Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
24. Dafa Menginap 1


__ADS_3

Selamat membaca


****


Matahari sudah kembali keperaduannya, pertanda malam akan segera datang. Sebelum adzan maghrib berkumandang, tampak Keluarga Akbar berpamitan kepada Qiana dan Neneknya. Kali ini, untuk pertama kalinya Dafa akan ikut Akbar dan menginap di rumahnya. Sebetulnya ada rasa tak rela di hati Qiana, tapi sebisa mungkin rasa itu ia tepis. Bagaimana pun juga Akbar adalah Ayah kandung Dafa, dan dia memiliki hak lebih atas kehidupan Dafa. Kali ini dia harus tegar dan mengingat satu hal, Dafa bisa kapan saja di bawa pergi oleh Akbar dari kehidupannya. Karena tampak jelas dimatanya Akbar dan Dafa semakin dekat, apalagi sekarang juga Dafa sudah mengenal Opa, Oma, dan Tantenya.


"Nda, ayo itut Dafa tama Ayah kelumah Ayah." ajak Dafa.


"Bunda tidak bisa ikut, Nak. Dafa saja ya sama Ayah, Oma, Opa, dan Tante. Dafa tidak boleh nakal dan rewel ya disana," ujar Qiana sambil mengelus kepala Dafa yang berada di gendongan Akbar.


"Nanti talo Dafa mau tutu tiapa yang buatin Nda?" Tanya Dafa.


"Nanti Oma yang buatin Dafa susunya, nih liat Oma udah di bawain Bundanya Dafa semua keperluan Dafa," Ujar Bu Rita sambil memperlihatkan tas berukuran sedang yang berisi keperluan Dafa. Dafa pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Yaudah Dafa, pamit dulu sama Bunda dan Uyut biar bisa sampai rumah Ayah sebelum maghrib," Kata Akbar. Dafa pun terlihat menjulurkan tangannya kearah Qiana setelah itu ke arah Uyutnya.


Setelah berpamitan, Keluarga Akbar pun pergi meninggalkan kediaman Bu Mira. Qiana berdiri di depan rumahnya sampai mobil yang ditumpangi Dafa tak tampak di kedua matanya. Hari yang berat bagi Qiana untuk merelakan Dafa menginap di rumah ayah kandungnya. Qiana pun melangkahkan kakinya kembali kedalam rumah. Sepi, sunyi yang dia rasa padahal baru beberapa menit yang lalu anaknya itu pergi dari rumah.


"Nek, ternyata gini ya rasanya ditinggal sama anak pergi dari rumah," Kata Qiana sambil menatap kosong kedepan, Nenek Mira hanya terkekeh kecil.


"Ya, seperti itu lah rasanya. Ini baru anak angkat kamu loh Qi, belum nanti kalau ditinggal anak sendiri melanjutkan pendidikannya atau bahkan sewaktu sudah memiliki keluarga sendiri. Tambah sepi rasanya," ujar Nenek Mira.


"Iya, ya Nek. Tapi jujur loh Dafa itu udah kayak anak Qiana sendiri Nek jadi nanti pasti sama beratnya. Ini Qiana jadi mikir aneh-aneh loh Nek, takut Dafa udah nyaman sama Mas Akbar terus nggak mau pulang ke sini lagi," Kata Qiana yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Sabar ya Nak, ikuti saja takdir yang sudah digariskan oleh Allah. Kamu banyak berdo'a saja, tidak usah memikirkan hal yang belum tentu terjadi," Kata Nenek Qiana menenangkan cucunya ini.


***


Selama perjalanan Dafa duduk di pangkuan Opanya di kursi sebelah kemudi. Dafa tampak senang melihat kendaraan yang berlalu lalang dihadapannya. Tak membutuhkan waktu lama, kurang dari 25 menit mobil yang dikendarai Akbar pun sudah tiba di halaman rumahnya.


"Ma, Dek, bangun udah nyampek nih," kata Akbar sambil mengguncang sedikit bahu Mama dan Adeknya.

__ADS_1


"Hemm, iya bentar Bang," Kata Fani sambil mengucek matanya.


"Udah sampek ya, mana Dafa?" Tanya Bu Rita.


"Ck, mentang-mentang udah ketemu cucunya bangun tidur yang ditanyain Dafa dulu," decak Pak Amri.


"Hm, Mama sama Papa udah pada tua nggak pantes ngeributin kayak gini haha. Yaudah, Ma, Mama masuk dulu sama Fani bawa Dafa juga. Abang sama Papa mau ngurus barang bawaan dulu," ujar Akbar.


