
Selamat membaca.......
***
Ceklek..
“Assalamu’alaikum.” Ucap pria dengan suara bariton yang sangat ia kenali.
“Wa..wa’alaikumsalam….Abang.” pekiknya.
Dan masuklah dua orang yang sudah dinanti kehadirannya tanpa perlu di persilahkan masuk.
“Ayahhhhh….” Teriak Dafa saat mengetahui siapa yang datang.
“Stop sayang, biar Ayah sama Om Bagas mandi dulu baru minta di gendong ya,” ucap Akbar dengan lembut kepada anaknya.
“Loh, kamu Mas yang datang. Aku kira tamunya Fani,katanya pulang besok sore.” Ucap Qiana yang baru saja tiba di ruang tamu dan langsung mengambil alih tas yang dibawa Akbar seraya mencium punggung tangan suaminya.
“Nggak seneng nih suaminya pulang,” rajuk Akbar.
“Eh, ya seneng atuh Mas. Cuma heran aja aku kira belum selesai urusannya di Jakarta.”
“Mana bisa lama-lama di luar rumah, kalau yang di rumah ngangenin gini Yank.” Bisik Akbar pada Qiana agar tidak di dengar yang lainnya.
“Ehmmm…. Mau ada tamunya Fani? Siapa Qi?” tanya Bagas.
“Oh itu, bukan tamunya Fani aja sih sebenernya tapi tamu.... tamunya kita… iya tamunya kita itu siapa namanya Mas adik tingkat kamu itu, yang kemarin nganter kamu ke bandara terus bantuin aku berkebun itu?”
“Aziz, memangnya kenapa dia malam-malam kesini?” tanya Akbar heran.
“Itu, sebagai ucapan terimakasih kita. Kita mau ngajak dia makan malam bareng, dia nggak sendiri kok kesininya.” Jelas Qiana.
“Oh… yasudah aku mandi dulu.”
Kedua pria itu pun memasuki kamar masing-masing, membuat kedua wanita yang berasa diwawancarai dadakan itu pun mendesah lega.
“Ya…Allah Mbak aku berasa selingkuh tau nggak sih.” Ucap Fani.
“Kamu itu bikin Mbak deg-degan aja, untung Mbak bisa jawab pertanyaan mereka. Jangan sampai ada salah paham ini Dek," bisik Qiana pada Fani.
__ADS_1
“Doooorrr…hayo pada ngapain sih bisik-bisik, lihat tuh Dafa bengong lihatin kalian,” ucap Tiwi yang baru saja dari kamarnya.
“Astaghfirullah.. Tiwi ngagetin aja, ini nih Fani lagi bikin acara berpacu dalam makan malam xixixi,” jawab Qiana yang langsung pergi dari ruang tamu sambil menggandeng tangan anaknya dan meninggalkan dua orang wanita yang masih sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Ting…tong..ting..tong..
“Fan, tuh tamu kamu.” Ucap Tiwi sambil menggoyang tubuh Fani yang masih diam di tempat.
“Eh iya, bentar.”
Ceklek..
“Assalamu’alaikum Teh,” Ucap wanita berkerudung hitam cantik tapi tidak meninggalkan kesan tomboynya, karena kerudung yang dipakai di padu padankan dengan celana jeans dan kemeja yang terbuka menampilkan kaos polos dibaliknya.
“Wa’alaikumsalam, siapa?” tanya Fani.
“Emh, aku.”
“Hai…Fan, boleh masuk?” tanya pria yang baru saja turun dari mobilnya, dengan pemikiran yang tajam Fani bisa mengira bahwa perempuan dihadapannya ini adalah pasangan Aziz yang dibawanya untuk ikut makan malam bersama.
“Eh, wajahnya kok kalau diperhatikan sekilas mirip dengan wanita yang jemput Bang Aziz tadi deh,” kata Fani dalam hati sambil memandang intens wajah wanita dihadapannya.
“Eh, iya silahkan masuk,” ucap Fani yang terlihat sedikit bingung dan hal itu cukup membuat Aziz untuk menyunggingkan senyumnya.
“Kita langsung ke ruang makan saja ya,” ajak Fani dan diangguki oleh kedua orang tamunya.
Layaknya pelayan resto yang sudah siap sedia ketika pengunjungnya datang untuk makan, selepas mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi yang telah disediakan, Fani dibantu oleh Tiwi langsung menyiapkan makanan di meja makan. Tak berselang lama Akbar beserta anak dan istrinya dan Bagas pun sudah duduk di meja makan untuk memulai makan malam.
“Loh, Abang sudah pulang? Kenapa tak menguhubungiku, tahu begitu tadi aku jemput Bang,” Ucap Aziz ketika mengetahui Akbar sudah berada di rumah.
