
Selamat membaca semua….
***
Perjalanan pesawat selama 8 jam tak membuat seorang Fani merasakan lelah, hanya ada senyum dan senyum yang bertengger cantik di wajah cantiknya, akan segera bertemu dengan keluarganya terlebih lelaki pujaan hatinya membuat perasaannya diliputi dengan kebahagiaan tiada tara. Berbeda jauh dengan perasaannya saat meninggalkan Indonesia lima minggu lalu, dipenuhi rasa kecewa bercampur sedikit amarah yang berusaha dia redam.
Tadi sebelum take off dia sudah menghubungi Papanya agar bisa menjemputnya di Bandara Soeta, agar bisa langsung pulang ke rumah. Sengaja dia tak memberi tahu kepulangannya pada Bagas agar bisa memberi kejutan untuk lelaki itu.
“PAPA…” teriaknya seraya berjalan mendekat menuju cinta pertamanya dari arah berlawanan terlihat sang Papa sudah melambaikan tangannya dengan senyum yang tertarik sempurna.
Fani langsung bergelayut manja di lengan sang Papa ketika jarak tak lagi memisahkan keduanya. “Aishh… anak Papa bener-bener udah gede ya, udah berani lama-lama di negeri orang tapi kok pas udah pulang jadi manja gini.” Fani mencabikan bibirnya kesal.
“Ah…Papa mahhh… nggak seru ih anaknya udah sebulan lebih loh berpetualang nggak apa kali manja sesekali.” Fani sudah melepaskan tanganya dilengan sang Papa membuat Pak Amri tertawa dan gemas melihat tingkah anak bungsunya itu.
“Iya…iya … ayo pulang yuk, Mama udah kangen banget sama partner berantemnya hahaha Mama kamu udah masakin makanan kesukaan kamu loh.” Ucap Pak Amri seraya mengambil alih koper si bungsu dan menariknya.
Fani tersenyum senang, orang tuanya selalu memberinya yang terbaik tidak pernah mengecewakannya sama sekali meski sering beradu argument dengan sang Mama bukan berarti hubungannya tidak terjalin dekat malah sangat dekat terlebih dengan sang Papa yang selalu menunjukkan rasa kasih dan sayangnya.
“let’s go Papa, kita caaooooowwww….”
Sepanjang perjalanan Fani mendengarkan banyak sekali cerita dari sang Papa, tentang Mamanya, calon keponakannya yang kembar, kedua kakaknya dan juga si aktif Dafa. Fani sangat bersyukur kembalinya Dafa ditambah dengan kehadiran Kakak Iparnya, Qiana mengembalikan bahkan menambah rasa bahagia di dalam keluarga besarnya. Terlebih sang Abang yang kini sudah kembali seperti sedia kala, hangat dan selalu mementingkan keluarga di atas segala hal.
Satu jam berlalu kini mobil hitam yang dikendarai oleh Pak Amri sudah memasuki gerbang perumahan elit. Saat akan memasuki gerbang rumahnya mata Fani menangkap sosok yang sangat ia rindukan keluar dari mobilnya, sontak saja matanya langsung beralih menatap sang Papa.
“Papa kasih tahu A Bagas ya?” matanya seolah ikut menyelidik.
“Enggak lah, kalau dia tahu kamu pulang hari ini sudah dapat dipastikan yang nungguin dan jemput kamu di Bandara bukan Papa. Mana mau dia nungguin kamu di rumah, dia itu udah hampir tiap pulang kantor pulang ke sini, eh mampir maksudnya kadang makan malam juga disini haha kasihan banget Papa liatnya,” Ucap Pak Amri seraya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.
__ADS_1
“Aku masuknya lewat pintu belakang ya Pa, Papa tolong masukin koper aku. Taruh di teras dulu aja nggak apa-apa, tapi kalau A Bagasnya ada di dalem tolong bawa ke ruang tamu ya Pa kopernya.” Ucap Fani seraya sibuk melepas sabuk pengamannya, Pak Amri hanya menganggukan sekilas kepalanya dan segera keluar dari mobil.
