
~Ketika dalam segala urusan kau menggunakan hati, bukan tidak mungkin mereka yang menerima perlakuanmu akan merasakan ketulusan hatimu juga.~ Ina az-Zahra.
Di jalanan Kota Bandung itu tampak sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang. Tidak seperti biasanya, Qiana mengendarai mobilnya sendiri. Ya, dia begitu khawatir dengan Dafa, sehingga dia memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri karena Mang Didin sedang keluar menemani anaknya membeli keperluan sekolah.
Tok...tokk....tokk.... Suara pintu yang deketuk Qiana, sangking paniknya sampai tak melihat bell disamping kanannya.
Di dalam rumah Akbar.
"Fan itu siapa, udah jam 9 malam kok masih namu aja ya," Kata Bu Rita dengan heran.
"Nggak tau Ma, bentar deh Fani bukain pintu dulu," ucap Fani dan segera beranjak dari duduknya.
Ceklek...
"Assalamualaikum Dek, mana Dafanya tadi di telfon, Mbak denger dia nangis kenceng banget," ujar Qiana panik.
"Masuk dulu Mbak, Nek, Dafanya di kamar Abang dia masih nangis Mbak ngga mau berhenti. Ngerengek terus minta bobo sama Mbak katanya. Maaf ya tadi telfonnya keputus, soalnya hp Abang lowbat Mbak," ujar Fani merasa bersalah.
"Iya nggak apa-apa Dek, Mbak cuma khawatir nanti Dafa kelelahan nangis terus malah jadi sakit kalau banyak tingkah juga," Kata Qiana.
"Ya, Allah Ambu... Qiana... kalian ngapain malam-malam kesini? Pasti gara-gara Fani tadi telfon ya? Padahal tadi niatnya mau vidcall kamu biar Dafa berhenti nangis malah Fani telfon kamu duluan mana lowbat lagi hp si Abang," Kata Bu Rita.
"Iya,ngga apa Tan tadi Qiana juga nggak bisa tidur kepikiran Dafa terus," Ucap Qiana.
"Jadi nggak enak Tante sama kamu Nak apalagi Ambu sampek ikut kesini. Fani tolong panggilkan Akbar suruh kesini," Kata Bu Rita dan diangguki Fani.
__ADS_1
"Tidak apa Nak, dari tadi semenjak di tinggal Dafa, cucu Ambu ini bengong aja mikirin Dafa katanya," Ucap Nenek Mira.
"Dafa tadi awalnya masih baik-baik aja main sama kita-kita, eh tau-tau habis makan malam minta bobo sama Bundanya. Serumah dibuat bingung sama tangisan si Dafa hehehe," kata Bu Rita.
"Iya Nak tidak apa" ujar Nenek Mira.
***
Samar terdengar tangis Dafa mendekat. Terlihat oleh Qiana, Akbar menuruni tangga dengan Dafa di dekapannya sesenggukan, di belakangnya Fani mengikuti langkah Akbar dengan wajah yang di ekspresikan sangat menggelikan ketika siapa saja yang melihatnya. Mungkin niatnya untuk menghibur Dafa, hehehehe.
"Maaf merepotkan, Qia dan Nenek malam-malam kesini," Ujar Akbar merasa sungkan dengan Qiana dan Neneknya.
"Aish... Mas Akbar, tampilannya sangat berbeda saat di rumah seperti ini. Hanya menggunakan celana di atas lutut sedikit dan kaos polos seperti itu. Pasti orang-orang yang baru lihat bakal berfikir Mas Akbar masih bujang dan belum punya anak." Batin Qiana.
"Tidak ada yang di repotkan kok Nak Akbar," Kata Nenek Mira.
"Sini sayang sama Bunda," Ucap Qiana sambil mengambil Dafa dari gendongan Akbar.
Tangan mungil Dafa terlihat melingkar di leher Qiana yang tertutup jilbabnya itu. Kepala Dafa di senderkan di ceruk leher Bundanya, tangisnya terhenti hanya sesekali terdengar isakan kecil yang lolos dari bibir mungil itu. Akbar melihat anaknya tenang dalam dekapan Qiana pun merasa lega, dia melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamarnya mengambil susu milik Dafa yang tadi dia buatkan.
