Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Ada Udang di Balik Bakwan


__ADS_3

Selamat membaca….


***


“Ma, ini bukan kemauan Papa tapi ini memang sudah tugasnya Fani soalnya dari awal, tander kali ini Fani yang nanganin,” ucap Papa mencoba membujuk Mama agar mengizinkanku bertolak ke Korea 3 hari lagi.


“Papa, sih seharusnya Papa itu di baca dulu dari awal gimana maunya perusahaan Korea itu sebelum deal-dealan kontrak kayak gini,” jawab Mama dengan nada sewot.


“Mama, semua itu udah memang rezekinya kita dari Allah dan mungkin memang takdirnya Fani harus pergi ke Korea, 2 minggu aja kok Ma, paling lama satu bulan,” bujuk Papa lagi.


“Iya Ma, sebentar doang kok. Atau enggak Mama ikut Fani, biar Papa sendirian di Jakarta, hihi,” ucapku kali ini menggoda Papa, karena setahuku Papa tidak pernah bisa berjauhan dengan Mama.


“Eitsss, jangan memprovokasi Fani,” kata Papa sambil menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


“Hahaha, oke Papa. Gini deh mending, Mama sama Papa ke Bandung selama dua minggu itu biar nggak kesepian toh sebentar lagi Mbak Qiana mau ngadain acara empat bulanan si kembar,” ucapku mencoba membujuk Mama, bagaimana pun ini tender pertama untukku dan aku tidak mau mengecewakan Papa. Terlebih aku bisa sekalian mengurus restaurant yang sudah menjadi cita-cita terbesarku di tahun ini, kalo kata pribahasa mah, menyelam sambil minum air atau bisa juga sekali dayung dua, tiga pulau terlampaui xixixi gaya beud dah.


“Hm, terserah,” jawab Mama dengan acuh, “Memangnya isi tendernya apa sih, kenapa musti ada perwakilan yang dari Korea disini dan dari Indonesia musti ke Korea?” tanya Mama, ternyata Mama bisa kepo juga soal pekerjaan.


Mungkin karena nggak lagi di meja makan ya, jadi Mama mulai kepo sama perusahaan, hihi. Padahal sekarang malah aku yang nggak mau bahas kerjaan di ruang keluarga yang nyaman,yang  seharusnya membicarakan tentang keluarga atau nggak ya, bercengkrama sambil menonton televisi, ini malah sibuk bujuk membujuk Mama untuk izin ke Korea.


“Pembangunan resort tapi bertukar budaya dalam pengaplikasiannya. Jadi gini Ma, resort yang dibangun di Korea mengusung tema budaya Indonesia sedangkan disini mengusung tema budaya Korea. Mama tahu kan kalau Korea Selatan dengan Negara kita itu sedang banyak melakukan simbiosis mutualisme hehehe mulai dari orang perorangan sampai ke lingkup yang lebih besar seperti di bidang bisnis seperti ini,” ujar Papa menjelaskan.


“Hemm, seperti Kimbab family yang mojang Bandung nikah sama pemuda Korea,” jawab Mama dengan cemberut, hadeuuh Mama….Mama… bikin aku pingin ketawa aja, kenapa yang musti diingat itu, tapi nggak apalah emang betul kok Mama Gina dan Apa Jay terikat simbiosis mutualisme antara dua budaya yang berbeda.


“Mama korban aplikasi merah ternyata, dikira Papa kalau lagi di rumah  nyoba-nyoba bikin resep apa gituh eh malah mantengin aplikasi merah,” ucap Papa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hiburannya Mama itu, Pa,” jawab Mama, yang membuat Papa terkekeh.


“Ehem, berarti nggak apa-apa ya Ma, Fani ke Korea sekalian mau ketemu Siwon kekasih hati Fani hihihi,” ucapku.


“Dasar halu, yaudah Mama sih setuju aja kalau Papa sudah mengizinkan. Sekalipun berat, tapi Mama izinkan yang penting kamu harus bisa jaga diri dengan baik, jangan aneh-aneh di Negara orang,” kata Mama seraya mengusap lembut puncuk kepalaku.


“Alhamdulillah, makasih Ma…Pa…, Fani janji nggak bakal bikin masalah selama di Korea, dan bakalan kasih yang terbaik buat perusahaan keluarga kita,” ujarku dengan yakin.

__ADS_1


“Sama-sama sayang, iya Mama sama Papa percaya kok sama kemampuan kamu. Iya kan Pa?”


“Tentu dong, kalau Papa nggak percaya kenapa tender sebesar ini Papa suruh Fani buat nanganin,” ucap Papa dengan bangga.


“Oh iya Pa, telepon Akbar dong suruh acara empat bulanannya Qiana di Jakarta aja, nanti Mama yang nyiapin semuanya. Kemarin Mama di telepon besan kita, kalau mereka nggak bisa datang ke acara empat bulanannya Qiana soalnya kondisi Ambu drop lagi, tapi jangan bilang-bilang sama Qiana, takutnya kepikiran terus jadi stress nggak baik buat kandungannya,” kata Mama.