Dengan langkah pelan tapi pasti Fani melangkahkan kakinya bergantian, dia menarik nafasnya dalam ketika sudah di depan pintu belakang, berharap tidak menjumpai siapa pun. Tangannya sudah beralih memegang gagang pintu, ditariknya perlahan agar tak menimbulkan bunyi gaduh.
“Fiuhh… Alhamdulillah nggak ada orang.” Dia melangkahkan kakinya kembali setelah menutup pintu secara perlahan. Baru melangkah 5 kali tubuhnya sudah menegang ketika matanya sudah bersitatap dengan pemilik mata bulat yang sedang minum air putih duduk di kursi meja makan. Pemilik mata bulat itu pun ikut menegang, dan memandang dalam orang yang sedang berdiri mematung, pria itu seolah berhalusinasi ketika melihat Fani.
“Uhuk…uhuk..uhuk… Ma..Mama… sini kayaknya Bagas ngehalu ya ini?” teriaknya memanggil Bu Rita, Mama Fani yang sudah dipanggilnya dengan sebutan Mama, membuat Fani tambah mendelikan matanya sudah sejauh apa kedua orang tuanya menerima Bagas di rumahnya ini. Setahunya saat ia pergi ke Korea Bagas masih memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan Om dan Tante.
Fani masih diam mematung, bingung musti bertindak bagaimana niatnya ingin membuat kejutan untuk sang kekasih malah dianya juga ikut kaget seperti ini. Terdengar suara derap langkah yang kian mendekat.
“Sayang” Bu Rita langsung memeluk tubuh sang anak yang sudah dirindukannya selama sebulan lebih, membuat Bagas mengerjapkan matanya berulang kali.
“Astaghfirullah, jadi ini beneran Fani Ma? Aku nggak lagi ngehalu saking rindunya gitu? Hahaha, dasar bandel ya sekarang pulang nggak kasih kabar.” Bagas pun beranjak mendekat ke arah Ibu dan Anak yang sedang berpelukan melepas rindu.
“Sini kamu peluk Papa aja, jangan deket-deket Fani dulu belum muhrim takutnya kebablasan main peluk-peluk dengan alibi rindu.” Dari arah belakang Pak Amri mengagetkan Bagas yang sudah tinggal selangkah lagi berada tepat di dekat Bu Rita dan Fani.
“A Bagas kok tambah bodor gituh Ma?” bisik Fani pada sang Mama.
“Tiap sore ngobrolnya sama Papa ya jadinya gituh, ketularan bodornya si Papa.” Mama Rita berucap seraya melepas pelukannya pada sang Anak.
“Sudah-sudah temu kangennya kita tunda dulu, kita masuk kamar masing-masing mandi dulu yang belum sholat ashar sholat dulu, habis itu nanti Papa tunggu di muholla rumah kita jama’ah di rumah aja terus makan malam bersama ya.” Pak Amri langsung menarik tangan istri dan anak bungsunya meninggalkan Bagas seorang diri di dapur dengan wajah bingung.
“Papa? Aku nggak dikasih kesempatan ngobrol dulu gituh sama Fani?” ucap Bagas seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung dengan sikap camernya. Mau tak mau akhirnya Bagas pun berjalan menuju kamar tamu untuk mandi.
Di dalam kamarnya Fani langsung merebahkan tubuhnya dan memegangi bagian dadanya yang sedari tadi sudah berdetak dengan cepat.
“MasyaAllah, ini pengalaman baru lagi buat aku. Padahal dulu udah pernah sampai tahap tunangan yang mempertemukan kedua orang tua tapi kenapa perasaannya beda begini?” Fani masih terus bergumam dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, tanpa mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu Fani kini sudah berada di ruang makan menatap dengan khidmat bungkusan dari daun pisang, yang sudah dapat dipastikan oleh indera penciumannya bahwa dibalik daun itu terdapat pais ikan mas, kesukaannya.
“Kita berdo’a dulu ya.” Belum sempat ada yang menjawab suara bel sudah terdengar, membuat mereka mengurungkan niatnya untuk berdo’a sebelum makan, menunggu salah satu ART melihat tamunya terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum… calon besan dan calon mantu,” ucap Bu Eni Mama tiri Bagas dengan heboh.