“Ah iya, tadi aku pulang sama Bagas naik mobil jadi tidak perlu di jemput,” jawab Akbar yang membuat Aziz tersenyum kecut, ternyata memang sudah sedekat itu Bagas dengan keluarga Fani, terlebih sudah dua kali ini Aziz
bertemu dengan Bagas dan dia selalu menginap di rumah Akbar yang sudah pasti ada Fani juga disana.
“Oh iya Bang. Kamu nggak kerja Gas, kok ikut ke Bandung?” tanya Aziz mencoba mengakrabkan diri dengan Bagas sambil menunggu Fani yang masih sibuk menyiapkan minuman dan alat makan.
“Justru ini ke Bandung buat kerja Bang, ada proyek yang musti diurus disini,” jawab Bagas dengan tenang, padahal hatinya tengah gundah melihat ada yang lain dari diri Aziz yang tertangkap oleh penglihatannya. Yap, Bagas tak sengaja melihat Aziz mencuri pandang pada Fani saat menata makanan diatas meja.
“Oh iya..iya..” ucap Aziz sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
“Om, ini Onty syiapa namanya?” tanya Dafa yang sedari tadi memperhatikan Syta.
“Nah, makanan sudah siap. Ayo kita makan.” Ucap Fani yang baru saja tiba dengan membawa es timun dan segera mendudukan tubuhnya diantara Kakak Ipar dan Bagas.
“Eh ini, Onty Syta adiknya Om Aziz,” jawab Aziz.
“Adik? Kok besal, kata Bunda Adik Dafa kecil… belalti Adik Om Aziz juga halus kecil,” ucap Dafa sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ketika bilang besar dan mengurangi rentangannya ketika bilang kecil.
“Hahaha, kamu itu Daf…Dafa… dulu Onty Syta juga kecil tapi karena Onty Syta rajin makan sama minum susu jadinya Onty Syta cepet besar.” Jawab Aziz.
Setalah tawa mereda dan Syta selesai memperkenalkan dirinya, Fani bangkit dari duduknya dan meminta semua orang untuk tidak mengambil makanannya sendiri, melainkan Fani yang akan mengambilkan makanan untuk makan malam kali ini. Akbar dan Qiana tidak curiga atau merasa aneh sama sekali, karena Fani memang sering melakukan hal ini, lain halnya dengan orang-orang disana. Dan sebetulnya Fani mempunyai alasan tersendiri untuk ini, yaitu untuk memenuhi permintaan Aziz, dan agar tidak menimbulkan kesalah pahaman akhirnya Fani memutuskan untuk melakukan hal ini.
Akbar meminta untuk diambilkan nasi beserta gulai kambing plus acar dan sambal, Qiana memilih untuk diambilkan nasi dan belut goreng bumbu kuning dan sambal terasi begitupun dengan Tiwi, Syta memilih menu yang sama dengan Abangnya gulai kambing, acar, sambal, dan juga kerupuk.
“Bang Bagas sama belut goreng? Betul?” tanya Fani.
“Betul banget, belut goreng bumbu kuningkan kesukaannya Bagas,” sahut Akbar.
“Kok bisa kebetulan banget sih? Padahal kita nggak ada yang tahu kalau Bagas sama Mas bakalan pulang hari ini. Apalagi ini yang masak semua Fani sendiri loh, emang kalau sudah sehati mah suka gituh ya Mas hihii,” ujar Qiana menanggapi suaminya, tapi lagi-lagi percakapan itu membuat Aziz harus tersenyum getir.
“Udah ih jangan godain aku mulu, tuh Dafa udah belepotan makan cream supnya.”
Dalam diam Aziz memperhatikan Fani yang sedang menyendokan nasi untuk Bagas, ada sedikit rasa sesak di hatinya menyadari sikap Fani yang berbeda ketika memperlakukan Bagas dan dirinya.
“Kalau Fani ngambil makanan yang sama kayak aku, gulai kambing berarti Fani jodoh aku.Tapi kalau Fani ngambil makanan kayak punya si Bagas kampret, berarti Fani jodoh dia,” ucap Aziz dalam hati sambil mengamati pergerakan tangan Fani.
Setelah mengambilkan belut plus sambal terasi lengkap dengan lalapannya untuk Bagas, kini Fani tengah mengambil sepiring nasi untuknya sendiri lalu mengambil belut beserta sambal dan lalapan. Yang sudah pasti membuat Aziz langsung muram seketika.Tapi kemuramannya berubah menjadi kebingungan setelah melihat apa yang dilakukan Fani berikutnya.
“Kok kamu ngambil mangkok Fan?” tanya Tiwi.
“Oh ini mau ngambil gulai kambing,” jawab Fani.
***
Othor: “Kamu mau makan yang mana sih Fan, bikin Bang Aziz tamvan bingung aja.”
Fani: “Lagian sih Bang Aziz aneh-aneh bae. Masak iya, jodoh Fani bergantung sama makanan yang Fani makan, ya ogah keleusss Thor.”
***
__ADS_1
Terimakasih telah membaca, like, komen, rate, dan votenya.