Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
40. Surabaya (Lamaran)


__ADS_3

Selamat membaca, semoga berkenan di hati para pembaca setia MaD.


Bila ada saran dan masukan silahkan tinggalkan komentar di bawah, terimakasih :)


Suara bising kendaraan bermotor sudah riuh di setiap sudut Kota Surabaya, jalanan-jalanan utama sudah tampak padat merayap. Salah satu dari kendaraan yang tengah berlomba-lomba menuju tempat tujuan dengan selamat itu, ada mobil yang di kendarai Akbar sekeluarga menuju rumah Qiana di belakangnya diikuti satu rombongan rekan kerja Pak Amri yang mau membantu menyiapkan seserahan lamaran.


"Wosh, santai dong Bang muka tegang banget. Padahal ini bukan yang pertama loh," Ucap Fani menggoda Abangnya.


"Apasih Dek, udah ah diem aja kamu," Kata Akbar yang langsung membuang muka ke arah jendela.


"Hahahahaha, liat tuh Ma Pa si Abang gerogi mau ketemu Mbak Qiana yang cantik dan baik hati." Canda Fani sambil menoel-noel bahu Akbar.


"Hush, Adek jangan gangguin Abang ah kasihan udah pucet gitu padahal baru lamaran belum ijab nanti hahaha." Goda Pak Amri.


Akbar yang di goda oleh Papa dan Adiknya hanya bisa geleng-geleng kepala, bukannya di tenangin malah di godain pikir Akbar. Sedangkan Bu Rita tengah asyik menatap layar gawainya, menatap foto Dafa yang di kirim oleh Qiana pagi tadi dengan senyum yang terus merekah.


"Mama liat apa senyum-senyum gitu?" Tanya Pak Amri.


"Hehehe, ini Pa Mama liat foto cucu kita. Cakep banget, mirip Akbar waktu masih kecil," Kata Bu Rita sambil menyodorkan Hpnya ke arah Pak Amri.


"Iya Ma, cakep banget," Kata Pak Amri.


"Mana-mana, Fani mau lihat." Teriak Fani.


"Astaga dasar anak kecil, nggak usah teriak-teriak ini di mobil ngomong biasa juga kedengeran," Ucap Akbar kesal.


"Ish, Abang mah." kesal Fani.


***


Hidangan makanan tradisional khas Jawa Timuran tersaji apik di atas meja, membuat orang yang melihatnya menelan ludah seketika. Di sisi rumah yang lain Dafa dan Lea tampak asyik memakan roti sambil duduk-duduk di taman belakang rumah Qiana, baju yang semula sudah rapih dan tampak menggemaskan di tubuh mungil mereka kini sudah banyak corak yang menghiasi, corak dari selai cokelat yang sudah belepotan dimana-mana.


"Dafa... Lea.. kalian dimana?" Teriak Reza dari dalam rumah.


Dua anak balita yang tengah asyik memakan roti itu pun saling menatap satu sama lain dengan mata bulatnya.

__ADS_1


"Dafa, Papa Lea udah nyaliin kita nanti kita dimalahin gala-gala ninggalin Papa sendili di kamal gimana. Lea atut," Kata Lea.


"Ndapapa nti Nda belain kita," Ucap Dafa dan meneruskan memakan roti yang tinggal sesuap di tangannya.


Lea hanya memperhatikan Dafa lalu dia ikut meneruskan memakan roti yang tinggal beberapa suap lagi akan habis.


"Dafa ... Lea..." Teriak Reza yang semakin mendekat ke arah taman belakang.


Dua balita itu pun langsung membalikan badannya menatap arah pintu belakang yang ternyata Reza sudah berdiri di sana dengan bersedekap tangan.


"Astaga, Dafa...Lea... Kalian ini sudah mandi dan sudah pakai baju buat acara lamaran Bunda Qiana kenapa jadi begini," Keluh Reza dengan muka shocknya, ketika melihat dua anak balita itu belepotan coklat.


"Kita lapal Om Leza, ups Papi," Kata Dafa dengan santainya dan.langsung beranjak dari duduknya diikuti oleh Lea.


"Astaga kalian, ayok ikut ke dalem mandi lagi terus ganti baju," Ujar Reza yang langsung menuntun kedua anak kecil itu masuk ke dalam rumah.


