Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
32. Hutan Mangrove Selamat membaca...


__ADS_3

Matahari pagi bersinar dengan cerah, hari ini adalah pernikahan Tyo dan Sinta. Qiana dan keluarganya datang untuk menyaksikan pernikahan yang sederhana dan diliputi rasa suka cita yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya. Acara pernikahan Tyo dan Sinta tak berlangsung lama, hanya acara ijab qabul saja karena kondisi Tyo yang belum sepenuhnya pulih. Setelah sholat dhuhur di musholla Rumah Sakit, Qiana mengajak Akbar dan Dafa untuk mengunjungi salah satu tempat wisata yang dekat dengan lokasi mereka saat ini.


**


Semilir angin menerpa tubuh Qiana, Akbar dan Dafa yang tengah berjalan menyusuri jembatan kayu seraya menikmati pemandangan hutan mangrove. Terik matahari tak menyurutkan niat mereka untuk menikmati wisata di Kota Pahlawan sebelum nanti sore kembali ke Jakarta.


“Nda tu pa?” Tanya Dafa sambil menunjuk kepiting besar di dekat akar mangrove tak jauh dari jembatan kayu.


“Itu kepiting sayang.” Jawab Qiana, Dafa mengangguk antusias.


Di hutan mangrove itu selain ada banyak kepiting mangrove yang berkeliaran di dekat akar mangrove, ada juga beberapa jenis burung yang hilir mudik terbang dari dahan mangrove ke dahan mangrove lainnya. Ada juga beberapa burung yang berdiri di atas lumpur dengan ikan kecil di paruhnya. Dafa yang baru melihat pemandangan seperti itu pun, di buat heboh dan banyak mengajukan pertanyaa kepada Akbar dan Qiana.


“Qiana, apa Dafa memang seaktif ini?” Tanya Akbar yang mulai kewalahan dengan tingkah dan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Dafa. Qiana tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Akbar.


“Iya Mas, semenjak Dafa aku bawa dari panti dia sedikit lebih aktif baik tingkah maupun dalam hal berbicara seperti ini. Sudah banyak tanya dengan apa yang dia jumpai, apalagi kalau itu hal baru seperti ini. Sudah pasti hebohnya deh.. hehehe.”Jawab Qiana sambil memperhatikan Dafa yang tengah jongkok memperhatikan burung yang tengah berjalan di atas lumpur.


“Aku merasa gagal menjadi orang tua untuk Dafa, tumbuh kembangnya saja aku tidak tahu dengan pasti,” Kata Akbar dengan raut muka penuh penyesalan.


Kata-kata yang dilontarkan Akbar membuat Qiana mendongakan kepalanya menatap lekat wajah Akbar yang sudah berubah menjadi sendu.


“Mas, jangan seperti itu. Kamu masih punya waktu untuk memperbaiki itu semua dan jadilah Ayah yang bisa menjadi contoh baik untuk Dafa kedepannya,” Kata Qiana mencoba memberi semangat pada Akbar.


“Yah, Dafa mau di ndong tindi-tindi,” Kata Dafa kembali menarik perhatian kedua orang dewasa itu.

__ADS_1


“Ayo, siap-siap ya,” Kata Akbar sambil mengangkat tubuh Dafa ke atas bahunya, tawa bahagia terdengar jelas.


“Ayo kita makan siang dulu, ini sudah lewat waktunya makan siang." Ajak Qiana yang di angguki serempak oleh Ayah dan anak di sampingnya.


“Nda Dafa mau matan ayam, boleh?” Tanya Dafa.


“Boleh dong sayang," Kata Qiana yang di sambut tepuk tangan meriah dari tangan mungil Dafa. Akbar hanya tersenyum melihat interaksi Qiana dan Dafa yang selalu saja menghangatkan hatinya.


Mereka bertiga memutuskan untuk pergi dari tempat wisata itu dan mencari tempat makan yang diinginkan Dafa yang searah dengan jalan pulang ke rumah Qiana. Dua setengah jam lagi keberangkatan mereka kembali ke Bandung tapi kali ini Nenek Mira tidak ikut kembali karena masih ingin berlama-lama dengan anaknya di Surabaya.



