
Selamat membaca semua…..
Selamat datang bulan Desember….
********
Bagas POV
Dari balik jendela kamar tamu, aku bisa melihat sosok wanita yang sudah aku sayangi sedari masa kanak-kanak. Jika mengingat masa kanak-kanak rasanya hal ini hanyalah sebuah kesemuan semata, sebuah asa yang sulit sekali ku rengkuh. Dia Fanindira Atmadja, perempuan yang sedari dulu sudah menarik perhatianku, saat gigi susunya belum genap tumbuh, saat langkahnya masih tertatih, saat aku harus mencicipi hasil karya tangannya berupa masakan mainan, sampai saat gadis itu memilih menjalin kasih dan bertunangan dengan pria lain, aku tetap berdiri tegap menantinya di tempat yang semestinya dia tahu kemana akan pulang setelah lelah dalam petualangannya.
Aku akui, aku bukanlah lelaki yang 99,9% sempurna untuknya. Masih ada cacat disana-sini, sikap, sifat, tutur kata, bahkan wajahku pun tak setampan Siwon yang fotonya terpampang dimana-mana dengan membawa semangkuk mie instant. Aku hanya lelaki biasa yang jauh dari kata ‘lelaki idaman’ bagi seorang wanita seperti Fani, tapi saat hati mulai mengikhlaskan gadisku memilih lelaki lain aku mendengar dia dikhianati tunangan dan sahabatnya sendiri dan itu sukses membuat hatiku seperti tertusuk sembilu berkali-kali, meski peristiwa itu jujur saja sangat menguntungkan untungku tapi aku tak tega melihat Fani yang terpuruk. Sampai pada saat aku bertemu dengan Om Amri dan meminta izinnya untuk mengetuk pintu gadis yang menurutku memiliki paras yang ayu khas sunda, mencoba peruntunganku untuk membalut luka hati yang sudah menganga lebar itu, meski aku tak tahu takdir di depan sana seperti apa.
“Fani…Fani… selalu saja membuat usahaku untuk mengikhlaskanmu luluh lantah dengan mendengar sedikit saja kabar tentangmu.”
Gadisku itu masih saja setia duduk di bangku taman belakang, sesekali aku melihatnya mendongakkan kepalanya, entah apa yang dilihatnya diatas sana padahal langit malam ini cukup gelap menenggelamkan cahaya bintang dan bulan. Ah… aku jadi ingat masa kuliah dulu, langit Surabaya yang selalu menemaniku selama 3 tahun itu selalu tampak muram jarang sekali memperlihatkan cahaya bintang dan bulan, katanya sih karena sudah terjadi pencemaran udara sehingga ada kabut atau lapisan yang entah apa namanya menutup langit malam sehingga tampak hanya kelabu tanpa gemerlap bintang. Kala kuliah dulu aku sering berkeliling Kota Surabaya bersama dengan teman wanitaku tentunya hehehe, anggap saja aku nakal tak apa karena memang begitu adanya. Pergi kesana sini di temani wanita cantik dari kampus sebelah yang terkenal pintar dan cantik-cantik, bukan untuk pamer
hanya saja kadang aku merasa rindu dengan gadis kecilku yang berada di Jakarta tapi tidak bisa mengobatinya.
Mengencani beberapa wanita, entah mengajaknya nongkrong di café, keliling mall mulai dari Tunjungan Plaza, Plaza Marina, Galaxy, Royal Plaza, sampai ke Pasar Dinoyo rasanya juga pernah hahaha, berkendara roda dua melintasi Jembatan Suramadu, berkencan di taman bungkul, berkeliling hutan mangrove pun sudah pernah. Satu
__ADS_1
hal yang pasti ketika aku mengencani banyak wanita, bukan karena aku playboy atau lelaki brengsek hanya saja aku ingin mencoba mencari sosok Fani di wanita lain dan ternyata hasilnya nihil. Fani ya Fani tidak akan ada Fani lainnya.
“Dek, kamu kenapa? Ada masalah?” sayup-sayup aku mendengar suara Bang Akbar yang membuat lamunanku buyar seketika.
Aku memandangi keduanya memperhatikan interaksi kakak adik yang kini tengah berbagi cerita, aku menajamkan pendengaranku berusaha mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, jujur aku sangat penasaran. Takut jika ada kandidat lain untuk memperebutkan hati gadis kecilku itu, apalagi setelah mendengar cerita Bang Akbar kemarin tentang Bang Aziz yang sepertinya menaruh hati pada gadisku itu. Terlebih saat makan malam tadi, setiap gerak-gerik Fani tak luput dari tatapan pria itu dan itu sukses membuatku risih.
