Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Semua orang Punya Sisi Baik dan Buruk


__ADS_3

Selamat membaca.........


***


“Bandung nggak kekurangan tempat nongkrong bagus, kenapa musti nongkrong di pinggir jalan seperti ini? Kurang kerjaan banget.” Ucap Aziz.


Terlihat Fani sedang mangatur nafasnya untuk meredam emosi dalam jiwanya, sedikit mengingat petuah-petuah dari dua wanita yang sudah seperti Kakak perempuan untuknya, mungkin akan banyak membantu untuk memulai berinteraksi baik dengan lelaki yang kini tengah berdiri di hadapannya. Laki-laki yang sedang memakai celana selutut dan kaos hitam lengan pendek, rambutnya tidak tertata rapi, tapi cukup manis untuk menyempurnakan penampilannya pagi ini, membuat wanita mana saja akan bertekuk lutut pada pesonanya tapi sayang sekali Fani tidak termasuk salah satunya.


“Iya, lagi kurang kerjaan.” Jawab Fani seraya memasukan botol air mineral kedalam tas ransel kecil miliknya.


“Pantesan nongkrong-nongkrong nggak jelas gini.” Pancing Aziz yang sebenarnya sudah tahu jika gadis yang belakangan ini selalu berputa-putar di kepalanya sedang mengalami kesusahan, karena ban motornya bocor.


“Hmmm, sana deh jangan gangguin aku lagi nongrong, menikmati jalanan Bandung.” Jawab Fani.


“Woy, Ziz… buru ntar kita telat!!!” teriak salah satu teman Aziz dari dalam mobil dengan mengelurakan sedikit bagian kepalanya, emh ternyata Aziz tidak sendiri.


“Bawa aja mobilnya, aku turun disini. Ntar aku nyusul,” Jawabnya, terlihat laki-laki itu pun turun dan memutari mobil Aziz untuk berpindah ke bagian kemudi.


Tin…tin.. mobil  berwana hitam itu pun langsung melaju bergabung dengan kendaraan yang sedari tadi hilir mudik di depan Fani.


Tanpa kata Aziz langsung menuntun dan  mendorong motor Fani, meninggalkan Fani yang masih duduk di pinggir trotoar.


“Bang, ngapain sih!” teriak Fani seraya berdiri dari duduknya dan mengejar Aziz dengan gengsi yang masih menumpuk. Tinggal bilang minta tolong dari tadi aja nggak dilakuin, udah bagus Aziz langsung memberinya


bantuan, bukannya bilang terimakasih malah ditanya kayak gitu pakek teriak lagi, dasar Fani.


“Sssstttsss…. Berisik.”ucap Aziz.


Disadari atau tidak oleh Fani sikap Aziz pagi ini sedikit banyak berubah, yang biasanya selalu menggodanya dengan gombalan-gombalan yang terdengar seperti ancaman menurut Fani, kini hanya ada kata-kata cuek dan tengilnya saja. Dan sikap yang seperti ini, membuat Fani sedikit melunak.


“Tumben naik motor?” tanya Aziz dengan tetap menuntun motor Fani.


“Pingin aja.” Jawab Fani.


“Eh itu tuh ada tukang tambal ban, sini kamu di sebelah kiri aku kita nyebrang dulu.” Kata Aziz dan diangguki oleh Fani.


Ternyata ada dua lubang di ban belakang itu, yang menyebabkan Fani harus merasakan nongkrong di pinggir jalan. Dan kini juga musti berbagi duduk di kursi kayu dengan Aziz.


***


Fani POV


Jeng…jeng..jeng…


Aku tak tau apa yang lain


Darimu hari ini


Apa itu karena sepatu flatmu?


Atau kukumu


Yang baru kau warnai?

__ADS_1


Pernahkah kau bertanya


Seperti apa bentuk air tanpa wadah?


Seperti apa bentuk cinta?


Kerudung warna warni bagai gulali


Imut lucu walau tak terlalu tinggi


Pipi chubby dan kulit putih


Senyum manis gigi kelinci


Membuatku tersadar


Bentuk cinta itu


Ya kamu


Kini 'ku tau apa yang lain


Darimu hari ini


Itu bukan karena sepatu flatmu


Atau kukumu yang baru kau warnai


Pernahkah kau bertanya


Seperti apa bentuk air tanpa wadah?


Seperti apa bentuk cinta?


Kerudung warna warni bagai gulali


Imut lucu walau tak terlalu tinggi


Pipi chubby dan kulit putih


Senyum manis gigi kelinci


Membuatku tersadar


Bentuk cinta itu


Ya kamu….


Yee, ini yang ngamen kenapa lirik lagunya si Eclat diubah dari rambut jadi kerudung kayak lagunya buat aku deh wkwkwk, kan aku sendirian disini yang lagi pakek kerudung.


“Ini Mas makasih ya, lagunya enak suaranya Mas juga bagus,” ehh, tumben dia muji orang biasanya mulutnya cuma bisa ngancem dan ngegombal nggak jelas. Luuuuuhhhh…… tuh uang gambar proklamator yang dikasih,


ciyusan ini?.

__ADS_1


Jadi bingung ngasih nggak ya, uang yang udah aku pegang cuma, 5rb malu ih. Tapi yaudah lah ya daripada nggak ngasi sama sekali.


“Nuhun A, Teh, semoga langgeng ya sampai Kakek-Nenek,” WHATSSSSS…. Ucapan apa itu, haduh jangan salah paham dungs…


“Aaamiin…” ucap Bang Aziz.