Kali ini di tempat yang sama, Bu Rima dan Pak Rizal melepas kembali putrinya. Tapi dengan perasaan yang berbeda, jauh lebih tenang karena mereka tahu sudah ada yang menjaga anaknya. Tak ada tangis seperti 8 tahun lalu ketika melepas anak gadisnya pergi, yang ada hanya harapan semoga ketika kembali anaknya ini akan datang dengan kebahagiaan yang lebih dan lebih lagi. Ya, bukankah semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya?.


***


“No, Ayah. Dafa mauna tama Nda,” Kata Dafa yang malah semakin memeluk erat tubuh Qiana dan menyandarkan kepalanya di dada bundanya, Akbar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya ini.


“Biarin Mas nggak apa-apa kok, lagian cuman satu jam penerbangan,” Kata Qiana sambil mengelus kepala Dafa.


“Nanti kalau capek bilang ya Qi, jangan dipaksain Dafa udah tambah berat soalnya,” Kata Akbar dan diangguki oleh Qiana.


“Oh iya Mas, kemarin Fani telepon aku. Katanya dia mutusin tunangannya, karena ketahuan belok,” Kata Qiana hati-hati.

__ADS_1


“Loh kok aku malah nggak tahu, kamu beneran ini nggak salah dengerkan Qi?” Jawab Akbar khawatir.


“Ihh.. beneran Mas, Fani kemarin nangis-nangis tau waktu telepon Qia," Jawab Qia.


“Kok aku ngga tau?” Tanya Akbar.


“Ya..iyalah Mas orang Adek kamu telepon aku tengah malem,” Jawab Qia, Akbar hanya manggut-manggut dan berpikir.


“Qia, maaf sebelumnya. Mungkin ini terlalu cepat buat kamu, tapi aku serius sama yang aku omongin kemarin aku juga udah buktiin ke kamu sama keluarga kamu. Aku udah bilang sama orang tua aku juga,” Kata Akbar menjeda ucapannya.


“Besok kamu ikut saya ke Jakarta, kita ketemu orang tua saya sebelum saya mau ngelamar kamu secara resmi dan nentuin tanggal pernikahan kita, sekalian mau lihat keadaan Fani,” Ucap Akbar.


“Iya Mas, tapi kamu harus bantu aku buat mantepin hati aku jangan buat aku kecewa. Jujur hal semacam ini pertama kalinya buat aku, aku nggak pernah pacaran dan nggak pernah deket sama cowok kecuali si kembar itu pun deket sahabatan nggak deket sebagai pasangan.” Jawab Qiana.


“InsyaAllah, saya nggak bakalan ngecewain kamu karena saya tahu bagaimana rasanya di kecewain sama pasangan. Kuncinya dalam hubungan seperti ini adalah komunikasi yang baik saling terbuka, saling percaya, insyaAllah akan baik-baik saja sekalipun ada kerikil-kerikil nantinya, nggak bakal buat kita jatuh lama,” Kata Akbar.


“Mas Akbar ini suka banget bikin aku bingung ngimbangin caranya berkomunikasi, kadang santai banget aku kamuan kadang tiba-tiba berubah manggil dirinya sendiri saya, berasa rekan kerjanya aku ini.” Batin Qiana.


“Semoga ya Mas,” Kata Qiana seraya tersenyum.


***


Akbar POV

__ADS_1


Waktu cepat sekali berlalu, padahal baru hari ini aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang tersayang. Sampai di Bandung aku berpisah di depan rumah Qiana. Ingin rasanya aku bermalam disini, tapi aku dan Qia belum ada ikatan resmi. Semoga kedepannya dipermudah oleh Allah, dalam niatku menikahi orang sebaik Qiana yang sudah mau membawa dan merawat anakku dari panti asuhan itu. Satu lagi tugasku untuk segera membuat Qiana jatuh cinta padaku, dengan segenap hati dan ketulusannya.


Terimakasih, telah berkenan membaca.


__ADS_2