
Tok…tok..tok…
suara kaca mobil yang diketuk dari luar, membuat degub jantung Fani semakin berdetak kencang, seperti maling yang ketahuan mencuri.
“Astaga Mbak… tiba-tiba aku ingin pinjem pintu kemana saja milik doraemon.” Ucap Fani ketika melihat wajah seorang pria yang sedang mengetuk kaca mobil, Tiwi yang tidak paham dengan kepanikan Fani pun hanya diam menatap Fani dengan tatapan bertanya. ‘Apa yang perlu ditakutkan? Kita nggak salah.’
“Bentar Mbak keluar dulu, kalau kamu masih takut diam disini aja.” Kata Tiwi yang menyalah artikan tatapan Fani.
Ceklek
“Ada apa Aa mengetuk kaca mobil itu, bukannya sudah diurus sama Bapak yang disana?” tanya Tiwi pada laki-laki yang tadi mengetuk kaca mobil dan menunjuk Bapak sopir taxi online yang sedang berbicara serius dengan kedua orang pria dewasa.
“Oh itu Teh, si Bapaknya nggak punya uang buat ganti rugi kerusakan mobil saya. Jadi saya disuruh buat minta sama Teteh.” Jawaban yang tak masuk diakal itu pun keluar dengan mulus dari bibir pria itu.
“Astaga, ganteng sih tapi ora duwe ati, ora duwe utek.” Kata Tiwi dengan nada ketus.
“Hei, jangan asal bicara aku tahu yang kau bicarakan dan aku masih punya hati dan punya otak.” Ucap pria itu dengan kesal sambil mendelikan matanya menatap Tiwi.
“Mbak udah biarin aja dia itu lagi ngeprank kita, yuk kita nunggu Abang aku aja di endoapril depan sana tuh.” Kata Fani yang entah sejak kapan sudah berada di luar mobil dan mendengar percakapan Tiwi bersama pria yang dikenalinya di belakang mobil.
“Ah, my heart jodoh emang nggak kemana ya.” Ujar pria itu, ya dia Aziz si tukang prank, orang yang paling di hindari oleh Fani, tapi sayang sekali takdir selalu mempertemukan mereka dengan suasana yang sangat menyebalkan bagi Fani dan tentunya sangat menyenangkan bagi Aziz karena bisa melihat wajah Fani yang menggemaskan menurut Aziz ketika sedang cemberut.
“Jaga bicara Anda. Pak… sini!” teriak Fani memanggil sopir taxi tadi yang sedang berbincang pelik dengan dua komplotan si tukang prank.
“Iya, ada apa Teh? Tanyanya.
“Itu Bapak tenang aja, Aa ini yang akan ganti rugi kerusakan mobil Bapak. Saya tadi sudah bayar lewat aplikasi ya Pak, saya turun disini aja terimakasih Pak.” Ujar Fani seraya menarik lengan Tiwi agar segera beranjak dari sana. Tak ingin ada keributan yang membuat moodnya kembali buruk, Fani mempercepat langkahnya ketika suara berat Aziz meneriakinya untuk kembali.
“MY HEART!! FAN…FANI..!!!” teriak Aziz dengan keras, ingin berlari mengejar tapi urusannya belum selesai. Pranknya sudah terlanjur diketahui korbannya, mau tak mau dia harus menyelesaikannya dulu bersama Bapak sopir taxi online yang ditumpangi Fani tadi.
“Arrrrghhhh… kacau semuaa..!!!” teriak Aziz frustasi.
Sedangkan Fani kini tengah meneguk segelas air dingin yang baru saja dia beli di endoapril. Tiwi dengan pandangan herannya terus menatap Fani, seolah menunggu penjelasan tentang apa yang baru dialaminya, tapi yang sedang di pandang intens masih belum peka.
Tin…tin…tin… suara klakson mobil mengejutkan Fani dan Tiwi yang sedang duduk di depan endoapril.
