
Selamat membaca....
***
Akbar POV
Seperti halnya waktu yang terus berjalan, kehidupan pun tetap harus berjalan dengan sebagaimana mestinya. Entah di belakang sana ada luka yang menganga lebar atau ada kebahagiaan yang menggunung, semuanya akan tetap ada sebagai kenangan, sebagai pengingat jika masa itu pernah ada.
Semua orang pernah terluka begitupun denganku dan luka yang sama beberapa bulan lalu harus dirasakan oleh adik perempuanku juga, cinta dan pengkhianatan. Tapi di satu sisi aku bersyukur karena setidaknya Fani belum terikat oleh ikatan suci pernikahan, sepertiku dulu.
Sore ini aku menemukan senyuman manis yang beberapa bulan ini menghilang entah kemana, meski dia tidak pernah benar-benar terlihat sedih ataupun murung dihadapan aku, Mama, dan Papa tapi senyum dan tawanya kali ini memang benar-benar beda dan kembali seperti Fani adik kecilku yang selalu ceria dan bahagia.
Fani yang ceria sedari kecil memang tidak pernah terbuka dalam berbagai hal baik padaku ataupun ke Mama dan Papa, selalu dia pendam sendiri dan tak menunjukan kesedihannya pada kami. Tapi dalam permasalahannya kali ini dia bercerita kepada calon istriku, Qiana yang siap mendengarkan dan memberinya petuah-petuah bijak dalam menyikapi permasalahannya ini.
“Hahaha, Dafa ayo Dafa gelitikin terus Om Bagasnya.” Tawa dan teriakan Fani membuyarkan lamunanku, haaaah….. anak itu selalu saja bisa mengangguku padahal tadi sedang syahdu-syahdunya aku memikirkan tentangnya beberapa bulan belakangan ini.
“Mas, nanti pulang? Apa ikut Mama, Papa tidur disini?” tanya Qiana yang baru saja datang dengan membawa teh hangat dan singkong keju untukku.
“Mas pulang dulu aja, tapi nanti setelah makan malam di rumah nggak ada yang masakin kayak disini,” ucapku sambil tersenyum genit ke arah Qiana. Entahlah beberapa hari ini aku merasa lain dengan diriku sendiri, seperti anak ABG yang baru jatuh cinta hahaha, sedikit suka menggoda Qiana sekarang dan aku merasa lebih sering tertawa belakangan ini.
“Mas, jangan senyum genit gitu ah nggak suka,” ucap Qiana sambil menyabikkan bibirnya. Wanita kecilku ini selalu saja berbeda dengan wanita lain, jika wanita di luaran sana mendamba senyumanku dan tatapan mataku, tentu Qiana tidak mendamba itu. Kata Fani kepadaku, Qiana lebih mempertimbangkan dan suka pada sikap, sifatku selama ini yang gigih untuk mendapatkan Dafa kembali kepelukanku dan keberanianku melamarnya waktu itu, dan aku beruntung mendapatkannya.
“Iya, maaf-maaf. Mas kan cuma pingin nyoba cara berinteraksi dengan calonnya Mas ini, sama cara yang nggak terkesan kaku. Mas sebenernya pingin kita udah nggak kaku lagi, lebih santai kalau berbicara kalau bisa
sambil di selipin becanda-becanda gitu,” kataku sambil mengutarakan isi hatiku. Ya untuk urusan Qiana aku sekarang lebih sering berkomunikasi dengan Fani untuk bertanya apakah Qiana mengeluhkan sikapku atau bercerita tentangku apapun itu. Ini salah satu antisipasiku agar jika melakukan kesalahan akan lebih cepat mengatasinya.
Masa lalu merupakan pembelajaran diri di masa yang akan datang itu benar adanya, dan kini aku tengah membuka memori masa lalu agar aku bisa lebih berhati-hati lagi dalam bersikap. Agar kedepannya aku tidak di
khianati oleh seorang wanita lagi.
__ADS_1
“Iya Mas, maaf tapi Mas jangan genit-genit dong. Genitnya disimpan dulu kalau kita sudah sah biar nggak menggoda dan menjerumuskan kita untuk saat ini.” Jawabnya dengan melihat ke ujung jilbabnya yang menjuntai menutupi dadanya, manis sekali wanita kecilku ini. Setiap kali menatap tingkahnya yang malu-malu seperti ini membuatku semakin yakin jika aku tidak salah memilihnya sebagai pendamping hidupku dan partner yang tepat untuk membesarkan anak-anakku nantinya.
“Iya maaf, nggak lagi deh genitin kamu,” ucapku seraya mengambil cangkir berisi teh yang masih mengepulkan asapnya itu, dan aku hanya mendapat anggukan dari Qiana.
“Ayah, Om Bagas natal Yah….” Teriak Dafa sambil berlarian ke arahku di belakangnya ada Bagas yang tengah mengejar anakku dan membawa tembakan air milik Dafa. Rupanya tembakan air milik Dafa sudah habis isinya
sehingga dia tidak bisa membalas tembakan Bagas,
“Sini duduk sini,” ucapku sambil mengangkat tubuh mungil anakku yang sudah lebih berat ke atas pangkuanku, Dafa hanya terkikik geli ketika Bagas tidak lagi menembaknya dengan air.
“Yaaaahhhh…. Dafa curang nih masak minta perlindungan dari Ayah sih,” kata Bagas sambil berpura-pura merajuk dan menghentak-hentakan kakinya yang membuat Dafa tambah tertawa dengan keras dan menggeliatkan badannya di pangkuanku.
