Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
19. Patah Jadi Dua


__ADS_3

Seharusnya Setya dan Tiwi pulang sore hari setelah beristirahat sebentar di rumah Nenek Qiana. Tapi karena Nenek Qiana masih ingin mengobrol dengan teman cucunya itu akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan kembali esok pagi, mengingat Setya akan terbang siang hari menuju Surabaya.


"Udaha lama Nenek nggak pernah nengokin Mamanya Qiana di Surabaya, udah sejak 8 tahun terakhir selalu mereka yang kesini mengunjungi Nenek dan Qiana," Kata Nenek Mira.


"Berarti semenjak 8 tahun ini Qiana juga tidak pernah pulang ke Surabaya Nek?" Kata Tiwi, sebetulnya dia mengira bahwa Qiana masih tetap sering ke Surabaya tanpa sepengetahuan teman-temannya ternyata prediksinya salah.


"Iya, Qiana bilang katanya mau di Jakarta aja. Banyak orang baik yang selalu mendukung dia katanya," kata Nenek Mira.


"Selama disini Qiana apa pernah dekat dengan lelaki gituh Nek?" tanya Setya yang mebuat Nenek Qiana menoleh seraya tersenyum ke arah Setya.


"Belum pernah Nenek liat Qiana dekat dengan lelaki, membicarakannya saja dia tidak pernah padahal tentang kehidupannya yang lain dia sangat terbuka dengan Nenek." jawab Nenek.


"Lalu Nek Tiwi dengar Qiana memiliki toko kue, apa itu peninggalan Nenek?" tanya Tiwi.


"Iya Qiana memang memiliki toko kue, tapi itu hasil kerja kerasnya sendiri. Kalian kalau mau tau besok sebelum pergi ke Jakarta ada baiknya mampir dulu ke toko kue, nanti Nenek dan Qiana yang mengantar," kata Nenek.


"Nek saya pamit dulu menemui Qiana, ada yang perlu saya bicarakan sebentar." pamit Setya dan diangguki oleh Nenek Qiana.


Setya berjalan perlahan menuju kamar Nenek Qiana, takut jika Dafa sudah tidur dan dia membangunkannya jika terlalu semangat masuk ke kamar itu. Di bukanya pintu kayu itu sedikit, dia melihat ternyata Dafa dan Qiana tengah asyik melakukan panggilan vidio yang bisa dipastikan itu adalah Akbar. Dengan berat hati dia menunggu sampai panggilan vidio itu usai, dia malah fokus mendengarkan percakapan itu sampai dadanya terasa sesak. Terdengar jelas keakraban diantara Qiana, Dafa dan keluarga Akbar bukan hanya dengan Akbar saja melainkan sudah melibatkan keluarganya. Patah jadi dua hati Setya dibuatnya. Setya masih diam mematung di depan pintu kamar. Tak lama kemudian dia tersadar Dafa dan Qiana sudah selesai melakukan panggilan vidio itu.


Tok..tok..tok...


"Qi, aku mau ngobrol bentar... masuk boleh nggak?" kata Setya.


"Iya masuk aja, aku lagi nidurin Dafa." jawab Qiana.


Setya pun masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang sebelah Dafa.


"Qi, sebelum aku balik ke Surabaya aku mau ngomong serius sama kamu. Pertama aku mau minta maaf soal Tyo yang ngga bisa bales perasaannya ke kamu." Setya menjeda bicaranya, beralih menatap ekspresi Qiana.


"Tentang itu ngga ada sangkut pautnya sama kamu, jadi ngga perlu minta maaf. Tyo juga ngga salah, emang udah keputusan aku waktu itu buat memendamnya sendiri, eh malah kamu tau." jawab Qiana sambil terus menggosok punggung Dafa tanpa memperhatikan Setya.

__ADS_1


"Iya sih, terus yang kedua aku mau bilang kalau sebenernya Mama aku pingin banget jadiin kamu mantunya. Kamu mau ngga nyoba buka hati kamu buat aku Q,i lalu menikahlah denganku kamu bisa menganggapku Tyo jika kamu mau?" kata Setya ragu.


D**eg**...


Qiana menoleh kearah Setya, dibenaknya mana ada laki-laki meminta perempuan membuka hati karena permintaan orang tuanya bukan perkara hati ataupun perasaan. Sedikit terlihat raut kecewa dari wajah cantik itu, bukan karena dia merasa bahwa Setya tidak mencintainya tapi, apa sebegitu tidak pantasnya dia mendapat orang yang benar-benar tulus mencintainya?.


"Maksud kamu demi Mama kamu, seperti itu?" tanya Qiana.


