
Selamat membaca...
***
Qiana POV
Semalam kami semua telah kembali ke Surabaya,wisata tipis-tipis ke Kota tetangga pun berjalan dengan baik dan tampaknya keluarga Mas Akbar pun sangat menikmatinya. Keluarga Mas Akbar tidak kembali ke hotel tempatnya menginap selama di Surabaya, karena semalam Nenek memaksa agar keluarga Mas Akbar tidur di rumah Papa sampai kami akan kembali ke Bandung.
Pagi ini ku lihat Mas Akbar sedikit agak aneh, seperti menyembunyikan sesuatu begitu juga dengan Fani. Padahal kemarin keduanya sangat menikmati liburan tapi kenapa tiba-tiba terlihat bad mood dan seperti orang yang banyak tekanan. Ingin bertanya tapi takut salah, yasudah lah jika mereka membutuhkan aku, mereka akan datang dengan sendirinya.
drtt...drtt...drrt....
Terasa olehku getaran di saku gamis yang aku kenakan, kulita ternyata Tiwi melakukan panggilan vidio untukku. Tak perlu berpikir lama, aku langsung menggulirkan tombol hijau menerima panggilan vidionya.
"Assalamu'alaikum Bun." sapa Tiwi padaku, kulihat wajahnya tampak tak bersemangat. Hmm tidak seperti Tiwi yang selalu tampak ceriah, batinku.
"Wa'alaikumsalam, Tiw. Apa kabar, tumben kamu vicall aku. Muka kamu juga tuh kenapa acem banget," kataku yang langsung membrondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan, tampak di sebrang sana Tiwi menyunggingkan sedikit senyumnya.
"Alhamdulillah aku baik, aku nggak akan nanya balik kabarmu, karena aku lihat kamu sangat bersemangat pagi ini," ucap Tiwi yang membuatku tertawa, " Aku melakukan panggilan vidio, ya karena aku rindu. Dan mukaku nggak acem ya, ini lagi kepikiran kamu tahu nggak sih, eh yang di khawatirin malah keliatan hepi-hepi aja." dengusnya kesal, aku hanya mengernyitkan dahiku heran. Entahlah, kenapa Tiwi harus mengkhawatirkanku yang jelas-jelas, baik-baik saja.
"Mengkhawatirkan aku?" tanyaku pada Tiwi.
"Iya, kamu tahu tidak Bella di ceraikan oleh suaminya. Karena suaminya malu kalau dia di penjara, kemarin di rumah mereka berantem hebat sampek-sampek aku takut pas mau masuk rumah sehabis ngajar, suara makiannya kedengeran sampai luar rumah," Astaghfirullah, ada apa lagi ini pikirku.
"Lalu, apa hubungannya dengan kamu mengkhawatirkan aku Tiw?" tanyaku heran.
"Iya karena dia kemarin memutuskan untuk kembali ke Surabaya, dan dia sempat menyalahkanmu karena dia merasa kamu adalah sumber masalah baginya." jawab Tiwi dengan raut muka yang lebih terlihat sedih.
"Kenapa dia menyalahkan Qiana atas masalah yang menimpanya? Tidak tahu diri sekali," ucap Mas Akbar yang ternyata sudah berdiri di belakang sofa, mbuatku menolehkan kepalaku ke arahnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mas Akbar ngagetin aja," ucapku.
"Jawab Tiw, kenapa dia menyalahkan Qiana?" tanyanya lagi tanpa menghiraukan keterkejutanku.
"Emh, itu karena Qiana sudah mengadopsi Dafa dan bertemu dengan Pak Akbar. Bella berfikir jika Dafa tidak pernah di temukan oleh Mas Akbar, Bella tidak akan pernah masuk penjara dan akhirnya di gugat cerai oleh suaminya," kata Tiwi mencoba menjelaskan dengan tenang, aku berfikir keras tentang alasan Bella. Apa artinya dia lebih memilih Dafa tetap hidup di panti tanpa kasih sayang kedua orang tuanya?.
"Lalu dia bercerita apa lagi? Apa dia merencanakan sesuatu yang kamu ketahui?" tanya Mas Akbar lagi.
"Dia bilang akan merebut Dafa bagaimana pun caranya, karena Dafa adalah anak kandungnya, dan kemarin dia sudah terbang ke Surabaya Pak, sebaiknya Bapak dan Qiana segera kembali ke Bandung. Dan berikan penjelasan dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi keseluruh anggota keluarga Bapak dan Qiana, agar semuanya bisa membantu mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Tiwi dengan memberi saran yang bijak, mungkin dia melihat raut mukaku yang menjadi tegang.