“Kenapa diaamiinin sih Bang.” Ujarku kesal.


“Lah, ada yang do’ain baik kenapa nggak diaamiinin coba. Dasar aneh.” Jawabnya.


“Bang please lah, kamu tuh tau apa yang aku maksud jangan pura-pura nggak tahu.” Ucapku.


“Fan, sorry ya sebelumnya. Realistis ajalah, orang yang udah nikah aja bisa pisah, apalagi kalian yang cuma deket tanpa ikatan apapun semua hal bisa terjadi Fan. Aku tahu, kamu pernah disakiti sama mantan tunangan kamu, aku tahu kamu pasti nggak bakal melakukan hal yang sama seperti mantan kamu itu, sehingga kamu menjaga banget hatimu buat Bagas, tapi Fan jangan lupa masih ada kuasa Allah.” Kata Bang Aziz yang bener-bener langsung mak jleb sampek ke ulu hati.


“Aku tahu kamu kesel sama aku pas pertama kali ketemu atau bisa jadi kamu benci aku setelah kejadian di Situ Patenggang, tapi Fan kamu musti inget ayat ini ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. Al-Baqarah: 216’. Dan selama kata SAH belum terucap aku masih bebas untuk berusaha memperjuangkan apa yang sudah seharusnya aku perjuangkan. Ayo kita mulai pertemuan pertama kita dengan kesan yang baik, lupakan kejadian yang jelek beberapa hari yang lalu.” Ucap Bang Aziz lagi.


Astaga bener-bener ya laki-laki satu ini bikin aku mikir banget…buangeeeetttt…. Malah. Ya Allah, situasi macam apa ini. Aku harus bagaimana menjawabnya.


“Jawab napa Fan. Diem mulu dari tadi, apa kamu udah mulai terpesona sama aku?” katanya lagi dengan kenarsisannya.


“Enggak apa-apa, pingin diem aja bingung musti nanggepin kamu kayak apa Bang, batu banget.” Jawabku, eh dia malah ketawa sampek matanya ilang hahaha.


“Gini deh Bang, aku mah nggak bisa menilai atau menghakimi orang, tapi kalau masalah usuran baik dan buruk semua orang sudah pasti memiliki itu. Aku juga nggak benci sama Abang cuma kesel aja, sama Bang Bagas pun kalau dibilang aku cinta mati juga enggak, insyaAllah sekarang semuanya sudah dalam porsinya masing-masing. Jujur aku nggak mau kembali terluka, dan aku juga tidak ingin ada yang terluka apalagi karena aku. Betul yang Abang bilang tadi, kita tidak boleh membenci atau mencintai sesuatu dengan berlebihan, karena kita taidak tahu pasti mana yang terbaik untuk kita kedepannya. Jadi aku mohon sama Abang, jangan terlalu keras dalam mengejar sesuatu, jangan menyia-nyiakan waktu Abang.” Jawabku sedikit deg-degan takut salah ihhh, berabe nanti urusannya sama perasaan orang.


“Kita tidak pernah tahu takdir di depan sana seperti apa Fan, setidaknya izin aku berjuang sama seperti Bagas yang masih berjuang untuk mendapatkanmu.” Jawabnya.


Astaga, masih usaha aja nih orang.


“A, Teh, udah beres ini motornya,” ucapnya Mamang-mamang yang sudah selesai menambal ban motorku. Alhamdulillah, si Mamang yang dari tadi diem bicara disaat yang tepat.


“O, iya Mang bentar ya.” Saat aku sedang merogoh dompet di dalam tasku, tangan Bang Aziz lebih dulu mengulur memberi selembar uang bergambar proklamator ke si Mamang.


“Aduh, si Aa ini masih pagi can aya wangsulna A kalau pakai uang gede gini. Nggak ada uang pas aja A, 20 ribu aja soalnya ada dua lubang tadi.” Ucap si Mamang.


“Ambil aja Mang nggak apa, buat istri di rumah.” Jawab Bang Aziz, kayak tahu aja kalau si Mamang udah punya istri.


“Atur nuhun A, tapi maaf Mamang belum punya istri lagi baru pisah 2 bulan yang lalu.” Jawabnya dengan sendu.


Eh apa ini, malah jadi ka curhat colongan.


“Maaf Mang, nggak tahu. Ikhlasin aja Mang siapa tahu gantinya lebih aduhai hihihi..” etdah apa gini caranya laki-laki untuk menghibur lawan bicaranya yang sedang meratapi nasibnya?


“Iya A, nuhun nyak. Sok manga di lanjut perjalanannya.”ucap si Mamang dan diangguki oleh Bang Aziz.


Ada banyak hal baru yang aku temui dari sosok Bang Aziz ini, betul apa kata orang kadang karena terlalu kesal atau benci dengan satu kesalahan atau ketidaksempurnaan seseorang kita jadi menutup mata dengan beribu kebaikan yang dimilikinya. Ya, setiap orang memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing, dan aku pecaya itu.


“Buru naik,” eh apa ini kenapa dia naik di motor aku, jangan bilang dia mau nganter aku ke toko atau nyuruh aku nganter dia ke tempat temennya tadi.


Mama tolong Fani……. Fani belum pernah diboncengin cowok naik sepeda motor selain Abang sama Papa….


***


Terimkasih

__ADS_1


__ADS_2