Aku berdiri dari dudukku saat melihat Fani dan Bang Akbar juga berdiri dari kursi di halaman belakang, tadi aku sempat mendengar mereka menyebut nama Aziz beberapa kali. Hmm… rasa-rasanya aku harus menyiapkan hati dan mentalku kembali jika Fani sampai pergi dan memilih lelaki lain lagi. Aku mencintai Fani setulus hati, pun ingin memilikinya sepenuh hati, tapi aku tidak berhak memaksanya biarkan semua mengalir apa adanya. Berusaha dan berdo’a adalah caraku menjaganya, dan sepertinya aku harus berguru pada Bang Akbar untuk meluluhkan hati seorang wanita haha.
***
Author POV
Di Bandung bagian lain, di rumah minimalis tapi terkesan indah dengan penataan yang pas dan sedap dipandang itu, tampak dua orang sedang mengobrol serius. Si wanita dengan sesekali bersikap manja dan memasang raut wajah yang sendu, mencoba merayu si pria yang sedang memasang muka tak bersahabat dengan deru nafas yang
“Ah, Abang pokoknya nggak usah diterusin kalau Abang sudah tahu Teh Fani dan Bang Bagas itu ada hubungan, meski tidak mengatakan pacaran, dari cerita Abang tadi sepertinya Bang Bagas itu yang sudah membawa Teh Fani bangkit dari rasa terpuruk dan kecewanya. Jangan di ganggu!”
“Ayolah, siapa tadi yang bilang nyuruh Abang nikung disepertiga malam? Giliran udah tahu cerita lengkapnya malah berhenti dukung Abang.”
“Bang aku nggak masalahin kalau kamu hanya berdo’a saja, tapi janganlah kalau sampai usaha yang bener-bener Abang belain buat dapetin Teh Fani. Inget Bang keluarga kita gimana jadinya? Hancur Bang, jangan sampai aku melihat atau merasakan hal mengerikan itu lagi. Aku hanya ingin Abang menikah dengan wanita yang juga mencintai Abang dengan tulus.”
__ADS_1
Brakk… suara pintu yang di banting keras oleh Syta, meninggalkan Aziz yang masih duduk termangu di ruang keluarga.
“Apa salahku Ya Allah, giliran aku ingin serius dengan satu wanita tapi semua orang seakan menentangku bahkan semesta pun ikut menentangku. Padahalkan secara logika Fani masih punya siapa saja dan semua pria berhak berjuang untuk mendapatkannya, tapi kenapa Adikku sendiri melarangku,” gumam Aziz frustasi dan pikirannya mulai berkelana dan terfokus pada satu ingatannya saat kedua orang tuanya memilih untuk berpisah.
“Arrrghhhh… semua ini gara-gara Mami sama Papi, tidak bisa memberikan contoh baik kepada anak-anaknya. Syta mungkin masih trauma karena ada pria lain yang berhasil merusak keluargaku sampai luluh lantah seperti ini. Arrghhh, Mami memang wanita yang sudah melahirkanku dan Syta tapi juga wanita yang menghancurkan harapan anak-anaknya. Tapi Syta musti paham, kalau aku tidak seperti lelaki yang merebut Mami dari Papi, karena disini Fani belum ada ikatan apapun bersama Bagas.”
"Dua laki-laki yang berbeda tetapi memiliki rasa yang sama untuk satu wanita dengan caranya masing-masing. Hidup memang kadang suka sekali bercanda, saat wanita-wanita diluaran sana masih banyak yang jomblo tapi kenapa hati memilih satu orang, yang sialnya sama-sama diincar oleh orang lain pula. Hahh... ingin sekali rasanya menculik Fani dan menikahinya langsung," ucap Aziz frustasi.
Lelaki yang akan menginjak usia 30 tahun itu pun beranjak dari duduknya dan memasuki ruangan ternyaman di rumah itu, kasur yang tertata rapi itu pun sudah menyambut sang empunya untuk menemani istirahat malamnya, memberi ketenangan dengan menghantarkannya menuju alam mimpi.
***
__ADS_1
Tahun 2020 akan segera terlewati nih, apa harapan kalian di tahun ini sudah tercapai semua? Semoga sudah ya, jika masih ada yang belum tercapai tetap semangat yaa…karena 30 hari lagi kita sudah akan menyambut tahun baru dengan harapan-harapan baru juga tentunya.
Dadahhh… terimakasih semua…