"Nenek mari tidur disini saja. Ini sudah malam, nanti Nenek tidur sama Fani aja ya. Biar Fani nggak tidur sendirian," Kata Fani yang sudah duduk di sebelah Nenek Mira.
"Apa tidak merepotkan jika kami bermalam disini?" Tanya Nenek Mira merasa tak enak hati.
Digapainya tangan yang sudah tak lagi kencang itu oleh Bu Rita, di genggam dan di usapnya perlahan sambil berkata.
__ADS_1
"Sudah pasti tidak apa-apa Ambu, Ambu kan sekarang orang tua Rita juga dan Ambu kesini untuk Dafa cucu Rita dan cicit Ambu. Ayo Fani kamu antar Nenek kamu ke kamar sudah malam ini," Kata Bu Rita dengan senyum tulus, terlihat raut wajah lega dari Nenek Mira.
"Ayo Nek kita ke kamar." Ajak Fani yang segera merangkul lengan Nenek Mira dan menuntunnya menuju kamar Fani yang khusus di buatkan Akbar untuk Adeknya jika sedang berkunjung ke Bandung.
***
Dafa yang sudah ngantuk berat mengajak Qiana untuk segera masuk dalam kamar, balita gembil itu meminta untuk di dekap Bundanya di atas kasur dengan usapan di punggung seperti malam-malam biasanya. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan untuk Dafa, mendapat usapan di punggung sebelum tidur oleh Bundanya, sehingga dia rewel ketika akan tidur tidak mendapati Qiana di sisinya.
"Ayah tini, bobok tama Dafa," Kata Dafa dengan mata yang hampir terpejam.
Qiana dan Akbar tampak bingung dengan permintaan Dafa.
Dengan berat hati Qiana tidur bertiga dengan Akbar dan Dafa yang berada di antara mereka. Pintu kamar Akbar sengaja dibiarkan terbuka agar tidak terjadi kesalah fahaman. Karena kondisi ini murni untuk Dafa, mengenyampingkan degup jantung Akbar dan Qiana yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Nanti kalau Dafa sudah tidur saya akan pindah ke sofa kamu disini saja temani Dafa," Kata Akbar dan di setujui Qiana.
Akbar yang kelelahan karena sedari pulang dari Jakarta belum sempat beristirahat pun tertidur sambil memeluk Dafa. Tangan Dafa yang masih memainkan jilbab Qiana pun mulai melemah. Di lihat Qiana, Ayah dan anak itu telah tertidur pulas. Ada gelenyar aneh yang di rasakan Qiana, seperti rasa nyaman yang teramat, saat melihat wajah teduh kedua makhluk ciptaan-Nya ini tertidur. Di pandangnya satu-satu wajah itu, 'mirip sekali' pikir Qiana.
Tangan Qiana terjulur ingin menyentuh bahu Akbar untuk membangunkannya. Tapi itu hanya sekadar niat, karena Qiana merasa tak tega untuk membangunkannya mengingat perjalanan yang telah Akbar lalui hari ini belum lagi saat menenangkan Dafa tadi. Akhirnya Qiana memutuskan untuk beranjak dan tidur di sofa.
"Grep" Tiba-tiba tangan mungil Dafa mendekap tubuh Qiana, membuatnya urung untuk pindah ke sofa. Karena kantuk yang semakin berat, membuat Qiana tertidur di kasur yang sama bersama Akbar dan Dafa di sisinya.
***
Suara adzan sayup-sayup terdengar, membangunkan Akbar dari tidur nyenyaknya. Pandangannya mengitari kamarnya. Dia ingat seharusnya dia tidur di sofa bukan di atas kasur miliknya, pandangannya ia arahkan ke sisi kiri, terlihat wanita cantik yang masih menggunakan jilbabnya itu tertidur pulas menghadapnya, ada tangan kecil yang tampak menggenggam ujung jilbab milik perempuan itu. Perempuan itu adalah Qiana dan tangan kecil yang menggenggam ujung jilbab itu adalah Dafa anaknya.
__ADS_1
Senyum indah di bibir Akbar pun tersemat dengan tulus.
***