"Kamu bawa barang-barangnya ya urus sendiri aja, papa mau sama cucu Papa. Yuk Ma, Dek kita masuk. Biarin Abang sendirian," kata Pak Amri.


"Ck, Papa curang ih," Kata Akbar.


"Opa, Dafa tama Ayah ja," Ucap Dafa.


"Eh, jangan sayang Ayah bawa barang. Sini Dafa sama Tante aja, kita tungguin Ayah ya, jalannya barengan sama Ayah," Bujuk Fani.


***


Makan malam kali ini terlihat sangat menyenangkan bagi Keluarga Akbar. Dafa dengan manjanya terus berada dalam pangkuan Akbar, seolah tak ingin terpisah lagi. Setelah makan malam Opa, Oma, dan Tantenya sibuk membujuk Dafa untuk bermain dan memangkunya.


"Yah, kok udah mau bobok sih sayang. Tante baru aja kejatahan mangku kamu," ucap Fani lalu terdengar suara kekehan Mamanya.


"Ayo, kita ke kamar Ayah kita bobok."Ajak Akbar.


"No, Dafa mau bobo tama Nda uga," Rengek Dafa yang membuat ketiga orang dewasa bingung dibuatnya.


"Bunda kan di rumahnya sayang, sekarang Dafa bobok sama Ayah dulu ya. Besok kita jalan-jalan sama Bunda keliling-keliling Bandung. Gimana?" bujuk Akbar.


"No, Ayah mau bobo tama Nda." rengek Dafa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Gimana ini Ma, Pa?" tanya Akbar bingung harus melakukan apa.

__ADS_1


"Sayang, katanya tadi Dafa mau tidur sama Ayah. Kita vidio call Bunda aja ya? Terus Dafa boboknya ditemenin Ayah" bujuk Bu Rita.


"Hiks...hiks...hiks...No...hiks...Da..Dafa... mau Nda di tini nemenin Dafa hiks..bobo," Kata Dafa yang mulai terisak dalam tangisannya.


"Jam berapa ini Dek?" Tanya Akbar pada Fani.


"Jam setengah 9 Bang" Jawab Fani.


"Tolong telfonin Qiana pakai handphone Mas di kamar, Dek" pinta Akbar dan diangguki oleh Fani yang langsung berdiri dari duduknya.


"Dafa mau Nda, ndak mau yang lain" rengek Dafa.


***


Di kamar serba biru itu Qiana tampak berbaring di atas kasurnya, matanya masih enggan untuk terpejam. Hati dan pikirannya menginginkan untuk beristirahat sejenak melupakan pikiran-pikiran negatif tentang Dafa yang sebentar lagi akan meninggalkannya.


"Kenapa tambah kepikiran Dafa terus, yeuh otak teh. Haaah. Apa Dafa sudah tidur?. Aku telfon aja deh Mas Akbar siapa tahu Dafa belum tidur," Kata Qiana lirih.


Derrtt...Dertt...Derrtt...


Belum sempat ia menyalakan layar handphonenya, benda itu sudah menampilkan panggilan masuk dari Mas Akbarnya. Tanpa pikir panjang Qiana langsung menggulirkannya ke gambar telpon berwarna hijau itu.


"Asaalamualaikum, Mbak Qiana." Teriak Fani.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Dek baru aja Mbak mau telfon Mas Akbar mau nanyain Dafa," Ujar Qiana.


"Mbak Dafa nangis, katany...."Kata Fani terputus karena hp Akbar lowbat, Qiana sempat mendengar suara tangisan Dafa ketika dirinya tengah berbicara dengan Fani.


Qiana semakin panik dibuatnya. Ia pun keluar dari kamarnya dan menemui sang Nenek yang ternyata masih terjaga di depan televisi. Qiana pun meminta sang Nenek untuk menemaninya pergiĀ  ke rumah Akbar menemui Dafa yang tengah menangis.


"Alhamdulillah aku di beri cucu yang memiliki hati baik seperti Qiana, semoga kamu selalu bahagia Nak dengan segala ketetapan dari Sang Pencipta dan segera bertemu dengan jodohmu yang terbaik menurut-Nya, agar ada yang menjagamu dan menyayangimu selalu Nak." Batin Nenek Qiana ketika meilhat cucunya panik.

__ADS_1


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Terimakasih telah membaca.


__ADS_2