Saat menaiki tangga mereka bertiga berpapasan dengan Bu Rima yang sudah tampak kaget dengan keadaan kedua cucunya yang bercorak cokelat di baju dan sekitar bibirnya.


"Astaga, Rezaaaaaa.... kenapa cucu-cucu Mama jadi begini?" Omel Bu Rima.


"Sorry Mam, tadi cucu-cucu Mama ini hilang dari pengawasan Reza saat di kamar pas ketemu udah kayak gini bentukannya," Kata Reza dengan wajah memelas takuti di omeli sang Mama.


"Baik Ma, eh bentar-bentar Ma. Ini anak-anak terus pakai baju apa Ma? Baju buat acara lamarannya udah kotor kayak gini ada corak tambahannya," Kata Reza dengan wajah frustasinya.


"Udah pakai baju apa aja yang penting bersih dan pantas untuk acara lamaran Adek kamu." Jawab Bu Rima.


"Oke Ma," Kata Reza, "Ayok kita ke kamar Papi Kiddos!" Seru Reza.


"Ayo, Papi. Papi Kak Leo dimana?" Tanya Lea.


"Kakak ada di kamar Papi nonton tv," Jawab Reza sambil menggandeng kedua balita itu menuju kamarnya.


"Ada kaltun Papi?" Tanya Dafa.


"Iya ada, Dolaemon," Kata Reza yang sengaja mencadelkan cara bicaranya seperti kedua anak yang sedang di gandengnya itu.

__ADS_1


"Papi, Dollllllrlllaemon," ucap Lea tak terima acara kesukaannya menjadi salah sebut.


"Hahaha, kalian ini iya-iya kartun Dorrrraemon," Kata Reza dengan mempertebal huruf r nya.


Ceklek


"Mi, tolong Papi." Teriak Reza ketika membuka pintu membuat Leo yang tengah serius menonton tv terlonjak kaget.


"Papi, Kakak kaget," ucap Leo sedikit kesal dengan kelakuan Papinha itu.


"Iya Papi kamu ini ngagetin orang aja," Kata santi, "Ada apa sih Mas, minta tolong apa?" Tanya Santi.


"Ini liat, Dafa sama Lea," Kata Reza sambil membawa keduanya mendekat ke arah Santi.


"Astagfirullah, ini anak-anak Mami habis makan apa belepotan sampai ke baju-baju gini," Kata Santi dengan wajah kagetnya.


"Abis matan clat Mami, enyak," Kata Dafa debgan polosnya.


"Mandiin gih Dek, Mas nyiapin bajunya," Kata Reza sambil cengengesan ke arah istrinya, dia paling malas memandikan anak kecil karena pasti bajunya akan ikut basah.


"Selalu deh minta enaknya, yaudah siapin bajunya sama sekalian suruh si Kakak pakai bajunya dan suruh turun duluan ke bawah," Kata Santi.


"Siap, istrikuu," Ucap Reza sambil mencium kening istrinya.


***


Halaman rumah Qiana sudah tampak padat dengan mobil-mobil yang terparkir cantik, untuk lamaran anak gadis satu-satunya itu membuat kedua orang tuanya mengundang seluruh keluarga besar Pak Rizal. Tentu saja sebagai bentuk rasa syukur terhadap lamaran yang akan berlangsung, agar mendapat lebih banyak do'a yang mengiringi, pikir kedua orang tua Qiana. Dua mobil tampak datang dan langsung memarkirkan mobil di tempat yang sudah di khususkan untuk kedua mobil tersebut.


Orang-orang dari kedua mobil itu tampak sumringah dengan bawaan seserahan di tanganya, tapi ada satu orang yang tampak tegang dan menjadi bahan bulian Adik dan Papanya.


"Assalamu'alaikum calon besan beserta keluarga." Sapa Pak Amri.


"Wa'alaikumsalam calon besan, mari masuk," Ajak Pak Rizal.


"Ayaaahhhhhhhh....." Teriak Dafa dalam gendongan Reza ketika melihat Akbar masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Astaga ini anak teriaknya keras banget." Gerutu Reza dalam hati.


Terimakasih telah mampir.


__ADS_2