"Iya kurang lebih seperti itu." jawab Setya.


Sebetulnya Setya terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, sehingga lidahnya malah berkata karena Mamanya. Bo*oh memang!. Dia pun merutuki dirinya sendiri ketika melihat raut wajah Qiana berubah menjadi datar tak bisa ditebak.


"Jika Mamamu yang menginginkan, kenapa tidak Mamamu saja yang menikah denganku," kata Qiana ketus


De**g**


Hati Setya mencelos, dibenaknya apa yang diucapkannya tadi salah. Mengapa Qiana masih saja sulit untuk didekati jika masalah hati, selalu saja membuat hatinya terbelah dua.


"Hahahaha, sudah lah Set tidak usah berkilah. Ada baiknya kita tetap bersahabat untuk saat ini. Entah nanti jika kita berjodoh pasti hati kita bisa membuka dan menerima dengan sendirinya." kata Qiana yang diakhiri dengan tawa hambar.


"Aku sudah membuka dan menerimamu sejak lama Qiana, sekalipun aku tahu itu menyakitkan." batin Setya.


"Baiklah Qi, jika itu maumu. Aku akan keluar dan istirahat." pasrah Setya sambil berjalan gontai meninggalkan Qiana.


Blam... (Suara pintu yang ditutup Setya).


"Apa itu? Katanya karena Mamanya dan aku bisa menganggapnya sebagai Tyo. Huh Sayangnya cinta tidak bisa dipaksakan Set, kalau aku bisa membuka hatiku untukmu mungkin aku malah akan merasakan sakit akibat sering melihat wajahmu yang seperti Tyo. Tapi kenapa aku melihat seolah Setya merasakan patah hati setelah aku bicara dengannya? Ah mungkin dia hanya merasa kecewa tidak bisa mewujudkan keinginan Tante Dewi. Iya betul itu, mana mungkin dia menyukai wanita yang menyukai kakak kandungnya sendiri." batin Qiana.


***


Setya berjalan gontai ke arah ruang keluarga, disana sudah disiapkan Nenek Qiana kasur lipat, selimut, bantal dan juga guling untuk tidur. Karena hanya memiliki 2 kamar, sehingga Setya tidur di luar, Qiana dan Dafa di kamar Neneknya dan Tiwi serta Nenek di kamar Qiana.

__ADS_1


"Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Tiwi dan hanya mendapat anggukan dari Setya.


"Kenapa lesu banget gitu muka? " tanya Tiwi lagi.


"Engga kenapa-napa emang lagi suntuk aja." jawab Setya.


"Yaudah aku mau nyusul Nenek ke kamar, kamu langsung tidur aja besok kita perjalanan jauh." titah Tiwi.


"Iya-iya cerewet udah sana masuk." Usir Setya.


***


Pagi pun datang, semua wanita yang berada di rumah Nenek Qiana tengah sibuk membuat sarapan. Sedangkan Dafa dia sudah tampil menggemaskan dengan pipi gembul yang berpoles bedak bayi. Dafa tengah asyik memperhatikan Omnya yang tengah tertidur pulas di bawah selimut. Iya, dia Setya yang tidur lagi setelah pulang subuhan dari musholla dekat rumah Nenek Qiana.


"Om, ngun Om dah tiang," kata Dafa sambil menoel-noel pipi Setya.


Karena tidak mendapat reaksi apapun dari Setya dia memutuskan untuk naik ke tubuh Setya dan menggerak-gerakan tubuh mungilnya itu. Membuat Setya menggeliat kecil.


"Om Tetya angunn..." teriak Dafa.


"Hmm." lenguh Setya.


"Om ngun Om dah tiang nih," kata Dafa.


"Iya bentar lagi," kata Setya.


Dafa pun beranjak meninggalkan Setya dengan gondok karena gagal membangunkan Omnya. Sedangkan Setya masih merasa malas untuk bangun karena dia perlu membutuhkan banyak energi setelah patah hati tadi malam. Membuatnya sulit untuk tidur dengan nyenyak.



*Kini aku sadar untuk mempergunakan kesempatan dengan baik. Sebab aku tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahanku. Dan aku pun tidak bisa memberhentikan waktu untuk sekedar menatapmu dengan lekat. Yang aku bisa kini hanya menyesali masa lalu dan berharap di masa depan ada kebahagiaan untuk kita yang sama-sama mencintai orang, yang mencintai orang lain. Aku juga berharap Tuhan segera mempertemukan kita dengan orang yang mencintai kita dengan segenap jiwa raganya - Setya 🍃🍃🍃*

__ADS_1


__ADS_2