“Innalillahi, Mama kok nggak bilang dari kemarin sih tahu gituh kita ke Surabaya dulu nengokin Ambu. Sebentar Papa telepon Akbar dulu,” ujar Papa seraya berdiri menuju kamar mengambil hp.


“Sini Fan, duduk di sebelah Mama. Tvnya di matiin dulu,” kata Mama, aku pun mengangguk seraya melakukan apa yang diminta Mama.


Diraihnya tanganku oleh Mama, diusapnya dengan lembut punggung tanganku. Kalau sudah gini musti waspada bukan lagi siaga, karena sudah dapat dipastikan 1000% bahwa ada udang di bakwan.


“Ada apa Mamaku yang cantik, baik…” ucapku.


Deg… jemari Mama berhenti pada cincin yang tersemat manis di jari manisku.


“Ini dari siapa, cantik banget?” tanya Mama.


“Nah kan bener, ada udang di balik bakwan,” ucapku dalam hati.


“Haduhh, maafkan Fani Ma belum bisa jujur sama Mama. Takut diburu-buru nikah sama Mama, akunya,” ucapku dalam hati.


“Tapi kok mirip sama yang pernah di kasih liat Bagas ke Mama ya Fan? Terus kamu kan nggak suka pakai perhiasan gini, mentok cuma pakai anting-anting aja, kenapa sekarang tiba-tiba ada cincin cantik ini di jari kamu?” tanya Mama dengan mengusap-usap cincin yang aku pakai.


Ya…Allah… gusti… kenapa nggak terfikir sama aku, kalau pasti Mama bisa menyimpulkannya dengan baik. Fani yang nggak pernah pakai perhiasan, nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba pakai cincin dengan model yang sangat cantik, tentulah mengundang perhatian kekepoan Mama.


“Hehehe, enggak ada apa-apa kok Ma pingin aja,” jawabku dengan cengiran kuda.


“Masak sih, Mama kok curiga ya,” katanya sambil mengusap-usap dagunya.


“Ma.. bisa disiapkan buat acara empat bulanannya besok?” tanya Papa sedikit berteriak, membuatku yang akan menjawab ucapan Mama terlonjak kaget sekaligus bersyukur Papa datang disaat yang tepat.


“Hahhh? Kenapa buru-buru?” tanya Mama dengan wajah yang sudah berubah kaget plus panik.

__ADS_1


“Akbar minta acaranya dipercepat sebelum Fani berangkat dank arena usia kandungan Qiana yang sudah empat bulan lewat delapan hari jadi lebih cepat lebih baik kata Akbar, biar anak-anak dan ibunya banyak yang mendo’akan, sekalian biar Qiana nggak curiga kalau keluarganya pada nggak dateng,” jawab Papa menjelaskan.


Selalu saja ada udang di balik bakwan, tapi betul juga sih biar Mbak Qia nggak berpikiran macem-macem, jadi alasan aku akan segera berangkat ke Korea adalah alasan yang paling tepat.


“Ah iya betul, yaudah deh Mama yang ngurus semua sama Fani  di bantu Bibi. Acaranya besok sehabis Ashar aja ya Pa atau habis maghrib? Mama mau ngelist keperluan dulu, mumpung masih jam 8 malem, kita ngundang tetangga dan anak yatim ya Pa,” kata Mama dengan antusias.


“Terserah Mama aja yang penting, besok sudah bisa dilaksanakan dengan lancar dan khidmat tentunya,” jawab Papa, hmm memang tidak mau ribet Papa ini.


Tring…tring…tringgg…


From: Si sulung


To: Papa


Pa, buat jajanannya Akbar bawa dari Bandung aja. Mama sama Papa, tolong siapkan  tamu undangan sama pengisi pengajiannya ya. Untuk  cateringnya, Akbar sudah menghubungi teman Akbar di Jakarta.


 


“Ma itu baca dari Akbar,” ucap Papa.


Tring…tringg…tring..


“Apalagi katanya Ma?” tanya Papa.


From: Si sulung


To: Papa


Pa, Akbar ngundang anak panti dari tempatnya Dafa dulu dibesarin, taman belakang besok ada yang dekor biar bisa di pakai main dulu sama teman-temannya Dafa dari panti.


“Daebak ternyata tetap saja semepet-mepetnya acara Abang tetap bisa menghandlenya dengan baik,” ucapku ketika Mama membacakan pesan dari Abang.


Alhamdulillah, setidaknya sebelum keberangkatanku ke Korea semua keluarga ngumpul di rumah dan dengan adanya acara besok Mama nggak bakalan sempet keinget nanya-nanya cincin aku lagi hihihi.

__ADS_1


****


Terimkasih telah membaca... jangan lupa untuk meninggalkan jejak...


__ADS_2