"Ide yang bagus, terimakasih sudah mau membantu Qiana," kata Mas Akbar tulus.
"Tidak usah berterimakasih Pak, sudah tugas saya membantu sahabat saya sendiri." ucap Tiwi diiringi dengan senyum tulus, terlihat wajahnya sudah tak semurung tadi.
"Ehm, boleh aku berbicara dengan Tiwi sebentar Mas?" tanyaku pada Mas Akbar, tanpa menjawab dia langsung beranjak berdiri dan memasuki kamarku yang di dalamnya masih ada Dafa yang masih tertidur.
"Kamu tenang saja, Bella nggak akan pernah berani sama aku." jawabnya.
"Ah, salah aku mengkhawatirkan orang semacam kamu ini," kataku, ku lihat Tiwitertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, it's oke. Oh ya, kalau Bella ada namu hari ini mending jangan di bukain pintu ya." pesan Tiwi.
"Eh jangan dong, aku mau suruh dia masuk aja biar dia ketemu sama Mas Akbar dan orang tua kami biar masalah cepet selesai. Aku sama Dafa sembunyi dulu sampai keadaan bener- bener kondusif," ucapku sambil berfikir, rencana apa yang harus aku lakukan agar Bella takluk dan tidak menggangguku atau pun Dafa dan Mas Akbar.
" Yaudah pokoknya, jaga diri aja. Aku tutup dulu ya, mau ngajar," kata Tiwi yang sudah tampak grasa-grusu.
"Oke, bye. Hati-hati," ucapku, dan panggilan vidio kami pun usai.
Ku sandarkan tubuhku di punggung sofa yang ku duduki, kepala menengadah ke atas pikiranku menerawang jauh kedepan, memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Lamunanku usai ketika terasa ada yang menepuk bahuku.
__ADS_1
"Mbak.... Mbak Qiana," kata Fani sambil menepuk bahuku.
"Ah, iya Dek ada apa?" tanyaku cepat.
"Itu di panggil Abang, Dafa udah bangun minta di mandiin," kata Fani.
"Iya, sebentar." jawabku langsung berdiri dan berjalan menuju kamarku.
"Oke Mbak, aku izin nonton tv yaa," kata Fani sedikit berteriak karena aku sudah berjalan menjauh.
"Iya nonton aja, kenapa pakai izin segala sih Dek udah anggep rumah sendiri aja," kata Santi, menjawab pertanyaan Fani. Kebetulan Mbka Santi sedang berjalan bersama Lea menuju ruang keluarga.
"Eh, Mbak Santi. Iya Mbak makasih ya," ucap Fani yang tampak sungkan.
Aku sangat menikmati peranku sebagai seorang Ibu untuk Dafa.Mas Akbar sudah keluar kamar dan bergabung bersama anggota keluarga lainnya untuk sarapan, tak berselang lama Aku dan Dafa berjalan menuju ruang makan untuk bergabung dengan yang lainnya.
Menu sarapan kali ini adalah nasi pecel dengan rebusan daun semanggi serta lauknya ada ayam goreng, telur bali, kering tempe dan tidak lupa rempeyek kacang sebagai pelengkap. Menu sarapan yang sangat bertolak belakang dengan kebiasaanku ketika tingal di Jakarta dan Bandung, yang selalu makan bubur ayam ketika sarapan. Dafa yang sama sepertiku pun hanya ingin makan dengan ayam goreng. Keluarga Mas Akbar untungnya tidak pemilih dan tampak menikmati nasi pecel dengan lahap.
Seusai sarapan Dafa, Lea, dan Leo mengajakku untuk bermain di taman belakang. Aku sangat bahagia ketika melihat Dafa tampak akur dan bahagia bermain dengan dua keponakanku, kadang aku takut jika Dafa merasa kesepian selama tinggal bersamaku, karena tidak ada anak kecil yang sebaya dengannya. Setiap hari hanya bermain denganku, kadang dengan Ayahnya ketika datang bertamu ke rumah.
Saat aku asyik memperhatikan anak-anak terdengar suara teriakan dari arah depan, entah apa yang terjadi tapi aku sangat kenal dengan suara itu.
"MAU APA KAMU DATANG KEMARI!!!" teriak Fani yang suaranya sampai terdengar di taman belakang.
***
Teriamakasih telah membaca....
__ADS_1