“Hihihihihi, Om Bagas tayak Dafa kalau lagiiyyy nambek hihihihihi…” ujar Dafa sambil tertawa.
“Bagas udah jangan godain Dafa, nanti malem ngompol dia kalau sekarang ketawa kayak giu terus,” ucap Qiana seraya berdiri mengambil Dafa dari pangkuanku dan beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkanku dan Bagas yang masih di teras rumah, serta Fani yang masih terkekeh di atas ayunan.
“Ah, kamu sih Gas ditinggalkan aku jadinya.” Dengusku kesal.
Tak berselang lama aku pun masuk ke dalam rumah, tak beda dengan keadaan di depan rumah yang berisik di dalam rumah pun sama berisiknya. Dafa kini sudah berlarian bersama Lea sambil berteriak-teriak tak jelas, hangat
rasanya melihat rumah yang ramai seperti ini tak seperti rumahku yang sangat sepi selama beberapa tahun belakangan ini.
“Om…Om… main yuk sama Leo,” ucap Leo anak sulung Bang Reza dia memberiku dadu, ternyata anak itu mengajakku bermain ular tangga.
“Ayo, kita ajak Dafa dan Lea juga ya.” Ajakku dan di beri gelengan oleh Leo.
“Jangan mereka belum tahu, nani malah merusak permainan kita Om.” Jawabnya sambil mengatupkan tangannya di depan dada, astaga yang namanya anak mau berapapun usianya tetap menggemaskan di mataku. Dan kalau tidak salah usia Leo sudah menginjak 5 tahun.
“Nggak apa-apa biar Om Bagas sama Om Akbar yang jagain kedua bocil itu, tapi kita tetap bisa main sama-sama dengan tenang,” kata Bagas yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
__ADS_1
“Oke tapi janji ya Om, kalau adek-adek berbuat ulah nanti Om Bagas harus membelikan aku es krim dan mainan dan kalau adek-adek bisa tenang dalam permaian ini nanti Om Bagas aku kasih satu robot-robotanku,” ucap Leo hahaha ternyata anak ini selain pintar merayu juga pintar bernegosiasi rupanya.
“Hahahaha, baiklah son.” Jawab Bagas.
“DAFAAAA…. LEAA…. STOP LARI-LARI SINI KITA MAIN ULAR TANGGAAA…” Teriak Bagas tanpa aba-aba yang membuatku dan Leo terlonjak kaget.
“Main ulal tanda ye…ye…ye…ye….” Ucap Dafa dan Lea yang langsung berlarian ke arah kami yang sudah duduk melingkar di atas karpet. Dafa langsung duduk di atas pangkuanku disusul oleh Lea yang juga berebut duduk
diatas pangkuanku, emhh lucu sekali jika memiliki anak kembar pikirku, ketika melihat Lea dan Dafa berebut seperti ini.
“Lea sini di pangku Om,” kata Bagas sambil memegang tangan Lea, tanpa bantahan Lea langsung menurut ucapan Bagas padahal ini kali pertama mereka bertemu, tapi Lea sudah menurut dengan Bagas.
“Lea sama Dafa, ini kita main ular tangga ya. Nanti Dafa sama Lea gentian ngocok dadunya ini terus nanti Om sama Ayah Akbar yang jalanin kudanyanya,” kata Bagas mencoba menjelaskan cara bermain ular tangga kepada anak-anak kecil ini.
“Siap Om, Dafa bita.” Jawab bocah gembilku dengan sorot mata sangat yakin.
Dan setenang-tenangnya balita yang ada di pangkuanku dan Bagas tetap saja mereka masih bisa berulah dan lolos dari pengawasanku dan Bagas ketika mereka berhasil menarik papan ular tangga di hadapan kami dengan semangat tentunya, belum lagi dadu yang selalu di lemparnya dengan jarak yang lumayan jauh membuatku, Bagas dan Leo harus bergantian berdiri dan mengambil dadu itu.
“Om capek.” Keluh Leo.
“Iya sama, ini ternyata Dafa sama Adek kamu cerdik juga ngakalin kita dari tadi, sampek gempor rasanya kaki duduk, berdiri, duduk, berdiri terus dari tadi.” Jawab Bagas yang ikut mengeluh juga.
“Leo, tagih gih es krim sama mainan ke Om Bagas sebelum besok dia balik ke Jakarta,” ucapku seraya menggendong Dafa dan Lea menuju Qiana agar segera di mandikan, sedangkan Leo sudah bersorak ria sambil menghampiri Bagas yang tengah telungkup diatas karpet.
“Abanggg… aturannya jangan diingetin si Leonya kesenengan kan dia jadinya.” Teriak Bagas.
Hahaha lucu juga, sore ini adalah pengalaman baru untukku memperhatikan dan bermain dengan anak-anak kecil selain anakku tentunya. Ternyata sangat mengasyikan dari sini juga aku bisa melihat ketulusan dan kebaikan Bagas kepada adikku dan anak-anak kecil ini yang notabennya tidak ada ikatan keluarga apapun dengannya. Dan yang pasti aku ingin segera menambah adik untuk Dafa agar rumahku tak sepi lagi nantinya jika sepupu-sepupu Dafa sudah kembali ke Surabaya.
******
__ADS_1
Terimakasih readers.... semangat hari senin yaaa.... Meski cuaca sering mendung jangan lupa tetap semangat jangan sampai ikutan mendung juga ya apalagi ikutan hujan... hujan air mata hehehe...