“Wa’alaikumsalam, eh calon besan kebetulan sekali. Ayok duduk kita makan malam bareng dulu terus nanti kita lanjut ngobrol.” Ajak Bu Rita yang kini sudah meminta ARTnya untuk menambah 3 buah alat makan.
Makan malam dilalui Bagas dan Fani dengan canggung, sesekali Bagas terlihat menarik nafasnya dalam entahlah mungkin dia gugup dengan kehadiran kedua orang tuanya yang sengaja dia chat dan meminta mereka untuk segera datang ke kediaman Pak Amri.
“Ma..Pa.. Camernya Bagas yang ganteng dan cantik, Bagas mau bilang sesuatu malam ini dan berharap kalian semua bisa menjadi saksi, semoga niat baik Bagas bisa disambut baik juga oleh semuanya.” Suasana yang tadinya sedikit ramai akibat obrolan dua wanita yang tak lagi muda itu kini tiba-tiba menjadi hening setelah mendengar penuturan yang cukup serius dari seorang Bagas. Fani yang sedari tadi sudah merasa canggung sekarang semakin bertambah.
“Ada apa Nak?” tanya Pak Amri.
“Sebetulnya Bagas sudah melamar Fani sewaktu hari wisuda Fani dua bulan yang lalu. Sekarang di depan Mama dan Papa dari Bagas dan Fani serta Syta, adik Bagas. Bagas mau mengulang proses lamarannya menjadi lebih serius dan disaksikan langsung oleh keluarga inti Bagas dan Fani.” Bagas berdiri dari duduknya berjalan menuju tempat Fani duduk dan bersimpuh dihadapannya, mengeluarkan cincin yang hampir sama dengan cincin pemberiannya pada Fani saat wisuda dulu, hanya yang membedakannya adalah ada ukiran nama dan jumlah permata yang bertambah 2 biji. Entahlah mungkin Bagas bingung memilih cincinnya sehingga memilih model yang
hampir sama.
Semua mata tertuju pada Bagas dan Fani yang kini sudah saling berhadap-hadapan. Fani masih membisu, membiarkan Bagas yang masih bersimpuh dihadapannya dengan menggunakan satu lututnya yang tertekuk. Tanpa aba-aba, Bu Rita mengambil cincin yang berada di dalam kotak beludru itu lalu meraih tangan sang anak, melepas cincin lama yang diberikan oleh Bagas dan menggantinya dengan yang baru.
“Tante… kok Tante yang ngambil dan masangin sih, seharusnya kan Bang Bagas.” Syta yang sedari tadi memperhatikan dibuat gemas oleh tingkah wanita yang seumuran dengan Maminya.
“Hahaha, Mama pinter ih. Mereka kan belum muhrim jadi dilarang bersentuhan gituh Syta anak bontotnya Ibu Eni.” Pak Amri mengacungkan kedua jempolnya kepada sang istri, merasa bangga dengan kegercepan istrinya. Mama dan Papa Bagas dibuat melongo dengan kelakuan calon besannya, meski sudah berkawan lama tapi masih saja gemas melihat pasangan yang tak lagi muda itu.
“Terimakasih. Nanti setelah ijab, aku akan segera menetap di hati Aa.Sekarang hati aku masih punya mereka.” Dengan malu-malu Fani berbicara dengan lirih yang mungkin hanya bisa didengar oleh Bagas, seraya melirik ke arah kedua orang tuanya. Bagas yang tadinya juga melongo, kemudian, beranjak berdiri sambil tersenyum senang. Meski terkesan dadakan, sebetulnya hal ini sudah disiapkannya jauh-jauh hari, setelah mendengar kabar bahwa Aziz akan mengikhlaskan Fani untuknya. Berkunjung hampir setiap hari dan selalu membawa senjatanya, yaitu kotak berbentuk hati dan berwarna merah, akhirnya hari ini tuntas sudah dia bisa melamar sang pujaan hati di depan kedua keluarga.
***
__ADS_1
Terimakasih telah membaca….