“Astaghfirullah mobil nggak ada akhlaq, untung jantung buatannya Gusti Allah.” Ucap Fani.
__ADS_1
“Eh, itu bukannya mobil yang nabrak taxi online kita tadi ya Fan?” tanya Tiwi, membuat Fani menajamkan penglihatannya dan mendengus kesal ketika matanya mengiyakan ucapan Tiwi.
“Hmmm… Mbak biarin aja ya cuekin aja, bentar lagi Abangku dateng kok ini masih ngisi bbm di pom perempatan depan.” Ucap Fani sambil melirik mobil yang sudah terparkir cantik di halaman parkir endoapril, “Dia itu tukang prank nggak ada akhlaq, semaunya sendiri, ah… pokoknya semua hal yang buruk melekat sama orang itu. Jadi abaikan aja ya Mbak.” Sambung Fani dengan bersungut-sungut.
“Oke, tapi nanti sepulang dari sini musti cerita sama Mbak.” Kata Tiwi yang masih memperhatikan mobil hitam itu, yang pintu kemudinya mulai terbuka disusul dengan turunnya pria berperawakan tinggi dengan alis tebal, mata yang selalu menatap dengan tajam, hidung yang cukup mancung untuk seorang berwajah khas jawa, dan bibir tipis yang selalu berbicara seenaknya itu.
“Hai, my heart ayok masuk mobil aku anter kamu pulang.” Ucap Aziz dengan raut muka tengilnya.
“Nggak usah repot-repot, terimakasih!” jawab Fani ketus.
“Udah mau hujan nih, mending sama aku aja kali ini no prank kok.” Bujuk Aziz lagi, belum sempat Fani menjawab matanya sudah menangkap mobil Akbar di sebrang jalan.
“Ayok Mbak, tuh Abang udah dateng.” Ajak Fani tanpa menjawab ajakan Aziz untuk kedua kalinya.
“Fan Sorry, jujur aku nggak ada niatan buat bikin kamu kesel kayak gini.” Ucap Aziz lembut ketika Fani berjalan hampir melewatinya.
“Simpan maafmu untuk orang-orang yang kau buat jantungan melihat tingkah konyolmu.” Ucap Fani seraya mempercepat langkahnya.
“Huuhhhff….. susah banget ngadepin adeknya Bang Akbar satu itu.” Ucap Aziz tanpa beranjak dari tempatnya berdiri, membiarkan Fani dan perempuan yang tak dikenalnya berjalan menjauh.
"Aku ikutin aja kali ya, my heart. Masa kayak gini terus kesan ketemunya, jelek banget." ujar Aziz pada dirinya sendiri, dan langsung masuk kedalam mobilnya lagi.
“Assalamu’alaikum Bang, maaf nggak sengaja.” Ucap Fani dengan cengengesan.
“Wa’alaikumsalam… hm..” jawab Akbar dengan mode dinginnya, membuat Tiwi yang duduk dikursi belakang lagi-lagi berfikir ulang untuk sekadar menyapa suami sahabatnya itu.
“Bang, beli cuanki dulu yuk. Enak kayaknya dimakan sore-sore gini apalagi cuacanya lagi mendung.” Pinta Fani dengan sedikit merengek, hem memang agak susah membuat Fani menjadi sosok yang kalem tidak mudah merengek seperti ini, jika menginginkan sesuatu.
“Nggak mau, enakan seblak. Tadi istri Abang telepon mau bikinin Abang seblak, jadi Abang mau langsung pulang nggak mau mampir-mampir lagi.” Jawab Akbar tegas.
“Eh, yaudah seblak juga enak. Iya kan Mbak?” tanya Fani pada Tiwi yang sedari tadi diam memandang keluar jendela.
“Iya enak.” Jawab Tiwi sekenanya.
“Oh iya, besok pagi Abang ada perjalanan bisnis ke Jakarta selama dua sampai tiga hari sekalian jenguk Mama dan Papa, Abang minta kamu temenin istri Abang di rumah sama kamu juga Tiw saya minta tolong.” Ucap Akbar.
