafa sangat berpengaruh untuk kehidupan pribadimu Nak, tolonh difikirkan baik-baik ya," kata Nenek lembut.


"Baiklah Nek, akan Qia fikirkan baik-baik nasehat Nenek untuk Qia," ucap Qia.


"Nda mau num tutu, telus bobo tama Nda." rengek Dafa sambil menguap menahan kantuk.


"Yauudah tuh kamu masuk ke kamar Nenek tidurin Dafa bareng Tiwi aja, Nenek mau ke rumahnya Bibi kamu dulu," Kata nenek sambil beranjak meninggalkan Qiana dan Dafa.


"Iya Nek".


***


*Dan dalam urusan cinta\, wanita memiliki dua sosok suri tauladannya. Memendamnya seperti rasa cinta Sayyidatina Fatimah az-Zahra terhadap Sayyidina Ali\, atau mengungkapkannya melalui pelantara layaknya Ibunda Khadijah terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW* 💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2