“Ashiyapppp… bosque.” Jawab Fani sedangkan Tiwi hanya mengangguk pertanda menyetujuinya, toh tujuannya datang ke Bandung memang untuk menemui Qiana.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, ketiganya kini sudah sampai di rumah Akbar. Indra penciuman mereka disuguhkan dengan aroma yang menguar sangat sedap, bahkan aroma itu sudah tercium saat Akbar baru saja membuka pintu rumah.
“MasyaAllah, sedapppp betulll… gimana Abang nggak tambah berisi gini badannya, istrinya selalu memanjakan peyuttt gentong suaminyaa…” ucap Fani seraya berlari terbirit-birit menuju kamarnya, sebelum sang Abang memiting lehernya.
“FAAANIII!!” Teriak Akbar yang membuat Qiana keluar dari dapur untuk menghampiri suaminya yang baru saja tiba.
“Mas, jangan teriak-teriak ih Dafa masih tidur.” Ucap Qiana, “ Astaghfirullah, Tiwi? Ya Allah Mas Akbar ini, mana ada tamu juga gini masih aja teriak-teriak gituh sama Fani.” Sambung Qiana, kaget ketika melihat ada Tiwi yang berdiri tak jauh dari suaminya.
“Innalillah, aku lupa sayang. Ya sudah, sana kamu jamu sahabat kamu, aku mau ke kamar dulu. Seblaknya jangan lupa, Dafa aku bangunin ya sekalian mandi bareng sama aku.” Bisik Akbar pada istrinya, sembari mencium pelipis istrinya sekejap.
“Iya, gih sana!” jawab Qiana.
“Ya.. Allah Tiwi, ayok kita ke kamar tamu dulu pasti kamu capek ya?” ucap Qiana sembari menunjukan jalan menuju kamar tamu.
“Eh, aku sekamar sama Fani aja ya. Aku mau introgasi dia nanti malam.” Pinta Tiwi, membuat Qiana mengermyitkan dahinya heran.
“Hah, introgasi apa?” tanya Qiana sambil tetap berjalan.
“Nanti aku ceritain detailnya, intinya tadi itu aku sama Fani sewaktu naik taxi onlen ada sedikit insiden gituh dan Fani marah-marah eh bukan marah sih, kayak kesel, nggak seneng gituh deh pokoknya, terus..” Obrolan Tiwi dan Fani terputus kala mata Tiwi menangkap sosok Fani yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
“Eh, jangan cerita macem-macem sama bumilnya aku.” Ucap Fani yang sudah berdiri di samping Qiana seraya memeluk tubuh Qiana.
“Ontyyy…. Hiks.. itu Bunda aku hiks.. ndak boyehh di peyuk-peyuk!” teriak Dafa sambil sesenggukan, ternyata ada yang suka kesel kalau Bundanya di peluk sama orang lain.
“Sayangnya Bunda sini Nak. Mas belum mandi?” tanya Qiana yang melihat suaminya turun dengan masih menggunakan pakaian kerjanya.
“Iya, Mas lupa tadi mau tanya Fani.” Jawab Akbar.
“Mau tanya apa Bang?” tanya Fani seraya melepas pelukannya di tubuh Qiana.
“Tadi di endoapril Abang kayak lihat Aziz disana. Bener nggak sih?” tanya Akbar.
Ting...tong....ting...tong...
Jeder…jeder…jeder…
***************
__ADS_1
Hoammm…. Ngantuk bingit, dilanjut besok ya… terimakasih yang sudah membaca… Dapet kejutan banget dari kalian, biasanya yang baca cuma kisaran ratusan, beberapa hari ini sudah ribuan. Meski yang ngelike baru puluhan tapi aku tetep seneng banget, novel pertama aku yang baca sudah lumayan banyak. Sehat selalu ya readers…